Slamet, seorang pengangguran yang hobi main game dan punya utang pinjol (pinjaman online) di 12 aplikasi berbeda, saking frustasinya, dia mencoba melakukan ritual pesugihan yang dia temukan di grup Facebook "Cepat Kaya Tanpa Kerja".
Bukannya dapat emas setumpuk, Slamet malah salah kirim sesajen. Dia malah melakukan kontrak kerja dengan Koperasi Makhluk Halus Nasional. Ternyata, dunia ghaib sedang mengalami krisis eksistensi karena manusia zaman sekarang sudah tidak takut setan (lebih takut tagihan cicilan).Slamet tidak jadi tumbal, tapi dipekerjakan sebagai "Manager Citra & Viralitas" untuk hantu-hantu lokal supaya mereka bisa eksis lagi di TikTok dan menakuti manusia modern. Komedinya muncul dari Slamet yang harus mengajari Kuntilanak cara skincare-an biar nggak kusam saat live streaming, atau Pocong yang minta dicarikan jasa lari maraton karena bosan lompat terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hacker Vs Dukun
Kunjungan kerja di Kalimantan baru saja memberikan angin segar bagi Slamet, namun ketenangan itu hanya bertahan sekejap. Saat ia dan Arini sedang berada di atas punggung burung garuda ghaib menuju Sulawesi, tablet kerja Slamet mendadak mengeluarkan asap hitam berbau belerang.
[Peringatan Sistem: "Firewall Ghaib-Net jebol! Sinyal Tol Langit di sektor Jakarta Timur mengalami enkripsi paksa oleh mantra 'Ransomware Santet V.2'. Data ribuan hantu tersandera!"]
"Mas! Tabletnya kenapa?!" teriak Arini sambil berpegangan erat pada bulu garuda yang berguncang hebat akibat turbulensi metafisika.
"Kita diserang, Rin! Serikat Pinjol nggak main-maen. Mereka pake jasa 'Cyber-Dukun'!" Slamet mencoba menekan tombol darurat, tapi layarnya malah menampilkan gambar keris yang berputar-putar dengan teks: Membayar atau Terhapus dari Takdir.
Slamet segera menghubungi Bang Omen lewat jalur radio batin. "Omen! Laporan situasi! Kenapa pertahanan kita bisa tembus?!"
Suara Bang Omen terdengar terengah-engah, diselingi suara ketikan keyboard yang brutal. "Met! Mereka licik! Mereka nggak cuma pake kode komputer, mereka masukin kutukan 'Lupa Ingatan' ke dalam paket data kita. Server kita sekarang angot-angotan. Pocong-pocong di Jakarta mendadak lupa cara nakutin orang, mereka malah sibuk jualan panci di grup WA hantu! Ini kekacauan total!"
"Berapa lama kita punya waktu?"
"Tiga jam, Met! Kalau dalam tiga jam kita nggak dapet 'Kunci Deskripsi' dari sumber mantranya, seluruh jaringan Tol Langit bakal jadi milik Serikat Pinjol. Kita bakal jadi menteri tanpa rakyat!"
Slamet menoleh ke Arini. "Rin, kita harus balik ke Jakarta. Tapi nggak lewat jalur biasa. Kita harus masuk ke 'Deep Web Ghaib' ruang hampa di antara server manusia dan dunia bar zah."
"Apapun itu, Mas, asal jangan suruh aku makan kemenyan buat aksesnya!" jawab Arini berani.
Slamet memerintahkan burung garuda untuk melakukan manuver terjun bebas. Mereka menembus awan hitam yang berisi petir-petir statis, hingga akhirnya mendarat di sebuah dimensi yang tampak seperti ruangan server raksasa, namun kabel-kabelnya terbuat dari usus naga yang bercahaya dan lantai kacanya memantulkan dosa-dosa masa lalu pengunjungnya.
Di sana, sudah menunggu Bang Omen dengan sepuluh monitor tabung yang melayang di sekelilingnya. Namun, Omen tidak sendiri. Di pojok ruangan, duduk sesosok pria tua dengan pakaian hitam-hitam khas dukun, namun dia memakai kacamata VR dan tangan kirinya adalah prostetik robotik.
"Kenalkan, ini Mbah Tech," kata Omen. "Dia satu-satunya dukun yang punya sertifikasi Ethical Hacking dari Kerajaan Majapahit."
Mbah Tech membetulkan posisi kacamatanya. "Slamet... kamu terlalu fokus pada teknologi, tapi lupa kalau musuhmu itu setan kolot yang baru belajar pake Wi-Fi. Mereka pake 'Mantra Trojan'. Mereka masukin virusnya lewat sesajen digital yang kamu bagikan kemarin."
Slamet tertegun. "Sesajen digital? Maksud Mbah, voucher kuota gratis yang saya kasih ke hantu-hantu daerah?"
"Persis," kata Mbah Tech. "Di dalam voucher itu ada 'Script Santet'. Begitu hantu klik 'Klaim', jiwa mereka terhubung ke server Serikat Pinjol. Sekarang, satu-satunya cara buat memutusnya adalah dengan melakukan 'Ritual Debu ging'."
"Apa yang harus saya lakukan, Mbah?"
"Kamu dan Arini harus masuk ke dalam simulasi server itu secara astral. Kalian harus nyari 'Arwah Induk' dari virus ini. Dia pasti berwujud sesuatu yang sangat kamu takuti."
Slamet menelan ludah. Dia menatap Arini. "Rin, kamu nggak harus ikut. Ini bahaya banget."
Arini menarik napas panjang, lalu menggenggam tangan Slamet. "Mas, aku udah pernah wawancara Nyi Blorong dan debat sama Auditor. Masa cuma lawan virus dukun aku takut? Lagipula, siapa lagi yang bakal nulis rilis pers kalau kita berhasil?"
Mbah Tech mulai merapal mantra biner: "0101... Kul hu geni... su do biner... su do byte... Enter!"
Seketika, kesadaran Slamet dan Arini tersedot ke dalam kabel usus naga. Mereka mendadak berada di sebuah versi distopia dari Jakarta. Gedung-gedung terbuat dari tumpukan kuitansi utang, dan langitnya berwarna merah seperti notifikasi jatuh tempo.
"Selamat datang di 'Lembah Cicilan'," sebuah suara berat menggema.
Dari balik gedung kuitansi, muncullah sesosok makhluk raksasa yang kepalanya berbentuk mesin EDC (Electronic Data Capture) dan badannya terbuat dari ribuan kartu kredit yang tajam. Inilah Lord Gal bay , manifestasi dari kegagalan bayar dan keputusasaan finansial.
"Slamet..." Lord Gal bay tertawa, dan dari mulutnya keluar struk tagihan sepanjang satu kilometer. "Kamu pikir bisa membebaskan manusia dan hantu dari kami? Kami adalah candu! Kami adalah sistem yang kalian buat sendiri! Tanpa utang, dunia ini berhenti berputar!"
Lord Gal bay menyerang dengan melemparkan ribuan kartu kredit tajam ke arah mereka. Slamet dan Arini berlari berlindung di balik pilar "Tabungan Haji" yang sudah keropos.
"Mas! Kita nggak bisa lawan dia pake otot!" teriak Arini. "Dia itu kuat karena orang-orang merasa 'butuh' dia! Kita harus hancurin logikanya!"
Slamet teringat sesuatu. Dia membuka "Tas Admin" ghaibnya. Dia mencari satu file yang diberikan Bang Omen dulu: Master Key Pembatalan Kontrak.
"Lord Gal bay!" teriak Slamet sambil berdiri menantang. "Kamu bilang kamu adalah sistem? Kamu salah! Kamu cuma 'Bug' di dalam peradaban manusia! Kamu cuma lintah yang hidup di atas keringat orang kecil!"
Slamet mengangkat file Master Key yang berbentuk keris cahaya. "Menurut Pasal 'Keadilan Universal', kontrak yang dibuat tanpa edukasi risiko dianggap batal demi hukum alam! Aku tidak takut padamu, karena saldo ketakutanku sudah NOL!"
Slamet melemparkan keris cahaya itu tepat ke arah layar monitor di dada Lord Gal bay. Terjadi ledakan data yang luar biasa. Angka-angka bunga pinjol beterbangan seperti debu. Lord Gal bay menjerit, tubuh kartu kreditnya mulai rontok satu per satu.
Namun, di detik-detik terakhir, Lord Gal bay mencoba menarik Arini masuk ke dalam lubang hitam di perutnya. "Kalau aku jatuh, asistenmu juga jatuh!"
"Rin!" Slamet melompat, menangkap tangan Arini. Dia menahan beban Arini dengan sekuat tenaga sementara kakinya terseret menuju lubang hitam.
Di saat genting itu, muncul notifikasi raksasa di langit simulasi:
[Malaikat-Care: "Deteksi Pengorbanan Tulus. Poin Keberanian: MAKSIMAL. Mengaktifkan fitur: 'Uninstall Kedzaliman'."]
Cahaya putih terang benderang menyapu seluruh Lembah Cicilan. Lord Gal bay hancur menjadi partikel biner yang tidak berbahaya.
Slamet dan Arini terbangun di lantai kaca Ghaib-Net, terengah-engah dan berkeringat. Bang Omen dan Mbah Tech bersorak.
"Berhasil! Virusnya bersih! Tol Langit kembali online!" seru Bang Omen sambil melakukan selebrasi tarian aneh.
Slamet membantu Arini berdiri. "Rin, kamu nggak apa-apa?"
Arini tersenyum, meski rambutnya berantakan. "Ternyata lawan Lord Gal bay lebih capek daripada revisi tulisan dari klien sepuluh kali, Mas."
Mbah Tech mendekati mereka, wajahnya serius. "Kalian memang berhasil membersihkan virusnya. Tapi kalian baru saja memicu perang terbuka. Serikat Pinjol sekarang tahu kalau kalian punya akses ke Master Key. Mereka bakal lapor ke 'Dewan Tertinggi Kegelapan Internasional'. Ini bukan lagi urusan lokal Jakarta."
Slamet menatap pergelangan tangannya. Logo Verified-nya kini memiliki garis emas tambahan, tanda dia telah melewati ujian tingkat menteri yang sesungguhnya.
"Biarin saja, Mbah," kata Slamet mantap. "Kalau mereka mau main internasional, saya bakal panggil hantu-hantu dari luar negeri buat kolaborasi. Kita bikin 'League of Legends Ghaib' buat jaga kedaulatan kita."
Slamet menatap Arini. Ada rasa bangga yang luar biasa di matanya. Mereka bukan lagi sekadar dua orang yang kepepet keadaan; mereka adalah duo paling ditakuti oleh para korporat ghaib yang rakus.
"Mas Slamet," Arini memegang tangan Slamet. "Habis ini, kita beneran ke Sulawesi kan? Aku pengen liat hantu laut yang katanya jago navigasi itu."
"Tentu, Rin. Tapi sebelum itu..." Slamet menoleh ke Bang Omen. "Men, kirimin tagihan biaya 'Pembersihan Virus' ke alamat Serikat Pinjol. Pake bunga 200 persen. Biar mereka ngerasain gimana rasanya ditagih!"
Bang Omen tertawa jahat. "Siap, Pak Menteri! Langsung saya kirim pake kurir Genderuwo yang paling galak!"
Malam itu, di tengah sunyinya puncak Lawu yang kembali damai, Slamet menyadari bahwa teknologi dan mantra mungkin bisa berperang, tapi hati yang jujur adalah antivirus yang paling kuat. Perjalanan menuju kedaulatan ghaib Nusantara masih jauh, tapi setidaknya malam ini, satu lintah raksasa telah berhasil di-uninstall dari sistem.