NovelToon NovelToon
Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Vania duduk di ruang tamu yang penuh dengan cahaya lampu yang menambah kecerahan wajahnya. Rambutnya yang panjang terurai sempurna, dan dia mengenakan blus pastel yang membuatnya terlihat lebih feminin. Kamera handphone di depannya menyala, menangkap setiap gerak manisnya saat dia mulai live streaming.

"Hi, semua! Terima kasih sudah join live ku hari ini," ucap Vania dengan suara ceria, matanya berbinar saat melihat jumlah penonton yang terus bertambah.

Dia memulai dengan berbagi tips kecantikan, sesekali tertawa kecil membaca komentar dari fans yang memuji kecantikannya. "Aww, terima kasih! Kalian semua juga pasti cantik dan tampan!" balas Vania, seraya memberikan wink yang menggemaskan.

Setiap ada komentar yang muncul, Vania tidak pernah lelah untuk membalasnya satu per satu. "Oh, ini pertanyaan yang bagus!" serunya, membacakan pertanyaan dari salah satu penggemar tentang produk kecantikan favoritnya. Dia menjelaskan dengan detail sambil sesekali memperlihatkan produk yang dia pakai.

Suasana semakin hangat ketika Vania menerima tantangan dari seorang fans untuk melakukan aegyo, sebuah ekspresi imut yang populer di Korea. Dengan riang, dia melaksanakannya, membuat para penonton di chat menjadi heboh memberikan emoji hati dan tanda tangan.

Live streaming berlangsung dengan penuh tawa dan interaksi yang mengesankan, memperkuat ikatan Vania dengan penggemarnya. Setelah hampir satu jam, dia mengakhiri sesi dengan ucapan terima kasih dan janji akan kembali dengan konten yang lebih seru. Layar handphone menjadi gelap, tapi senyum ceria Vania masih tergambar jelas, puas bisa menghubungkan dirinya dengan fans dari seluruh penjuru.

Vania adalah seorang gadis yang sebelumnya dikenal introvert dan pemalu. Namun, sejak ia memutuskan untuk menjadi seorang selebgram, perubahan dalam dirinya cukup mencolok. Di media sosial, ia tampil sebagai wanita yang ceria dan selalu percaya diri. Vania berhasil membangun persona yang berbeda, yang membuat banyak pengikutnya kagum dan terinspirasi oleh transformasi tersebut.

Meskipun Vania tampak menikmati kehidupan barunya sebagai selebgram yang populer, ia tetap memiliki batasan sebagai seorang introvert. Setiap kali ia terlalu lama atau terlalu intens berinteraksi dengan penggemarnya, baik dalam sesi live streaming maupun saat bertemu langsung di berbagai acara, Vania akan merasa sangat kelelahan. Energi yang ia keluarkan untuk berinteraksi lebih banyak daripada orang kebanyakan membuatnya harus sering mengambil waktu untuk menyendiri dan mengisi kembali energi yang telah terkuras.

Keseimbangan antara persona online dan kebutuhan pribadinya sebagai introvert adalah tantangan yang harus dihadapi Vania setiap hari. Namun, ia belajar untuk lebih memahami dirinya sendiri dan menetapkan batas yang sehat agar tetap bisa menikmati kedua dunia tersebut tanpa harus kehilangan esensi dirinya yang sebenarnya.

"Vania, nak makan dulu!" teriakan mamahnya menggelegar, menyuruh anak semata wayangnya itu untuk makan malam.

Vania segera beranjak dan keluar dari kamarnya menuju ke meja makan. Begitu berada di sana ia melihat  ayah dan ibunya sudah duduk manis, serta asisten rumah tangganya sedang menyiapkan makanan di meja.

Malam itu, suasana di ruang makan keluarga Sari begitu hening. Cahaya lampu yang redup menambah kesan intim antara Vania, ibu, dan ayahnya yang duduk mengelilingi meja makan persegi panjang yang terbuat dari kayu jati. Di atas meja, terhidang makanan favorit Vania, namun nafsu makannya hilang seketika mendengar topik pembicaraan malam ini.

"Ibu dengar dari Bu Lani, kamu sering terlihat bersama Deo di kafe dekat kampusmu dulu," ujar Ibunya dengan nada yang mencoba tetap tenang, namun mata tajamnya tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

Ayah, yang selama ini lebih banyak mendengarkan, kini menatap Vania, "Kami hanya ingin yang terbaik untukmu, Nak. Kami tidak ingin kamu terluka."

Vania menundukkan kepala, rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya. Dia merasa berat untuk menjawab, jantungnya berdegup kencang. "Deo baik, Pah, mah. Dia serius dengan Vania," suaranya pelan, hampir tidak terdengar.

Ibu menghela nafas, lalu menggenggam tangan Sari. "Kami tahu kamu sudah dewasa, tapi sebagai orang tua, kami hanya ingin memastikan bahwa dia orang yang tepat untuk kamu."

Ayah menambahkan, "Kami mendukungmu, Vania. Tapi, tolong berikan kami kesempatan untuk mengenalnya lebih baik."

Vania mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Pah, mah. Vania mengerti, aku akan mengatur agar kalian bisa bertemu dengan Deo minggu depan."

Suasana hening kembali menyelimuti ruang makan, namun kali ini, penuh dengan rasa pengertian dan kehangatan keluarga.

Vania tampak begitu ceria malam itu, matanya berbinar setiap kali ia menceritakan mengenai kekasihnya. Ia sesekali tersenyum lebar sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Di seberang meja, Ibu Vania memperhatikan putrinya dengan perasaan yang campur aduk. Ada kebahagiaan melihat putrinya bahagia, namun ada juga keraguan yang mengendap di hatinya.

"Dia benar-benar laki-laki yang baik kan,nak?" tanya Ibu Vania, mencoba menyelidik lebih dalam tentang kekasih putrinya.

Vania mengangkat wajahnya, "Oh,dia sangat baik, mah. Kami bahkan sudah mulai membicarakan tentang pernikahan," ujarnya dengan nada penuh harap.

Ibu Vania tersenyum, namun di dalam hatinya ia merasa harus lebih mengenal pria yang mungkin akan menjadi bagian dari keluarga mereka. "Kalau begitu, mungkin sudah saatnya aku bertemu dengannya, belajar mengenalnya lebih jauh," gumam Ibu Vania dalam hati.

Walaupun ada sedikit kekhawatiran, ia tahu bahwa Vania adalah wanita yang pintar dan tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Dengan berat hati, Ibu Vania memutuskan untuk mendukung keputusan putrinya itu, sambil berdoa semoga kekasih Vania benar-benar pria yang dapat membahagiakan putrinya.

____

Setelah makan malam yang cukup mengenyangkan, Vania meraih ponselnya dan menemukan tempat yang nyaman di sudut ruang tamunya. Dengan perasaan berbunga-bunga, dia menekan nama "Deo" dari daftar kontaknya. Jantungnya berdebar saat mendengar nada sambung.

"Sayang, aku kangen," sapa Deo dengan suara yang hangat begitu sambungan terhubung.

Senyum merekah di wajah Vania. "Aku juga, Deo. Hari ini kamu gimana?"

Mereka terlibat dalam obrolan ringan, saling bertukar cerita tentang hari mereka. Tawa lepas Vania pecah mendengar lelucon yang Deo ceritakan, membuatnya merasa seolah-olah jarak yang memisahkan mereka tidak ada. Cairan hangat menyebar di dadanya, menenangkan dan mengisi ruang kosong yang sempat terasa saat Deo sibuk dengan pekerjaannya.

"Kamu tahu nggak, aku tadi lihat bintang jatuh," ujar Vania, mengalihkan topik ke hal yang lebih romantis.

Rendy tertawa kecil. "Buat permintaan, Van. Siapa tahu keinginanmu terkabul."

Vania menggigit bibir bawahnya, berpikir sejenak. "Aku cuma ingin kita bisa terus bersama seperti ini, tidak peduli seberapa jauh jarak antara kita."

Ada hening sejenak, kemudian Deo menjawab dengan suara yang penuh keyakinan, "Kita akan terus bersama, Sayang. Aku berjanji."

Percakapan mereka berlanjut, mengisi malam yang tenang dengan cinta dan tawa, seolah jarak dan waktu tidak bisa membatasi apa yang mereka miliki.

Dari balik tirai malam, Deo dengan tegas memutuskan sambungan teleponnya, menyatakan dirinya memiliki urusan dengan seorang teman. Selama empat tahun lamanya, hati Vania terjalin erat dengan kepercayaan akan kejujuran Deo yang tak pernah goyah.

Itu adalah alasan mutlak Vania menyerahkan seluruh hatinya saat Deo menyatakan cintanya empat tahun silam.Kini, meski cinta telah menyelimuti hari-hari mereka, kebahagiaan Vania tak luput dari rasa cemas yang melekat di sudut hati, berharap asmara ini akan tetap utuh hingga ke pelaminan impian. Sebuah harapan yang melayang dalam doa, semoga tak ada badai yang mampu mengguncang pondasi cinta yang telah mereka bina bersama.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
falea sezi
bodoh kn ada tuh fto dio. up aja lah bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!