NovelToon NovelToon
Bahu Yang Memikul Langit Prau

Bahu Yang Memikul Langit Prau

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Mengubah Takdir / Keluarga
Popularitas:887
Nilai: 5
Nama Author: Nonaniiss

Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hangatnya Tungku dan Rahasia di Balik Mie Sakura

Malam pun tiba, namun rutinitas yang biasanya kami jalani terasa patah. Tidak ada ajakan Ibu untuk mengenakan jaket, tidak ada kain jarik yang disiapkan di atas amben. Namun, anehnya, suasana rumah tidak sesunyi yang kubayangkan. Ayah, dengan caranya yang kikuk namun penuh usaha, mencoba mengisi ruang kosong yang ditinggalkan Ibu.

Di dapur, asap mengepul dari balik tungku api yang menyala terang. Ayah sedang sibuk mengaduk sesuatu di dalam panci kecil yang sudah menghitam bagian bawahnya. Bau gurih yang sangat khas mulai memenuhi ruangan, aroma Mie Sakura. Bagi kami, itu adalah hidangan mewah, mie instan legendaris yang rasanya selalu sanggup membuat kami lupa akan rasa sedih.

"Ayo, makan dulu. Ini mie spesial buatan Ayah," ujar Ayah sambil meletakkan dua piring plastik di depan aku dan kakakku.

Malam itu, Ayah seolah ingin memanjakan kami. Selain mie yang mengepul panas, di samping kami sudah tersedia berbagai macam camilan pasar yang jarang sekali dibelikan sekaligus. Ada kerupuk warna-warni dan biskuit kaleng yang renyah. Aku dan kakakku duduk bersila di depan tungku api. Lidah api yang menari-nari memantulkan cahaya jingga ke dinding bambu rumah kami, memberikan kehangatan buatan di tengah udara malam yang mulai menggigit.

"Enak, Yah! Mie buatan Ayah lebih asin dari buatan Ibu," kataku sambil menyeruput kuah mie itu dengan semangat.

Ayah hanya tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. Beliau duduk di dekat kami, memandangi api yang perlahan melahap kayu bakar. Di bawah penerangan lampu kuning yang minim, wajah Ayah tampak begitu letih. Garis-garis di keningnya terlihat lebih dalam, menceritakan beban ekonomi yang kian merosot dan tanggung jawab besar yang kini harus ia pikul sendirian di rumah.

"Nak," panggil Ayah pelan, suaranya parau. "Besok Ayah harus berangkat pagi-pagi sekali lagi. Seperti biasa, cari kayu bakar."

Aku mendongak, mulutku masih penuh dengan camilan. "Pagi sekali, Yah? Sebelum aku bangun?"

Ayah mengangguk, lalu tangannya yang kasar mengusap kepalaku. "Iya. Kamu di rumah sama Kakak dulu, ya. Jangan main jauh-jauh. Nanti kalau beruntung, Ayah carikan arbei gunung yang banyak buat kamu."

Mendengar kata 'arbei', mataku sempat berbinar. Aku membayangkan butiran merah manis yang dibawa Ibu pagi tadi. Namun, entah mengapa, rasa manis camilan di mulutku tiba-tiba terasa hambar. Hatiku yang kecil mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Ada getaran aneh yang merayap di dadaku. Sebuah firasat yang belum bisa kuterjemahkan dengan kata-kata.

Aku memandangi piring mieku yang tinggal separuh. Kenapa Ayah membelikan banyak camilan? Kenapa Ibu pergi dengan tas besar? Dan kenapa malam ini kami tidak pergi ke rumah Nenek untuk menonton TV, melainkan duduk diam di depan tungku seolah sedang menunggu sesuatu yang tak kunjung datang?

"Ayah... Ibu benar-benar akan pulang sebentar lagi, kan?" tanyaku lirih, hampir berupa bisikan.

Ayah terdiam sejenak. Ia mengambil sepotong kayu, menusukkannya ke dalam bara api hingga percikan bunga api beterbangan. "Ibu bekerja buat kamu, buat Kakak. Supaya kita bisa beli beras, supaya kamu bisa sekolah."

Aku mengangguk pelan, mencoba menerima jawaban itu. Aku kembali mengunyah biskuit di tanganku, menikmati kerenyahannya di tengah suara kayu bakar yang berderak. Di depan tungku yang hangat itu, aku merasa aman, namun di sudut hatiku yang terdalam, aku mulai menyadari bahwa kehidupan kami telah berubah. Mie Sakura dan tumpukan camilan ini bukanlah perayaan, melainkan cara Ayah untuk meredam sunyi agar aku tidak mencari Ibu di tengah malam yang dingin ini.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Zanahhan226: terima kasih, Kak..
🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!