Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.
Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.
Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.
Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: DINDING KACA DAN AIR MATA
BAB 12: DINDING KACA DAN AIR MATA
Pagi di Kota Simla tidak pernah terasa sedingin ini bagi Vanya. Ia terbangun bukan karena cahaya matahari, melainkan karena suara palu yang menghantam besi. Ketika ia membuka tirai kamarnya, hatinya hancur berkeping-keping. Di luar jendela, beberapa pekerja sedang memasang terali besi tambahan yang melintang kokoh. Ayahnya benar-benar telah mengubah kamar impiannya menjadi sel penjara yang dingin.
"Kau tidak perlu melihat ke luar lagi, Vanya," suara Hendra terdengar dari ambang pintu yang terbuka sedikit. "Dunia di luar sana sudah tidak ada hubungannya denganmu. Fokuslah pada masa depanmu sebagai istri seorang perwira."
Vanya tidak menoleh. Ia hanya menatap jemarinya yang memar karena memukul pintu semalam. "Kau bisa mengurung tubuhku, Ayah. Tapi kau tidak bisa mengurung pikiranku. Aku akan selalu bersama Arlan, di mana pun dia berada."
Hendra tertawa sinis. "Arlan? Pria itu saat ini sedang merangkak di pasar, memohon pada orang-orang untuk memberinya satu keping koin. Dia bukan lagi pria yang kau kenal. Dia hanyalah seekor binatang yang sedang sekarat."
Di sudut lain Simla, di sebuah gudang tua yang pengap di dekat stasiun kereta, Arlan terbangun dengan tubuh yang gemetar. Demam mulai menyerang sistem tubuhnya akibat infeksi luka di punggung yang tidak diobati dengan benar dan kelelahan yang luar biasa. Namun, saat ia melihat wajah ibunya yang masih pucat di bangsal rumah sakit (yang baru saja ia kunjungi subuh tadi), Arlan memaksakan diri untuk berdiri.
Ia harus kembali ke pasar induk. Ia butuh uang untuk biaya penebusan obat Sujati sore ini.
Namun, saat Arlan tiba di pasar, suasana terasa berbeda. Orang-orang yang biasanya memberinya pekerjaan panggul mendadak menjauh.
"Maaf, Arlan. Kami tidak bisa mempekerjakanmu lagi," ucap mandor pasar dengan wajah ketakutan. "Tuan Hendra sudah memberi peringatan. Siapa pun yang memberimu satu koin saja, usahanya di pasar ini akan ditutup besok pagi."
Arlan terhuyung sejenak. Ia menatap telapak tangannya yang kapalan dan terluka. "Hanya untuk hari ini, Pak. Saya butuh obat untuk ibu saya."
"Pergilah, Arlan. Jangan buat kami susah," usir si mandor sambil mendorong bahu Arlan.
Arlan berjalan menyusuri lorong pasar yang becek. Ia melihat sisa-sisa sayuran yang dibuang di tanah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria sombong yang dulu selalu mendongakkan kepala ini merasakan apa artinya benar-benar tidak berdaya. Ia duduk di pinggir jalan, di bawah guyuran hujan gerimis Simla, membiarkan air hujan membasuh luka dan harga dirinya.
Sementara itu, kediaman Kashyap sedang bersiap menyambut tamu agung. Rayhan datang bersama ayahnya. Rayhan mengenakan seragam kebesarannya, tampak sangat gagah dan berwibawa. Hendra menyambutnya dengan pelukan hangat, seolah-olah Rayhan adalah pahlawan yang baru kembali dari medan perang.
"Vanya sedang bersiap. Dia sangat antusias menunggumu," bohong Hendra dengan lancar.
Rayhan, yang memiliki insting tajam sebagai prajurit, merasakan ada yang tidak beres di rumah ini. Ia melihat para pelayan yang bekerja dengan wajah tegang dan suasana yang terlalu formal. Saat ia dipersilakan duduk di ruang tamu, matanya menangkap sosok Vanya yang turun dari tangga, dituntun oleh Gani seperti seorang tahanan yang dibawa ke ruang sidang.
Vanya mengenakan sari sutra berwarna hijau zamrud, namun wajahnya benar-benar tanpa ekspresi. Matanya kosong, seolah jiwanya sudah tidak ada lagi di sana.
"Halo, Vanya. Senang melihatmu lagi," ucap Rayhan sopan sambil berdiri.
Vanya hanya mengangguk pelan. Ia duduk di seberang Rayhan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Vanya memang sedikit pendiam sejak ibunya kurang sehat," Hendra kembali mengarang cerita. "Rayhan, bagaimana kalau kau mengajak Vanya berjalan-jalan di taman belakang? Udara Simla sedang bagus."
Rayhan setuju. Mereka berjalan di taman yang indah namun dikelilingi tembok tinggi itu. Sepanjang jalan, Vanya hanya diam.
"Vanya," panggil Rayhan lembut. "Aku tahu kau tidak ingin berada di sini. Dan aku tahu kau tidak ingin menikah denganku."
Vanya tersentak. Ia menoleh ke arah Rayhan dengan tatapan terkejut. "Bagaimana kau..."
"Aku seorang tentara, Vanya. Aku dilatih untuk membaca situasi. Matamu tidak bisa berbohong. Kau sedang memikirkan seseorang yang sangat jauh dari tempat ini, atau mungkin... seseorang yang sangat dekat namun sulit dijangkau."
Vanya merasa air matanya hendak tumpah. "Jika kau sudah tahu, kenapa kau tetap melanjutkan pertunangan ini? Kenapa kau tidak menolaknya?"
Rayhan menatap bunga mawar di depannya. "Karena aku ingin tahu pria seperti apa yang bisa membuat putri Hendra Kashyap menjadi seberani ini. Dan karena aku ingin tahu, apakah dia layak untukmu."
Sore harinya, Arlan kembali ke rumah sakit dengan tangan hampa. Ia tidak punya uang untuk obat ibunya. Saat ia melewati apotek, ia melihat obat-obatan itu dipajang di balik etalase kaca. Pikiran gelap sempat melintas di benaknya, namun ia segera menepisnya. Ia adalah putra Sujati, ia tidak akan mencuri.
Tiba-tiba, ia melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah sakit. Itu adalah mobil keluarga Kashyap. Namun yang turun bukan Hendra, melainkan Rayhan.
Rayhan berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menuju bangsal Sujati. Arlan mengikutinya dengan waspada dari kejauhan. Ia melihat Rayhan berbicara dengan dokter, lalu memberikan sejumlah uang dalam amplop besar.
"Gunakan ini untuk perawatan Ibu Sujati. Dan tolong, jangan katakan pada siapa pun bahwa ini dari saya," ucap Rayhan pada dokter tersebut.
Arlan tertegun di balik pilar. Siapa pria ini? Kenapa calon tunangan Vanya justru menolong ibunya? Rasa cemburu dan rasa terima kasih bergejolak di hati Arlan. Ia merasa semakin rendah. Pria itu memiliki segalanya: kekuasaan, uang, seragam, dan sekarang... dia bahkan memiliki hak untuk menyelamatkan nyawa ibu Arlan.
Arlan keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai. Ia sampai di tepi jurang yang menghadap ke lembah Simla. Ia berteriak sekeras-kerasnya ke arah pegunungan.
"TIDAK ADIL! DUNIA INI TIDAK ADIL!"
Ia jatuh berlutut di atas tanah yang basah. Di saat itulah, ia teringat kata-kata Vanya di rumah sakit: "Kau adalah pria paling terhormat yang aku kenal."
Arlan menghapus air matanya dengan kasar. "Jika dunia ini diatur oleh uang, maka aku akan menjadi orang yang memiliki uang paling banyak di Simla. Jika dunia ini diatur oleh kekuasaan, maka aku akan menjadi orang yang paling berkuasa."
Arlan berdiri. Ia tidak lagi melihat ke arah rumah sakit. Ia melihat ke arah stasiun. Ia tahu, untuk bisa melawan Hendra, ia tidak bisa tetap menjadi pengantar susu di Simla. Ia harus pergi untuk sementara, bukan untuk melarikan diri, tapi untuk mengasah taringnya.
Malam itu, Vanya mendapatkan sebuah surat yang diselundupkan oleh Gita. Surat itu tidak memiliki nama pengirim, namun aromanya adalah aroma keringat dan matahari yang sangat ia kenali.
"Vanya, jangan biarkan api di matamu padam. Aku akan pergi untuk menjemput kemenangan kita. Jangan pernah menyerah pada pria berseragam itu. Tunggu aku. Aku akan kembali sebagai orang yang akan membuat ayahmu berlutut memohon maaf padamu."
Vanya mendekap surat itu erat-erat. Ia melihat ke luar jendela, ke arah jalanan yang sunyi. Ia tahu, perpisahan ini akan memakan waktu lama. Namun sekarang, ia punya alasan untuk tetap hidup di dalam penjara emas itu.
Di stasiun Simla, Arlan naik ke gerbong kereta terakhir menuju Delhi. Ia tidak membawa apa-apa selain dendam dan janji cinta. Saat kereta mulai bergerak, Arlan menatap lampu-lampu Kota Simla yang semakin menjauh.
"Sampai jumpa, Simla. Saat aku kembali nanti, aku akan memiliki segalanya."