Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20 Salah Paham yang Menyakitkan
Gus Azkar terpaku. Hening yang panjang menyelimuti ruangan itu sebelum ia akhirnya memberanikan diri untuk bersuara. Ia mengira, memberikan "kebebasan" adalah satu-satunya cara untuk menebus dosanya. Dengan suara yang berat dan bergetar, ia membisikkan sebuah tawaran yang sangat menyakitkan baginya.
"Rin... jika keberadaan Mas di sisimu hanya menambah bebanmu... jika pernikahan ini adalah penjara bagimu... Mas janji," Azkar menarik napas panjang, "setelah kamu sembuh, setelah kamu mau makan dan tenagamu pulih, Mas akan mengembalikanmu pada orang tuamu. Mas akan memberikan surat cerai itu jika memang itu yang kamu butuhkan untuk bebas."
Mendengar kata "cerai", Rina perlahan memutar kepalanya. Ia menatap Azkar dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin, namun ada kekecewaan yang mendalam di sana.
Rina menatap Azkar lurus-lurus. Tidak ada air mata yang jatuh, namun suaranya yang serak terdengar begitu tajam menusuk ulu hati.
"Ternyata benar... Anda tak paham dengan apa yang saya rasakan, dan apa yang saya maksud!" ucap Rina dengan nada datar namun penuh penekanan. "Seolah-olah Andalah korbannya di sini."
Rina menghela napas pendek yang terasa menyesakkan dada. "Lantas mengapa saya bangun jika saya harus seperti ini?? Saya bangun hanya karena saya tak mau Anda kehilangan saya... tapi Anda malah ingin menceraikan saya."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Rina kembali diam. Ia tidak menangis. Ia tidak marah-marah. Ia hanya terdiam membisu, menatap kosong ke arah langit-langit.
Luka di Atas Luka
Gus Azkar membeku. Ia merasa seperti baru saja melakukan kesalahan fatal lagi. Ia mengira Rina ingin lepas darinya, namun ternyata jauh di dalam lubuk hati Rina yang paling dalam—meski ia terluka dan lelah—Rina memilih bangun demi tidak membuat suaminya kehilangan dirinya. Rina sedang mencoba berkorban demi "takdir" yang ia lihat di mimpunya, namun Azkar justru menawarkan perpisahan.
Azkar menyadari betapa bodohnya dirinya. Rina tidak butuh surat cerai; Rina butuh dipahami, butuh didengarkan, dan butuh seseorang yang benar-benar mengerti arti pengorbanannya.
"Rina... Mas..." Azkar ingin membela diri, namun ia sadar tidak ada kata-kata yang bisa memperbaiki ini.
Rina telah menutup rapat kembali pintunya. Keheningan itu kini terasa jauh lebih mengerikan daripada sebelumnya. Rina ada di depan matanya, namun jiwanya terasa ribuan mil jauhnya, terkunci dalam kebisuan yang menyakitkan.
____________________________________________________
Suasana menjadi semakin rumit. Rina merasa suaminya sama sekali tidak peka dengan pengorbanannya untuk "kembali".
____________________________________________________
Gus Azkar terpaku di kursinya seolah seluruh ototnya lumpuh. Ruangan itu mendadak terasa hampa oksigen saat Rina kembali membuka suaranya. Bukan suara teriakan, melainkan suara lembut namun setajam sembilu yang langsung menyayat harga diri Azkar sebagai seorang suami.
Rina menatap lurus ke netra Azkar yang mulai berkaca-kaca. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya yang masih membiru—sebuah senyum yang tidak memancarkan kebahagiaan, melainkan luka yang amat dalam.
"Jika perceraian menjadi alasan kita berpisah untuk selamanya, lantas mengapa saya memilih terbangun di saat saya sudah tak ingin kembali?" ucap Rina dengan nada bicara yang tenang, namun setiap katanya menghantam dada Azkar.
"Saya bukan wanita yang bodoh dalam memilih keputusan. Jika saya memilih terbangun di saat saya sudah tak ingin hidup, maka seseorang itu sangat berharga dalam hidup saya."
Azkar merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia menatap Rina dengan pandangan tidak percaya. Selama ini ia mengira dirinya adalah monster yang paling dibenci Rina, namun kalimat itu...
"Anda mengira jika Anda adalah beban buat saya, apakah Anda sadar??" lanjut Rina, senyum tipisnya belum hilang. "Saya bangun karena seseorang yang telah membuat saya jatuh hati kepadanya... namun sayangnya, orang tersebut malah membuat saya kecewa karena telah mengira saya hanya menganggapnya beban dalam hidup saya."
Setelah kalimat terakhir itu, Rina kembali diam. Ia membuang muka, tak lagi sudi menatap Azkar. Ia tidak menangis, seolah air matanya sudah habis menguap di alam bawah sadar tadi. Ia hanya membisu, membiarkan keheningan itu menghukum Gus Azkar yang kini tertunduk dengan tubuh gemetar hebat.