Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Barisan Belakang : Dunia Milik Berdua
Pagi itu, udara pegunungan yang menusuk tulang menyambut rombongan kecil ini. Di bawah kanopi pepohonan raksasa, pendakian pun dimulai. Berbeda dengan drama di kampus, kali ini suasana terasa lebih murni.
Lucia, yang ternyata seorang pendaki veteran, memimpin di barisan paling depan dengan langkah mantap tanpa keluhan sedikit pun.
Di belakang Lucia, ada Clark, Patrick, dan Henry yang sibuk mengoceh. Henry, dengan kacamata hitam yang bertengger di kepalanya, tidak berhenti bertingkah.
"Woi, liat Arah jam 2! Ada mbak-mbak pendaki pakai legging ketat! Wah, gunung bener-bener tempat penyembuhan mata paling oke!" seru Henry sambil bersiul, yang langsung dihadiahi pukulan tas karier oleh Lucia.
Sementara yang lain melaju di depan, Julius sengaja memperlambat langkahnya. Ia mengambil posisi paling belakang, tepat di samping Jane.
Jalur pendakian mulai tidak stabil, penuh dengan akar pohon yang mencuat dan kerikil licin. Setiap kali kaki Jane sedikit goyah, sebelum Jane sempat kehilangan keseimbangan, tangan Julius sudah melingkar kuat di pergelangan tangannya.
"Jalan di sampingku, Jane. Jangan di belakang," perintah Julius. Suaranya rendah, beradu dengan suara napas mereka yang menderu. Ia kemudian menggandeng tangan Jane, menuntunnya melewati rintangan seolah Jane adalah porselen yang bisa retak kapan saja.
"Aku kuat, Julius. Aku biasa olahraga di akhir pekan," protes Jane kecil, mencoba menarik tangannya karena merasa tidak enak dilihat yang lain.
Julius tidak melepaskannya. Ia justru menarik Jane lebih dekat, dan secara alami, lengannya melingkar di pinggang Jane saat mereka melewati tanjakan yang curam. "Aku tahu kau kuat. Tapi biarkan aku menjadi orang yang memastikan kau tetap tegak."
Jane tertegun. Pelukan di pinggang itu terasa sangat protektif. Otak pintarnya mulai bekerja mencari alasan logis. Dia pasti hanya khawatir aku terjatuh dan menghambat perjalanan rombongan, simpul Jane dalam hati. Ia tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Julius sedang merasakan kebahagiaan yang meluap setiap kali melihat rona merah yang menjalar di pipi Jane akibat udara dingin dan... kedekatan mereka.
Sesekali, mereka berhenti sejenak untuk mengambil napas. Lucia yang melihat momen itu dari kejauhan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mengeluarkan kamera mirrorless-nya dan memotret mereka secara diam-diam.
"Senyum dong, yang di belakang! Jangan serius banget kayak lagi nunggu hasil audit!" teriak Lucia sambil tertawa.
Julius tidak melepaskan tangannya dari pinggang Jane saat difoto. Ia justru menunduk, menatap wajah Jane dengan intensitas yang membuat Jane salah tingkah.
"Kau haus?" tanya Julius tiba-tiba. Matanya terpaku pada bibir Jane yang mulai tampak kering dan pucat karena dehidrasi dan angin gunung.
"Eh, iya sedikit..."
Julius langsung mengambil botol minum dari tasnya, membukakannya, dan memberikannya pada Jane. Ia menunggu dengan sabar sampai Jane minum, sambil sesekali mengusap dahi Jane yang berkeringat dengan punggung tangannya. Gerakan itu begitu lembut, begitu romantis, sangat kontras dengan sosok Julius yang biasanya melempar berkas di meja kelas.
"Kita istirahat lima menit lagi jika kau lelah," ucap Julius lagi.
"Aku masih kuat, benar-benar masih kuat," balas Jane cepat.
Julius tersenyum tipis, senyum yang hanya bisa dilihat oleh Jane dari jarak sedekat ini. Ia memperhatikan bagaimana Jane berusaha tetap tangguh, dan itu justru membuatnya ingin semakin mendekapnya.
Saat mereka melanjutkan perjalanan, ponsel Jane bergetar di saku jaketnya. Di tengah hutan yang sepi ini, sinyal ternyata masih menyangkut sedikit.
Mr. A: Bagaimana rasanya dipeluk oleh gunung? Dan bagaimana rasanya dilindungi oleh seseorang yang biasanya dingin? Aku meramalkan, malam ini kau akan menyadari bahwa pelukan manusia jauh lebih hangat daripada api unggun manapun.
Jane melirik Julius yang sedang sibuk memastikan jalur di depan aman untuknya. Mr. A, seandainya kau tahu seberapa dekat Matahari ini sekarang, pikir Jane. Ia merasa Mr. A benar-benar pengamat yang handal, meski Jane tetap yakin Mr. A tidak mungkin Julius, karena Julius tidak pernah sekalipun menyentuh ponselnya sejak pendakian dimulai.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍😍