NovelToon NovelToon
Gaze Of The Heart

Gaze Of The Heart

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏

Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ritual Subuh yang Berbeda

Fajar menyelinap malu-malu di balik tirai sutra kamar pengantin. Suara azan subuh dari masjid di dekat rumah Ameera sayup-sayup terdengar, namun kali ini suaranya tidak lagi terdengar sebagai alarm yang asing. Ameera terbangun dengan perasaan yang sangat berbeda. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada kehadiran seseorang di sampingnya.

Ia menoleh pelan, menemukan Liam yang sudah lebih dulu terjaga. Suaminya itu duduk di tepi ranjang, sedang merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Saat menyadari Ameera membuka mata, Liam memberikan senyum yang begitu tulus—senyum yang setahun lalu sangat mahal untuk didapatkan.

"Selamat pagi, Istriku. Waktunya menjemput berkah Subuh," sapa Liam lembut.

Ameera tersipu. Kata "Istriku" itu terdengar lebih merdu dari lagu apa pun yang pernah ia dengar. "Selamat pagi, Suamiku," jawabnya pelan, mencoba membiasakan diri dengan sebutan baru itu.

Hari pertama menjadi istri dimulai dengan ketaatan. Jika dulu Ameera harus berjuang sendirian untuk bangun dan mengambil wudu, kini ada tangan kokoh yang membimbingnya. Mereka mengambil wudu bergantian, dan kembali bersujud di atas sajadah yang sama.

Selesai shalat, Liam tidak langsung bangkit. Ia mengambil mushaf Al-Qur'an beludru milik Ameera. "Sesuai janji kita semalam, mari kita mulai hari pertama ini dengan satu ruku' saja. Aku ingin mendengar bagaimana kemajuan bacaanmu selama setahun ini."

Ameera mulai membaca. Suaranya sedikit bergetar, bukan karena tidak lancar, tapi karena ia merasa sedang "diuji" oleh guru terbaiknya. Liam mendengarkan dengan seksama, sesekali membenarkan tajwid Ameera dengan nada yang sangat sabar. Tidak ada kesan menggurui, yang ada hanyalah kasih sayang yang tumpah dalam setiap koreksinya.

"Masya Allah, bacaanmu sudah jauh lebih tenang, Ameera," puji Liam setelah mereka selesai. Ia mengecup kening Ameera lama, sebuah restu yang membuat hati Ameera membuncah.

Tantangan sebenarnya dimulai saat matahari mulai naik. Ameera, yang terbiasa dilayani oleh pelayan rumahnya, kini merasa memiliki tanggung jawab baru. Ia ingin menjadi istri yang berbakti sejak hari pertama.

"Aku akan buatkan sarapan untukmu, Liam!" ucap Ameera semangat saat mereka menuruni tangga menuju dapur.

Liam hanya tersenyum tipis, mengikuti istrinya ke dapur mewah yang jarang sekali disentuh oleh tangan Ameera sendiri. Di sana, Ameera mulai panik. Ia menatap deretan bumbu dapur dan peralatan masak modern dengan bingung. Ia tahu cara memesan makanan di restoran bintang lima lewat ponselnya, tapi ia tidak tahu bagaimana cara membuat telur mata sapi yang sempurna tanpa membuat kuningnya pecah.

Liam yang melihat kegelisahan istrinya hanya terkekeh kecil. Ia mendekat, berdiri di belakang Ameera, lalu perlahan mengambil alih spatula dari tangan Ameera.

"Biar aku bantu. Di rumah sakit, terkadang kami para dokter harus belajar melakukan segalanya sendiri," bisik Liam di telinga Ameera.

Mereka pun memasak bersama. Sebuah adegan yang bagi Ameera terasa sangat puitis. Liam memotong sayuran dengan presisi seorang dokter bedah, sementara Ameera membantu menyiapkan piring. Di tengah aktivitas itu, Ameera memberanikan diri bertanya tentang hal yang sempat mengganjal di hatinya.

"Liam... apa yang membuatmu akhirnya yakin untuk datang melamar ku sebulan lalu? Padahal kita terpisah jauh dan kau tidak tahu apa aku masih memakai jilbab atau tidak."

Liam menghentikan kegiatannya sejenak. Ia menatap Ameera dalam-dalam. "Karena Syifa selalu bercerita padaku. Dia bilang, setiap kali ia mengirim pesan menanyakan kabarmu, kau selalu membalas dengan pertanyaan tentang ayat-ayat Al-Qur'an. Aku tahu, hatimu tidak berubah. Aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk menjemputmu pulang."

Siang harinya, mereka berangkat ke rumah orang tua Liam untuk makan siang keluarga. Ini adalah momen krusial bagi Ameera. Ia merasa gugup bertemu kembali dengan Kak Farah dan bayi Arshad, apalagi sekarang statusnya sudah resmi menjadi bagian dari keluarga mereka.

Saat sampai di sana, sambutan hangat segera menyapa. Kak Farah langsung memeluk Ameera. "Nah, ini dia adik ipar kesayanganku yang tempo hari sempat cemburu pada Arshad," goda Farah sambil tertawa.

Wajah Ameera memerah padam. "Kak Farah, jangan diingatkan lagi. Aku benar-benar malu."

Ameera menghabiskan waktu sore itu dengan belajar banyak hal dari Ibu Liam. Tentang bagaimana menjadi pendamping seorang dokter yang sibuk, tentang bagaimana menjaga rumah agar selalu dipenuhi cahaya iman, dan tentang bagaimana sabar adalah kunci dari segala hubungan.

Ameera menyadari satu hal; menjadi istri bukanlah tentang berpindah dari satu rumah mewah ke rumah mewah lainnya. Menjadi istri adalah tentang menjadi tempat peristirahatan bagi suaminya.

Malam pun tiba. Mereka kembali ke kamar pengantin mereka. Ameera merasa lelah namun sangat bahagia. Ia duduk di meja rias, perlahan membuka perhiasan yang ia kenakan. Liam mendekat, membantunya membuka kancing kecil di bagian belakang gaunnya dengan sangat sopan.

"Bagaimana hari pertamamu sebagai istri, Ameera?" tanya Liam lewat pantulan cermin.

Ameera tersenyum, menatap mata suaminya. "Melelahkan, membingungkan, tapi aku tidak ingin menukarnya dengan apa pun di dunia ini. Terima kasih sudah memilihku, Liam. Terima kasih sudah tidak menatapku dulu, agar hari ini kau bisa menatapku selamanya."

Liam memutar kursi Ameera agar mereka berhadapan. Ia berlutut di depan istrinya, menggenggam kedua tangan Ameera.

"Hari ini hanyalah awal. Akan ada hari-hari di mana aku mungkin sibuk di rumah sakit, atau hari-hari di mana kita mungkin berselisih paham. Tapi berjanjilah satu hal, Ameera. Jangan pernah tutup Al-Qur'an beludru itu. Karena selama kita masih membacanya bersama, rumah kita akan selalu memiliki jalan pulang."

Ameera mengangguk mantap. Malam itu, hari pertama ditutup dengan doa tidur yang mereka ucapkan bersama. Ameera tertidur dengan perasaan syukur yang luar biasa. Ia adalah Ameera Nafeeza, gadis yang dulu mencari jati diri di gemerlap malam, kini telah menemukan cahayanya di dalam sujud dan cinta seorang pria bernama Liam Al-Gazhi.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
😂😂😂😂😩
💗 AR Althafunisa 💗
Nyesel kan kamu Ay 😩😭
💗 AR Althafunisa 💗
Sudah kuduga pasti salah paham 😌
💗 AR Althafunisa 💗
ninggalin jas lab, perasaan dipake ya 😅
ros 🍂: Mohon Maaf Lupa author lupa🤭😭
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
Aamiin Allahumma Aamiin...
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 😍
💗 AR Althafunisa 💗
dan sejarah pun terulang 😁
💗 AR Althafunisa 💗
🥺🥺🥺🥺
💗 AR Althafunisa 💗
Ceritanya bagus 👍😍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Ini cerita nya bagus koq pembacanya ga ada ya 🥺
Titik Sofiah
lanjut Thor 😍
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...
💗 AR Althafunisa 💗
Aku baca novel ini seperti kembali pulang 🥺🥺🥺
ros 🍂: Terharu aku kak 😭😍
total 1 replies
Sweet Girl
Naaah kesempatan... kamu bisa belajar sama Liam...
Selvia Sihite
aku suka alurnya, keren, tidak betele tele, semangat 💪
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
falea sezi
lanjut
falea sezi
baru nyimak moga bagus ampe ending dan g ribet atau bertele tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!