NovelToon NovelToon
MENAGIH JANJI MASA KECIL

MENAGIH JANJI MASA KECIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.

“Kamu harus jadi pengantinku.”

Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.

Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.

Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.

Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?

Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERINGATAN DARI MASALALU

Mobil sedan hitam itu berhenti perlahan di depan lobi Citra Hospital. Arumi segera turun dengan gerakan yang tampak kaku, seolah-olah setiap inci tubuhnya sedang menahan beban yang sangat berat. Sebelum menutup pintu, ia membungkuk sedikit ke arah jendela sopir.

"Pak, nanti sore tidak usah jemput saya. Saya akan pulang naik taksi saja," pesan Arumi singkat.

"Tapi Non, Tuan Besar berpesan agar saya selalu siaga," sahut sang sopir ragu.

"Katakan saja pada Papa kalau saya ada jadwal operasi yang selesainya tidak menentu. Sudah ya, Pak," potong Arumi tanpa menunggu jawaban lagi.

Ia melangkah masuk ke dalam gedung rumah sakit dengan kepala tegak, meskipun hatinya terasa remuk. Arumi berusaha menampilkan wajah profesionalnya yang paling tenang. Namun, baru beberapa meter ia berjalan menyusuri koridor, sebuah suara bariton yang sangat ia kenali memanggil namanya dari arah belakang.

"Arumi! Wah, rajin sekali pengantin baru kita ini!"

Arumi menghentikan langkah dan menoleh. Di sana berdiri Bisma, sahabat masa kecilnya yang kini resmi dipindahkan oleh Ferdiansyah untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Ariya sementara waktu. Bisma berjalan menghampiri dengan cengiran lebar yang biasanya menular, namun kali ini Arumi tidak sanggup membalasnya.

"Masa pengantin baru sudah masuk kerja sih? Seharusnya kalian sedang indehoy di rumah, atau setidaknya sedang merencanakan bulan madu yang romantis," goda Bisma sambil menyikut lengan Arumi pelan.

Arumi mendengus lelah, matanya menatap Bisma dengan sorot dingin. "Hentikan ocehanmu, Bis. Dan satu hal lagi, jangan pernah menyebarkan berita pernikahanku dengan pria dingin itu pada rekan-rekan di sini. Aku tidak ingin menjadi bahan gunjingan."

"Loh, kenapa? Menikah dengan Ariya itu kan prestasi, meskipun dia sedang galak-galaknya," balas Bisma santai. Namun, saat ia memperhatikan wajah Arumi lebih dekat dari jarak sosial yang biasa, tawa Bisma mendadak lenyap.

Bisma tertegun. Ia melihat tanda kemerahan yang mulai berubah menjadi kebiruan di pipi kiri Arumi, tepat di bawah tulang pipi. Matanya yang semula penuh canda kini berubah menjadi kaku dan tajam.

"Ada apa dengan wajahmu, Rumi?" tanya Bisma dengan suara yang rendah dan penuh penekanan. "Apakah ini perbuatan Arya?"

Arumi langsung membuang muka, berusaha menyembunyikan memar itu di balik helai hijabnya. "Ini hanya kecelakaan kecil. Aku terbentur rak di kamar mandi tadi pagi saat sedang terburu-buru."

"Jangan berbohong padaku, Arum! Aku ini dokter, aku tahu bedanya bekas benturan benda tumpul dengan bekas tamparan tangan manusia," desis Bisma, kemarahan mulai berkilat di matanya. "Apa dia sudah gila? Beraninya dia menyentuhmu seperti itu dalam kondisi dia yang tidak berdaya?"

"Sudahlah, Bis. Jangan dibesar-besarkan. Ini urusan rumah tanggaku," sahut Arumi ketus, mencoba menghindar.

Bisma mencengkeram lengan jas putih Arumi, menahannya agar tidak pergi. "Mau sampai kapan kalian begini, Rumi? Arya itu pria bodoh yang tidak akan pernah mengerti kalau tidak diberi tahu dengan keras! Sampai kapan kamu akan terus menutupi kebenarannya dari dia? Kamu membiarkan dirimu jadi samsak emosinya?"

"Biar waktu yang memberitahunya, Bis. Bukan aku," jawab Arumi lirih, suaranya bergetar menahan tangis yang nyaris pecah lagi.

Arumi melepaskan cengkeraman tangan Bisma dan bergegas pergi meninggalkan sahabatnya itu sendirian di koridor. Bisma hanya bisa terpaku menatap punggung Arumi. Gadis ceria yang dulu selalu ia puja secara diam-diam itu kini tampak seperti bayangan yang kehilangan jiwanya.

Bisma menarik napas dalam, berusaha mengontrol detak jantungnya yang berpacu karena amarah. Sebenarnya, alasan Bisma memilih bertugas jauh selama ini adalah untuk menekan perasaannya pada Arumi. Ia tahu Ariya menyukai Arumi, dan ia tidak ingin merusak persahabatan mereka. Namun melihat Arumi terluka seperti ini, Bisma merasa pengorbanannya selama ini sia-sia.

Bisma masuk ke ruangannya dengan langkah kasar. Ia membanting pintu, lalu menyambar ponselnya di atas meja. Tanpa pikir panjang, ia langsung menekan nomor Ariya. Begitu panggilan tersambung, Bisma tidak memberikan kesempatan bagi lawan bicaranya untuk menyapa.

"Apa yang kau lakukan pada Arumi, Arya?" tanya Bisma dengan suara menggelegar.

Di seberang telepon, terdengar suara tawa sinis yang sangat menyebalkan. "Wah, ternyata dia langsung mengadu padamu? Hebat juga ya wanita itu. Banyak sekali lelaki yang mau jadi pahlawan untuknya."

"Dia tidak mengadu! Aku melihat bekas tanganmu di pipinya!" bentak Bisma, jemarinya mencengkeram ponsel hingga buku-bukunya memutih. "Kau benar-benar pengecut, Ar. Menggunakan tanganmu untuk menyakiti wanita yang justru menjagamu saat semua orang mencacimu."

"Tahu apa kau soal dia, Bis? Jangan sok suci di depanku," sahut Ariya dingin.

"Dengar baik-baik, Arya. Teruslah kau tanamkan kebencian itu tanpa mau mencari kebenaran yang sebenarnya. Tapi jangan pernah menyesal bila saat kebenaran itu datang, Arumi sudah melangkah sangat jauh darimu. Saat itu, kau tidak akan bisa lagi mencium kakinya untuk meminta maaf," ancam Bisma.

Tanpa menunggu respon, Bisma langsung memutuskan sambungan telepon tersebut. Ia melempar ponselnya ke sofa, lalu terduduk sambil memijat keningnya.

Sementara itu, di kediaman Ferdiansyah, Ariya tertegun menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Kata-kata Bisma barusan terasa seperti gema dari peringatan ayahnya tadi pagi. Kalimatnya hampir sama persis: Kau akan menyesal.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa sekarang semua orang berpihak pada wanita itu?" gumam Ariya pada dirinya sendiri.

Ia memutar kursi rodanya menuju jendela, menatap taman yang luas di bawah sana. Ada secercah keraguan yang muncul di hatinya, namun ego dan rasa sakit hatinya selama lima tahun terakhir kembali menutup logika itu.

"Ah, sudahlah. Mengapa juga aku harus memikirkan omongan orang-orang itu? Dia tetaplah Arumi yang munafik," gumamnya lagi, berusaha menguatkan dinding kebenciannya.

Namun, di sudut hatinya yang terdalam, sebuah rasa tidak tenang mulai merayap. Ariya teringat bagaimana Arumi tidak melawan sama sekali saat ia tampar tadi pagi. Mengapa Arumi diam? Mengapa dia tidak mengadu pada ayahnya? Pertanyaan itu mulai berputar di kepalanya, menciptakan sebuah lubang kecil di tengah keyakinannya yang keras kepala.

Ariya tidak tahu bahwa di saat yang sama, di rumah sakit, Arumi sedang menangani pasien dengan tangan yang gemetar, berjuang menjaga profesionalitasnya di tengah luka fisik dan batin yang kian menganga.

1
NP
sudut ya
Uba Muhammad Al-varo
Ariya........ sekarang Arumi udah memberikan kesempatan pergunakan dengan baik
Neng Salwa
bagus cerita nya juga seru
Uba Muhammad Al-varo
sekarang Ariya tugasmu berjuang untuk mendapatkan cintanya Arumi lebih berat kalau memang cintamu tulus jangan sampai kamu menyerah Ariya
tiara
semoga Lusi dan mamanya cepat dipenjara biar hidup Arumi dan ayahnya tenang
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya Erwin tahu kejahatan yang dilakukan oleh Rina dan Lusi, sekarang cepat ambil tindakan ceraikan Rina dan jebloskan ke penjara
Uba Muhammad Al-varo
mungkin ini jalan untuk kamu membuktikan cinta tulusmu dengan melindungi Arumi dari kekejaman ibu tirinya dan menyelidiki kejahatan yang dilakukan oleh Rina ibu tiri Arumi
Pujiastuti
makin seru aja ceritanya, lanjut kak semangat upnya 💪💪
Uba Muhammad Al-varo
itulah tugas terberatmu Arya membentengi diri dan menjaga Arumi dari kejahatannya lusi dan ibunya serta menyakinkan Arumi dengan kesungguhan cinta mu
tiara
semoga mereka dapat melalui semua ujian dimasa yang akan datang dengan tetap bersama selalu
tiara
semoga Arumi lekas pulih kembali ingatannya
tiara
akhirnya mereka dipertemukan kembali
tiara
semoga Arumi lekas ditemukan Ariya dan kakek juga tidak kesepian lagi
Uba Muhammad Al-varo
Ariya....... kalau kamu benar' tulus mencintai Arumi, tunjukkan kesungguhan dan kasih sayang ke Arumi
Nanik Arifin
Karmamu terbalas Ariya... dlu kau benci Arumi, sekarang Arumi tak mengingatmu sama sekali. sesuatu yg ingin dilupakan pasti terhapus saat hilang ingatan
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya pertemuan antara Ariya dan Arumi terjadi semoga ini awal Arumi bahagia dan Ariya mencintainya dengan tulus
Uba Muhammad Al-varo
semoga Ariya bisa menemukan Arumi, kasihan Arumi hidupnya selalu sedih dan Ariya juga mengajak kakek nenek untuk hidup bersama
Nanik Arifin
di Sumatra tapi nenek memakai kosa kata bahasa Jawa ( cah ayu, nduk ) asalmu dr Jawa atau keturunan Jawa ?
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra
Uba Muhammad Al-varo
si Rina otaknya oleng, kalau ngomong asbun Percis kaya si Lusi anaknya, memang enak kena mental dari Ferdiansyah /Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!