NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 : Kapten Emila

Di sore hari yang cerah, matahari gurun menggantung rendah seperti bola api raksasa yang malas tenggelam. Angin panas berhembus membawa bau pasir, debu, dan sedikit aroma kaktus kering. Di jalur menuju desa besar gurun, tiga sosok berjalan beriringan.

Chika melangkah paling depan. Helm knight-nya sudah ia lepas dan digantung asal di pinggang, rambut pirangnya berkibar tertiup angin panas. Di tangannya, Pedang Lumina memantulkan cahaya jingga matahari. Ia berjalan sambil mengayun-ayunkan pedangnya seperti tongkat konduktor orkestra, lalu bernyanyi dengan suara lantang dan fals.

“🎵 Gurun, gurun yang panas!

Gurun, gurun yang bahayaa~! 🎵”

Langkahnya meloncat-loncat, sesekali ia menghindari batu kecil seolah itu jebakan mematikan, padahal cuma kerikil.

“Kalau kita selamat, aku mau bikin lagu versi es krim gurun,” tambahnya penuh semangat.

Di belakangnya, Selena berjalan berdampingan dengan Marvin. Payung merahnya terbuka, melindungi wajah pucatnya dari sisa cahaya matahari. Namun hari itu langkahnya terasa agak… aneh. Biasanya dia melangkah tegap dan angkuh, sekarang bahunya sedikit naik, kepalanya menunduk, dan tangannya terus meremas ujung rambut marun panjangnya.

Marvin melirik ke samping.

“Kenapa rambutmu terus kamu tutupi begitu?” tanyanya dengan nada datar, tapi jelas penasaran.

Selena tersentak kecil.

“H-hah? Tidak apa-apa,” katanya cepat, lalu berdeham. “Aku… hanya ingin mencium aroma rambutku sendiri. Rambut yang sudah tercampur aroma gurun. Bau pasir, kaktus, dan… sedikit darah bandit.”

Ia mengangkat sehelai rambut ke hidungnya, menghirup pelan, wajahnya makin memerah.

“Hmm… vintage gurun.”

Marvin mengernyit.

“…Kau vampir yang aneh.”

Chika tiba-tiba berhenti, berputar di tempat sampai pasir muncrat ke segala arah.

“Eh, lihat juga dong rambutku!” katanya sambil mengibas-ngibaskan rambut pirang pucatnya. “Cantik, kan? Terkena matahari jadi seperti mie instan emas!”

Marvin menatapnya sekilas dari ujung rambut sampai ujung sepatu.

“Hm… lumayan.”

Chika langsung berdiri tegap.

“YES. Dapat pujian dari Hero keempat.”

Mereka berjalan lagi. Desa besar gurun mulai terlihat di kejauhan: tembok pasir mengeras menjulang, bendera berwarna merah-oranye berkibar lesu, dan debu tipis beterbangan seperti kabut.

Marvin memecah keheningan.

“Aku masih heran,” katanya pelan. “Bagaimana kau bisa memiliki Hero Sword, Chika. Pedang itu… dulunya ditancapkan oleh pahlawan masa lalu ke batu pusaka di Hutan Gurial Tempest. Banyak kesatria dari seluruh dunia mencoba mencabutnya. Tidak ada yang berhasil.”

Chika menggaruk pipinya.

“Aku juga tidak tahu. Waktu itu aku cuma… tarik saja. Terus krek… keluar.”

Ia tertawa kecil, lalu ekspresinya berubah sedikit lebih serius.

“Setelah itu aku mimpi. Mimpi aneh. Tentang harus mencari enam belas Hero yang ditakdirkan. Aku harus mengumpulkan keyakinan mereka supaya Hero Sword bisa membuka semua kekuatannya.”

Ia mengangkat jarinya satu per satu sambil menghitung.

“Jadi sekarang… tinggal… tinggal… eh…”

Ia berhenti, keningnya berkerut keras.

“Enam belas dikurangi empat… berarti… tiga belas Hero lagi!”

Selena berhenti berjalan dan menatapnya lama.

“…Astaga.”

Ia menepuk dahinya sendiri.

“Yang benar itu dua belas, Chika. Aku Hero pertama, Marianne Hero kedua, Beatrix si mulut gorila Hero ketiga, dan… Mar—”

Ia melirik Marvin sebentar.

“…Marvin sandal jepit ini Hero keempat.”

Chika membeku.

“…Oh.”

Ia menunduk sedikit.

“Berarti… aku juga bodoh matematika ya.”

Marvin menghela napas pelan, hampir terdengar seperti tawa yang tertahan.

“Kau bodoh… tapi anehnya selalu berada di tempat yang benar.”

Selena melirik Marvin dari balik payung, matanya sedikit menyipit, bibirnya tersenyum tipis.

“Dan terlalu baik untuk dunia sekejam ini,” gumamnya.

Di depan mereka, gerbang desa besar gurun kini tampak jelas. Lentera mulai dinyalakan satu per satu, cahaya kuning bergetar di antara debu sore. Poster-poster Triani berkibar di dinding, menampilkan wajah penguasa gurun dengan senyum kaku.

Chika mengangkat pedangnya ke udara seperti menunjuk tujuan.

“Besok parade, hari ini… kita cari Nayla.”

Selena mengangguk, menggenggam payungnya lebih erat.

Marvin mengepalkan tangannya, suara logam sarung tinju besinya berderit pelan.

Tiga Hero itu berjalan maju, langkah mereka berbinar meski di depan terbentang kota yang penuh tipu daya.

Di atas pasir gurun yang panas, di bawah langit jingga yang perlahan menggelap, perjalanan mereka menuju parade Triani pun benar-benar dimulai.

...----------------...

Senja turun dengan warna ungu kebiruan, seperti tinta yang ditumpahkan ke langit. Angin gurun mulai dingin, pasir berkilau samar memantulkan cahaya senja. Di kejauhan, siluet desa besar gurun terlihat seperti benteng raksasa yang tumbuh dari tanah.

Marvin berjalan paling depan. Di pundaknya, Chika duduk santai seperti anak kecil yang naik onta sirkus, kedua tangannya berteduh di dahi, matanya menyipit menatap horizon.

“Hmmm…” gumam Chika. “Masih jauh ternyata.”

Belum sempat Marvin menjawab, PLOK!

Payung merah Selena menghantam helm Chika dari samping.

“Turun!” bentak Selena. “Giliran aku!”

“Ih, bentar napa! Aku baru naik!” protes Chika sambil memeluk kepala Marvin erat-erat.

Marvin mendengus.

“Astaga… aku ini manusia, bukan wahana festival keliling.”

Chika terkekeh.

“Lagian asik, loh— eh… bentar!!”

Ia tiba-tiba berdiri di pundak Marvin, hampir membuat Marvin oleng.

“Kali ini apa lagi!?” Selena mengangkat payungnya, siap memukul lagi.

Chika menunjuk jauh ke depan.

“Itu… itu…!”

Di kejauhan, tampak sekelompok orang berjubah hitam dengan simbol aneh berwarna emas di dada mereka. Di tengah-tengah mereka berjalan seorang wanita dengan rambut biru tua pendek dan mata emas yang kosong seperti kaca.

“Itu… Kapten Emila!!” teriak Chika.

Marvin menyipitkan mata.

“Emila? Kapten para knight Kerajaan Gurial Tempest?”

“Iya! Tapi… kenapa bajunya aneh banget… dan wajahnya… kayak boneka rusak…”

Marvin mengamati lebih teliti. Dari jarak itu pun terlihat lingkaran sihir pucat berdenyut di sekitar kepala Emila.

“Chika… kaptenmu sedang dicuci otak.”

Selena membuka matanya sedikit lebih lebar.

“Cuci otak? Kalau begitu…”

Chika tidak menunggu. Ia melompat turun dari pundak Marvin—DUUK!—dan mendarat di pasir, lalu langsung lari secepat mungkin.

“EMILAAA!! AKU AKAN MENYELAMATKANMUUU!!!”

“Oi, tunggu!” teriak Marvin.

Mereka bertiga berlari mendekat. Para anggota sekte langsung berputar, jubah mereka berkibar tertiup angin senja.

“Satu langkah lagi dan kalian pergi,” kata salah satu dari mereka dengan suara dingin. “Ini wilayah ritual kami.”

Chika maju, wajahnya tegang tapi matanya penuh harap.

“Kapten Emila! Ini aku! Chika! Knight paling payah tapi paling rajin!”

Emila berdiri diam. Matanya kosong. Tidak ada reaksi.

“Kapten…?” suara Chika mulai bergetar.

Para anggota sekte saling melirik.

“Kalau begitu…”

Salah satu mengangkat tongkat hitam.

“Bunuh mereka, Kapten.”

Udara bergetar.

WOOOM—!

Delapan pedang cahaya muncul mengelilingi Emila, melayang seperti sayap malaikat mekanik. Pedang utamanya bersinar putih keemasan.

Emila melangkah maju, ekspresinya dingin.

“Target… dieliminasi.”

“Kapten, berhenti!” teriak Chika.

Tidak ada jawaban.

ZIIIING!

Delapan pedang cahaya melesat sekaligus.

“SEBAR!” teriak Marvin.

Chika melompat ke samping dengan salto kikuk, perisainya terangkat.

CLANG! CLANG!

Dua pedang cahaya menghantam perisai Lumina, memercikkan kilatan biru.

Selena berputar anggun ke belakang, gaunnya berkibar. Dari telapak tangannya, darah membentuk tombak merah gelap.

“Formasi darah iblis: Crimson Lance!”

Ia melempar tombak itu—SHRAAAK!—namun Emila menangkis dengan pedang utama, menciptakan ledakan cahaya.

Marvin maju satu langkah.

“Giliran aku.”

Ia menghantam tanah dengan kepalan tangan besinya.

“Teknik Sarung Baja: Earthbreaker Step!”

Tanah retak, pasir meledak ke udara. Emila melompat, tubuhnya ringan seperti bulu, lalu berputar di udara.

“Formasi pedang: Heaven’s Orbit!”

Delapan pedang berputar mengelilinginya seperti badai cahaya, lalu menghujani mereka bertiga.

Chika mengayunkan pedangnya.

“Pedang Lumina: Blue Flash Guard!”

Petir biru muda menyelimuti pedangnya, membentuk perisai kilat yang memantulkan dua pedang cahaya.

Selena melompat ke sisi Marvin, berputar satu kali.

“Teknik darah: Scarlet Thread!”

Benang darah menyebar seperti jaring, menahan satu pedang cahaya di udara—TZZZ!—darahnya menguap karena panas cahaya.

Marvin menggeram.

“Cepat… dia terlalu kuat.”

Emila mendarat, pedangnya menunjuk ke depan.

“Serangan final: Radiant Cross!”

Dua pedang cahaya menyilang, membentuk salib raksasa yang meluncur ke arah mereka.

Chika maju satu langkah, gigi terkatup.

“Kapten… aku tidak mau melawanmu!”

Ia mengangkat pedang Lumina.

“Teknik Lumina: Petrified Lightning Slash!”

Ia melompat tinggi, tubuhnya berputar, pedangnya menyala biru keemasan. Tebasan itu memotong sinar salib, meledakkan cahaya di udara—BOOOOM!—pasir beterbangan seperti hujan emas.

Selena menatap Marvin sekilas saat bertarung.

“…Kau lihat itu?” bisiknya.

“Aku lihat,” jawab Marvin singkat.

Emila mundur setengah langkah. Untuk sesaat, matanya bergetar.

“Kapten… dengarkan aku!” teriak Chika sambil terengah.

“Kita pulang! Kita makan sup aneh buatan dapur kerajaan! Kita… kita…”

Emila mengangkat pedangnya lagi.

“…Perintah… lebih kuat…”

Udara kembali menegang.

Tiga Hero berdiri berdampingan, napas berat, pasir berputar di sekitar mereka, sementara delapan pedang cahaya kembali melayang mengelilingi Kapten Emila.

Pertarungan belum selesai.

Dan senja ungu berubah menjadi latar dari bentrokan antara ingatan dan cuci otak, antara murid bodoh… dan kapten yang telah menjadi senjata.

Langit senja berubah semakin gelap, ungu bercampur merah seperti luka besar di ufuk barat. Angin gurun berputar liar, membawa debu dan pasir yang menari di antara cahaya pedang Emila.

Emila mengangkat pedang utamanya perlahan. Delapan pedang cahaya di sekelilingnya bergetar, lalu… retak.

KRIIIIING—!

Cahaya mereka berubah warna, dari emas lembut menjadi putih menyilaukan, seperti matahari kecil.

Marvin refleks mengangkat kedua lengannya.

“…Ini beda.”

Selena menelan ludah. Benang darahnya bergetar di udara, seolah menolak maju.

“Ini… bukan kekuatan kapten biasa…”

Emila membuka kedua lengannya.

“Mode Perang Suci… Seraph Awakening.”

Delapan pedang cahaya menyatu menjadi lingkaran besar di belakang punggungnya, membentuk siluet seperti sayap malaikat raksasa. Tanah di bawah kakinya retak, pasir terangkat perlahan seolah melawan gravitasi.

Chika tertegun.

“…Kapten… sekuat ini…?”

Dalam sekejap, Emila menghilang.

BOOM!

Ia muncul di depan Marvin, pedangnya menghantam seperti palu cahaya. Marvin menahan dengan kedua sarung tinju baja.

“UURRGH—!”

Tubuh Marvin terdorong beberapa meter, tumitnya menggores pasir, meninggalkan dua garis panjang.

Selena melompat ke samping.

“Teknik darah iblis: Crimson Wall!”

Dinding darah membeku di udara, menahan dua tebasan cahaya. Tapi dinding itu langsung retak seperti kaca.

“Tidak cukup!” Selena berteriak.

Emila berputar di udara.

“Judgement Spiral!”

Ia menebas membentuk pusaran cahaya. Angin berteriak, pasir terangkat seperti badai mini.

Chika terpental, jatuh berguling di pasir. Helmnya terlepas, rambut pirangnya penuh debu.

“A…aku hampir…,” napasnya terengah, “…kalah…”

Marvin berdiri di depan Selena, kedua lengannya gemetar.

“Selena… jangan lengah.”

Selena berdiri di samping Marvin, tombak darah terbentuk di tangannya, tapi matanya justru melirik Marvin sekilas.

“…Kau jangan mati dulu. Aku belum sempat bilang sesuatu.”

Marvin terdiam sebentar.

“…Kita hidup dulu.”

Emila kembali melayang, cahaya di sekelilingnya makin kuat.

Sementara itu, Chika melihat ke arah para anggota sekte. Mereka berdiri melingkar, tangan terangkat, simbol di dada mereka menyala, mengalirkan cahaya ke tubuh Emila seperti akar yang menancap.

“…Jadi ini sumbernya,” gumam Chika.

Ia berdiri pelan-pelan, menggenggam pedang Lumina. Petir biru muda merayap di sepanjang bilah pedang.

“Kapten… tunggu aku sebentar ya,” katanya pelan.

“…Aku harus memutus tali yang mengikatmu.”

Chika berlari.

“CHIKA!” teriak Marvin.

Chika melompat, berputar di udara.

“Teknik Lumina: Blue Meteor Step!”

Ia mendarat di tengah para anggota sekte. Mereka terkejut.

“Bunuh dia!” teriak ketua sekte.

Chika mengayun pedangnya.

“Thunder Bloom Slash!”

Petir biru meledak seperti bunga di pasir. Dua anggota sekte terlempar, tubuh mereka jatuh tak bergerak.

Yang lain menyerang serempak.

Selena berteriak dari jauh,

“Chika! Cepat!”

Chika berlari zigzag, melompat, berguling.

“Lightning Arc!”

Satu tebasan, satu tubuh roboh.

“Lumina Crash!”

Pedangnya menghantam tanah, gelombang petir menyapu lingkaran sihir mereka.

Ketua sekte mundur, mengangkat tongkat hitam.

“Dasar anak takdir…!”

Chika berhenti di depannya. Nafasnya berat.

“Aku… cuma knight bodoh…”

Petir di pedangnya menyala lebih terang.

“…tapi aku tidak suka orang yang memperlakukan manusia seperti boneka!”

“Heaven Breaker—Lumina Style!”

Tebasan itu menghantam langsung tongkat ketua sekte. Cahaya pecah. Lingkaran sihir runtuh.

Satu per satu, cahaya di tubuh para anggota sekte padam. Mereka roboh ke pasir, tak bergerak.

Angin tiba-tiba berhenti.

Di kejauhan, Marvin dan Selena masih menahan Emila.

Marvin mengunci pedang Emila dengan kedua lengannya.

“Dia… kuat sekali…”

Selena menahan satu pedang cahaya dengan tombak darah.

“Ini… pahlawan masa lalu yang berdiri di sisi Kaden…”

Emila menggeram, cahaya di tubuhnya mulai tidak stabil.

Lalu…

FZZT…

Cahaya di tubuh Emila padam seketika.

Ia berdiri diam. Pedangnya jatuh ke pasir. Delapan pedang cahaya menghilang seperti debu.

Emila membeku.

Mata emasnya kosong, tubuhnya tegak, tidak bergerak sedikit pun, seperti patung yang baru selesai dipahat.

Marvin melepaskan perlahan.

“…Chika berhasil.”

Selena menatap Emila, napasnya berat.

“Dia… berhenti…”

Chika berjalan mendekat, langkahnya pelan, pedangnya turun.

“Kapten…?”

Tidak ada jawaban.

Hanya angin malam gurun yang mulai berhembus lagi, mengibaskan rambut biru Emila yang kini diam tanpa cahaya.

Pertempuran berakhir…

bukan dengan kemenangan,

tapi dengan keheningan yang terasa lebih berat daripada ledakan mana pun.

...----------------...

Angin malam gurun berdesir pelan. Emila masih berdiri kaku seperti patung pajangan festival yang lupa dibongkar. Satu tangannya menggenggam pedang, satu kakinya setengah menginjak pasir… dan matanya kosong.

Marvin menggaruk kepalanya dengan tangan bersarung baja.

“…Ini maksudnya apa? Rusak?”

Ia maju setapak, menepuk bahu Emila pelan.

tok… tok…

Tidak ada reaksi.

Marvin memiringkan kepala.

“…Halo? Kapten?”

Emila tetap diam.

Selena berdiri di samping Chika sambil memayungi diri sendiri meski malam.

“Marvin, jangan dipukul. Dia bukan pintu.”

Chika jongkok di dekat mayat anggota sekte, mengobrak-abrik jubah mereka dengan ujung pedang.

“Sebentar… biasanya orang jahat itu suka ninggalin buku petunjuk…”

Selena menoleh.

“…Kenapa kau yakin?”

Chika mengangkat sebuah buku tipis berwarna hitam kecokelatan.

“Karena… ini.”

Selena dan Marvin serempak:

“HAH?!”

Chika membuka buku itu. Debu beterbangan.

phuf!

Chika batuk.

“Ukh… ini bau dupa gagal.”

Ia membaca keras-keras dengan suara lantang dan ekspresi super serius… padahal alisnya malah naik-turun lucu.

“‘Prosedur Pemulihan Target Cuci Otak: diperlukan delapan individu dengan resonansi takdir untuk membentuk lingkaran kesadaran.’”

Marvin mengedip.

“…Delapan?”

Selena menghitung dengan jari.

“Kita bertiga… Emila satu… jadi empat…”

Chika melirik ke sekeliling.

“…Kurang empat.”

Mereka bertiga saling menatap.

Hening.

Angin bertiup.

Seekor kadal gurun lewat sambil menatap mereka seperti, ‘kok kalian bego?’

Chika menghela napas panjang.

“Plan B.”

Ia merogoh saku zirahnya dan mengeluarkan… ponsel.

Marvin hampir tersedak.

“…Kau bawa itu dari mana?”

Chika menekan layar.

“Dari dunia modern. Paket bundling sama takdir.”

Ia menelepon.

tiiit… tiiit…

“HALO~!” suara ceria dari seberang terdengar.

“Chikaaa~ kamu masih hidup?”

Chika tersenyum lebar.

“Vivi! Tolong! Kita butuh delapan orang buat bangunin kapten yang jadi patung!”

“Aku OTW~”

klik.

Beberapa menit kemudian…

Udara di samping mereka bergetar.

WOOOOSH—

Portal biru terbuka.

Yang pertama keluar adalah Vivi, dengan senyum khasnya yang seperti tidak pernah tahu arti kata “serius”.

Di belakangnya, seorang gadis kecil berambut pirang pucat langsung berlari.

“CHIKAAA!!!”

BRAK!

Princess kecil itu langsung nempel ke perut Chika seperti lintah manja.

“E-eh?! Hei, aku hampir jatuh!”

Marianne melompat keluar portal sambil mengangkat tangan.

“Tadaa~! Aku datang dengan kecerdasan tingkat tinggi!”

Chika melirik.

“…Kau tersandung pintu portal barusan.”

Marianne tersenyum kaku.

“Itu… uji gravitasi.”

Lalu muncul Beatrix, menyilangkan tangan, memandang Marvin dari atas ke bawah.

“…Hah. Jadi ini yang disebut Marvin?”

Marvin mengangguk sopan.

“Ya.”

Beatrix menunjuk Marvin.

“Bukan gorila.”

Semua tegang.

“…Tapi Godzilla.”

Marvin:

“…Aku terima itu sebagai pujian.”

Terakhir, muncul MK.99 dengan wajah malas, membawa koper kecil.

“Kenapa aku dipanggil… Aku lagi tidur mode hemat daya…”

Vivi tersenyum manis sambil mengangkat jari.

“Kalau kamu nggak bantu, aku reset sistem kamu.”

MK.99 langsung berdiri tegak.

“…Siap menjalankan misi dengan penuh semangat.”

Selena memandangi rombongan itu, lalu menoleh ke Marvin.

“…Ini tim pahlawan atau rombongan sirkus?”

Chika menunjuk Emila yang masih kaku.

“Ini target kita. Kita perlu delapan orang berdiri melingkar sambil pegang tangan.”

Beatrix:

“…Pegang tangan?”

Marianne:

“Secara ilmiah, ini tidak logis—”

Princess kecil sudah menarik tangan Chika.

“Ayo lingkaran!”

MK.99 menarik napas panjang.

“…Aku tidak diprogram untuk ritual persahabatan.”

Vivi bertepuk tangan.

“Baik~ formasi pelukan takdir!”

Mereka akhirnya membentuk lingkaran:

Chika – Princess – Marianne – Beatrix – MK.99 – Vivi – Selena – Marvin, mengelilingi Emila di tengah.

Beatrix masih cemberut.

“…Kenapa aku harus di sebelah Godzilla?”

Marvin:

“Karena takdir.”

Chika mengangkat buku lagi.

“Bagian terakhir… ‘Semua harus memikirkan hal baik tentang target.’”

Semua menoleh ke Emila.

Marianne berpikir keras.

“Dia… tinggi?”

Princess:

“Dia cantik…”

Selena melirik Marvin, lalu ke Emila.

“…Dia pahlawan.”

Marvin:

“…Dia orang yang tidak pantas dikendalikan.”

Chika tersenyum.

“Kapten Emila… pulanglah.”

Cahaya lembut mulai menyala di sekitar mereka.

Angin gurun berputar pelan.

Dan untuk pertama kalinya sejak tadi…

jari Emila bergerak sedikit.

...----------------...

Cahaya yang melingkupi lingkaran mereka tiba-tiba berubah warna.

Dari putih hangat… menjadi ungu pekat.

WUUUUM—

Aura itu menyembur keluar dari tubuh Emila seperti asap yang dipaksa kabur dari botol. Rambut biru tuanya berkibar ke belakang, jubahnya berkecipak seolah diterpa angin badai yang tak terlihat. Matanya yang tadi kosong kini bergetar, pupilnya berkontraksi.

“Ugh…!”

Tubuh Emila oleng ke depan.

“WOI WOI WOI—!” Marvin refleks maju, tapi Chika dan Princess sudah lebih dulu bergerak.

Chika melompat ke depan, perisai Lumina berkilat.

Princess kecil ikut maju dengan tangan terentang.

BRAK!

Mereka menangkap Emila dari dua sisi—Chika menopang bahunya, Princess memeluk pinggangnya dengan tenaga yang entah datang dari mana.

Debu pasir naik.

Emila terengah.

“D… di mana aku…?”

Kelopak matanya terbuka penuh.

Dan yang pertama ia lihat… adalah wajah Chika yang penuh debu, rambut acak-acakan, dan Princess kecil yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“……”

Beberapa detik ia hanya menatap mereka.

Lalu matanya membesar.

“Ka… kalian…?”

Tubuhnya menegang.

“Chika…? Princess…?”

Suaranya pecah.

“Kalian… masih hidup…?”

Kenangan lama menghantamnya sekaligus: langit runtuh, teriakan, ratu Vexana yang mendorong mereka pergi, Sarpia mengejar dari udara…

Emila bangkit setengah duduk.

“Kalian… masih hidup?!”

Chika sudah tidak tahan.

Ia memeluk Emila sekuat tenaga.

PLAK!

“EMILAAAA!!!”

“Aku pikir kamu mati waktu kamu jatuh dari langit itu!!”

Emila kaget setengah mati.

“U-UGH—! Chika… kau… terlalu kuat…”

Princess ikut memeluk dari sisi lain, nyaris menjatuhkan mereka bertiga.

“Emila…! Di mana kakakku…? Di mana Ratu Vexana…?”

Nada suaranya gemetar.

Emila terdiam.

Wajahnya yang tadi penuh keterkejutan perlahan berubah berat.

Ia menunduk.

“Aku… berusaha mencarinya…”

Tangannya mengepal di pasir.

“Aku menyisir wilayah barat… timur… gurun… reruntuhan…”

Ia menggeleng pelan.

“Belum ketemu… sampai sekarang…”

Princess menunduk.

“…Oh…”

Chika menggigit bibir, lalu menepuk punggung Princess.

“Tenang… kita bakal nemuin dia.”

Emila mengusap matanya.

“…Kalian tumbuh aneh.”

Chika:

“ITU KOMPLIMEN ATAU HINAAN?”

Suasana tegang langsung pecah.

Marianne melangkah maju sambil menyeringai.

“Baik~ reuni selesai! Sekarang sesi perkenalan ulang!”

Beatrix menyilangkan tangan.

“…Dia lebih kecil dari Godzilla.”

Marvin:

“…Aku berdiri di sini.”

Vivi melambaikan tangan ceria.

“Hai~ Kapten Emila~ kamu hampir jadi dekorasi gurun~”

Emila berkedip.

“…Kenapa aku dikelilingi orang aneh?”

Chika berdiri tegap tiba-tiba, ekspresinya berubah super serius.

“Emila.”

Ia membuka pelindung dadanya.

Cahaya biru menyala dari dalam.

SHIIING—

Hero Sword keluar perlahan dari tubuh Chika, seperti ditarik dari ruang lain. Bilahnya berkilau, simbol-simbol di permukaannya berdenyut seperti nadi.

Emila terbelalak.

“…Pedang itu…”

“Hero Sword,” kata Chika bangga.

“Aku yang pegang sekarang.”

Emila mundur setapak.

“…Mustahil. Itu pedang pahlawan masa lalu. Ditancapkan di batu suci Hutan Gurial Tempest.”

Chika mengangguk cepat.

“Aku tahu! Semua orang gagal! Tapi entah kenapa… aku bisa narik.”

Ia menggaruk pipi.

“…Terus aku mimpi aneh.”

Selena maju selangkah, payung di bahu.

“Mimpi tentang enam belas Hero Takdir.”

Chika menunjuk Selena.

“Ini Hero pertama.”

Selena menunduk sedikit.

“Selena. Keturunan darah Bellial.”

Emila kaget.

“…Vampir?”

Selena tersenyum tipis.

“Yang baik.”

Marianne melonjak.

“Aku Hero kedua! Marianne! Otak jenius masa depan!”

Beatrix mengangkat dagu.

“Aku Hero ketiga. Jangan sentuh aku.”

Marvin mengangkat tangan pelan.

“…Hero keempat. Marvin.”

Emila menatap mereka satu per satu.

“…Kalian bercanda.”

Chika menggeleng cepat.

“Enggak! Hero Sword cuma bisa aktif penuh kalau dapat restu 16 Hero Takdir!”

Ia mengayunkan pedang sedikit, cahaya biru menari di udara.

“Dan katanya… kalau gagal… dunia bakal hancur sama seseorang bernama Savior.”

Vivi mengangguk.

“Versi ringkas: akhir zaman, kehancuran, dan semua mati.”

Emila memijat pelipisnya.

“…Aku baru bangun dari cuci otak. Ini terlalu cepat.”

Princess menarik jubah Emila.

“Emila… Chika ke sini buat bantu Marvin…”

Chika menunjuk Marvin.

“Temannya diculik. Namanya Nayla.”

Marvin mengepalkan tangan.

“Dan orang yang menguasai desa gurun ini… bukan orang baik.”

Emila menarik napas panjang.

Ia menatap Hero Sword… lalu wajah Chika… lalu Princess.

“…Kalau kalian hidup…”

Ia mengangkat kepalanya, mata emasnya kembali tajam seperti dulu.

“…maka aku juga belum selesai.”

Ia berdiri tegap.

“Kalau Ratu Vexana masih di luar sana…”

“…dan kalau Savior memang nyata…”

Ia menghadap Chika.

“Biarkan aku ikut.”

Chika tersenyum lebar.

“Berarti…”

Ia mengangkat pedang.

“Hero kelima?”

Semua menoleh ke Emila.

Emila terdiam… lalu tertawa kecil.

“…Sepertinya aku tidak punya pilihan.”

Princess bersorak kecil.

“Yay…”

Beatrix mendengus.

“…Tambah satu orang aneh.”

Marvin melirik Selena… Selena pura-pura tidak lihat tapi pipinya sedikit merah.

Chika menatap ke arah desa besar gurun yang jauh di cakrawala, lampunya mulai terlihat di malam hari.

“Besok…”

“…kita selamatkan Nayla.”

“…dan kita mulai beneran jalan takdir ini.”

Angin gurun bertiup lagi.

Dan kali ini…

tidak terasa sepi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!