Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayap yang Berdarah
Lonceng besar di menara utama Crimson Crest berdentang lambat, menandakan waktu perburuan telah usai. Matahari hampir sepenuhnya tenggelam, meninggalkan semburat merah darah di cakrawala yang seolah menggambarkan kekacauan di dalam Hutan Abyss. Di depan gerbang utama, suasana yang tadinya penuh semangat kini berubah menjadi pemandangan yang suram.
Satu per satu siswa kembali dengan langkah gontai. Jubah merah mereka yang biasanya gagah kini sobek, berlumuran lumpur hitam, dan beberapa di antaranya terbakar oleh api ungu korosif sang Burung Obsidian. Banyak dari mereka yang pulang dengan tangan hampa, wajah mereka pucat karena trauma menghadapi keganasan hutan yang tidak mengenal ampun.
Lucien berdiri di balkon perpustakaan, menatap ke bawah ke arah kerumunan tersebut. Di tangannya masih tergenggam buku kedelapan yang baru saja ia baca—buku yang mengubah seluruh pandangannya tentang masa depannya. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat betapa kontrasnya ambisi manusia dengan realitas kekuatan Abyss.
"Hanya tiga..." bisik Lucien saat melihat barisan depan.
Benar saja. Dari puluhan siswa elit yang berangkat tadi pagi, hanya ada tiga orang yang berjalan dengan kepala tegak, meski tubuh mereka penuh dengan luka-luka mengerikan.
Siswa pertama, seorang senior dari kelas pedang berat, menyeret kakinya yang pincang sambil memegang sangkar besi yang di dalamnya terdapat seekor burung dengan bulu hitam mengkilap seperti kristal obsidian yang terus mematuk jeruji dengan ganas. Lengan baju senior itu hilang sebelah, memperlihatkan luka bakar dalam yang masih mengeluarkan asap tipis.
Dua orang lainnya adalah sepasang saudara kembar dari divisi sihir api. Wajah mereka penuh baretan dalam akibat cakaran tajam, dan salah satu dari mereka harus dipapah karena kehilangan terlalu banyak mana. Mereka masing-masing membawa satu ekor Burung Obsidian yang sudah mati, leher makhluk itu patah namun paruhnya masih tampak mengancam.
Master Silas berdiri di tangga aula, menyilangkan tangan di dada dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ia menatap para siswa yang terluka itu tanpa rasa iba sedikit pun.
"Hanya tiga ekor dari seluruh divisi?" suara Silas menggema dingin, membuat para siswa yang gagal menundukkan kepala dalam ketakutan. "Kalian menyebut diri kalian ksatria Crimson Crest? Burung-burung ini hanyalah makhluk tingkat rendah di Abyss, dan kalian membiarkan diri kalian dicabik-cabik seperti amatir!"
Meskipun kata-katanya pedas, Silas tetap memberikan tanda kepada petugas medis untuk membawa ketiga pemenang itu ke ruang penyembuhan. Di papan peringkat besar yang terpampang di tengah aula, nama ketiga siswa tersebut melonjak drastis, sementara nama Lucien Vlad—yang tidak berpartisipasi—merosot tajam hingga ke barisan bawah.
Lucien menatap namanya yang turun. Rasa kesal sempat muncul, namun segera ia tekan. Baginya, poin peringkat itu kini terasa tidak berarti dibandingkan dengan pengetahuan tentang Empat Tahap Transformasi yang ia pelajari. Para siswa itu bangga telah menangkap burung, sementara Lucien sedang berjuang untuk tidak menjadi monster yang jauh lebih mengerikan dari apa pun yang ada di dalam hutan itu.
Tiba-tiba, Lucien merasakan getaran pada Simbol Daun Hijau di bahunya. Cahayanya meredup, hampir transparan. Pengetahuan dari tujuh buku sihir pedang yang ia pelajari dengan fokus penuh selama berjam-jam telah memenuhi syarat penebusan yang diminta Master Alaric. Hukuman fisiknya akan segera berakhir, namun hukuman jiwanya baru saja dimulai.
Ia harus segera menemui Vivienne dan Daefiel. Jika hanya menangkap burung saja sudah bisa membuat siswa elit terluka parah, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika teman-temannya itu mencapai Tahap Kedua atau Ketiga tanpa persiapan mental yang matang.
Lampu-lampu kristal di aula utama mulai berpijar saat kegelapan malam benar-benar menyelimuti Crimson Crest. Master Alaric berjalan perlahan menuju papan peringkat yang masih dikerumuni oleh siswa-siswa yang tampak lesu. Di sana, nama Lucien Vlad berada di posisi yang sangat rendah, sebuah pemandangan yang tak biasa bagi sang jenius pedang.
Silas, yang berdiri di samping Alaric, melirik dengan senyum sinis. "Lihat itu, Master Alaric. Sang 'Pewaris Vlad' sekarang berada di barisan bawah bersama para pecundang. Penilaian tidak pernah berbohong; ketidakhadiran dalam tugas adalah kegagalan mutlak."
Master Alaric tidak langsung menjawab. Ia menatap nama Lucien, lalu menoleh ke arah balkon perpustakaan di mana ia bisa merasakan kehadiran Lucien yang sedang menatap ke bawah. Alaric kemudian mengangkat tongkatnya, mengetukkannya ke lantai tiga kali.
Ting! Ting! Ting!
Suara itu membungkam seluruh aula. "Perhatian semuanya," ujar Master Alaric dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Meskipun perburuan hari ini adalah ujian ketangkasan yang sah, disiplin sejati tidak hanya diukur dari berapa banyak monster yang kalian bunuh, tetapi dari kepatuhan dan pengembangan diri di tengah hukuman."
Alaric melambaikan tangannya ke arah papan peringkat. Seketika, cahaya hijau zamrud yang identik dengan segel penjara menyelimuti nama Lucien Vlad.
"Sesuai dengan instruksiku, Lucien Vlad telah menyelesaikan penebusan melalui studi literatur tingkat tinggi. Ia berhasil memahami tujuh teknik pedang kuno dalam satu hari—sebuah pencapaian yang bahkan sulit dilakukan oleh instruktur senior. Oleh karena itu..."
Cahaya hijau itu meledak kecil, dan secara ajaib poin peringkat Lucien yang tadi sempat merosot drastis kini melonjak kembali ke posisi asalnya. Tidak hanya itu, Simbol Daun Hijau di bahu Lucien yang terlihat dari kejauhan tiba-tiba pecah menjadi kelopak-kelopak cahaya yang menghilang ke udara.
"Dengan ini, masa pengawasan Lucien Vlad dinyatakan berakhir," lanjut Alaric. "Hukumannya telah lunas. Namun, poin yang ia dapatkan hanyalah untuk memulihkan posisinya, bukan untuk melampaui para pemenang perburuan hari ini. Keadilan harus tetap ditegakkan bagi mereka yang menumpahkan darah di Abyss."
Silas tampak tidak puas dengan keputusan itu, namun ia tidak bisa membantah kata-kata Master Alaric. Baginya, Lucien yang terbebas dari segel adalah ancaman yang lebih besar.
Lucien, yang berdiri di balkon, merasa beban di bahunya benar-benar menghilang. Rasa ringan itu seharusnya membuatnya senang, namun setelah membaca tentang Tahap Keempat, ia merasa kebebasan ini hanyalah awal dari penjara yang lebih gelap. Ia segera berbalik, meninggalkan balkon tersebut.
Langkahnya terhenti saat ia berpapasan dengan Master Alaric yang entah bagaimana sudah berada di lorong perpustakaan.
"Kau tampak tidak senang, Lucien," ucap Alaric pelan. "Simbol itu sudah hilang. Kau bebas."
Lucien menatap sang Master dengan pandangan yang dalam. "Terima kasih, Master Alaric. Tapi... terkadang ada hal-hal di dalam buku yang lebih menakutkan daripada segel mana pun di akademi ini."
Alaric hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan ribuan rahasia. "Maka gunakanlah ketakutan itu sebagai bahan bakar untuk kontrolmu. Pergilah istirahat. Besok akan menjadi hari yang panjang."
Lucien membungkuk hormat, lalu bergegas menuju kamarnya. Ia tidak berencana untuk tidur. Ia perlu mencari cara untuk mengirim pesan kepada Vivienne dan Daefiel.
Informasi tentang transformasi iblis ini terlalu berbahaya jika hanya ia yang tahu.