"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Koki Gadungan
Matahari baru saja mengintip dari balik gedung-gedung tinggi Jakarta, tapi kesibukan di dapur kediaman Adiguna sudah seperti persiapan jamuan makan malam kenegaraan.
Devan Adiguna, pria yang biasanya hanya memegang pulpen mahal atau kemudi mobil sport, kini berdiri gagah di depan kompor dengan mengenakan celemek berwarna biru langit—pemberian Shena yang ada tulisan "World’s Best Hubby" di bagian dadanya.
Setelah insiden pengusiran semalam, Devan bertekad untuk menebus dosanya. Ia merasa harus menjadi suami siaga yang tidak hanya sekadar melarang, tapi juga melayani.
Misinya pagi ini adalah membuat Creamy Salmon Broccoli Soup yang kaya akan asam folat untuk istri tercintanya.
"Pak, apa tidak sebaiknya saya saja yang masak? Bapak nanti telat ke kantor," tawar Bi Inah dengan wajah khawatir melihat Devan memotong brokoli seolah-olah sedang memotong anggaran perusahaan—sangat serius dan penuh tenaga.
"Tidak, Bi. Ini adalah dedikasi seorang Ayah. Saya harus memastikan setiap nutrisi yang masuk ke perut Shena diproses dengan cinta," jawab Devan penuh percaya diri.
Masalah dimulai saat Devan harus menumis bumbu dasar. Sesuai resep yang ia baca di internet, ia harus menumis bawang putih dan bawang bombay sampai harum. Dengan gaya ala koki profesional di televisi, Devan menyalakan kompor dan menuangkan sedikit minyak zaitun.
Sreeeeeet!
Bawang putih cincang masuk ke dalam wajan panas. Aroma tajam khas bawang mulai memenuhi udara dapur. Bagi orang normal, aroma ini adalah pembuka selera. Namun bagi Devan—yang sedang menderita Couvade Syndrome alias ngidam simpati—aroma itu adalah serangan senjata kimia.
Wajah Devan yang tadinya segar mendadak berubah menjadi seputih kertas. Perutnya bergejolak hebat. Ia merasa ada ribuan gajah sedang melakukan zumba di dalam lambungnya.
"Pak Devan? Bapak tidak apa-apa?" tanya Bi Inah panik saat melihat bosnya mendadak membeku sambil menutup mulut.
"Aku... aku tidak..." Devan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia langsung berbalik dan berlari secepat kilat menuju wastafel dapur.
Ueeek! Ueeeek!
Devan memuntahkan seluruh isi perutnya yang sebenarnya belum terisi apa-apa kecuali air putih. Ironis sekali. Shena, sang ibu hamil, baru saja turun dari tangga dengan wajah segar, namun ia disambut oleh pemandangan suaminya yang sedang berpegangan erat pada pinggiran wastafel dengan mata berair.
"Mas? Kamu kenapa lagi?" tanya Shena heran. Ia mendekat, tapi Devan langsung memberikan isyarat tangan agar Shena menjauh.
"Jangan... jangan mendekat, Sayang. Bau bawang ini... bau ini sangat jahat. Dia mencoba membunuhku," gumam Devan dramatis sambil membilas mulutnya.
Shena menghirup udara di dapur. "Bau bawang? Harum kok. Mas, bukannya kamu yang mau masak sarapan?"
"Rencananya begitu. Tapi sepertinya bayi kita tidak setuju Papanya menjadi koki," keluh Devan lunglai. Ia melepaskan celemeknya dengan tangan gemetar. "Bi Inah, tolong lanjutkan. Matikan bawang-bawang itu sebelum saya pingsan."
Di tengah kekacauan "perang bawang" di dapur, tiba-tiba terdengar suara deru mesin mobil yang sangat berat di halaman depan. Bukan mobil sport milik Devan, melainkan mobil Rolls-Royce klasik yang hanya keluar di saat-saat istimewa.
"Siapa yang datang sepagi ini?" tanya Papa Surya yang baru saja keluar dari kamar.
Pintu depan terbuka dengan hentakan yang mantap. Seorang pria tua dengan setelan jas abu-abu, tongkat kayu berkepala perak, dan aura yang bisa membuat ruangan mendadak dingin masuk ke dalam rumah. Dialah Kakek Adiguna, ayah dari Papa Surya, sekaligus pendiri utama Adiguna Group yang sangat disegani.
"Di mana cucu menantuku?" suara berat Kakek Adiguna menggelegar.
Semua orang di rumah itu—termasuk Devan yang masih pucat—langsung berdiri tegak. Di keluarga Adiguna, Kakek adalah hukum tertinggi.
"Ayah? Kenapa tidak bilang kalau mau ke sini?" Papa Surya menghampiri dan mencium tangan ayahnya.
"Kalau aku bilang, kalian pasti sibuk menyiapkan pesta. Aku ke sini bukan untuk pesta, aku ke sini untuk memastikan bahwa kabar yang kudengar dari Singapura itu benar," mata tajam Kakek Adiguna beralih pada Shena.
Shena maju dengan sopan dan menyalami Kakek. "Selamat pagi, Kakek."
Wajah kaku sang kakek tiba-tiba melunak saat menatap Shena. Ia tersenyum tipis—sebuah pemandangan langka yang harganya lebih mahal dari saham perusahaan. "Shena, cucuku. Benarkah di dalam sini sudah ada pewaris generasi keempat?" tanya Kakek sambil menunjuk perut Shena dengan tangannya.
"Benar, Kek. Baru jalan satu minggu," jawab Shena lembut.
"Satu minggu?" Kakek Adiguna mengernyitkan dahi. Ia menoleh pada Devan yang tampak menyedihkan di sudut ruangan.
"Lalu kenapa suamimu kelihatan seperti orang yang habis digulung ombak?"
Keluarga besar akhirnya berkumpul di ruang tamu. Kakek Adiguna duduk di kursi utama, sementara Devan duduk di seberangnya dengan botol minyak kayu putih di tangan—pemberian Mama Widya agar Devan tidak muntah lagi.
"Jadi, Devan," buka Kakek dengan nada menginterogasi. "Aku dengar kamu membuat gaduh di rumah sakit? Melarang istrimu jalan kaki? Bahkan melarangnya angkat gelas?"
Devan berdehem, mencoba mengumpulkan sisa-sisa wibawanya sebagai CEO. "Kek, ini adalah masalah keamanan aset. Shena sedang membawa harapan besar keluarga kita. Aku hanya ingin memastikan semuanya aman."
Kakek Adiguna mengetukkan tongkatnya ke lantai marmer. TAK!
"Bodoh!" seru Kakek. "Istri hamil itu butuh ketenangan, bukan sipir penjara! Dulu, nenekmu saat mengandung ayahmu, dia tetap ikut denganku ke proyek, tetap mengurus ku walaupun sudah ku larang, tapi nenek mu tetap melakukan yang dia mau. Buktinya saat ayahmu lahir, dia tetap sehat. Kamu ini terlalu banyak membaca teori, tapi nol besar soal praktik!"
Papa Surya dan Mama Widya hanya bisa menahan tawa. Melihat Devan dimarahi Kakek adalah hiburan gratis terbaik.
"Mulai hari ini," lanjut Kakek Adiguna, "aku akan mengirim dua orang asisten rumah tangga khusus dari kediamanku untuk membantu Shena. Dan kamu, Devan... jika aku mendengar kamu membuat Shena stres lagi dengan larangan-larangan konyolmu, aku akan mencabut jabatan CEO-mu dan menyuruhmu mengurus kebun di puncak selama enam bulan!"
"Tapi Kek—"
"Tidak ada tapi-tapi! Lihat dirimu, mau masak saja muntah-muntah. Bagaimana mau menjaga istri?" Kakek Adiguna
menggelengkan kepala. "Shena, kalau anak ini membuatmu kesal, hubungi Kakek. Biar Kakek yang menjewer telinganya."
Shena hanya bisa tersenyum penuh kemenangan. "Baik, Kek. Terima kasih."
Setelah Kakek Adiguna pulang (setelah sebelumnya meninggalkan satu kotak perhiasan kuno untuk Shena sebagai 'uang saku' bayi), Devan terduduk lemas di sofa. Ia menatap perut Shena yang masih rata itu dengan perasaan campur aduk.
Dalam lamunannya, Devan seolah melihat sesosok anak laki-laki kecil berusia sekitar lima tahun yang memakai setelan jas mini. Anak itu mirip sekali dengannya, namun dengan tatapan mata yang lebih tengil—persis seperti dirinya saat sedang bernegosiasi.
"Papa payah banget," suara anak kecil itu terngiang di telinga Devan. "Masa bau bawang saja menyerah? Bagaimana mau melindungi ku nanti kalau ada laki-laki lain yang mencoba mendekati Mama ku?"
Devan tersentak. Ia mengucek matanya. Tentu saja itu hanya halusinasinya. Tapi entah kenapa, imajinasi tentang anak yang dikandung Shena itu terasa sangat nyata.
"Kenapa, Mas? Melamun lagi?" tanya Shena sambil mengelus bahu Devan.
Devan menarik napas panjang, lalu menggenggam tangan Shena. "Sayang, sepertinya aku harus belajar lebih santai. Kakek benar, aku tidak mau jabatan CEO-ku dicopot gara-gara aku terlalu posesif. Tapi janji ya, kalau kamu merasa tidak nyaman, langsung bilang padaku. Jangan dilempar bantal lagi, sakit tahu."
Shena tertawa renyah. "Iya, Mas. Makanya, jangan jadi polisi moral di rumah sendiri. Oh iya, bau bawangnya sudah hilang, kan? Aku mau makan sup buatan Bi Inah. Kamu mau ikut makan?"
"Boleh... tapi tolong, jangan ada bawang goreng di atas nasiku," pinta Devan dengan wajah memelas.
pagi hari itu, di kediaman Adiguna kembali tenang. Meski ada drama muntah-muntah dan "sidang" dari Sang Kakek, ada kehangatan baru yang menyelimuti mereka. Di tengah ketakutan dan keposesifan Devan, sebenarnya ada cinta yang sangat besar yang sedang bertumbuh—sebesar harapan mereka pada titik kecil yang sedang mulai bernapas di dalam rahim Shena.
...****************...