NovelToon NovelToon
Sekertaris Tanpa Gaji

Sekertaris Tanpa Gaji

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Keluarga / CEO
Popularitas:30.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kompensasi dan rahasia yang terkuak

VANYA...sentak oma Arum

Vanya tersentak mendengar teguran keras Oma Arum. "Maaf Oma, aku nggak sengaja," ucapnya, mencoba meredakan suasana, meskipun senyum liciknya masih sedikit terlihat.

Julian segera berdiri dari kursinya, hendak membantu Syren. Namun, Syren dengan cepat menepis uluran tangan Julian.

"Nggak apa-apa Oma, Tante, saya pulang aja. Permisi," ucap Syren sopan, berusaha menahan air mata dan amarah yang sudah di ubun-ubun. Gaun ungu cantiknya sudah basah dan lengket, membuatnya merasa sangat malu. Syren pun melangkahkan kakinya keluar dari ruang makan mewah itu dengan langkah cepat.

"Syren, tunggu!" teriak Julian, segera mengejar Syren keluar rumah.

Di dalam, Wiona menatap Vanya dengan kecewa. "Vanya, Tante nggak suka kamu kayak gitu. Kamu keterlaluan!"

Vanya hanya bisa menunduk sambil menggigit bibirnya kesal. "Maaf Te," cicitnya.

Oma Arum yang sudah muak dengan drama itu mendengus. "Dasar bocah nakal, nggak tahu sopan santun!" sentak Oma dan segera pergi ke atas, meninggalkan Vanya dan Wiona dalam keheningan yang canggung.

Di luar rumah, udara malam terasa dingin, seolah ikut merasakan suasana hati Syren yang hancur. Ia berjalan cepat menuju gerbang, tidak peduli lagi dengan penampilannya atau gaun mahalnya yang basah.

"Syren, berhenti!" Julian berhasil meraih lengan Syren dan menahannya tepat di depan gerbang besar kediaman Aldrin.

Syren menoleh, matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis. "Mau apa lagi, Pak? Puas sudah merusak malam saya?"

"Bukan saya, tapi Vanya," balas Julian, suaranya terdengar lembut, sangat berbeda dari biasanya. Ia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan perlahan mengelap bekas minuman di gaun Syren.

Syren tertegun melihat perlakuan Julian yang mendadak manis. "Nggak usah Pak, kotor," ucap Syren sambil menepis tangan Julian pelan.

"Nggak apa-apa," jawab Julian. "Maafkan Vanya. Dia memang sedikit... kekanak-kanakan."

"Sedikit apanya? Dia jelas-jelas sengaja merendahkan saya di depan keluarga Bapak! Dia bilang saya pacar sewaan, dia tahu semuanya!" Syren sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.

Julian diam sejenak. "Kita bicarakan di mobil. Saya akan mengantarmu pulang," ajak Julian sambil menggandeng tangan Syren menuju mobilnya, tidak menerima penolakan.

"Pak bos , harus tambahin uangnya," kata Syren pada Julian yang sedang fokus menyetir. "Karena ini baju mahal. Saya dulu belinya lima juta." Syren mencoba memanfaatkan kesempatan, sambil melirik gaunnya yang lengket.

Julian tidak terkejut sama sekali mendengar harga gaun itu, karena ia tahu persis siapa ayah Syren sebenarnya dan status "bangkrut" mereka hanyalah penyamaran. Lima juta untuk gaun di rumahnya dulu mungkin hanya seharga sarung bantal.

"Iya, saya ganti," jawab Julian santai. " lima belas juta, kamu mau?"

Mendengar tawaran yang tiga kali lipat lebih besar dari harga gaun (dan uang kencan) itu, Syren langsung terbelalak. Awalnya ia hanya bercanda, mana mungkin ia benar-benar menerima uang sebanyak itu. Dia pasti malu, dia saja sudah membuat jam tangan mahal Julian pecah.

"Nggak usah, Pak, saya cuma bercanda aja kok," tolak Syren cepat, merasa tidak enak.

"Saya tidak bercanda, Syren," potong Julian tegas, sambil melirik Syren sekilas. "Anggap saja ini kompensasi karena teman saya sudah merusak acara makan malammu."

Syren kembali menimbang-nimbang. Gila, kalau begini gue bisa belanja nih! Udah lama banget nggak belanja, batinnya penuh semangat. Godaan untuk membeli barang-barang baru setelah setahun hidup hemat terlalu kuat untuk ditolak.

"Emm... karena Pak Bos maksa, saya terima deh," ucap Syren akhirnya, dengan senyum malu-malu namun matanya berbinar.

Julian hanya tersenyum tipis, senang melihat Syren akhirnya mau menerima tawarannya.

Mereka pun akhirnya sampai di rumah Syren. Julian sengaja ikut masuk, ingin memastikan Syren baik-baik saja dan mungkin juga ada urusan lain.

Ardi yang masih asyik main game di ruang tamu sontak kaget melihat Syren masuk dengan gaun ungu cantiknya yang basah kuyup.

"Astaga, Mbak! Habis nyemplung got apa gimana sih? Kenapa sampai basah kuyup gitu?" tanya Ardi, mulutnya terbuka lebar.

"Iya, gue nyemplung got," jawab Syren ketus, malas menjelaskan drama Vanya.

"Eh, Om Julian! Malam, Om. Mari duduk, Ardi buatkan kopi," sapa Ardi dengan sopan begitu menyadari ada Julian di belakang Syren.

Julian pun akhirnya duduk di sofa ruang tamu yang sederhana itu, sementara Syren segera masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian.

Julian sedikit mendekat ke arah Ardi. "Saya mau tanya sama kamu," ucap Julian dengan suara pelan, agar Syren yang ada di kamar tidak mendengar.

"Apa, Om?" tanya Ardi polos.

"Itu tentang mantan pacar kakak kamu, Gio."

"Ohh, Mas Gio, ya?" Ardi mengangguk-angguk. "Kenapa, Om, emangnya?"

"Udah, ceritain aja," desak Julian.

"Ohh, ya udah, Om." Ardi pun mulai bercerita. "Mas Gio itu pacar yang paling dicintai mungkin sama Mbak Syren. Dulu pas kuliah dia itu jadi rebutan para mahasiswi, tapi yang dapat Mbak Syren. Dulu aku juga pernah dengar dari Mbak Gaby, Mbak Syren pernah bersaing sama seseorang namanya kalau nggak salah Vanya, seniornya."

"Nah, pas Mbak Syren baru aja juga lulus, keluarga kami mengalami hal tak terduga, Papa bangkrut. Karena aku sama Mbak Syren nggak berhemat, banyak beli hal-hal nggak berguna. Dan akhirnya Mas Gio sama Mbak Syren putus karena orang tuanya nggak setuju dengan kondisi kami," cerita Ardi panjang lebar.

Julian terdiam, mencerna setiap kata-kata Ardi. Rasa bersalah mulai merayap di hatinya, ia tahu persis siapa Vanya dan ia juga tahu kebohongan di balik cerita bangkrut keluarga Syren. "Ehm, makasih, Di," Julian kemudian merogoh dompetnya dan memberikan sepuluh lembar uang merah pada Ardi.

"Ini buat apa, Om?" tanya Ardi, matanya berbinar.

"Udah, pakai aja," jawab Julian singkat

Sebagai pemberian nya pada calon Adik iparnya.

Tak lama kemudian, Syren keluar dengan kaos putih yang pas di tubuhnya dan celana pendek hitam. Rambutnya sudah dikuncir kuda santai. Dia pikir Julian sudah pulang, karena mobilnya tadi tidak terlihat lagi di depan rumah ,Wajahnya tampak terkejut mendapati Julian masih duduk di ruang tamu.

Julian terbelalak melihat Syren yang hanya mengenakan celana pendek, memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus. Meskipun Julian pernah melihat sekilas tubuh Syren di kantor, pemandangan kali ini terasa berbeda; lebih santai, lebih nyata, dan membuatnya sulit mengalihkan pandangan.

"Pak Bos, kok belum pulang? Mau ngapain?" tanya Syren polos, sama sekali tidak sadar dengan efek penampilannya pada sang CEO.

"Enggak, Syren, ini juga saya mau pulang," jawab Julian cepat, memutus pandangannya dan berdehem canggung.

Julian pun melangkah keluar. Sebelum benar-benar keluar dari rumah Syren, ia berbalik sebentar. "Besok jam 7 harus sudah siap, Syren."

"Iya, iya, Pak! Makasihh! Dadaah, muahhh!" Syren dengan percaya dirinya melambaikan tangan sambil memberikan flying kiss yang asal-asalan.

Julian hanya menggelengkan kepala melihat tingkah ajaib Syren, tapi ia tersenyum tipis. Sementara itu, Ardi yang dari tadi menyaksikan dari belakang sofa langsung berseru, "Apaan sih, Mbak! Malu-maluin ini!"

Julian masuk ke mobilnya dan melaju pergi, meninggalkan Syren yang masih asyik cekikikan.

1
Eka Burjo
lanjut
Rewind frederiksen
seruu
Eka Burjo
lanjut, suka bacaan begini, sangat menghibur 👍
Gesty Lestari
lanjut thorrrrrr💪
Gesty Lestari
ceritay balgus thor.....say suka baca d novel toon ini iklan gk bnyk😁 semangat lanjut
Eneng Elsy
julian azalah.. klo gio kan ortu nya matre..
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui
Hennyy Handriani
syren aku padamu
Hennyy Handriani
wah suka alur nya nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!