"Besok kamu harus menikah dengan putra dari keluarga He! Pokoknya Papa tidak mau tahu, setuju atau tidak kamu tetap harus menikah dengannya." Zhu Guan
"Tidak! Lian tidak mau Pa. Sampai kapanpun Lian tidak mau menikah dengan lelaki lumpuh itu. Lebih baik Yiyue saja yang Papa nikahkan dengan lelaki itu, jangan aku Pa!" Zhu Lian
"Kenapa harus aku? Bukankah kakak yang harus menikah, tapi kenapa semua orang menumbalkanku untuk menggantikannya?" Zhu Yiyue
Seorang pengusaha yang sedang terlilit hutang, tak ada opsi lain selain menuruti keinginan keluarga He yang merupakan keluarga konglomerat. Dengan teganya dia menumbalkan salah satu putrinya sebagai penebus hutangnya. Tanpa memikirkan perasaan putrinya, dia justru mendorong putrinya ke sebuah jurang keputusasaan.
Mampukah Yiyue menerima takdirnya sebagai alat penebus hutang? Menikah dengan seorang lelaki yang tak dia kenal, terlebih lelaki itu adalah Tuan Muda lumpuh yang terkenal sangat dingin seperti kulkas tujuh pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMDTML 3
Pagi pun tiba, seorang gadis cantik sedang duduk di meja rias dengan dua orang yang membantunya bersiap. Gadis itu tak lain adalah Yiyue, hari ini adalah hari pernikahannya dengan Tuan Muda dari keluarga He. Pesta pernikahan ini tidak digelar secara mewah, hanya keluarga besar saja yang hadir. Para media pun dilarang meliput, itu semua karena Daddy Jinmao yang tidak ingin jika Qiaoyan putranya menjadi bahan tontonan orang banyak.
Kedua netra Yiyue menatap pantulan dirinya di depan cermin. Tampak gaun pengantin mewah dihiasi permata melekat sempurna di tubuh rampingnya. Rambutnya disanggul menggunakan model simple low bun dengan mahkota mutiara menghiasi kepalanya. Anting, gelang, dan juga kalung menghiasi bagian tubuhnya sehingga membuat kecantikannya seribu kali lipat lebih cantik.
Terlihat jelas gadis itu begitu cantik dan menawan. Namun anehnya, air mata terus berjatuhan membasahi pipi cantiknya hingga membuat bedak-bedak itu terkikis oleh air mata. Setiap orang pasti bahagia di hari pernikahannya, namun tidak dengan Yiyue yang masih menatap dirinya di cermin dengan berlinang air mata.
Yiyue menangis tertahan dan menggeleng tak percaya, seolah semuanya bagaikan bunga tidur saat dia terlelap. Namun faktanya, semua adalah nyata bukan sekedar ilusi. Sungguh dia tak menyangka jika sebentar lagi dirinya akan menyandang sebuah gelar istri dari lelaki yang sama sekali tak dia kenal.
Lian berdecak kesal saat melihat Yiyue yang begitu cantik bak bidadari. Perasaannya begitu dongkol, tak terima jika Yiyue lebih unggul darinya. Faktanya sedari dulu, Lian lah yang selalu unggul bahkan mampu menggaet perhatian kedua orangtuanya hingga mencurahkan semua kasih sayangnya pada dirinya seorang.
Lian sama sekali tidak ingin jika kasih sayang orangtuanya harus terbagi pada saudaranya itu. Dia hanya ingin dirinya lah yang mendapatkan kasih sayang utuh dari orangtuanya. Lebih tepatnya, Lian tidak mau berbagi kasih sayang dengan Yiyue.
"Ck, lama sekali kah ... dandan seperti ini saja berjam-jam." Lian menyorot tajam pada Yiyue lewat pantulan cermin di hadapannya.
Sorot matanya beralih pada dua orang yang membantu Yiyue bersiap. "Tugas kalian sudah selesai. Cepat keluar dari ruangan ini!"
Kedua orang itu bergegas keluar sambil membawa barang-barang mereka yang telah dia gunakan untuk merias calon istri dari Tuan Muda keluarga He. Ya, mereka adalah salah satu MUA ternama yang disewa untuk merias Yiyue. Meskipun pernikahan hanya digelar secara sederhana, tetap saja keluarga He menyiapkan MUA untuk calon istri putranya. Dia tak ingin jika gadis itu membuat putranya malu yang berujung sang putra akan murka karena telah mencarikan seorang gadis yang tidak sesuai dengan levelnya.
"Ayo cepat keluar! Semua orang sudah menunggumu. Ingat, tetaplah tersenyum di hadapan semua orang terutama suami lumpuh mu itu. Ha ... ha ... ha ... ha ...," seru Lian ketus memperingati sang adik, kemudian diiringi senyum lebar dari bibirnya.
"Baik kak." Dengan pelan Yiyue menyeka air matanya takut jika make up nya luntur.
Perlahan, Yiyue berjalan keluar meninggalkan ruang rias. Dia berjalan dengan langkah gontai, tatapannya begitu kosong. Kedua tangannya mengangkat ujung gaunnya yang kepanjangan. Disana dia sudah ditunggu oleh beberapa orang, terutama Mama Papanya. Terlihat jelas sang Mama menatapnya dengan sinis. Ingin rasanya Yiyue kabur tapi dia tak mau karena sudah pasti akan banyak hati yang tersakiti, terutama sang Papa.
"Lemot banget sih jadi orang. Cepat sana berangkat, kamu udah ditungguin sama Tuan Muda di gereja," ketus Mama Suzhen tanpa menoleh ke arah Yiyue.
"Iya Ma."
"Selamat pagi Nona, kenalkan saya Fan Zhi asisten Tuan Qiaoyan calon suami anda. Saya bertugas untuk menjemput anda ke gereja. Tuan Muda sudah menunggu anda," terang Fan Zhi sambil menunduk sopan pada Yiyue sebagai tanda hormatnya pada calon istri atasannya.
"Selamat pagi juga Tuan. Terimakasih." Yiyue mengangguk pelan, berusaha tersenyum walau hatinya terasa sakit.
"Mari Nona kita berangkat," ucap Fan Zhi.
"Ma Pa, Yiyue berangkat."
Yiyue memiringkan kepalanya menatap dalam wajah Papanya. Besar harapannya jika sang Papa mau ikut bersamanya untuk mengantar dirinya pergi ke gereja. Menemaninya berjalan di atas altar bertemu dengan calon suaminya, sosok lelaki yang sama sekali tak dia kenal.
"Maafkan Papa Nak, Papa tidak bisa. Keluarga He melarang Mama dan Papa untuk datang kesana karena kamu ...."
"Karena Yiyue sudah dijual kan Pa, sebagai alat penebus hutang Papa?" sela Yiyue tersenyum getir saat mengingat bahwa dirinya hanyalah sebagai alat penebus hutang Papanya.
Tampak mata Yiyue mengembun, menahan buliran bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Namun, sekuat tenaga Yiyue berusaha mempertahankan pertahanannya agar air mata itu tak jatuh. Percuma juga dia menangis, toh semua itu tak dapat merubah keadaan. Dia tetap akan menikah dengan Tuan Muda dari keluarga He yang terkenal dingin seperti kulkas tujuh pintu.
"Halaaah ... udah sana cepat pergi." Dengan keras Mama Suzhen mendorong tubuh mungil Yiyue, beruntung saat itu ada Fan Zhi yang siap badan menahan tubuh Yiyue alhasil gadis cantik itu tidak terjatuh ke atas lantai.
"Maaf Nona. Apa anda baik-baik saja?" Secepat kilat Fan Zhi melepaskan tangan kekarnya dari tubuh mungil calon istri atasannya.
Lelaki tampan itu tidak ingin jika ada seseorang yang melihatnya berujung salah paham. Karena sudah dipastikan bahwa atasannya akan murka saat tahu jika miliknya disentuh oleh orang lain. Namun, sayangnya hal itu berlaku pada sosok yang dicintai oleh atasannya. Tidak pada Yiyue yang notabenenya hanya seorang gadis sebagai alat penebus hutang orangtuanya, begitulah pikir Fan Zhi.
"Tidak apa-apa Tuan," sahut Yiyue sambil menggeleng pelan. Meskipun hatinya terasa sakit, tetap saja dia berusaha menampilkan senyumnya di hadapan semua orang. Dia tak ingin jika semua orang menertawakan nasibnya yang begitu buruk, menikahi seorang Tuan Muda lumpuh hanya karena sebagai alat penebus hutang orangtuanya.
Dengan berat hati Yiyue berjalan keluar meninggalkan mansion yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Tak ada satupun orang yang mengantarnya pergi ke pernikahannya, bahkan Papanya sendiri tak berniat untuk mengantar dirinya masuk ke dalam mobil. Air mata Yiyue sudah mengering, dia berusaha tegar menerima ini semua.
"Silahkan Nona," ucap Fan Zhi sopan sambil membukakan pintu limosin untuk calon istri atasannya.
Setelah itu, Fan Zhi bergegas masuk ke dalam limosin mewah itu. Duduk di kursi kemudi, sebelum kemudian lelaki tampan itu mengemudikan limosin dengan kecepatan sedang.
🥕🥕🥕
Tak butuh waktu lama, kini limosin yang dinaiki oleh Yiyue sudah tiba di sebuah bangunan menjulang tinggi menggunakan gaya barok dengan jendela kaca berwarna warni khas eropa, lengkungan tinggi dan menara yang berbentuk lancip.
Yiyue berjalan menuju altar pernikahan. Disana, tampak seorang lelaki tengah duduk di kursi roda elektriknya dengan tuxedo mahal yang melekat di tubuh besarnya. Terlihat jelas wajah tampan dan dingin tanpa ekspresi. Bahkan dia sama sekali tak melihat gadis yang berdiri di sampingnya dan siap untuk mengucapkan janji suci.
"Zhu Yiyue, bersediakah engkau menikah dengan He Qiaoyan?"
.
.
.
🥕Bersambung🥕