Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duel Tanpa Nama
Kabar tentang pertukaran jurus antara Qiu Liong dan Zhao Ming menyebar lebih cepat dari angin sore.
Meski tidak ada pengumuman resmi, bisik-bisik di antara murid membuat suasana sekte berubah halus. Bukan gempar. Bukan heboh.
Namun cukup untuk membuat beberapa mata mulai mengawasinya lebih lama dari biasanya.
Menjelang malam, saat langit berubah jingga keunguan, Qiu Liong berjalan sendirian menuju halaman latihan kecil di belakang Paviliun Batu Tua. Tempat itu jarang digunakan biasanya hanya murid yang ingin berlatih diam-diam yang datang ke sana.
Ia ingin menenangkan pikirannya.
Namun saat ia tiba
seorang pria sudah berdiri di tengah halaman.
Berpakaian biru tua.
Pedang tipis tergantung di pinggangnya.
Wajahnya asing.
Bukan murid luar.
Bukan murid yang biasa ia lihat setiap hari.
Pria itu menoleh perlahan.
Tatapannya tajam, namun tanpa emosi berlebihan.
“Qiu Liong,” ucapnya datar.
Suara itu bukan bertanya.
Ia sudah tahu.
“Aku,” jawab Qiu Liong singkat.
Angin malam berembus pelan, menggerakkan dedaunan kering di sekitar mereka.
“Aku mendengar kau berubah,” lanjut pria itu. “Aku ingin melihatnya sendiri.”
“Siapa kau?” tanya Qiu Liong.
“Tidak penting.”
Jawaban itu membuat suasana semakin berat.
Duel tanpa nama.
Tanpa saksi.
Tanpa kehormatan resmi.
Namun justru karena itu, terasa lebih murni.
Qiu Liong menatap pria itu lebih saksama.
Auranya stabil.
Lebih dalam dari Zhao Ming.
Lebih terkendali.
Ini bukan murid biasa.
Mungkin murid dalam yang memilih tetap di bayangan.
“Kau ingin bertarung?” tanya Qiu Liong pelan.
Pria itu mengangguk.
Tanpa banyak kata, ia menarik pedangnya.
Gerakannya halus.
Tenang.
Seperti air yang mengalir.
Qiu Liong juga menghunus pedangnya.
Ia merasakan inti di dalam dadanya tetap sunyi.
Namun kali ini
ada sedikit getaran.
Bukan ketakutan.
Melainkan kewaspadaan.
Pertarungan dimulai tanpa aba-aba.
Pria itu bergerak cepat.
Langkahnya ringan, hampir tanpa suara.
Serangan pertama datang dari sudut tak terduga, memotong udara dengan presisi.
Qiu Liong menangkis.
Benturan terasa lebih berat dari sebelumnya.
Ia mundur setengah langkah.
Mata pria itu menyipit tipis.
Tidak terkejut.
Seolah sudah memperkirakan.
Serangan kedua datang lebih cepat.
Kali ini disertai aliran qi yang halus namun tajam.
Qiu Liong merasakan tekanan itu mendekat.
Ia tahu
jika hanya mengandalkan teknik biasa, ia akan kalah.
Dalam sepersekian detik, ia membuka sedikit ruang di dalam dirinya.
Tidak penuh.
Tidak liar.
Hanya secukupnya.
Kehampaan itu mengalir tipis ke pedangnya.
Saat kedua bilah bertemu
suara benturan terdengar aneh.
Bukan hanya logam.
Seperti sesuatu yang tenggelam.
Pria itu terkejut.
Sedikit saja.
Namun cukup untuk membuat langkahnya terhenti sesaat.
Qiu Liong memanfaatkan celah itu.
Gerakannya tidak cepat.
Namun tepat.
Setiap ayunan terasa sederhana.
Tanpa gerakan berlebihan.
Namun setiap sentuhan membuat pria itu merasakan keseimbangan qi-nya terganggu.
“Apa itu…?” gumamnya pelan.
Qiu Liong tidak menjawab.
Ia sendiri merasakan sesuatu yang berbeda.
Berbeda dari pertarungan dengan Zhao Ming.
Kali ini
ia tidak merasa ingin membuktikan apa pun.
Tidak merasa ingin menang demi harga diri.
Ia hanya… bertarung.
Tenang.
Seperti air yang menerima bentuk wadahnya.
Pertukaran jurus berlangsung lebih lama.
Akhirnya, pedang Qiu Liong berhenti di depan dada pria itu.
Sementara ujung pedang lawannya hanya menyentuh lengan bajunya.
Jarak tipis.
Namun cukup jelas.
Hening menyelimuti halaman kecil itu.
Pria itu menatapnya dalam.
“Aku tidak tahu kekuatan apa yang kau miliki,” katanya perlahan. “Namun itu bukan qi biasa.”
Qiu Liong menarik pedangnya.
“Tidak semua hal perlu diberi nama.”
Pria itu tersenyum tipis.
Bukan mengejek.
Melainkan mengakui.
“Menarik.”
Tanpa berkata lagi, ia berbalik dan pergi, menghilang di antara bayangan paviliun.
Qiu Liong berdiri sendirian di bawah langit malam.
Jantungnya berdetak stabil.
Tidak terlalu cepat.
Tidak terlalu lambat.
Duel tanpa nama itu tidak tercatat.
Tidak disaksikan.
Namun di dalam dirinya,
ia tahu
ia baru saja melangkah lebih jauh
di jalan yang tak bisa kembali.
jangan bikin kecewa ya🙏💪