Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Pagi di Uluwatu yang seharusnya tenang berubah menjadi badai dalam sekejap bagi Alana. Baru saja ia selesai merapikan kemeja kerjanya dan bersiap melangkah keluar kamar hotel, ponsel di atas nakas bergetar hebat. Nama "Ibu" berkedip di layar, memberikan firasat buruk yang sudah sangat dihafalnya.
Alana menarik napas panjang sebelum menggeser tombol hijau. "Halo, Bu?"
"Alana! Kamu ini benar-benar keterlaluan ya!" Suara melengking ibunya langsung menghantam pendengaran Alana, bahkan tanpa salam pembuka. "Motor Rian baru saja ditarik orang leasing di depan rumah! Malu Ibu, Alana! Malu sama tetangga!"
Dada Alana terasa sesak, namun kali ini ada kemarahan yang mulai mengkristal di sana. "Bu, Alana sudah bilang sebelum Alana tugas di Bali . Alana cuma kasih uang untuk makan Ibu dan Ayah, dan Alana tidak akan lagi bayar cicilan motor Rian yang mahal itu. Rian sudah besar, dia harus cari kerja sendiri."
"Cari kerja apa? Zaman sekarang susah, Alana! Kamu kan asisten manajer, uangmu banyak!" teriak ibunya, tidak mau kalah. "Kamu tega lihat adikmu jalan kaki panas-panasan? Kamu itu sukses karena doa Ibu, tapi sekarang kamu malah kikir sama keluarga sendiri! Pokoknya Ibu tidak mau tahu, tebus motor itu sekarang atau Ibu anggap kamu bukan anak Ibu lagi!"
Deg.
Kalimat itu—ancaman yang selalu digunakan untuk melumpuhkan Alana—kembali terlontar. Alana memejamkan mata rapat-rapat. Air mata hampir jatuh, namun ia segera menyekanya dengan kasar. Ia teringat kembali pada "mesin ATM" yang disebutkan Pradipta semalam.
"Kalau begitu, terserah Ibu," suara Alana bergetar namun tetap tegas. "Alana sudah cukup jadi mesin uang selama ini. Kebutuhan pokok Ibu dan Ayah akan tetap Alana tanggung, tapi untuk gaya hidup Rian... Alana angkat tangan."
Klik.
Alana memutus sambungan telepon secara sepihak sebelum ibunya sempat mencaci lebih jauh. Ia menyandarkan punggungnya di pintu kamar yang tertutup, tubuhnya gemetar hebat. Ia ingin berteriak, tapi ia tahu ia harus profesional. Pengecoran pondasi menunggu di lokasi proyek.
Dengan langkah limbung, ia berjalan menuju lobi. Namun, tepat di depan lift, ia kembali bertemu dengan Pradipta. Pria itu berdiri di sana dengan setelan proyek yang rapi, namun matanya langsung menyadari ada yang tidak beres. Pradipta melihat wajah Alana yang pucat pasi dan ponsel yang masih digenggam erat hingga kuku-kuku jarinya memutih.
"Alana?" Pradipta melangkah mendekat, suaranya penuh kekhawatiran. "Wajahmu... apa yang terjadi? Apa keluargamu menelepon lagi?"
Alana mendongak, berusaha memasang topeng dinginnya kembali, namun gagal total. Di depan Pradipta, dinding pertahanannya seolah terbuat dari kaca yang siap pecah kapan saja.
"Bukan apa-apa, Pak Pradipta," jawab Alana cepat, suaranya serak namun penuh penekanan. Ia segera menarik napas dalam, berusaha menelan bulat-bulat rasa sesak yang menyumbat tenggorokannya. "Saya hanya kurang tidur karena memikirkan jadwal pengecoran pagi ini."
Alana melangkah melewati Pradipta menuju lift yang baru saja terbuka, sengaja tidak menatap mata pria itu. Ia tahu, satu tatapan saja bisa menghancurkan sisa-sisa kekuatannya.
"Alana, jangan berbohong," desis Pradipta, ikut melangkah masuk ke dalam lift yang kosong. Pintu tertutup, menyisakan keheningan yang mencekam di antara mereka. "Tanganmu masih gemetar. Apa ini soal keluarga mu? "
Alana mengepalkan tangannya di samping tubuh, menyembunyikan getaran itu di balik lipatan celana kainnya. "Pak, tolong. Kita sudah di lingkungan hotel, sebentar lagi kita sampai di lokasi. Banyak karyawan dan pekerja yang akan memperhatikan kita. Saya tidak ingin mereka berpikir ada sesuatu yang tidak profesional di antara kita."
Pradipta menghela napas kasar, tampak sangat tidak puas dengan jawaban formal itu. "Kamu selalu menggunakan alasan 'profesional' untuk melarikan diri, Alana. Kamu pikir aku tidak bisa melihat luka di balik kemeja rapi ini?"
"Saat ini, yang paling penting adalah proyek ini berjalan lancar sesuai target," potong Alana tepat saat pintu lift berdenting terbuka di lantai lobi.
Beberapa staf hotel dan dua orang konsultan proyek sudah berdiri di sana, menunggu lift. Alana segera menegakkan punggungnya, memasang wajah datar yang tak terbaca, seolah pembicaraan emosional di dalam lift tadi tidak pernah terjadi. Ia berjalan keluar dengan langkah mantap, meninggalkan Pradipta yang berdiri terpaku dengan rahang mengeras.
Di parkiran, Alana segera menghampiri mobil operasional proyek, mengabaikan mobil mewah Pradipta . Ia masuk ke kursi belakang dan menatap keluar jendela, membiarkan AC mobil mendinginkan wajahnya yang terasa panas.
Dalam hatinya, ia terus merapalkan doa agar ibunya tidak menelepon lagi. Ia harus bertahan. Ia harus membuktikan bahwa ia bukan sekadar "mesin uang" atau "anak cengeng", melainkan Alana Caesarea yang sanggup berdiri di atas kakinya sendiri, meski hatinya baru saja dicabik-cabik oleh ancaman sang ibu.