Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menguatkan diri. Rasa malas itu bukan karena kantuk, tapi karena hatiku terlalu lelah. Membayangkan harus melihat Monika duduk di meja makan bersama Mas Bram saja sudah membuat dadaku sesak.
Tapi kemudian tanganku refleks menyentuh perutku yang mulai membuncit.
“Iya… iya sayang, Mama bangun,” gumamku lirih.
Bayi kecil ini tak pernah salah. Dia tidak tahu tentang luka, tidak tahu tentang pengkhianatan, tidak tahu tentang perasaan ibunya yang compang-camping. Yang dia tahu hanya satu—lapar.
Perlahan aku bangkit dari tempat tidur. Kepalaku sedikit pusing, mungkin karena semalaman aku menangis diam-diam. Aku melangkah keluar kamar dengan perasaan campur aduk.
Dan benar saja.
Suara tawa kecil terdengar dari ruang makan.
Mas Bram duduk di sana… berhadapan dengan Monika.
Entah kenapa langkahku terhenti.
Mas Bram terlihat santai, bahkan tersenyum—senyum yang dulu hanya untukku.
Monika menatapku sekilas. Ada tatapan kemenangan di sana.
Aku menarik napas panjang.
Tidak. Aku tidak boleh terlihat lemah.
Aku berjalan menghampiri meja makan tanpa menyapa siapa pun, langsung mengambil segelas air hangat. Tanganku sedikit gemetar.
“Baru bangun?” tanya Mas Bram datar.
Aku menoleh pelan.
“Ya. Bayiku lapar,” jawabku singkat.
Monika terkekeh kecil.
“Mas, kasihan ya… hamil itu memang manja,” ucapnya ringan.
Tanganku mengepal di bawah meja.
Manja?
Aku menatapnya tajam.
“Bukan manja. Ini tanggung jawab,” balasku pelan tapi tegas.
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Tapi karena hatiku benar-benar terasa lucu… lucu sekali melihat bagaimana posisi diputar begitu mudahnya.
“Ikhlas?” ulangku pelan, menatap Monika dalam-dalam. “Ikhlas menerima aku jadi madu?”
Monika menunduk pura-pura lembut, seolah dia korban paling tersakiti di rumah ini.
Mas Bram menghela napas kasar. “Rania, jangan mulai lagi. Monika cuma mau suasana rumah ini damai.”
“Damai?” suaraku naik satu tingkat. “Damai versi siapa, Mas? Versi Mas yang punya dua istri? Atau versi dia yang tetap jadi istri pertama?”
Mas Bram berdiri, kursinya berdecit keras.
“Kamu tahu dari awal posisi kamu di mana!” bentaknya.
Kalimat itu seperti tamparan.
Dadaku terasa panas, tapi bukan karena malu—karena marah.
“Aku tahu,” jawabku pelan namun tegas. “Aku istri kedua. Tapi bukan berarti aku harus kehilangan harga diri.”
Monika mendekat, membawa piring berisi nasi dan sayur.
“Rania, jangan berpikir aku musuhmu. Aku cuma ingin kita akur… demi Mas Bram,” ucapnya dengan nada lembut yang terasa dibuat-buat.
Aku menatap piring itu.
Lalu menatap wajahnya.
“Kalau benar demi Mas Bram,” kataku dingin, “kenapa bukan demi bayiku?”
Ruangan kembali hening.
“Bayi ini juga darah daging Mas Bram. Tapi sejak kamu datang ke rumah ini, yang kamu jaga cuma perasaan Mas Bram… bukan perasaanku.”
Mas Bram terlihat tidak suka arah pembicaraan ini.
“Kamu terlalu sensitif, Rania. Hamil bukan alasan jadi emosional.”
Kalimat itu membuat tenggorokanku tercekat.
“Justru karena aku hamil, aku ingin dihargai,” balasku. “Aku mungkin istri kedua, tapi anak ini bukan anak kedua dalam hal hak.”
Monika terdiam.
Mas Bram menatapku lama, seolah tidak menyangka aku berani bicara sejauh ini.
Aku lalu berdiri.
“Terima kasih untuk masakannya,” kataku lebih tenang. “Tapi aku memang lebih nyaman masak sendiri. Setidaknya itu satu hal yang masih bisa aku kendalikan dalam hidupku.”
Aku berjalan menuju dapur kecil di belakang.
Tanganku masih gemetar.
Air mata hampir jatuh.
Tapi tidak.
Aku tidak akan menangis di depan mereka lagi.
Untuk bayiku… aku harus belajar berdiri lebih kuat, meski sendirian.
Mas Bram meraih kunci mobilnya tanpa menoleh ke arahku.
“Mas berangkat,” ucapnya singkat.
Dulu… sebelum melangkah keluar rumah, dia selalu mencium keningku. Tangannya akan mengusap perutku sambil berbisik, “Jaga calon jagoan Mas ya.”
Sekarang?
Tak ada sentuhan.
Tak ada senyum.
Tak ada tatapan lembut itu.
Yang ada hanya bayangan punggungnya menjauh… seakan aku ini sekadar pelengkap.
Pintu tertutup.
Suara mobil menjauh dari halaman.
Dan rumah itu mendadak sunyi.
Aku masih berdiri di ruang tengah ketika kudengar suara langkah mendekat.
Pelan.
Berbeda dari tadi yang lembut dan pura-pura manis.
Aku menoleh.
Wajah Monika berubah.
Tak ada lagi senyum sabar itu. Tatapannya tajam, dingin, bahkan penuh perhitungan.
“Capek ya?” ucapnya lirih, tapi nadanya menyindir. “Berusaha terlihat kuat di depan Mas Bram.”
Aku mengernyit. “Maksudmu?”
Monika melipat tangan di dada.
“Kamu pikir dengan bicara tegas tadi pagi Mas Bram bakal lebih membelamu?” Dia tersenyum tipis. “Jangan terlalu percaya diri, Rania.”
Dadaku mulai terasa tidak enak.
“Apa yang kamu mau?” tanyaku pelan.
Monika melangkah lebih dekat. “Aku cuma ingin kamu tahu posisi. Mas Bram mungkin tertarik sama kamu karena kamu hamil. Tapi cinta?” Dia menggeleng pelan. “Cinta Mas Bram cuma untukku.”
Kalimat itu menusuk.
Tapi aku tidak boleh goyah.
“Kalau memang yakin,” balasku tenang, “kenapa kamu terlihat terancam?”
Wajahnya menegang sesaat.
“Aku tidak terancam. Aku hanya menjaga milikku.”
“Milik?” aku tersenyum hambar. “Mas Bram bukan barang.”
Monika mendekat lagi. Suaranya kini lebih rendah, berbahaya.
“Kamu boleh tinggal di rumah ini. Boleh melahirkan anak Mas Bram. Tapi jangan pernah berpikir kamu bisa menggantikan aku.”
Tanganku refleks menyentuh perutku.
“Aku tidak pernah ingin menggantikan siapa pun,” jawabku pelan. “Aku hanya ingin dihargai.”
Monika tertawa kecil.
“Di rumah ini, yang dihargai itu yang pertama, Rania. Ingat itu.”
Ia lalu berbalik dan berjalan ke kamarnya, meninggalkanku sendirian di ruang tamu yang terasa makin sempit.
Aku berdiri diam.
Air mata menetes tanpa bisa kutahan lagi.
Aku tidak ingin berlama-lama di rumah itu.
Dengan cepat aku masuk kamar, mengambil handuk, lalu mandi. Air dingin menyentuh kulitku, sedikit meredakan panas di dada yang sejak tadi terasa membara. Tapi rasa sesak itu tetap ada.
Selesai berpakaian, aku mengambil tas dan ponselku.
Tanpa pamit.
Tanpa suara.
Aku melangkah keluar rumah itu secepat mungkin, seolah dinding-dindingnya ikut menatapku dengan sinis.
Aku menuju rumah Mona.
Sesampainya di sana, begitu pintu dibuka, Mona langsung terkejut melihat wajahku.
“Ran? Kamu kenapa? Pucat banget!” serunya panik.
Aku mencoba tersenyum, tapi gagal. Air mataku malah jatuh duluan.
“Aku nggak kuat, Mon… aku nggak kuat serumah sama perempuan bermuka dua itu,” ucapku lirih.
Mona langsung menarikku masuk dan memelukku erat.
“Duduk dulu… pelan-pelan ceritanya.”
Aku duduk di sofa, mengusap perutku yang terasa sedikit tegang karena emosiku sendiri.
“Mas Bram berubah… dia nggak lagi seperti dulu. Dan Monika…” aku menghela napas panjang. “Di depan Mas Bram dia lembut. Begitu cuma berdua denganku, wajahnya berubah. Dia anggap aku cuma pengganggu.”
Mona mengepalkan tangan.
“Ya jelas dia takut, Ran. Kamu lagi hamil. Kamu punya anak dari Mas Bram. Itu bukan ancaman kecil buat dia.”
Aku menggeleng lemah.
“Aku cuma ingin hidup tenang. Bukan perang seperti ini.”
Mona menatapku serius.
“Ran, kamu harus mikirin diri kamu dan bayi kamu dulu. Stres kayak gini nggak baik buat kandungan.
****