NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

05 - Yang Hanya Muncul di Layar

..."Perasaan itu belum pergi,...

...aku hanya belajar tidak selalu menjemputnya."...

Happy Reading!

...----------------...

Setelah pertemuan singkat di parkiran itu, aku menyadari satu hal yang mengganggu: aku pulang membawa lebih banyak pikiran daripada sebelumnya.

Bukan karena Raven menyapaku. Bukan karena ia mendekat. Ia tidak melakukan apa-apa.

Justru itu masalahnya.

Aku baik-baik saja sebelum hari itu. Tidak sepenuhnya sembuh, tapi stabil. Dan kini, tanpa peringatan, sesuatu yang seharusnya sudah diam kembali bergerak pelan di dalam diriku.

Hari-hari setelahnya kembali dipenuhi layar.

Sekolah online dimulai lagi-resmi, penuh, tanpa kepastian kapan akan berakhir. Hanya sesekali kami diminta datang ke sekolah untuk mengantar tugas secara langsung, tanpa berkerumun.

Dan aku membenci diriku sendiri karena mulai menantikan hari-hari itu.

Bukan karena sekolahnya. Melainkan karena kemungkinan kecil yang tidak pernah kuakui dengan jujur: siapa tahu aku bertemu Raven lagi. Seperti di parkiran waktu itu.

...----------------...

Aku bangun tanpa terburu-buru. Tidak ada seragam yang harus kusetrika rapi. Tidak ada tas yang perlu kupilih akan kusandang di bahu kiri atau kanan.

Aku hanya perlu membuka laptop. Dan duduk.

Satu per satu, wajah teman-teman sekelas muncul di layar. Ada yang menyalakan kamera dengan mata setengah tertutup. Ada yang hanya hadir lewat nama.

Namanya muncul di daftar peserta.

Raven Adhikara Pratama.

Teks putih. Latar gelap. Kamera mati. Mikrofon nonaktif.

Aku menatap layar itu sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Lalu menunduk, pura-pura mencatat. Padahal aku tidak menulis apa-apa.

Hari itu, guru meminta beberapa siswa mempresentasikan tugas.

"Kelompok tiga, silakan," kata beliau.

Dan aku tahu-bahkan sebelum namanya disebut—bahwa Raven ada di kelompok itu.

Kamera menyala. Wajahnya muncul di layar.

Tidak berubah banyak. Rambutnya masih rapi. Ekspresinya tenang-terlalu tenang untuk seseorang yang sedang berbicara di depan kelas.

Ia mulai menjelaskan. Suaranya jernih. Terukur. Tidak terburu-buru.

Aku mendengarkan. Atau setidaknya, mencoba. Karena setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti menarik sesuatu dari dalam dadaku-perlahan, tapi nyata.

Aku ingat betul caranya berbicara seperti itu. Dulu, ia sering menjelaskan hal-hal sepele kepadaku dengan nada yang sama.

Aku menggenggam pulpen lebih erat.

"Shaira?" suara guru memanggil.

Aku tersentak. "I-iya, Pak?"

"Kamu setuju sama poin yang disampaikan Raven?"

Aku menelan ludah. Menatap layar. Menatap wajah yang tidak menatap balik.

"Iya, Pak. Setuju."

Dan aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan—menyebut namanya, atau berpura-pura biasa saja saat melakukannya.

Presentasi selesai. Kameranya mati lagi. Seolah ia tidak pernah benar-benar muncul.

Jam pelajaran berakhir. Layar menjadi kosong.

Aku menutup laptop dan berbaring menatap langit-langit kamar. Sekarang, yang tersisa hanya kehadiran tanpa interaksi.

...----------------...

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama.

Hingga suatu pagi, pesan dari wali kelas masuk.

"Bagi yang belum mengumpulkan tugas praktik, silakan diantar langsung ke sekolah hari ini sampai pukul dua siang."

Dadaku menegang. Aku menatap pesan itu lebih lama dari yang perlu.

Ini bodoh, aku tahu. Tapi bagian kecil di dalam diriku tetap berbisik pelan: mungkin aku akan bertemu dia lagi.

Aku berangkat ke sekolah dengan langkah yang terlalu hati-hati. Tidak berharap terlalu besar, tapi juga tidak sepenuhnya kosong.

Parkiran dekat lobi guru terlihat sama. Tidak ramai. Tidak sepi.

Aku menyerahkan tugas ke guru. Selesai. Cepat. Sederhana. Dan tetap saja, sebelum pulang, kakiku melambat.

Mataku bergerak tanpa sadar. Mencari sesuatu yang bahkan tidak seharusnya kucari.

Beberapa siswa lain datang dan pergi. Suara motor. Tawa singkat. Langkah tergesa.

Bukan dia.

Aku menarik napas. Menertawakan diriku sendiri dalam diam.

Tentu saja tidak selalu ada pertemuan kedua. Tentu saja hidup tidak bekerja seperti novel romantis murahan.

Aku berbalik pergi. Dan justru saat itulah aku menyadari sesuatu yang lebih menyakitkan dari tidak bertemu: aku kecewa.

Bukan karena Raven tidak ada. Tapi karena aku masih berharap ia akan ada.

...----------------...

Malam itu, aku berbaring dengan ponsel di tangan. Membuka layar. Menutupnya lagi.

Namanya masih tersimpan. Tidak berubah. Tidak bergerak.

Aku menatapnya beberapa detik. Lalu mengunci layar.

Aku masih punya perasaan itu. Aku tidak menyangkalnya. Tapi kali ini, aku memilih menahannya.

Aku tidak ingin mengulang perjalanan yang sama hanya untuk berakhir di jarak yang serupa.

Malam semakin larut.

Jam hampir menunjukkan tengah malam—waktu di mana dunia terasa lebih sepi, dan pikiran lebih jujur dari biasanya.

Aku membuka daftar chat.

Namanya ada di sana. Tidak berpindah. Tidak berubah.

Raven Adhikara Pratama.

Aku tidak menekannya. Belum. Aku hanya menatapnya. Seperti menatap pintu yang tidak benar-benar terkunci, tapi aku tahu, jika kubuka, aku tidak akan keluar sebagai orang yang sama.

Jariku menyentuh layar. Chat itu terbuka.

Kosong. Tidak ada percakapan baru. Yang ada hanya sisa-sisa lama-jejak waktu ketika kami masih saling hadir tanpa ragu.

Aku mengetik.

"Hai."

Satu kata. Pendek. Aman. Kursor berkedip di ujung kalimat. Aku membayangkan kemungkinan yang paling sederhana: ia membalas. Kami bertukar kabar singkat. Tidak ada yang berat. Tidak ada yang berubah.

Tapi pikiranku melompat ke kemungkinan lain—pesanku dibaca, lalu dibiarkan. Atau lebih buruk: dibalas dengan jarak yang sopan.

Aku menghapus kata itu. Layar kembali kosong.

Tanganku gemetar sedikit. Bukan karena takut. Tapi karena aku sadar betapa mudahnya aku hampir kembali.

Aku mengetik lagi. "Lo lagi sibuk ya?"

Kalimat itu lebih panjang. Lebih berani. Lebih jujur dari yang seharusnya. Aku menatapnya lama, lalu menarik napas pelan.

Aku tidak ingin memulai sesuatu yang aku sendiri tidak siap menerima akhirnya.

Aku menghapus semuanya. Menutup chat. Mengunci layar. Ponsel kutaruh telungkup di samping bantal.

Dadaku terasa sesak—bukan karena kehilangan, tapi karena menahan diri.

Dan di momen itu aku menyadari: menahan diri ternyata lebih melelahkan daripada mengakui rindu.

Tapi malam itu, aku memilih lelah daripada kembali berharap.

...----------------...

Suatu pagi, aku bangun dengan notifikasi yang salah alamat.

Bukan darinya. Tidak pernah.

Hanya grup kelas yang ramai membahas tugas. Nama Raven muncul di sela-sela chat-bukan sebagai pengirim, tapi disebut orang lain.

"Eh yang bagian Raven udah belum?"

Jariku berhenti menggulir. Namanya muncul begitu saja. Tanpa niat. Tanpa izin. Dan anehnya, itu cukup untuk membuatku menghela napas panjang.

Siang hari, hujan turun deras. Listrik sempat mati. Kelas online terputus.

Aku duduk di lantai kamar, bersandar ke ranjang, memandangi jendela.

Dulu, hujan seperti ini selalu jadi alasan. Alasan untuk menghubungi. Alasan untuk berbagi cerita kecil yang tidak penting. Sekarang, hujan hanya hujan. Dan aku sendirian dengan pikiranku sendiri.

Sore menjelang, listrik kembali menyala. Notifikasi masuk bertubi-tubi. Aku menggulir cepat. Mencari hal yang tidak kucari.

Dan aku kesal pada diriku sendiri karena masih melakukannya. Aku mencoba menyibukkan diri dengan hal-hal kecil.

Malamnya, saat aku merapikan meja belajar, aku menemukan satu hal kecil.

Pulpen hitam.

Pulpen yang dulu sering kupinjam darinya karena tintanya lebih tebal. Pulpen yang entah kenapa masih ada di tasku sampai sekarang.

Aku memegangnya lama. Memutar-mutarnya di jari. Lalu kusimpan kembali.

Bukan karena ingin menyimpannya. Tapi karena aku belum siap membuang sesuatu

yang mengingatkanku pada versi diriku yang pernah berharap.

Di titik itu, aku akhirnya mengerti: aku tidak sedang ingin kembali. Aku hanya sedang belajar hidup tanpa harus membunuh perasaan yang belum sepenuhnya mati.

Dan mungkin, itu sebabnya semuanya terasa lebih melelahkan dari yang seharusnya.

Karena berjarak ternyata tidak selalu berarti selesai. Kadang, ia hanya mengubah bentuk rindu menjadi sesuatu yang lebih sunyi, lebih diam, dan lebih sulit dijelaskan.

...----------------...

1
Nonà_syaa.
Lanjutt cntik❤
Chici👑👑
Nih visual cowok nya jaehyun bukan sih..
D: bener bgtt/Chuckle/
total 1 replies
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di novelku judul Gadis Polos Untuk Dokter Kulkas
Nonà_syaa.
Nyesek bacanya/Sob/
D: ikutan galau ya😔
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Canteknyoo foto visual Aluna... Gue juga mau kek gitu cantek nya 😭❓
D: bahkan aku juga mau sih kak cantik begitu😂♥️
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Thor gue udah mampir nih 😅
Nonà_syaa.
Mampir nih ka,
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/
Nonà_syaa.: Haha iyaa/Cry/
Sama" kk
total 2 replies
Eka Sari Agustina
👍
Ummu Shafira
mampir😍😍 sepertinya ceritanya menarik,mengenang masa² putih abu² 🤭🤭
D: semoga sukaa ya kakk😍
total 1 replies
D
rekomen bgt buat dibacaa!! ayo baca ceritaku hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!