Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Mark Smith—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di Universitas of Oxford tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Mark pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Mark bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Mark tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bahasa Tanpa Suara
Pagi itu, Sheena terbangun dengan perasaan yang aneh. Bibirnya terasa masih menyisakan sisa kehangatan semalam. Ia sengaja berlama-lama di dalam kamar, mengintip dari celah pintu untuk memastikan Mark sudah berangkat ke kantor. Ia belum siap mental untuk bertatapan langsung setelah kejadian di ruang musik itu.
Begitu merasa aman, Sheena turun ke lantai bawah. Namun, langkahnya terhenti di meja makan. Mark memang sudah tidak ada, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana.
Biasanya, sarapan disiapkan secara prasmanan oleh pelayan. Namun pagi ini, di tempat duduk biasa Sheena, sudah tersedia sepiring pancake blueberry—kesukaannya—dengan tatanan yang sangat presisi. Di sampingnya, ada segelas susu hangat dan sebuah catatan kecil di atas kertas kaku berlogo Smith Group.
"Jangan melewatkan sarapan. Aku tahu kau tidak tidur nyenyak semalam karena terlalu banyak berpikir. Makanlah, dan jangan sampai telat ke kampus." — M
Sheena tersenyum kecil, jantungnya mencelos. "Bagaimana dia bisa tahu aku suka tatanan yang rapi seperti ini?" Gumamnya sambil menatap buah blueberry yang tersusun melingkar sempurna di atas pancake.
Tiba-tiba, kepala pelayan menghampirinya sambil membawa sebuah paper bag kecil.
"Nyonya, Tuan Mark tadi berpesan sebelum berangkat. Beliau bilang, semalam Anda terlihat kedinginan di ruang kerjanya. Beliau meninggalkan ini untuk Anda pakai di kampus," ucap pelayan itu ramah.
Sheena membukanya. Di dalamnya ada sebuah cardigan rajut berwarna krem yang sangat lembut. Saat Sheena menyentuhnya, aroma parfum kayu cendana dan citrus khas Mark langsung tercium—seolah pria itu sedang memeluknya secara tidak langsung.
Di Kampus. Sepanjang jam kuliah, Sheena sama sekali tidak bisa fokus. Ia memakai cardigan itu, mengeratkannya ke tubuhnya setiap kali merasa gugup. Namun, kejutan Mark tidak berhenti di situ.
Saat jam makan siang, ponsel Sheena bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak ia simpan, tapi ia tahu siapa pemiliknya.
[Nomor Tak Dikenal]: Ada kurir yang mengirimkan makan siang di lobi. Jangan makan di kantin hari ini, di sana terlalu ramai dan pengap. Kau benci keramaian, bukan?
Sheena terpaku. Benar saja, di lobi sudah ada kurir yang membawakan kotak bento premium. Begitu dibuka, isinya disusun sangat cantik dan simetris, benar-benar memanjakan matanya yang perfeksionis.
"Dia... kenapa jadi sangat perhatian begini?" Bisik Sheena, pipinya memanas lagi.
Tiba-tiba, sebuah mobil Maybach hitam berhenti tepat di depan lobi—mobil yang berbeda lagi dari kemarin. Kacanya turun perlahan, memperlihatkan Mark yang tampak sedang berbicara di telepon melalui handsfree.
Mark menoleh ke arah Sheena yang berdiri mematung di lobi dengan cardigan krem miliknya. Ia tidak turun, hanya memberikan isyarat dengan kepalanya agar Sheena mendekat.
Begitu Sheena sampai di depan pintu mobil, Matthias mematikan sambungan teleponnya. Ia menatap Sheena dengan tatapan yang jauh lebih lembut dari biasanya.
"Kenapa kau di sini? Bukankah kau harus ke kantor?" Tanya Sheena salah tingkah.
"Aku ada pertemuan di dekat sini, jadi aku pikir... aku bisa melihat apakah istriku memakai pemberianku atau tidak," jawab Mark datar, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.
Ia mengulurkan tangannya dari dalam jendela, bukan untuk menarik Sheena, tapi hanya untuk merapikan kerah cardigan yang Sheena pakai. Jarinya sempat menyentuh kulit leher Sheena, membuat gadis itu merinding seketika.
"Warnanya cocok untukmu," ucap Mark pendek. "Masuklah lagi, jangan berdiri di panas matahari. Aku akan menjemputmu tepat jam empat sore. Jangan menghilang."
Mobil itu melesat pergi sebelum Sheena sempat membalas. Sheena berdiri di sana, memegangi kerah cardigannya, merasa seperti sedang diterbangkan ke awan. Perhatian-perhatian kecil Mark justru jauh lebih mematikan daripada ciuman semalam. Pria itu tidak lagi memakai kekerasan atau kata-kata tajam, ia mulai menyerang Sheena dengan ketulusan yang tak terduga.