Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 - TAMU YANG TIDAK DIUNDANG
Tante Sari berdiri di ambang pintu teras samping dengan satu tangan di kusen dan mata yang langsung melakukan kalkulasi ... siapa orang ini, dari mana datangnya, dan kenapa Lily yang menemaninya.
Urutan kalkulasi itu kelihatan jelas dari cara matanya bergerak. Pertama ke Hendra, lalu ke meja dengan dua gelas teh, lalu ke Lily.
Lily tidak bergerak.
"Tamu, Tante," katanya. Datar, tidak menjelaskan lebih.
"Tamu siapa?" Tante Sari melangkah masuk ke teras tanpa dipersilakan. Senyumnya muncul, jenis senyum yang sudah Lily hafal sejak bertahun-tahun lalu. Yang terlihat ramah dari luar tapi di dalamnya ada antena yang sedang aktif memindai ancaman.
Hendra berdiri dari kursinya. "Selamat pagi. Saya Hendra, teman lama keluarga. Kebetulan lewat, mampir sebentar."
Suaranya santai. Tangan terulung ke depan untuk bersalaman.
Tante Sari menyambutnya karena tidak menyambut tangan yang terulung adalah hal yang terlalu kasar bahkan untuknya. "Oh. Teman keluarga dari pihak mana?"
"Dari pihak ibu Lily."
Satu detik yang sangat kecil, hampir tidak ada. Tapi Lily menangkapnya. Sesuatu di wajah Tante Sari berubah, sangat tipis, di sekitar ujung matanya.
"Hmm," kata Tante Sari. "Suami saya ada di dalam. Harusnya kenal juga dong kalau memang teman keluarga."
"Belum tentu," kata Hendra dengan senyum yang sama ramahnya. "Saya lebih dekat ke almarhum ibu Lily-nya. Bukan ke pihak bapaknya."
Tante Sari menoleh ke Lily. "Kamu tahu orang ini dari mana, Lily?"
Lily menatap Tante Sari dengan tenang. "Teman lama keluarga, Tante. Tadi sudah bilang."
Keheningan tiga detik yang tidak nyaman.
Lalu Tante Sari mengangguk dengan senyum yang tidak sampai ke matanya. "Ya sudah. Jangan lama-lama ya, Lily... makan siang perlu disiapkan." Dia menoleh ke Hendra. "Selamat berkunjung."
Lalu pergi.
Lily dan Hendra tidak bicara sampai langkah kaki Tante Sari tidak terdengar lagi.
"Dia curiga," kata Hendra pelan.
"Dia selalu curiga," jawab Lily, sama pelannya. "Itu cara dia bertahan di rumah ini."
Hendra menatap ke arah pintu yang sudah kosong. "Kita harus lebih hati-hati. Kalau dia tahu siapa aku sebetulnya..."
"Aku tahu." Lily mengambil gelasnya, minum satu teguk, lalu meletakkan kembali. "Makanya tadi aku tidak sebut nama lengkap kamu."
Hendra melihatnya dengan ekspresi yang sedikit berbeda dari sebelumnya, bukan lagi orang dewasa yang menjelaskan sesuatu ke keponakannya. Lebih seperti orang yang baru menyadari lawan bicaranya lebih siap dari yang dia kira.
"Berapa lama kamu bisa di sini hari ini?" tanya Lily.
"Tidak lama. Lebih baik aku tidak terlalu lama kelihatan di sini dulu."
"Satu pertanyaan lagi sebelum kamu pergi." Lily menatapnya langsung. "Kenapa sekarang? Kenapa tidak tahun lalu, atau dua tahun lalu, atau waktu aku baru delapan belas?"
Hendra tidak langsung menjawab. Dia duduk kembali, meletakkan kedua tangannya di meja, dan Lily melihat ada satu luka lama di punggung tangannya. Bekas yang sudah lama tapi tidak pernah benar-benar hilang.
"Karena dua tahun lalu aku baru selesai dari masalahku sendiri," katanya. "Ada orang yang membuat aku tidak bisa bergerak selama beberapa tahun. Aku tidak bisa cerita detailnya sekarang, tapi bukan karena aku tidak mau. Karena ceritanya panjang dan kamu perlu dokumen dulu sebelum ceritanya masuk akal."
Lily menimbang jawaban itu.
Bisa jadi bohong. Bisa jadi tidak. Tapi ada satu hal yang membuat Lily memilih memberi ruang, orang yang berbohong biasanya memberi jawaban yang terlalu rapi. Jawaban Hendra punya bagian yang berlubang dan lubang itu terasa seperti kejujuran yang belum selesai, bukan kebohongan yang sengaja ditinggalkan.
"Oke," kata Lily. "Pergi sekarang sebelum Tante Sari kirim Nindi ke sini buat ngintip."
Hendra berdiri. "Nomor aku sudah kamu simpan?"
"Belum. Aku hafal."
Dia sedikit tersenyum. "Ibumu juga begitu. Tidak pernah mau menyimpan nomor penting di tempat yang bisa dilihat orang."
Lily tidak menjawab. Tapi kalimat itu masuk dan tinggal di suatu tempat di dadanya, di sudut yang hangat dan sedikit perih sekaligus.
Hendra berjalan ke samping rumah menuju parkiran. Lily tidak mengantarnya sampai depan.
Sisa pagi itu Lily habiskan di dapur, memasak dengan gerakan yang autopilot sementara kepalanya bekerja di jalur yang berbeda.
Dia pikir tentang cara Tante Sari bereaksi tadi. Bukan panik ... tapi waspada. Ada bedanya. Panik adalah reaksi orang yang tidak siap. Waspada adalah reaksi orang yang sudah lama menjaga sesuatu dan tahu kapan ada yang mendekati pagar.
Artinya Tante Sari tahu ada sesuatu yang perlu dijaga.
Artinya nama pihak ibu Lily adalah kalimat yang masih punya bobot di rumah ini, setelah empat belas tahun Mama meninggal.
Lily mengiris bawang dengan lebih keras dari biasanya.
Malam itu, setelah semua orang tidur dan rumah sudah sepenuhnya diam, Lily pergi ke gudang.
Pintu depan gudang tidak dikunci lagi sejak kemarin. Entah Bibi Rah yang tidak menguncinya kembali, atau memang dibiarkan. Lily tidak mau tahu alasannya. Dia masuk, menutup pintu di belakangnya, dan berjalan ke sudut belakang tanpa perlu senter karena sudah hafal jalurnya.
Pintu kecil itu ada di sana.
Kali ini tidak perlu gagang yang berputar sendiri. Begitu tangan Lily menyentuhnya, pintu terbuka dari dalam seperti memang sudah menunggu.
Lily masuk.
Ruang itu sama seperti sebelumnya... luas yang tidak masuk akal, hangat, dan cermin bundar di atas meja yang langsung menampilkan pantulan wajahnya begitu dia duduk.
"Aku perlu lihat sesuatu," kata Lily.
Cermin beriak.
"Aku perlu tahu apa yang Tante Sari sembunyikan. Dokumen apa. Di mana."
Gambar tidak langsung muncul. Cermin seperti menimbang atau mungkin memang cara kerjanya tidak sesederhana permintaan langsung. Lily menunggu.
Lalu yang muncul bukan gambar ruangan atau dokumen.
Yang muncul adalah gambar Lily sendiri, versi yang berbeda. Masih wajahnya, masih rambutnya, tapi berdiri dengan cara yang berbeda. Di tempat yang berbeda. Pakaiannya rapi. Tangannya memegang sesuatu ... Lily tidak bisa melihat apa karena gambarnya belum tajam.
Di bawah gambar itu muncul kalimat,
Belum waktunya. Kamu belum siap untuk informasi itu.
Lily mengerutkan dahi. "Siapa yang memutuskan aku siap atau tidak?"
Cermin tidak menjawab. Tapi kalimat itu berganti,
Yang memutuskan adalah kamu. Dan kamu sendiri belum tahu apa yang kamu butuhkan dulu sebelum informasi itu berguna.
Lily terdiam.
Dia mau protes, tapi ada benarnya. Dia baru satu hari tahu soal warisan Mama, baru beberapa jam tahu soal Hendra. Kalau sekarang dia dapat semua jawaban, dia tidak punya konteks untuk menggunakannya dengan benar.
"Kalau begitu tunjukkan yang aku perlu tahu sekarang," kata Lily.
Cermin beriak lagi.
Dan yang muncul adalah sesuatu yang tidak Lily duga... bukan gambar Tante Sari, bukan dokumen, bukan peta.
Yang muncul adalah gambar Dimas.
Duduk sendirian di suatu tempat yang seperti kafe atau ruang tunggu, dengan wajah yang jauh dari wajah orang yang baru mendapatkan apa yang dia mau. Di tangannya ada gelas yang tidak diminum. Matanya menatap ke satu titik di lantai.
Dan di sebelahnya, di kursi yang kosong ada jaket yang Lily kenal.
Jaket yang pernah Lily belikan dua tahun lalu dari uang tabungan kecil-kecilan.
Lily menatap gambar itu lama.
"Kenapa aku perlu lihat ini?"
Kalimat muncul pelan di sudut cermin,
Karena musuhmu tidak semuanya di luar. Sebagian dari mereka juga tidak bahagia. Dan orang yang tidak bahagia bisa jadi alat atau bisa jadi saksi.
Lily menarik napas.
Dimas sebagai saksi.
Pikiran itu seharusnya tidak terasa semenarik ini. Tapi terasa.
Dan sebelum Lily sempat memproses lebih jauh, dari luar gudang samar tapi jelas, terdengar suara langkah kaki yang terlalu hati-hati untuk orang yang sekadar lewat.
Ada yang mengintip...