Di bawah langit London yang selalu kelabu, Juliatte Fontaine hidup dalam jadwal yang diatur ketat. Baginya, keamanan adalah segalanya.
Maka, ketika gerombolan motor The Ravens menderu di depan gerbang sekolah dengan asap knalpot dan aroma pemberontakan, Juliatte hanya merasakan satu hal, kejijikan.
Puncaknya adalah William Wilson. Cowok itu adalah personifikasi dari semua yang Juliatte benci. William adalah alasan adiknya hampir celaka dalam sebuah tawuran antar-geng motor di Camden. Bagi Juliatte, William adalah kriminal, bagi William, Juliatte hanyalah gadis kaca yang akan pecah jika menyentuh realita.
Namun, sebuah insiden memaksa mereka dalam satu situasi pelarian. Juliatte melihat sisi London yang tak pernah ada di buku sejarahnya, dan William menyadari bahwa gadis kaca ini punya api yang lebih besar dari percikan mesin motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Malam
Malam itu, langit London yang biasanya kelabu tertutup oleh gemerlap lampu warna-warni dari pasar malam tahunan yang digelar di pinggiran kota.
Aroma kembang gula yang manis beradu dengan wangi popcorn mentega dan asap dari kedai sosis panggang.
Musik riuh dari wahana permainan menciptakan atmosfer yang begitu kontras dengan keheningan mansion keluarga Fontaine yang selama ini membelenggu Juliatte.
Sonia, dengan semangat yang meluap-luap, menarik tangan Juliatte melewati gerbang masuk, sementara William dan Jax mengekor di belakang dengan gaya mereka masing-masing.
William yang tampak santai dengan tangan di saku jaket, dan Jax yang terlihat seperti sedang menghitung kemungkinan kecelakaan dari setiap wahana yang ia lihat.
"Jules! Lihat itu!! Kita harus naik itu!" teriak Sonia sambil menunjuk wahana raksasa yang berputar di udara.
William menatap Juliatte, mengharapkan gadis itu akan menolak karena alasan martabat atau takut rambutnya berantakan. Namun, ia salah besar.
Mata Juliatte berbinar lebih terang dari lampu komidi putar di depan mereka, "Hanya satu? Sonia, aku ingin naik semuanya! Dari bianglala sampai wahana yang membuat jantung kita pindah ke tenggorokan itu!"
William tertegun. Katanya dengan nada menggoda namun penuh keheranan, "Fontaine, kau yakin? Terakhir kali kau bilang padaku, berjalan cepat di koridor saja sudah mengganggu posturmu yang sempurna."
Juliatte menoleh, memberikan William senyum lebar yang belum pernah ia lihat sebelumnya, sebuah senyum tanpa beban. Sentuhannya kali ini adalah tarikan kuat pada lengan jaket William. "Malam ini tidak ada postur, Wilson! Hanya ada aku dan semua wahana ini. Ayo!"
Sementara Juliatte dan William antre untuk wahana paling ekstrem, Jax dan Sonia terjebak dalam kecanggungan yang luar biasa di depan stan tembak sasaran. Semenjak ciuman pipi di malam Valentine, Jax seolah-olah mengalami sistem error setiap kali Sonia berada dalam radius satu meter darinya.
"Jaxie," panggil Sonia dengan nada yang sedikit lebih pelan, tidak seberisik biasanya. ia memainkan ujung rambutnya, sebuah gestur yang menunjukkan bahwa si Gadis Abstrak ini pun bisa merasa malu. "Kenapa kau diam saja? Kau takut naik wahana atau... kau takut dekat-dekat denganku?"
Jax memperbaiki letak kacamatanya dengan gerakan kaku. Sambil menatap lurus ke arah senapan mainan di depannya, "Secara teknis, detak jantungku sedang berada di angka 110. Itu bukan karena takut wahana, Sonia. Itu karena... karena hal asing yang kau masukkan ke dalam sistemku semalam."
Sonia berkedip, pipinya merona merah. Bisiknya, "hal asing? Maksudmu... ciuman itu?"
Jax tidak menjawab, tapi telinganya memerah padam. Ia meraih salah satu senapan dan mulai menembak sasaran dengan akurasi yang menakutkan, lima target jatuh dalam lima detik.
Sambil memberikan boneka beruang besar hadiah menembak itu kepada Sonia tanpa menoleh, "Ambil ini. Dan berhenti menatapku seperti itu, atau aku akan benar-benar kehilangan kemampuan untuk mengkode malam ini."
Sonia menerima boneka itu dengan pelukan erat, menyembunyikan senyum kemenangannya. "Kau kaku sekali, Jaxie. Tapi aku suka."
Di sisi lain, kehebohan besar terjadi. Juliatte benar-benar menjadi orang yang berbeda. Ia menyeret William dari satu wahana ke wahana lain. Ia berteriak paling kencang saat wahana Tower menjatuhkan mereka dari ketinggian tiga puluh meter. Ia tertawa lepas saat memenangkan permainan lempar gelang, dan ia bahkan memaksa William untuk membelikannya gulali merah muda berukuran raksasa.
"Lihat aku, William! Aku memenangkan ini!" seru Juliatte sambil menunjukkan sebuah bando telinga kelinci yang menyala. Ia langsung memasangkannya di kepalanya sendiri, lalu dengan berani memasangkan bando serupa di kepala William.
William, sang kapten The Ravens yang ditakuti seluruh sekolah, kini berdiri di tengah pasar malam dengan telinga kelinci menyala di kepalanya. Sentuhannya mendarat di pinggang Juliatte, menarik gadis itu mendekat di tengah kerumunan, "Kalau anak buahku melihat ini, reputasiku hancur total, Fontaine."
Juliatte tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat merdu dan bebas, "Reputasimu tidak sepenting kebahagiaanku malam ini, Wilson. Lihatlah, aku baru saja menghabiskan satu bungkus cemilan dan aku tidak peduli dengan angka di timbangan itu lagi!"
William menatap Juliatte dengan tatapan yang sangat dalam. Ia melihat kebahagiaan yang murni, sesuatu yang selama ini dirampas oleh kedua orang tua Juliatte.
Suara William melembut, "Kau cantik kalau sedang tertawa seperti ini. Tetaplah seperti ini, Juliatte. Jangan kembali menjadi patung saat kita pulang nanti."
Malam semakin larut ketika mereka berempat berkumpul kembali dan memutuskan untuk naik Bianglala raksasa sebagai penutup. Di dalam kabin yang sempit, Jax dan Sonia duduk berseberangan dengan jarak yang sangat canggung, Jax sibuk menatap baut-baut kabin seolah-olah ia sedang menginspeksi keamanan, sementara Sonia terus-menerus mencoba menyentuh tangan Jax dengan kakinya.
Sedangkan William dan Juliatte duduk berdampingan, menatap lampu kota London dari ketinggian. Saat kabin berhenti di titik tertinggi, suasana mendadak sunyi.
Sentuhannya merambat pelan, William menggenggam tangan Juliatte, menyatukan jemari mereka di atas pangkuan.
"Terima kasih sudah menjadi nakal malam ini, Tuan Putri."
Juliatte menyandarkan kepalanya di bahu William, menghirup aroma jaket kulit yang kini terasa seperti rumah baginya. "Terima kasih sudah menjemputku dari menara gading itu, William. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok saat orang tuaku kembali... tapi malam ini, aku merasa benar-benar hidup," Ucapnya dengan nada yang tulus.
William mengecup puncak kepala Juliatte, membiarkan telinga kelinci yang mereka pakai saling bersentuhan.
Di bawah mereka, pasar malam masih riuh, namun di dalam kabin itu, hanya ada mereka berdua, sang serigala jalanan dan sang porselen yang akhirnya menemukan cara untuk tidak hancur.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍