Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.
Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.
Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.
Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Miskin Bukan Berarti Lemah
Krisna melirik sekilas ke Bu Rika, lalu kembali ke ayahnya. “Dia teriak. Marah. Melempar batu, mengenai kaca mobil belakang hingga retak.”
Pak Wijaya mengangguk pelan. “Dan kamu?”
“Aku berhenti, Yah,” jawab Krisna. “Ribut dengannya. Dan dia itu … sangat kasar dan barbar.”
Bu Rika menunduk lebih dalam. Air mata menetes di punggung tangannya.
“Raisa pasti lagi capek, Pak,” katanya lirih, suaranya bergetar. “Dia lagi cari kerja. Seharian keliling naik sepeda. Kalau hujan, dia paling takut … bajunya cuma itu-itu saja.”
Kata-kata itu meluncur pelan, tapi setiap katanya seperti menekan dada Krisna tanpa izin.
Baju satu-satunya.
Surat lamaran basah.
Ia teringat map plastik buram di keranjang sepeda Raisa.
Pak Wijaya terdiam lama. Tatapannya mengarah ke ayunan bayi yang bergerak pelan. Lalu ia menghela napas.
“Bu Rika,” katanya akhirnya, “saya tahu kamu membesarkan anakmu dengan bekerja setiap hari di sini karena suamimu kerja serabutan. Saya juga tahu Raisa itu anak yang keras … tapi bukan anak sembarangan.”
Krisna mengangkat alis tipis. “Ayah membelanya?”
Pak Wijaya menatap anaknya tajam. “Ayah sedang mencoba adil, Krisna. Bukan membelanya.”
Krisna terdiam.
Bu Rika mengusap wajahnya. “Kalau soal kaca mobil Pak … saya akan ganti. Walaupun dicicil. Walau pun ... mungkin nanti agak lama lunasnya.”
Krisna terkekeh pendek—dingin. “Kaca mobil itu mahal.”
Bu Rika mengangguk cepat. “Saya tahu, Den. Tapi itu tanggung jawab saya sebagai orang tua.”
Pak Wijaya menghela napas lagi, kali ini lebih berat. “Ndak perlu sekarang.”
Bu Rika menatapnya dengan mata merah. “Tapi Pak—”
“Sudah,” potong Pak Wijaya. “Biar saya yang urus.”
Krisna menoleh cepat. “Ayah?”
Pak Wijaya menatap anaknya tanpa gentar.
“Aku yang beli mobil itu. Atas namaku. Jadi aku juga berhak memutuskan.” Krisna mengatupkan rahang. “Ini urusan aku,” lanjutnya.
“Dan Raisa itu anak karyawan Ayah,” balas Pak Wijaya tenang. “Ibu-nya bekerja di rumah ini bertahun-tahun. Kalau kamu mau jadi dokter di desa, membuka klinik di sini, kamu harus belajar satu hal dulu.”
Krisna menyipit. “Apa?”
“Melihat manusia, bukan statusnya.” Kalimat itu jatuh telak.
Krisna menoleh ke arah jendela, hujan masih turun. Ia mengepalkan tangan di pangkuannya. Ada bagian dalam dirinya yang ingin membantah—ingin berkata bahwa ia hanya menegakkan aturan, bahwa dunia tidak bisa diselesaikan dengan emosi.
Tapi ada bagian lain yang diam, karena ia tahu: ia juga sedang hidup dalam emosi yang tidak terkelola.
Bu Rika berdiri pelan. “Pak … boleh saya pulang lebih cepat hari ini? Raisa pasti—”
“Pulanglah,” kata Pak Wijaya. “Lihat anakmu.”
Bu Rika mengangguk berkali-kali. Sebelum keluar, ia memberanikan diri menoleh ke Krisna. “Den Krisna … sekali lagi saya minta maaf. Kalau Raisa lancang.”
Krisna menatapnya sebentar. Wajah perempuan itu penuh kekhawatiran seorang ibu—wajah yang mirip, samar, dengan wajah Raisa ketika menantangnya di jalan. Bedanya, Bu Rika menyembunyikan api itu di balik kepatuhan.
“Dia berani,” kata Krisna akhirnya, suaranya datar. “Itu saja.”
Bu Rika tertegun. Tidak tahu apakah itu pujian atau hinaan.
Setelah Bu Rika pergi, keheningan menutup ruang tamu.
Pak Wijaya berdiri, berjalan ke jendela, menatap halaman. “Kamu marah karena kaca mobil, atau karena hidupmu lagi kacau, Krisna?”
Krisna menegang. “Jangan bawa masalah itu ke sini, Yah.”
Pak Wijaya menoleh. “Kamu itu anak Ayah. Dan, sangat memahami u."
Krisna menunduk. Jari-jarinya mengusap kening. “Aku capek, Yah.”
Pengakuan itu keluar tanpa ia rencanakan.
Pak Wijaya mendekat, duduk di sampingnya. “Ayah tahu.”
Krisna menatap bayi yang terlelap. “Pikiranku lagi ruwet, belum lagi mengurus anak sendiri. Lalu ketemu sama gadis gila—“ Ia berhenti.
Pak Wijaya menunggu.
“Aku malah ngerasa ditantang,” lanjut Krisna pelan. “Dan aku benci perasaan itu.”
Pak Wijaya tersenyum tipis. “Karena ada orang yang berani melawanmu?”
“Atau karena dia mengingatkan aku pada sesuatu yang ingin aku kubur,” jawab Krisna jujur.
Pak Wijaya mengangguk pelan. “Desa ini kecil, Kris. Kamu akan sering bertemu Raisa.”
Krisna mengangkat kepala. “Aku nggak minta itu, Yah.”
“Tapi hidup jarang tanya izin,” balas Pak Wijaya.
Malam turun perlahan. Hujan berhenti, menyisakan bau tanah basah yang kuat.
***
Di rumah kecil tak jauh dari sana, Raisa duduk di lantai, memeras baju yang kotor. Bajunya sudah berganti, tapi matanya masih merah—bukan karena air hujan, melainkan karena perasaan yang belum reda.
Ibunya masuk, wajah lelah, mata sembab.
“Mak?” Raisa menoleh cepat. “Kok pulang cepat?”
Bu Rika memeluk anaknya erat, mendadak. Raisa kaku sesaat, lalu membalas pelukan itu.
“Kamu kenapa, Mak?”
Bu Rika menarik napas, menahan tangis. “Kaca mobil anak Pak Kades retak, gara-gara kelakuan kamu.”
Raisa membeku.
“Anak Pak Kades?” ulangnya pelan.
Bu Rika mengangguk. “Dokter itu … yang kamu ributin.”
Raisa terdiam lama. Dadanya terasa aneh—bukan takut, tapi seperti ditarik dua arah.
“Terus?” tanya Raisa akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya.
“Pak Wijaya tahu kamu anak Emak."
Raisa mendengus pendek. “Bagus. Sekalian tahu kalau anak pembantu juga bisa marah. Dan tidak bisa diinjak-injak begitu saja."
Bu Rika menatapnya. “Memangnya kamu nggak takut, Nak?”
Raisa menatap lantai. “Sebenarnya ... sedikit takut. Tapi aku juga sedang lelah waktu itu, Mak. Aku gagal melamar kerja. Ngimana aku nggak kesal."
Bu Rika mengusap rambut panjang Raisa, rambut yang tadi disebut Krisna. “Maafkan Ibu ya Nak. Kamu lahir dalam keadaan seperti ini, serba kekurangan. Dan ... membuat pribadimu menjadi keras begini."
Raisa tersenyum tipis, pahit. “Kalau nggak keras, aku udah remuk dari dulu. Meski kita ini bukan orang kaya, tetap harus punya harga diri, Mak. Jangan mau diinjak-injak sama orang kaya. Dan— jangan terlihat lemah, Mak."
Sementara itu, di rumah Pak Wijaya, Krisna berdiri di depan jendela kamarnya, menatap gelapnya desa.
Nama itu terlintas lagi di kepalanya.
Raisa.
Gadis barbar. Gadis berani. Anak ART.
Dan untuk pertama kalinya sejak kepulangannya, Krisna merasa: desa ini tidak akan memberinya ketenangan semudah yang ia bayangkan. Padahal ia kembali ke kampung untuk menenangkan diri, bukan mencari masalah baru.
"Ish, kenapa aku malah kepikiran sama anak pembantu itu. Kayak nggak ada kerjaan saja."
Bersambung ... 💔
kepo sm bibir lena, kira² meledaknya sprti ap y ???
mommy bab selanjutnya ditnggu 💪💪💪💪💪😊