NovelToon NovelToon
The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Sistem
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
​Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
​Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
​Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
​"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4.

## **Bab 4: Pertemuan di Balik Cadar**

Malam di sudut Tanjungbalai terasa lebih mencekam dari biasanya. Arka berdiri di depan cermin kecil yang buram, menatap bayangannya sendiri. Di atas meja kayu yang reyot, tersaji "peralatan perangnya": sebuah kemeja hitam polos hasil memburu di pasar pakaian bekas sore tadi, sebuah masker hitam, dan kacamata berbingkai tipis yang lensa normalnya sudah ia bersihkan hingga mengilap.

Ia tidak bisa datang ke Kafe Noir sebagai Arka si kurir. Elina Clarissa—sang "Wanita Besi"—tidak akan pernah mendengarkan seorang pria berjaket oranye yang tercium bau asap knalpot. Elina hanya bicara dengan data, dan ia hanya menghormati orang yang terlihat setara dengannya.

**[Analisis Biometrik: Detak jantung stabil.]**

**[Saran: Gunakan postur tubuh 'Alpha'—bahu tegak, dagu sedikit naik. Tingkatkan frekuensi suara 2 desibel untuk kesan otoritas.]**

"Aku tahu, Sistem," bisik Arka. Ia mengenakan kemeja hitam itu. Meski bekas, potongannya masih tajam. Saat kancing terakhir terpasang, Arka tidak lagi terlihat seperti pemuda yang baru saja diusir dari lift oleh Rian Wijaya. Ia terlihat seperti bayangan yang memiliki rahasia besar.

---

Kafe Noir terletak di lantai dua sebuah bangunan tua kolonial. Tempat itu remang-remang, hanya diterangi lampu gantung berwarna amber dan alunan musik jazz yang malas. Arka melangkah masuk. Sepatunya yang baru disemir hitam—meski solnya sudah tipis—beradu dengan lantai kayu, menciptakan bunyi ketukan yang mantap.

Di sudut paling gelap, seorang wanita duduk sendirian. Elina Clarissa.

Bahkan dalam keremangan, aura Elina terasa menekan. Ia mengenakan terusan merah marun yang elegan, rambut hitamnya disanggul rapi tanpa cela. Di atas meja, sebuah tablet menyala menampilkan grafik yang sangat Arka kenali: data kerusakan struktur Skyview Mall yang ia kirim semalam.

Arka menarik kursi di depan Elina tanpa menunggu dipersilakan.

Elina tidak mendongak. Jemarinya yang lentik dengan kuku merah darah masih menari di atas layar. "Tepat waktu. Aku suka orang yang tidak membuang detik berharga."

Arka tidak menjawab. Ia hanya duduk diam, membiarkan keheningan menjadi senjata pertamanya.

Akhirnya, Elina mendongak. Matanya yang tajam seperti elang menatap Arka di balik kacamata dan maskernya. Ia mencoba mencari celah, mencoba mengenali siapa pria misterius di depannya. "Data yang kau kirim sangat spesifik. Terlalu spesifik untuk seorang 'pengamat luar'. Siapa kau? Orang dalam Wijaya yang sakit hati? Atau mata-mata industri?"

"Aku adalah orang yang tidak ingin melihat Tanjungbalai hancur karena keserakahan satu keluarga," suara Arka terdengar berat dan tenang, persis seperti instruksi sistem. "Nama tidak penting, Nona Elina. Yang penting adalah apa yang bisa kau lakukan dengan retakan di pilar B-14 itu."

Elina tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Pilar B-14 hanyalah masalah teknis. Aku butuh lebih dari sekadar beton yang retak untuk meruntuhkan Wijaya."

Arka memajukan tubuhnya sedikit. "Bagaimana dengan pengalihan dana panti asuhan untuk menambal kerugian Skyview? Bagaimana jika publik tahu bahwa mall kebanggaan kota ini dibangun di atas air mata anak yatim dan manipulasi data parkir yang menipu investor?"

Tangan Elina berhenti bergerak. Ia menatap Arka lebih dalam. Ada ketegangan yang tiba-tiba mengisi ruang di antara mereka.

---

"Kau tahu banyak hal yang seharusnya bisa membuatmu terbunuh, Tuan Misterius," desis Elina. "Kenapa kau memberikannya padaku? Kau bisa saja menjual ini ke media."

"Media bisa dibeli. Wijaya Group punya 30% saham di Star Media," jawab Arka dingin. Pikiran tentang Sarah yang bekerja di sana sekelebat melintas, namun ia segera menepisnya. "Tapi kau... kau butuh Skyview Mall untuk melengkapi jalur logistikmu di pelabuhan. Kau tidak butuh kehancurannya, kau butuh pengambilalihannya."

Elina tertawa kecil, kali ini terdengar lebih tulus namun tetap tajam. "Kau cerdas. Sangat cerdas. Tapi aku tidak bekerja dengan bayangan. Buka maskermu, biarkan aku melihat dengan siapa aku bernegosiasi."

Arka terdiam. Inilah titik kritisnya. Jika ia membuka masker, semuanya berakhir sebelum dimulai. Elina mungkin akan tertawa melihat pria yang kemarin lusa mungkin pernah mengantarkan paket ke kantornya.

**[Peringatan: Tekanan emosional meningkat. Risiko penolakan: 75%.]**

**[Saran: Alihkan fokus. Gunakan informasi sebagai tameng.]**

"Wajahku tidak akan menambah nilai pada data itu, Nona Elina," Arka menyandarkan punggungnya, berusaha terlihat santai meski jantungnya berdegup kencang. "Anggap saja aku adalah arsitek yang sedang memperbaiki cetak biru kotamu yang rusak. Kau butuh aku untuk memenangkan perang ini tanpa harus mengotori tanganmu sendiri."

Elina terdiam cukup lama. Ia menyesap kopinya, matanya tidak pernah lepas dari Arka. "Baik. Anggaplah aku tertarik. Apa yang kau inginkan sebagai imbalan? Uang? Jabatan?"

"Aku ingin panti asuhan 'Kasih Abadi' dikeluarkan dari rencana penggusuran Wijaya. Selamanya," ucap Arka tegas. "Dan aku ingin kau mulai membeli saham Wijaya secara perlahan saat aku menjatuhkan bom berita pertama besok pagi."

Elina menaikkan sebelah alisnya. "Kau ingin aku melakukan *hostile takeover*? Kau tahu itu butuh modal besar dan risiko hukum?"

"Risikonya akan nol saat aku memberikan bukti bahwa Rian Wijaya menggunakan dana mall untuk kepentingan pribadinya di meja judi Singapura," Arka mengeluarkan sebuah *flashdisk* kecil dari sakunya dan menggesernya di atas meja.

Elina menatap *flashdisk* itu seolah itu adalah granat aktif. Ia mengambilnya perlahan. "Jika ini benar... kau baru saja memberikan kunci kerajaan Wijaya padaku."

"Bukan padamu," koreksi Arka. "Pada keadilan. Aku hanya menyediakan petanya."

---

Pertemuan itu berakhir singkat. Arka keluar dari kafe dengan perasaan yang campur aduk. Ia baru saja melakukan kesepakatan dengan wanita paling berbahaya di kota ini.

Saat ia menuruni tangga kayu bangunan tua itu, ia melihat sebuah mobil mewah terparkir di seberang jalan. Mobil Mercedes-Benz hitam yang sangat ia kenali. Jantung Arka seolah berhenti berdetak saat melihat pintu mobil terbuka.

Rian Wijaya turun dari mobil, diikuti oleh Sarah.

Sarah tampak lelah. Ia sedang memegang beberapa dokumen, sementara Rian terus mengomel sambil menunjuk-nunjuk ke arah bangunan kafe.

"Aku bilang cari tempat yang lebih bagus untuk bertemu klien, Sarah! Kenapa kau menyarankan daerah kumuh seperti ini?!" bentak Rian.

"Maaf, Rian... tapi klien itu yang meminta tempat ini karena dekat dengan kantor lamanya," suara Sarah terdengar gemetar. Ia tampak seperti bunga yang layu di bawah terik matahari. Tidak ada lagi kebanggaan yang ia tunjukkan di depan Arka kemarin.

Arka segera menarik tudung kemejanya dan memalingkan muka, berjalan cepat menuju motor Supranya yang terparkir agak jauh di kegelapan. Ia bisa mendengar langkah kaki mereka mendekat ke arah tangga kafe.

"Arka?"

Langkah Arka terhenti. Suara itu... suara Sarah. Apakah ia mengenalinya hanya dari punggungnya?

Arka tetap membelakangi mereka, tangannya menggenggam stang motor erat-alih.

"Ada apa, Sarah? Kenapa berhenti?" tanya Rian kasar.

"Pria itu... posturnya mirip seseorang yang kukenal," bisik Sarah pelan, ada nada keraguan dan kesedihan yang tak bisa disembunyikan dalam suaranya.

Rian melirik Arka dengan tatapan menghina. "Siapa? Mantan kurirmu yang menyedihkan itu? Lihatlah, pria itu memakai kemeja murahan dan motor butut. Tentu saja itu jenis orang yang kau kenal sebelum aku menyelamatkanmu."

Rian tertawa, lalu menarik lengan Sarah dengan kasar. "Ayo masuk. Jangan buang waktuku untuk memperhatikan sampah jalanan."

Arka memejamkan mata. Ia mendengar pintu bangunan terbuka dan tertutup. Saat ia menoleh, ia melihat bayangan Sarah yang tertunduk lesu di balik kaca jendela kafe yang remang.

Ia merasakan amarah yang dingin menjalar di nadinya. Rian tidak hanya merampas Sarah darinya; ia merampas jiwa Sarah dan mengubahnya menjadi boneka yang ketakutan.

**[Analisis Emosi: Amarah terdeteksi. Target eliminasi: Rian Wijaya. Prioritas: Meningkat.]**

"Ya," bisik Arka pada kegelapan. "Dia akan membayar untuk setiap tetes air mata yang dia buat, dan untuk setiap inci harga diri yang dia injak."

Arka menyalakan mesin motornya. Suara mesin Supra yang kasar itu seolah menjadi genderang perang di telinganya. Malam ini, ia telah membuat aliansi. Besok, bom pertama akan meledak di bursa saham Tanjungbalai. Dan saat asapnya menghilang, Rian Wijaya akan menyadari bahwa pria yang dia sebut 'sampah' adalah orang yang sedang menarik kursi dari bawah kakinya.

Arka melesat membelah malam, meninggalkan Kafe Noir dan masa lalunya yang terluka. Di belakangnya, lampu-lampu Skyview Mall berkedip angkuh, tidak tahu bahwa fondasi mereka baru saja retak lebih dalam.

---

1
marsellhayon
ceritanya menarik,melawan sistem.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.
variable of ancient
banyak cingcong di kepalanya
variable of ancient
lama banget anjg
Manusia Biasa
Konsep Sistemnya menarik thor🫣
adib
banyak pengulangan... tolong dikoreksi lagi
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Cut Founna: siap💪
total 1 replies
Cut Founna
iya kaka, maaf ya🙏 belum lulus review
Wega Luna
ini cerita nya diganti kah Thor , perasaan kemarin GK gini deh
Cut Founna: iya kak, maaf ya🙏 Belum lulus review kemaren
total 1 replies
Naga Hitam
"ayo sayang....."
Loorney
Pasar langsung kacau nih kalau ada yang begini, 100% terlalu gede.
Dewiendahsetiowati
Sarah sama Adrian tadi kan naik mobil pergi dari sana to
Cut Founna: Halo Kak Dewi! Makasih banyak ya masukannya, sangat membantu Fonna memperbaiki cerita ini. 🙏 Fonna baru saja merevisi Bab 1 dan Bab 2 supaya alurnya lebih nyambung. Ternyata Sarah dan Adrian nggak langsung pergi, tapi mereka sombong mau pamer kamar suite dulu. Yuk, dibaca ulang revisinya, dijamin lebih greget! 🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Wega Luna
setuju, biar tahu rasanya di rendah kan ,untung 2 tobat , setidaknya sadar diri GK mengharapkan mantanya🤣🤣🤣🤣
Wega Luna
ehm dibuang sih,,,dia sejak awal bohong ,dia dapat transfer an terus ,
BaekTae Byun
Mending nanti aja thor cinta cinta an mah kan baru mulai move on kalau bisa nikmatin dulu waktu sendiri thor
Wega Luna
🙀 semangat
Jack Strom
Itu tergantung Sarah-nya Thor, kalau dia masih originil ya boleh sih baikan kembali sama Arka, tapi kalau sudah dol... ya jangan lah... 🤭😁😂🤣😛
Jack Strom
Seandainya Arka-nya jadi kaya pelan², tahap demi tahap, mungkin cerita ini lebih seru... 🙂😁😛
Jack Strom: Baik, tak tunggu ya Om... 🤭😁😁😛😛
total 2 replies
iky__
3 bab perhari thor
iky__
tes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!