Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Ketukan terdengar di pintu. Naya bangun dan sebelum sempat menjawab pintu sudah terbuka.
Mario yang lebih muda dari Lucio masuk membawa baki kecil berwarna perak, di atasnya segelas air bening dan dua butir obat. Mario berpakaian rapi dengan setelan abu gelap, rambutnya disisir sempurna.
“Selamat pagi,” ucapnya singkat, suaranya rendah dan terkendali. Ia melangkah masuk dan berhenti di depan Naya, menjaga jarak sopan.
Naya menatap baki itu, lalu mengangkat pandangannya. “Obat apa ini?”
“Asam mefenamat,” jawab pria itu tanpa ragu. “Untuk pusing dan nyeri kepala.”
Mario mengulurkan baki itu sedikit ke depan, menunggu. “Tuan saya meminta Anda meminumnya sekarang.”
Kata Tuan membuat perut Naya mulas. Naya hanya berharap setelah ini Lucio tidak memintanya bertanggung jawab dengan sesuatu yang tidak masuk akal.
“Aku tidak terbiasa minum obat tanpa penjelasan dari orang yang tidak kukenal,” kata Naya mengerucutkan bibirnya, menatap jengkel pada Mario.
Mario tidak tersinggung. Bahkan tidak berkedip.
“Anda bebas menolaknya,” katanya datar. “Tapi Tuan Lucio menyarankan Anda tidak memperparah kondisi Anda sendiri. Jadwal beliau hari ini tidak fleksibel.”
Itu terdengar seperti peringatan yang dibungkus kesopanan.
Naya menghela nafas pendek, kepalanya kembali berdenyut, seolah menyetujui ancaman halus itu. Ia mengambil gelas air terlebih dulu, menimbang-nimbang, lalu akhirnya meraih obat tersebut.
Tatapan pria itu mengikuti setiap gerakannya, tenang dan mengawasi.
Naya menelan obat itu, meneguk air sampai habis, lalu mengembalikan gelas ke atas baki dengan sedikit hentakan. “Sudah.”
“Terima kasih atas kerja samanya.” Pria itu mengangguk tipis, hampir tak terlihat.
Ia berbalik menuju pintu, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh. “Tuan Lucio akan kembali menemui Anda setelah obatnya bekerja. Sekitar lima belas menit.”
Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Naya tersisa sendirian lagi di kamar mewah itu, menatap telapak tangannya sendiri. Rasa pahit obat masih tertinggal di lidahnya.
“Sial. Dari sekian banyak pemuda tampan di klub itu kenapa Lucio yang membawaku pergi?” Gumam Naya, menyayangkan tindakannya sendiri yang memilih mabuk disana.
Lima belas menit berlalu dengan lambat. Pusing di kepala Naya memang mulai mereda, tetapi kegelisahan justru menguat, menumpuk di dada tanpa tahu harus ke mana.
Pintu terbuka tanpa ketukan.
Lucio masuk kembali.
Langkahnya sama tenangnya seperti sebelumnya. Di tangannya ada sebuah map cokelat tebal. Tanpa berkata apa pun, ia melangkah mendekat lalu melemparkannya begitu saja ke pangkuan Naya.
Map itu jatuh dengan bunyi thump yang terasa terlalu keras di keheningan kamar.
“Apa ini?” Tanya Naya mengambil map tersebut, berusaha untuk tetap tenang dan santai. Ia sudah punya firasat buruk sejak Lucio datang.
“Baca,” katanya singkat.
“Kenapa aku harus membacanya?” Naya refleks memegang map itu, menatapnya seolah benda tersebut bisa menggigit.
“Tentu saja bentuk pertanggungjawaban,” jawab pria itu sambil menyandarkan diri di meja, menyilangkan tangan di dada. Tatapannya mengunci Naya, seolah ia sedang mengamati reaksi yang sudah ia perkirakan.
Naya membuka map itu perlahan. Jari-jarinya terasa dingin. Halaman pertama langsung membuat napasnya tersendat.
SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN.
Matanya menelusuri baris-baris berikutnya dengan cepat hingga kata-kata itu benar-benar meresap. Nama lengkapnya tertera jelas. Begitu pula nama pria di hadapannya. Ada pasal-pasal, klausul, kewajiban, batasan, waktu, kerahasiaan dan konsekuensi.
Tangannya mulai gemetar.
“Nikah? Apa maksudmu perjanjian pernikahan?” Naya menatap Lucio meminta penjelasan.
“Ya, kita akan menikah dan tentu saja kamu harus mematuhi isi perjanjian.” Kata Lucio santai.
“Nggak. Aku nggak mau menikah denganmu.” Tentu saja Naya langsung menolak, ia tidak kenal dengan Lucio.
“Kamu tidak bisa menolak.”
“Leluconmu tidak lucu sama sekali,” Naya mendongak tajam.
“Itu bukan lelucon.” Lucio meluruskan.
“Kamu gila,” Naya berdiri setengah, map itu terangkat bersama gerakannya. “Kamu bilang aku harus bertanggung jawab karena menyusahkanmu dan yang kamu maksud adalah menikah?”
Lucio melangkah mendekat, aura intimidasi itu kembali memenuhi ruangan. “Semalam, keberadaanmu menempatkanku dalam situasi yang berpotensi merusak reputasi dan urusan yang sedang kubangun. Aku tidak bisa membiarkan spekulasi berkembang.”
“Itu bukan masalahku!”
“Sekarang iya,” potongnya dingin. “Namamu sudah terlanjur tercatat dalam lingkaranku. Orang-orang melihatmu keluar bersamaku. Menginap. Bangun di rumahku.”
Lihat! Lucio memang orang yang tidak masuk akal. Sekarang mari kita pikirkan dengan logika, kamu mabuk lalu muntah di baju seseorang dan kemudian orang itu memintamu untuk bertanggung jawab. Seharusnya tanggung jawab dalam hal ini bisa seperti mencuci bajunya atau membelikan yang baru. Orang waras jelas memilih salah satu dari dua opsi ini, dan Lucio jelas bukan orang waras.
Bagaimana mungkin hanya karena mabuk dan sedikit mengotori bajunya, Naya tiba-tiba harus bertanggung jawab dengan menikahinya.
“Ini nggak masuk akal. Kita hanya dua orang asing yang kebetulan berada dalam suatusi…hemm…” Naya menggaruk kepalanya canggung. “...agak tidak terduga.”
“Aku tahu dan aku tidak peduli.”
“Kita menikah,” lanjutnya, datar dan tegas. “Secara legal. Terbatas. Dengan perjanjian yang jelas. Kamu aman, kebutuhanmu terpenuhi, dan tidak ada pihak yang dirugikan. Kamu juga bisa memberi pelajaran pada pria yang sudah membuatmu galau setengah mati di klub malam dengan menikahiku, kamu bisa membuktikan sama dia kalau kamu mendapatkan pria yang lebih baik darinya.”
Sepertinya Lucio memang tahu caranya menyanjung diri sendiri.
“Dan kalau aku menolak?” Tanya Naya penasaran, gugup juga sih. Jawaban Lucio pasti tidak masuk akal lagi.
Pria itu menatapnya lama, lalu ia tersenyum tipis, sama sekali tidak ada kehangatan disana.
“Maka aku akan menyelesaikan masalah ini dengan caraku sendiri, dan percayalah, itu tidak akan senyaman opsi yang kutawarkan.”
Naya menatap surat perjanjian itu, jantungnya berdebar keras. Haruskah ia menikah dengan Lucio? Bagaimana kalau Lucio adalah pria yang lebih buruk daripada Ardan? Kabur dari Lucio jelas tidak semudah saat ia memutuskan hubungan dengan Ardan.
Pria itu membungkuk sedikit, ia berkata dengan suara rendah dan berat. “Baca baik-baik, Naya, dan pastikan kamu tidak akan menyesalinya.”
“Apa konsekuensi kalau aku menolak?” Naya bertanya lagi, ingin memastikan apakah konsekuensi dari penolakan bisa ia tanggung.
“Ayahmu akan mati,” Lucio mengeluarkan pistol yang selalu tersimpan di pinggangnya, menempelkan benda itu di sisi kanan kepala Naya. “Aku akan menembaknya disini.”
Ini mengejutkan.
Naya langsung gemetaran hebat, wajahnya pucat. Ia tak mampu mengeluarkan suara, bahkan untuk sekedar bernafas pun sulit.
“Kamu akan ada disana menyaksikan nyawa tidak berharganya melayang, setelah itu aku akan menikahi adik tirimu. Dan aku jamin dia tidak akan menolakku.”
Sial!
...***...
...Like, vote dan komen ...