NovelToon NovelToon
Ambisi, Cinta, Dan Ulah Si Kembar

Ambisi, Cinta, Dan Ulah Si Kembar

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.

Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sombong

Di apartemen Dean, Valen baru terbangun dengan keadaan yang sedikit bingung karena dia terbangun bukan di kamar miliknya sendiri.

Ceklek....

Dari arah kamar mandi terlihat Dean keluar dengan bertelanjang dada dan menggunakan handuk saja.

"Kak Dean..."

Valen memanggil Dean yang belum sadar kalau Valen ternyata sudah bangun dan sedang melihatnya.

Dean yang tengah mengeringkan rambutnya menoleh ke arah Valen dan tersenyum lembut kepadanya.

"Baru bangun apa dari tadi?"

Dean melihat Valen sedang bersandar pada dashboard ranjangnya sambil menatapnya lekat.

Gluk....

"Astaga, kenapa harus melihat pemandangan langka kayak gini? Ini kalau gue tergoda dosa apa nggak ya?"batin Valen sambil terus memerhatikan Dean.

Dean tersenyum smirk saat tahu jika Valen tengah fokus melihatnya tanpan berkedip sedikit pun. Dean perlahan berjalan ke arah Valen dan tiba tiba menarik dagu Valen untuk di ciumnya.

Cup...

Valen yang tak siap dengan apa yang di lakukan Dean mengerjakan matanya dengan lucu. Dean tersenyum tipis di sela ciumannya pada Valen. Tapi dengan iseng Dean menggigit pelan bibir Valen sehingga membuat Valen memekik kesakitan, selain itu dia juga baru tersadar dengan apa yang di lakukan Dean kepadanya.

Dean melepaskan ciumannya dan terkekeh geli melihat reaksi Valen yang selalu seperti saat dia menciumnya.

Dean menarik wajahnya dari depan wajah Valen dan mengusap lembut bibir Valen.

"Udah sering ciuman lo sayang, masih aja gini?"

Bibir Valen mengerucut ke depan dan Dean semakin gemas dengan tingkah laku kekasihnya itu.

"Kenapa nggak langsung pake baju? Kan badannya jadi aku lihatin terus," ucap Valen dengan polosnya.

Dean menarik tangan Valen dan menaruh telapak tangan itu di dada bidang miliknya. Valen kembali melototkan matanya saat telapak tangannya menyentuh dada itu yang masih terasa dingin karena Dean baru saja selesai mandi.

Glek...

Valen meneguk ludahnya kasar karena memegang dada bidang Dean yang keras dan banyak roti sobeknya.

"Kamu nggak hanya bisa lihat sayang, tapi kamu juga bisa nyentuh dia kok. Jadi kalau kamu mau, kamu bisa bilang sama aku kapan aja dan aku bakal dengan senang hati kasih ke kamu," ucap Dean sambil menaik turunkan kedua alisnya menggoda Valen.

Blushhhh

Wajah Valen memerah mendengar perkataan Dean yang memang sengaja menggodanya.

Srettt....

Valen menarik tangannya dari dada bidang Dean dan kepalanya sudah berpaling ke sembarang arah karena dia malu saat ketahuan mengagumi tubuh bagus Dean yang memang selalu di rawat Dean dengan berolahraga.

"Kak, pakailah baju, jangan terus menggodaku," ucap Valen lirih.

Dean mengusap lembut kepala Valen, dia menciumnya sebentar.

"Kamu pergilah mandi, aku akan ganti baju dulu sekalian pesan makanan buat kita." ucap Dean.

Valen mengangguk dan kemudian Dean pergi dari sana meninggalkan Valen yang sudah kembali melihat punggung Dean menghilang di balik pintu untuk segera memakai bajunya.

Setelah memastikan Dean pergi, Valen mengambil ponsel yang ada di nakasnya dan melihat di sana ada pesan dari sang mami.

Valen membuka pesan singkat yang menceritakn tentang Ale dan Arlo. Dia membacanya dengan seksama dan sempat meradang saat membaca di bagian jika Ale hampir saja terjebak dengan permainanya sendiri.

"Bisa bisanya malah masalahnya kemana mana, padahal cuma masalah sepele," gumam Valen pelan.

Dia menaruh ponselnya dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya secepat mungkin karena Dean juga pasti akan selesai sebentar lagi. Dan benar saat Valen sudah masuk ke kamar mandi Dean keluar dari ruang ganti baju. Dean melihat Valen yang tak ada di ranjang dan terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.

Dean memutuskan untuk turun ke bawah dan segera menyiapkan susu hangat untuk Valen. Sementara Dean segera memesan makanan untuk mereka berdua.

Sembari menunggu Valen turun ke bawah Dean melihat lihat laporan yang di kirim Edward ke dalam ponselnya dan dia menghela napas panjang karena banyak sekali laporan dan email yang masuk ke dalam ponselnya itu.

"Hah, kenapa baru di tinggal sebentar aja udah banyak banget. Gimana gue bisa istirahat kalau gini? Tapi gue nggak mungkin kasih ayah lagi kerjaannya, nanti malah ayah bisa drop lagi kayak dulu," gumam Dean pelan.

Tapi Valen yang sudah ada di anak tangga terbawah mendengar semua yang di katakan Dean.

Dia mengerutkan keningnya saat melihat wajah Dean yang mendongak dan terlihat lelah sekali.

Valen mendekati Dean perlahan dan mengusap pipi Dean dengan lembut. Dean yang semula menutup matanya kembali membukanya perlahan. Dia melihat Valen yang tengah tersenyum lembut ke arahnya, dan perlahan Dean menarik tangan Valen agar Valen duduk di sebelahnya. Dan tepat saat Valen duduk di sebelahnya Dean tiba tiba merebahkan kepalanya di paha milik Valen.

Valen pun tak keberatan dengan apa yang di lakukan Dean saat ini karena dia tahu jika Dean sedang membutuhkannya.

"Ada apa? Apa ada masalah di kantor?" tanya Valen lembut.

Dean yang sedang menikmati usapan di kepalanya hanya berdehem dan membuat posisinya menjadi menghadap perut Valen. Dia memeluk perut Valen dengan erat dan mencari kenyamanan di sana.

Valen membiarkan Dean beberapa saat sehingga Dean segera melepaskan pelukan itu dan bangun perlahan dari posisi tidurannya.

"Hanya masalah kecil tapi itu akan menyita waktuku beberapa saat nanti," ucap Dean.

Valen masih menyimak apa yang Dean ceritakan tanpa ingin menyelanya.

"Tapi aku tidak ingin melimpahkan semua pada Gerald dan juga Edward karena pekerjaan mereka juga sudah banyak sekali sejak kemarin. Apa kagi ayah baru saja kembali ke negaranya karena perusahaan yang di sana juga membutuhkan ayah."

en Valen akhirnya paham dengan apa yang menjadi masalah Dean sejak tadi. Valen nampak memikirkan sesuatu untuk membantu Dean dan meringankan pekerjaan Dean nanti.

"Gimana kalau aku yang jadi sekertaris tambahan untuk kak Dean dan membantu Edward juga agar pekerjaannya tak terlalu banyak. Mungkin nanti kita bisa fokus mengerjakan yang lebih urgend terlebih dahulu. Dan kita juga bisa bagi tugas, lagian aku juga terbiasa membantu papi dan mami kurasa pekerjaan kakak nggak berbeda jauh dengan milik papi dan mami. Bagaimana?" tawar Valen pada Dean.

Dean menaikkan sebelah alisnya mendengar Valen yang menawarkan dirinya menjadi sekertaris pembantu Dean.

Dean sendiri merasa aneh jika Valen bekerja di bawah pengawasannya, bukan karena dia meragukan kemampuan Valen tapi karena dia tak ingin merepotkan tunangannya itu. Di tambah Valen juga harus kuliah yang baru beberapa bulan ini masuk.

"Jika kakak mengkhawatirkan kuliahku, tenang saja aku bisa mengurusnya dan lagi kalaupun tak bisa masuk aku bisa melakukan privat dan semua akan di atur oleh papi." kata Valen sambil tersenyum lebar.

"Astaga sayang kamu ini," sahut Dean gemas.

"Iya aku lupa jika uang bisa membeli segalanya," sindir Dean lagi.

Dean melontarkan itu juga hanya sekedar bercanda dan Valen sendiri juga tak mengambil hati tentang itu.

"Dan tanpa uang kita juga nggak bisa makan, iya 'kan?" tanya Valen pada Dean dengan memasang wajah polos.

Tapi Dean langsung memutar kedua matanya jengah saat melihat Valen yang menggodanya dengan wajah polos itu.

Valen sendiri sudah cengengesan melihat ekspresi Dean saat ini.

Dan tak lama terdengar bunyi bel apartemen milik Dean yang kemungkinan itu adalah makanan yang Dean pesan tadi.

Ting tong....

"Biar aku yang buka dan ambil makanannya dan kamu siapkan piringnya sayang," ucap Dean sambil beranjak dari duduknya.

Valen pun mengangguk dan segera pergi ke dapur untuk menyiapkan peralatan makan mereka. Di sana sudah ada susu dan jus miliknya serta Dean.

"Rajin banget calon suami." gumam Valen sambil terkikik.

Sesaat setelah Valen menyiapkan peralatan makannya, dia menunggu Dean yang menurutnya terhitung lama karena hanya membuka pintu dan mengambil makanan apa mungkin lebih dari lima menit.

Karena dia merasa aneh Valen menyusul Dean ke depan dan matanya menyipit saat kurir makanan yang ternyata seorang wanita itu tak langsung menyerahkan makanannya ke Dean tapi malah keukeuh meminta nomer ponsel Dean secara langsung.

Valen yang melihat itu masih mengawasi dari tempatnya berdiri meskipun Dean tak segera mengusirnya karena Dean membutuhkan makanan itu tapi Dean tak juga meladeni kurir wanita itu yang menurutnya malah kurang ajar.

"Jadi bisakah aku meminta nomermu secara langsung? Karena nanti jika kamu memesan makanan bisa melalui aku agar kamu tak menunggu lama," ucap perempuan itu dengan pedenya.

"Untuk apa tunangan gue kasih lo nomer sedangkan restauran itu adalah milik keluarganya sendiri?"

Tanpa menoleh pun Dean sudah tahu jika itu Valen yang tengah mulai emosi.

Sedangkan perempuan itu tercengang saat melihat Valen berjalan ke arah mereka, dia kira jika Dean seorang diri saat ini makanya dia berani menggoda Dean dengan meminta nomer ponselnya dengan terang terangan.

Saat tahu Valen sudah ada di sampingnya Dean segera memeluk pinggang Valen dari samping dengan posesif dan membuat perempuan itu kikuk dan nampak salah tingkah karena terpergok sedang menggoda pasangan orang.

Tanpa banyak bicara Valen menengadahkan tangannya pada perempuan untuk meminta makanan mereka.

Dan perempuan itu memberikannya dengan canggung.

"Setelah ini kembalilah ke restauran untuk mengambil gaji terakhir lo, dan jangan harap bisa kembali bekerja di sana. Karena standart dan aturan restauran milik ibu gue bukan memperkerjakan pegawai yang suka menggoda pasangan orang. Itu restauran dan bukan tempat jual diri!" kata Dean dingin.

Blamm....

Setelah mengatakan itu Dean menutup pintu apartemennya dengan keras dan membuat kurir perempuan itu tercengang. Dia tak percaya jika dia kali ini melakukan kesalahan yang fatal, apalagi dia tidak tahu jika Dean ternyata anak pemilik tempatnya bekerja. Padahal dia sudah bekerja di sana selama tiga bulan tapi baru kali ini dia langsung di pecat seperti ini.

"Mereka sombong sekali, hanya karena mereka lebih mampu dari gue jadi mereka seenaknya pecat gue!"

to be continued...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!