Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Cahaya pagi belum benar-benar masuk ke dalam kamar ketika Nick perlahan membuka matanya.
Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar.
Pikirannya masih sedikit kosong karena baru bangun, namun kemudian ia menyadari sesuatu.
Ada berat hangat di dadanya.
Nick menoleh sedikit, terlihat tessa masih tertidur.
Tubuhnya setengah berada di atas dada Nick, satu tangan memeluknya tanpa sadar seolah itu adalah posisi paling nyaman di dunia.
Kepalanya yang semalam sempat bersandar di bahu Nick kini bergeser sedikit ke dadanya.
Wajahnya bahkan bersandar tepat di dadanya.
Napasnya pelan dan teratur.
Nick terdiam.
Ia tidak langsung bergerak.
Tatapannya justru tertuju pada wajah Tessa yang masih tertidur lelap.
Beberapa helai rambut jatuh menutupi pipinya.
Nick mengangkat tangannya sedikit dan menyingkirkan rambut itu secara refleks.
Gerakannya sangat pelan.
Seolah ia tidak ingin mengganggu tidurnya.
Tessa bergerak kecil.
Pelukannya justru semakin erat.
Nick langsung menegang sedikit.
Ia menghela napas pelan.
Kalau ia bergerak sekarang, Tessa pasti akan bangun.
Namun entah kenapa ia juga tidak benar-benar ingin membangunkannya.
Jadi untuk beberapa menit berikutnya, Nick hanya diam.
Tetap berbaring di sana.
Membiarkan Tessa tidur dalam pelukannya.
Beberapa saat kemudian cahaya pagi mulai masuk melalui celah tirai.
Dan akhirnya, Tessa bergerak sedikit.
Alisnya berkerut pelan sebelum perlahan membuka mata.
Beberapa detik pertama ia terlihat masih bingung.
Matanya menatap kosong ke depan.
Lalu perlahan kesadarannya kembali dan Ia menyadari satu hal.
Ada sesuatu yang sangat dekat dengannya.
Tessa berkedip.
Lalu menoleh sedikit.
Dan langsung membeku.
Wajahnya hanya beberapa sentimeter dari dada Nick.
Tangannya masih memeluknya.
Dan yang lebih mengejutkan, lengan Nick masih melingkar di punggungnya.
Tessa benar-benar tidak bergerak.
Jantungnya langsung berdetak cepat.
Perlahan ia mengangkat pandangannya.
Dan tepat saat itu, matanya bertemu dengan mata Nick.
Nick sudah bangun dan sejak tadi sedang menatapnya.
Beberapa detik suasana menjadi hening.
Tidak ada yang bergerak.
Ekspresi Nick tetap tenang seperti biasa.
Namun tatapannya jelas sadar penuh.
“Sudah selesai menatapku?” katanya datar.
Tessa langsung panik, Ia buru-buru melepaskan pelukannya dan menjauh sedikit.
“Ma...maaf! Aku tidak sengaja...” ucap tessa gugup setengah mati,
Nick memotong dengan santai. “Jangan salah paham, kau yang mendekat duluan semalam," jelas Nick yang otomatis membuat wajahnya memerah seketika,
Tessa langsung diam. “Aku… aku tidak ingat.”
Nick menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata tenang, “Kau tidur seperti orang yang mencari bantal tambahan.”
Tessa benar-benar ingin menghilang saat itu juga.
Ia langsung turun dari tempat tidur dengan canggung.
“Aku akan… mandi dulu.” ucap Tessa tanpa berani menatap Nick lagi, ia buru-buru berjalan ke kamar mandi.
Pintu tertutup cepat.
Di dalam kamar yang kembali sunyi, Nick masih berbaring di tempat tidur.
Ia menatap pintu kamar mandi beberapa detik.
Lalu menghela napas pelan.
Tangannya yang tadi memeluk Tessa masih berada di atas kasur.
Seolah masih mengingat kehangatan yang tadi ada di sana.
Dan tanpa ia sadari, sudut bibirnya bergerak sangat tipis.
Beberapa menit kemudian pintu kamar mandi perlahan terbuka.
Tessa melangkah keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Ia sudah mengenakan pakaian santai rumah, kaos lengan pendek dan celana pendek yang nyaman.
Namun langkahnya langsung terhenti.
Nick masih berada di kamar.
Ia sudah duduk di tepi tempat tidur sekarang.
Satu tangannya memegang ponsel, seolah sedang membaca sesuatu.
Namun ketika mendengar pintu terbuka, ia mengangkat pandangannya.
Tatapan mereka bertemu lagi.
Sekejap saja.
Tessa langsung teringat kejadian beberapa menit lalu.
Wajahnya langsung terasa panas.
Ia buru-buru mengalihkan pandangan.
“Aku... Sudah selesai, siapa tahu kau mau langsung mandi,” ucap tessa canggung.
Nick mengangkat alis sedikit. “Ya” Nada suaranya tenang.
Tessa berjalan ke meja rias, pura-pura sibuk merapikan rambutnya.
Ia benar-benar tidak berani menatap Nick terlalu lama.
Namun keheningan justru membuat suasana semakin canggung.
Nick memperhatikannya beberapa detik.
Lalu berkata santai, “Kau tidur cukup nyenyak tadi malam.”
Tessa langsung berhenti mengeringkan rambutnya.
Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.
“Ya…mungkin.” jawabnya pelan.
Nick berdiri dari tempat tidur, langkahnya perlahan mendekat.
Tessa bisa melihat bayangannya di cermin.
Ia menelan ludah pelan.
Nick berhenti beberapa langkah di belakangnya.
“Biasanya orang yang tidur nyenyak tidak berpindah tempat,” katanya datar.
Tessa langsung menoleh. “Aku sudah bilang aku tidak sengaja!”
Nick menatapnya beberapa detik.
Tatapannya tenang seperti biasa.
Namun ada sesuatu yang hampir terlihat seperti hiburan di sana.
“Kau hampir menjatuhkanku dari tempat tidur.”
Tessa benar-benar tidak percaya.
“Aku tidak akan sekuat itu!”
Nick mengangkat bahu sedikit. “Kau juga tidak ringan.”
Tessa melotot.
Nick berbalik menuju wardrobe seolah percakapan itu sudah selesai.
Tessa berdiri di sana beberapa detik.
Masih kesal. Namun juga… sangat malu.
Nick membuka wardrobe dan mengambil pakaiannya untuk hari itu.
Sebelum masuk kembali ke kamar mandi, ia berhenti sebentar.
Tanpa menoleh ia berkata, “Lain kali…”
Tessa langsung menatapnya.
Nick melanjutkan dengan nada santai, “Kalau kau ingin mendekat, kau bisa melakukannya saat sadar.”
Pintu kamar mandi tertutup.
Tessa membeku di tempatnya.
Butuh beberapa detik sebelum kata-kata itu benar-benar ia pahami.
Dan ketika ia menyadarinya, Tessa berteriak kesal
“Nick!”
Namun dari balik pintu kamar mandi hanya terdengar suara air menyala.
Seolah pria itu benar-benar tidak merasa bersalah sama sekali.
Tessa hanya bisa berdiri di sana dengan wajah merah.
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna