NovelToon NovelToon
Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jullsr red

Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.

Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.

Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - Kejutan yang Mengguncang Seluruh Arena

Lampu dipadamkan, tirai disingkap, dan di tengah sorot cahaya mentari yang mulai meninggi di atas kepala, arena perbandingan keluarga Lin bergemuruh oleh gelombang bisik dan sorak yang tak terhitung jumlahnya. Di atas panggung batu yang luas dan kokoh itu, dua sosok muda telah berdiri saling berhadapan—dua takdir yang sebentar lagi akan berbenturan.

“Ha ha, bocah itu benar-benar sedang dirundung sial…”

Di antara kerumunan, Lin Shan memandang ke arah panggung dengan sudut bibir terangkat, menyiratkan kegembiraan tersembunyi atas kemalangan orang lain. Dalam pandangannya, Lin Yun bukanlah sosok yang dapat diremehkan. Dari sudut mana pun dilihat, bakat dan ketekunan Lin Yun sama sekali tidak kalah dari Lin Hong. Andaikan ia memperoleh perlakuan serta sumber daya yang setara, siapa yang kelak akan berdiri lebih tinggi di puncak, masih menjadi tanda tanya besar.

Kini, justru di babak ini Lin Zhantian bertemu dengannya. Seolah-olah Langit sendiri telah memutuskan bahwa langkah pemuda itu akan terhenti sampai di sini.

“Sungguh disayangkan. Tadinya aku ingin turun tangan sendiri untuk memberinya pelajaran. Namun melihat situasinya sekarang, tampaknya itu tidak lagi diperlukan.” Lin Hong tersenyum tipis, nada suaranya malas namun sarat keyakinan.

Di sisi lain, ketika mendengar nama lawan putranya disebutkan, Lin Xiao—yang berdiri dengan punggung tegak namun wajah masih menyimpan bekas-bekas penderitaan masa lalu—tak kuasa menautkan alisnya. Ia mengenal betul siapa Lin Yun. Pemuda itu bukan bunga hias di halaman keluarga; ia adalah bilah pedang yang diasah oleh tragedi.

Di sampingnya, Qing Tan menggenggam kedua tangannya erat-erat. Wajah mungilnya yang biasanya cerah kini dipenuhi kecemasan. Tatapannya tak pernah lepas dari sosok yang berdiri di atas panggung.

“Tidak perlu terlalu cemas,” ujar Lin Xiao perlahan. Sejak luka-lukanya pulih berkat usaha keras putranya, ketegasan yang dulu menekan kini telah melunak. “Jika ia kalah dari Lin Yun, itu pun bukan aib. Waktu latihannya masih singkat.”

Namun Qing Tan tidak menjawab. Entah mengapa, jauh di dalam lubuk hatinya, ada secercah harapan yang tak bisa ia jelaskan.

“Saudara Zhantian tidak akan kalah semudah itu…”

---

Ketika wasit keluarga, Lin Ken, menyebutkan nama peserta kedua, seorang pemuda berbalut pakaian abu-abu melangkah keluar dari kerumunan dengan langkah tenang dan mantap.

Tubuhnya kurus, bahkan tampak sedikit rapuh. Namun kedua matanya—tajam laksana elang yang mengintai mangsa—menyimpan tekad yang tak tergoyahkan. Ia adalah seseorang yang telah menyaksikan kedua orang tuanya terbunuh oleh perampok di depan mata sendiri. Sejak hari itu, masa kanak-kanaknya telah terkubur. Kedewasaan lahir lebih awal dalam dirinya, ditempa oleh darah dan kehilangan.

“Lin Yun.” Ia berdiri di hadapan lawannya dan menyebut namanya dengan suara rendah namun jelas.

“Lin Zhantian.” Pemuda yang berdiri di seberangnya membalas dengan sikap hormat, menangkupkan tangan di depan dada. Nada suaranya mantap. Meski sebelumnya hampir tak pernah berinteraksi dengan Lin Yun, dalam hati ia memendam kekaguman pada keteguhan pemuda itu.

“Aku tidak akan menahan diri,” ujar Lin Yun datar.

“Terima kasih,” jawab Lin Zhantian dengan senyum tipis.

Ucapan itu membuat Lin Yun tertegun sejenak. Ia menatap lawannya lebih dalam, seakan mencoba menembus permukaan tenang itu. Lalu ia menghela napas panjang. Pada kedua telapak tangannya, cahaya redup mulai berpendar—tanda bahwa Yuan Li telah digerakkan.

“Karena keduanya telah siap, maka pertarungan dimulai!” seru Lin Ken, meski dalam hatinya terselip kekhawatiran.

Begitu kata terakhir terucap—

“Buk!”

Langkah Lin Yun menghentak tanah. Tubuhnya melesat maju seperti panah yang dilepaskan dari busur. Lima jarinya mengepal kuat, tanpa hiasan gerak yang berlebihan, langsung menghantam ke arah dada Lin Zhantian.

Angin tinju itu membelah udara dengan suara mendesing.

Namun yang mengejutkan banyak orang, Lin Zhantian tidak mundur setapak pun. Justru ia melangkah maju, menghadapi badai itu secara frontal. Tangan kanannya melesat cepat, menangkap kepalan Lin Yun tepat pada saat momentum mencapai puncak. Telapak tangannya bergetar, lalu dengan satu hentakan halus namun penuh tenaga, ia menepis pukulan itu hingga melenceng.

Mata para penonton membelalak.

Namun Lin Yun bukanlah petarung yang akan kehilangan ritme hanya karena satu gerakan. Tubuhnya berputar ringan, menghindari serangan balasan yang mengarah ke arahnya. Kedua tinjunya kemudian bergerak bersamaan, menghujani wajah Lin Zhantian dengan bayangan pukulan yang bertumpuk-tumpuk, seolah hujan batu yang runtuh dari tebing.

“Tinju Batu Jatuh…”

Lin Zhantian mengenali teknik itu. Ia pernah menyaksikan Lin Shan menggunakannya. Namun dibandingkan dengan Lin Yun, gerakan Lin Shan penuh celah dan kurang presisi.

Sementara Tinju Batu Jatuh milik Lin Yun… bagaikan longsoran gunung yang tak terhentikan.

Setiap pukulan semakin berat, semakin cepat, semakin padat. Jika dibiarkan mengalir, kekuatannya akan bertambah tanpa henti.

Napas Lin Zhantian mengalir perlahan dari tenggorokan. Ia memahami satu hal dengan sangat jelas: menghadapi teknik seperti ini, mundur berarti menyerahkan kendali. Dan sekali kehilangan kendali, ia akan terdesak hingga tak mampu bangkit.

Karena itu—

Ia memilih untuk bertabrakan.

Kedua tangannya mengepal.

“Pak! Pak! Pak! Pak! Pak! Pak! Pak! Pak!”

Delapan suara nyaring meledak di atas panggung batu!

Delapan gema yang saling bersambung, seperti dentang genderang perang yang mengguncang langit.

Delapan Gema Tinju Penembus Punggung!

Wajah Lin Zhantian berubah serius, aura di sekelilingnya bergetar. Otot-otot di lengannya menegang, urat-urat menonjol seperti naga kecil yang berkelok di bawah kulit.

Tinju pertamanya menghantam bayangan pukulan Lin Yun.

“Duar!”

Gelombang tenaga menyebar.

Tinju kedua menyusul.

Tinju ketiga!

Tinju keempat!

Setiap benturan memekakkan telinga, setiap tumbukan memercikkan debu dan serpihan batu dari permukaan panggung. Kedua pemuda itu bertukar serangan tanpa mundur, tanpa ragu, seolah masing-masing telah menanggalkan rasa takut.

Di bawah panggung, sorakan perlahan meredup, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan. Semua mata terpaku pada dua sosok yang bertarung sengit itu.

Wajah Lin Hong yang semula santai kini sedikit menegang.

Lin Shan tak lagi tersenyum.

Bahkan para tetua keluarga yang duduk di kursi kehormatan pun saling berpandangan.

“Delapan gema…?”

“Bukankah itu tingkat yang hampir menyamai puncak teknik itu?”

Lin Xiao berdiri tanpa sadar. Dalam dadanya, sesuatu bergetar—bukan ketakutan, melainkan kebanggaan yang menggelegak seperti gunung berapi yang hendak meletus.

Di tengah hujan pukulan, Lin Yun merasakan tekanan yang belum pernah ia alami sebelumnya. Setiap benturan dengan tinju Lin Zhantian memantulkan getaran ke lengannya, membuat tulang-tulangnya berdenyut nyeri.

Namun matanya tetap tajam.

Ia menggertakkan gigi, Yuan Li di dalam tubuhnya mengalir lebih deras, memperkuat otot dan tulang. Tinju Batu Jatuh mencapai puncak momentumnya, menghantam lurus ke arah bahu Lin Zhantian.

“Ledakan!”

Kali ini, keduanya terpental beberapa langkah.

Debu mengepul.

Ketika kabut tipis itu menghilang, dua sosok masih berdiri tegak.

Napas mereka berat, dada naik turun cepat.

Namun mata Lin Zhantian—tenang.

Tanpa peringatan, ia kembali melangkah maju. Delapan gema belumlah batasnya. Tenaga di dalam tubuhnya berputar, seakan menunggu satu percikan terakhir untuk meledak lebih dahsyat.

Di bawah sorot mata ribuan orang, pemuda yang selama ini dipandang sebelah mata itu memperlihatkan taringnya.

Hari itu, di panggung keluarga Lin—

Nama Lin Zhantian mulai mengguncang seluruh arena.

Sorot mata yang semula hanya dipenuhi rasa ingin tahu, kini berubah menjadi gelombang keterkejutan yang tak terbendung. Tidak sedikit pasang mata yang membelalak lebar, menatap pemuda di atas panggung batu itu seolah-olah sedang menyaksikan sesuatu yang mustahil terjadi. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa pada usia semuda itu, Lin Zhantian telah mampu membawa Teknik Tinju Penembus Punggung mencapai tingkatan sedemikian rupa.

“Bocah ini… ternyata kembali mengalami kemajuan…” gumam Lin Xiao tanpa mampu menyembunyikan getaran dalam suaranya. Wajahnya yang semula tegang oleh kekhawatiran kini diterangi oleh sinar kegembiraan yang tulus.

Di kursi kehormatan, Lin Zhentian mengelus janggutnya perlahan. Matanya yang tajam memantulkan kilatan penghargaan. “Bagus… sangat bagus…”

Nada suaranya tidak keras, namun bagi mereka yang memahami wataknya, satu kata itu telah mengandung pujian yang amat dalam. Pada usia seperti itu, mampu melatih Tinju Penembus Punggung hingga delapan gema sudah termasuk pencapaian luar biasa. Bahkan di antara generasi muda keluarga Lin, tak banyak yang dapat menyentuh tingkat tersebut.

Namun sorot mata lelaki tua itu tetap jernih dan tajam menembus kabut kegembiraan.

“Akan tetapi, Tinju Batu Jatuh milik Lin Yun telah mencapai kematangan yang tinggi. Ditambah lagi dengan bantuan Yuan Li… meski delapan gema memiliki daya hancur besar, untuk meraih kemenangan, kurasa masih akan sulit…”

Ia berbicara perlahan, seakan sedang menimbang nasib di atas timbangan takdir.

Tetapi—

“Pak!”

Sebuah suara renyah kembali menggema di udara!

Ucapan Lin Zhentian belum sepenuhnya usai ketika suara kesembilan itu meledak di tengah arena, bagaikan petir yang membelah cakrawala cerah.

Hening.

Seluruh aula uji tanding seakan membeku dalam satu tarikan napas.

Sembilan gema!

Puncak dari Tinju Penembus Punggung!

Semua kepala serempak menoleh. Semua tatapan tertuju pada satu titik—pada sosok Lin Zhantian yang berdiri tegap di tengah panggung.

Dan kali ini, bukan hanya gema yang terdengar.

Pada kepalan tangannya, cahaya samar berpendar lembut—kilau yang tak mungkin disalahartikan.

Yuan Li!

Tingkat Keenam Penempaan Tubuh!

“Retak!”

Cangkir teh di tangan Lin Xiao langsung pecah, retakan menjalar seperti jaring laba-laba di permukaannya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa jemarinya telah mencengkeram terlalu kuat.

Matanya terpaku pada putranya.

Sembilan gema?

Tingkat Keenam Penempaan Tubuh?

Sejak kapan… sejak kapan Lin Zhantian tumbuh hingga sejauh ini?

Gelombang kejut itu tidak hanya menghantam hati seorang ayah. Di kursi utama, Lin Zhentian terdiam cukup lama sebelum akhirnya menarik napas dalam dan mengucapkan satu kata dengan berat namun penuh kepuasan:

“Bagus!”

Satu kata, namun mengguncang seperti genderang perang.

Mereka yang mengenalnya tahu—itu adalah bentuk pengakuan tertinggi.

Di sisi lain, wajah Lin Mang sedikit menggelap. Bibirnya terkatup rapat, tak sepatah kata pun keluar. Di belakangnya, Lin Hong yang sebelumnya santai kini mengernyitkan dahi.

“Orang ini… rupanya memang memiliki kemampuan,” gumamnya pelan, nada meremehkan yang tadi melekat kini sedikit terkikis.

Di atas panggung, badai benar-benar mencapai puncaknya.

Dengan sembilan gema yang bergetar di tulang dan ototnya, dengan Yuan Li yang mengalir deras seperti sungai pegunungan di musim banjir, Lin Zhantian melangkah maju tanpa ragu.

“Boom!”

Tinju itu turun.

Bukan lagi sekadar pukulan.

Ia laksana batu raksasa yang jatuh dari tebing ribuan zhang, membawa serta beban langit dan bumi.

Tinju Batu Jatuh milik Lin Yun yang semula bagaikan longsoran kini bertemu dinding baja yang tak tergoyahkan. Pada detik benturan itu, suara ledakan bergema, mengguncang panggung batu hingga debu beterbangan.

Kekuatan meledak!

Tubuh Lin Yun terhentak keras. Getaran dari sembilan gema menembus pertahanannya, merambat melalui lengan, mengguncang tulang, memaksa napasnya tercekat.

Sesaat kemudian—

Tubuhnya terlempar!

Seperti layang-layang yang talinya terputus, ia terbang mundur melintasi udara sebelum akhirnya jatuh keras di luar panggung batu.

“Wuaaah—!”

Keriuhan meledak.

Gelombang suara bergulung seperti ombak badai. Mereka yang dahulu mengenal Lin Zhantian sebagai pemuda biasa kini hanya bisa ternganga. Baru setengah tahun berlalu, namun kekuatan yang ia tampilkan telah melonjak ke tingkat yang membuat orang sulit mempercayainya.

Lin Ken pun sempat terpaku, seolah masih belum sepenuhnya sadar akan apa yang terjadi. Setelah beberapa detik, barulah ia tersentak dan mengumumkan dengan suara lantang:

“Lin Zhantian menang!”

Tepuk tangan dan sorak sorai membahana memenuhi aula.

Kini mereka memahami satu hal.

Langkah Lin Zhantian hingga titik ini bukanlah hasil keberuntungan.

Ia berjalan di atas kekuatan sejati.

Berdiri di atas panggung, Lin Zhantian memandang kerumunan yang bergelora itu. Wajahnya tenang, hanya senyum tipis yang terukir di sudut bibirnya. Ia tidak terhanyut oleh pujian, tidak pula terseret oleh kegembiraan.

Ia melompat turun dari panggung, lalu mengulurkan tangan kepada Lin Yun.

“Apakah kau baik-baik saja?”

Lin Yun menatap tangan itu sesaat, lalu menerima bantuan tersebut dan bangkit. Di wajahnya tidak ada kepahitan, hanya kelegaan yang jujur.

“Sembilan gema Tinju Penembus Punggung. Tingkat Keenam Penempaan Tubuh. Kekalahan ini tidak memalukan,” ujarnya dengan senyum samar. “Jika ada kesempatan, aku akan kembali menantangmu.”

Setelah berkata demikian, ia berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi.

Lin Zhantian memandang punggung pemuda itu. Di dalam hatinya, tumbuh rasa hormat yang tulus. Orang seperti Lin Yun, yang ditempa oleh penderitaan dan tetap menjaga kehormatan dalam kekalahan, pantas untuk dikenal lebih jauh.

Namun sebelum itu—

Ada satu urusan yang belum selesai.

Tatapan Lin Zhantian perlahan beralih ke satu arah.

Ke tempat Lin Hong berdiri.

Mata mereka bertemu di udara.

Di sudut bibir Lin Hong masih tersisa seulas senyum tipis, samar, penuh keangkuhan yang belum sepenuhnya sirna.

Namun kini, di balik senyum itu, ada bayangan kewaspadaan.

Angin tipis berembus melewati arena.

Di bawah sorak-sorai dan debu yang belum sepenuhnya mengendap, dua takdir perlahan mulai saling mengunci.

Hari ini, nama Lin Zhantian telah mengguncang seluruh arena.

Namun pertempuran yang sesungguhnya—

Baru saja akan dimulai.

1
REY ASMODEUS
bagusss
REY ASMODEUS
aku suka permulaan untuk sebuah nama : DENDAM , tapi setelah itu ? apa tujuanmu wahai Lin zhatian?
anggita
ikut ng👍like aja👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!