NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Pengasuh
Popularitas:246.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Miskin Bukan Berarti Lemah

Krisna melirik sekilas ke Bu Rika, lalu kembali ke ayahnya. “Dia teriak. Marah. Melempar batu, mengenai kaca mobil belakang hingga retak.”

Pak Wijaya mengangguk pelan. “Dan kamu?”

“Aku berhenti, Yah,” jawab Krisna. “Ribut dengannya. Dan dia itu … sangat kasar dan barbar.”

Bu Rika menunduk lebih dalam. Air mata menetes di punggung tangannya.

“Raisa pasti lagi capek, Pak,” katanya lirih, suaranya bergetar. “Dia lagi cari kerja. Seharian keliling naik sepeda. Kalau hujan, dia paling takut … bajunya cuma itu-itu saja.”

Kata-kata itu meluncur pelan, tapi setiap katanya seperti menekan dada Krisna tanpa izin.

Baju satu-satunya.

Surat lamaran basah.

Ia teringat map plastik buram di keranjang sepeda Raisa.

Pak Wijaya terdiam lama. Tatapannya mengarah ke ayunan bayi yang bergerak pelan. Lalu ia menghela napas.

“Bu Rika,” katanya akhirnya, “saya tahu kamu membesarkan anakmu dengan bekerja setiap hari di sini karena suamimu kerja serabutan. Saya juga tahu Raisa itu anak yang keras … tapi bukan anak sembarangan.”

Krisna mengangkat alis tipis. “Ayah membelanya?”

Pak Wijaya menatap anaknya tajam. “Ayah sedang mencoba adil, Krisna. Bukan membelanya.”

Krisna terdiam.

Bu Rika mengusap wajahnya. “Kalau soal kaca mobil Pak … saya akan ganti. Walaupun dicicil. Walau pun ... mungkin nanti agak lama lunasnya.”

Krisna terkekeh pendek—dingin. “Kaca mobil itu mahal.”

Bu Rika mengangguk cepat. “Saya tahu, Den. Tapi itu tanggung jawab saya sebagai orang tua.”

Pak Wijaya menghela napas lagi, kali ini lebih berat. “Ndak perlu sekarang.”

Bu Rika menatapnya dengan mata merah. “Tapi Pak—”

“Sudah,” potong Pak Wijaya. “Biar saya yang urus.”

Krisna menoleh cepat. “Ayah?”

Pak Wijaya menatap anaknya tanpa gentar.

 “Aku yang beli mobil itu. Atas namaku. Jadi aku juga berhak memutuskan.” Krisna mengatupkan rahang. “Ini urusan aku,” lanjutnya.

“Dan Raisa itu anak karyawan Ayah,” balas Pak Wijaya tenang. “Ibu-nya bekerja di rumah ini bertahun-tahun. Kalau kamu mau jadi dokter di desa, membuka klinik di sini, kamu harus belajar satu hal dulu.”

Krisna menyipit. “Apa?”

“Melihat manusia, bukan statusnya.” Kalimat itu jatuh telak.

Krisna menoleh ke arah jendela, hujan masih turun. Ia mengepalkan tangan di pangkuannya. Ada bagian dalam dirinya yang ingin membantah—ingin berkata bahwa ia hanya menegakkan aturan, bahwa dunia tidak bisa diselesaikan dengan emosi.

Tapi ada bagian lain yang diam, karena ia tahu: ia juga sedang hidup dalam emosi yang tidak terkelola.

Bu Rika berdiri pelan. “Pak … boleh saya pulang lebih cepat hari ini? Raisa pasti—”

“Pulanglah,” kata Pak Wijaya. “Lihat anakmu.”

Bu Rika mengangguk berkali-kali. Sebelum keluar, ia memberanikan diri menoleh ke Krisna. “Den Krisna … sekali lagi saya minta maaf. Kalau Raisa lancang.”

Krisna menatapnya sebentar. Wajah perempuan itu penuh kekhawatiran seorang ibu—wajah yang mirip, samar, dengan wajah Raisa ketika menantangnya di jalan. Bedanya, Bu Rika menyembunyikan api itu di balik kepatuhan.

“Dia berani,” kata Krisna akhirnya, suaranya datar. “Itu saja.”

Bu Rika tertegun. Tidak tahu apakah itu pujian atau hinaan.

Setelah Bu Rika pergi, keheningan menutup ruang tamu.

Pak Wijaya berdiri, berjalan ke jendela, menatap halaman. “Kamu marah karena kaca mobil, atau karena hidupmu lagi kacau, Krisna?”

Krisna menegang. “Jangan bawa masalah itu  ke sini, Yah.”

Pak Wijaya menoleh. “Kamu itu anak Ayah. Dan, sangat memahami u."

Krisna menunduk. Jari-jarinya mengusap kening. “Aku capek, Yah.”

Pengakuan itu keluar tanpa ia rencanakan.

Pak Wijaya mendekat, duduk di sampingnya. “Ayah tahu.”

Krisna menatap bayi yang terlelap. “Pikiranku lagi ruwet, belum lagi mengurus anak sendiri. Lalu ketemu sama gadis gila—“ Ia berhenti.

Pak Wijaya menunggu.

“Aku malah ngerasa ditantang,” lanjut Krisna pelan. “Dan aku benci perasaan itu.”

Pak Wijaya tersenyum tipis. “Karena ada orang yang berani melawanmu?”

“Atau karena dia mengingatkan aku pada sesuatu yang ingin aku kubur,” jawab Krisna jujur.

Pak Wijaya mengangguk pelan. “Desa ini kecil, Kris. Kamu akan sering bertemu Raisa.”

Krisna mengangkat kepala. “Aku nggak minta itu, Yah.”

“Tapi hidup jarang tanya izin,” balas Pak Wijaya.

Malam turun perlahan. Hujan berhenti, menyisakan bau tanah basah yang kuat.

***

Di rumah kecil tak jauh dari sana, Raisa duduk di lantai, memeras baju yang kotor. Bajunya sudah berganti, tapi matanya masih merah—bukan karena air hujan, melainkan karena perasaan yang belum reda.

Ibunya masuk, wajah lelah, mata sembab.

“Mak?” Raisa menoleh cepat. “Kok pulang cepat?”

Bu Rika memeluk anaknya erat, mendadak. Raisa kaku sesaat, lalu membalas pelukan itu.

“Kamu kenapa, Mak?”

Bu Rika menarik napas, menahan tangis. “Kaca mobil anak Pak Kades retak, gara-gara kelakuan kamu.”

Raisa membeku.

“Anak Pak Kades?” ulangnya pelan.

Bu Rika mengangguk. “Dokter itu … yang kamu ributin.”

Raisa terdiam lama. Dadanya terasa aneh—bukan takut, tapi seperti ditarik dua arah.

“Terus?” tanya Raisa akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya.

“Pak Wijaya tahu kamu anak Emak."

Raisa mendengus pendek. “Bagus. Sekalian tahu kalau anak pembantu juga bisa marah. Dan tidak bisa diinjak-injak begitu saja."

Bu Rika menatapnya. “Memangnya kamu nggak takut, Nak?”

Raisa menatap lantai. “Sebenarnya ... sedikit takut. Tapi aku juga sedang lelah waktu itu, Mak. Aku gagal melamar kerja. Ngimana aku nggak kesal."

Bu Rika mengusap rambut panjang Raisa, rambut yang tadi disebut Krisna. “Maafkan Ibu ya Nak. Kamu lahir dalam keadaan seperti ini, serba kekurangan. Dan ... membuat pribadimu menjadi keras begini."

Raisa tersenyum tipis, pahit. “Kalau nggak keras, aku udah remuk dari dulu. Meski kita ini bukan orang kaya, tetap harus punya harga diri, Mak. Jangan mau diinjak-injak sama orang kaya. Dan— jangan terlihat lemah, Mak."

Sementara itu, di rumah Pak Wijaya, Krisna berdiri di depan jendela kamarnya, menatap gelapnya desa.

Nama itu terlintas lagi di kepalanya.

Raisa.

Gadis barbar. Gadis berani. Anak ART.

Dan untuk pertama kalinya sejak kepulangannya, Krisna merasa: desa ini tidak akan memberinya ketenangan semudah yang ia bayangkan. Padahal ia kembali ke kampung untuk menenangkan diri, bukan mencari masalah baru.

"Ish, kenapa aku malah kepikiran sama anak pembantu itu. Kayak nggak ada kerjaan saja."

Bersambung ... 💔

1
Mulaini
Raisa memang aneh tuh si Krisna pingin di hentikan biar gak ketemu sama tamunya sama kamu hehehe...
nesha
lena kalah saing lagi 🤣🤣
nesha
ho’o benar bgtt 😂😂😂
kaylla salsabella
🕺🕺🕺🕺🕺🕺🕺 yeyeye... makan nasi goreng😚😚😚
Mommy El
O, berarti Lena sudah tahu banget dg seluk beluk nya si Wirda.
Takut aja Lena kerjasama dg Wirda untuk menyerang Raisa. Walaupun mereka punya misi yang sama untuk mendapatkan cinta Krisna. Bakal rame ini konfliknya,,, Ezio bantuin kak Raisa ya. TOS dulu kita Dek Ezio.🫸🫷🍻
Puput Assyfa
karena tamu tak di undang ini pak dokter ini bukan yg sreg di hatinya makanya mukanya asem n kayak ngajak perang tegang
Henry Cavill
kalo ketemu Wirda mimik wajahnya seperti mau perang kalo ketemu Lena mimik wajahnya berubah seperti mau berak🤣🤣🤣🤣
.
karna tamu yg tidak di harapkan jadi bawaannya males
Hearty💕💕
Suka dengan gambar²nya
Heni Mulyani
lanjut
Nar Sih
karena tamu yg ngk di undang yg dtg jls mas dokter mls😂😂
Hearty💕💕
Menarik..... semoga ada pelajaran yang besar untuk ke 2 nya
Hearty💕💕
Makanya jangan keras kepala..... empati
Naufal Affiq
tamu nya mas krisna gak sesuai ke inginan raisa,makanya wajah nya mau perang,
Hearty💕💕
Raisa bilang dong kesempatan kerja saya jadi gagal.....
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Kar Genjreng
Tau saja Rai Dirimu ya itu karena tamunya tidak amanah 😇 jadi gae sebel Mas Dokter mu Rai makanya di kasih jangan keluar karena Wirda akan melihat Mu dan akan cemburu. padahal Raisa nya cuek abis bodo amir ya Rai,,,,persisnya gini diam bukan berarti ga tau cuma masa bodo saja lah seandainya Dokter nya cinta dengan Gadis kampung apa salah nya coba,, tapi bagi Krisna justru kesederhanaan dan apa adanya tidak jaim dan sandiwara pura pura pinter tapi bodo
dan ga merasa paling hebat tetapi survey membuktikan bisa jaga Anak ,,,bisa bikin kopi enak dan nasgor nya enak cocok di lidah penikmat nya,,, kenapa orang pada iri
sama Raisa karena ga muluk,,,Mas sabar ngadepi calon ular betina belum tentu sayang sama putramu seperti itu,,,jadi tukang ngepel,,,
Hearty💕💕
Hai ini pertama kali mampir di karya Kak Ghina
Engkar Sukarsih
waduh... saingan lenong dah nongol ini🤔🤔bisa gaswat deh,duo lampir berebutan nyari perhatian pak dokter Krisna ini😇😇😇😇
RiriChiew🌺
karena tamu nya gak diundang makanya agak sebell si Krisna nyaa 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!