NovelToon NovelToon
Salah Hati, Tepat Cinta

Salah Hati, Tepat Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / BTS
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.

Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.

Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.16

Perpustakaan kampus selalu punya atmosfer yang berbeda dari tempat lain. Seolah bangunan itu berdiri di luar hiruk-pikuk dunia mahasiswa, tempat di mana waktu tidak berjalan lurus, melainkan melambat, berbelok, lalu diam sejenak. Di lantai dua, udara terasa lebih sejuk, suara lebih teredam, dan setiap langkah kaki terdengar seperti permintaan izin kepada kesunyian. Rak-rak buku berdiri tinggi seperti penjaga sunyi, menyimpan ratusan cerita, teori, dan rahasia yang hanya terbuka bagi mereka yang mau berhenti sejenak dari dunia luar. Sementara cahaya matahari masuk melalui jendela besar, jatuh lembut ke meja baca kayu, menciptakan garis-garis hangat yang bergerak perlahan mengikuti waktu.

Sementara Itu, di Lantai Dua Perpustakaan. Namjoon berdiri di antara dua rak buku tebal, satu tangannya menopang buku yang sedang ia baca, tangannya yang lain sesekali membalik halaman. Wajahnya tenang, alisnya sedikit berkerut, bukan karena isi buku yang sulit, tapi karena pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana. Buku yang ia pegang adalah buku filsafat bahasa, topik yang biasanya membuatnya larut tanpa sisa. Namun hari ini, setiap paragraf terasa melayang. Matanya membaca, tapi pikirannya menyelip ke tempat lain. Ke pagi yang baru saja lewat, Ke percakapan singkat di kantin dan ke suara kecil yang mengucapkan terima kasih dengan gugup.

Ia sedang membaca, ketika mendengar suara langkah ringan yang terburu tapi tidak panik. Langkah yang tidak asing di pendengarnya. yang entah sejak kapan, bisa ia kenali tanpa perlu melihat. Namjoon refleks mengangkat pandangan, bukan karena ingin tahu, tapi karena naluri, naluri yang akhir-akhir ini sering bereaksi saat satu nama terlintas di kepalanya.

Ia melihat J-Hope dan Ryn Moa. Mereka berdiri di depan pintu masuk lantai dua, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. J-Hope mengatakan sesuatu sambil tersenyum kecil, senyum khasnya yang selalu terlihat seperti matahari pagi yang hangat, cerah, dan tanpa niat buruk. Sementara Ryn Moa berdiri dengan tangan saling menggenggam, bahunya sedikit terangkat seperti menahan perasaan. Dan cara Ryn Moa tersenyum pada J-Hope, senyum yang tidak ia berikan kepada siapa pun sebelumnya. Itu bukan senyum sopan yang ia berikan saat berpapasan di lorong. Bukan senyum gugup yang muncul saat bertemu Taehyung. Itu senyum yang lebih lembut, Lebih jujur, Lebih… terbuka. Senyum yang membuat Namjoon berhenti bernapas sepersekian detik.

Ia tidak tahu mengapa detail kecil itu begitu jelas baginya. Mengapa ia bisa membedakan jenis-jenis senyum Ryn Moa dengan begitu mudah, seolah itu adalah data yang tanpa sadar telah ia kumpulkan sejak lama. Ia juga tidak tahu mengapa dadanya terasa sedikit lebih berat melihat pemandangan itu. Namjoon menutup bukunya pelan. Gerakannya hati-hati, hampir tanpa suara, seolah takut mengganggu sesuatu, bukan suasana, tapi perasaannya sendiri.

Tidak ada marah atau cemburu. Setidaknya, tidak dengan cara yang ia kenali. Ia bukan tipe orang yang mudah merasa cemburu. Ia selalu percaya bahwa perasaan adalah sesuatu yang harus dipahami sebelum dirasakan terlalu jauh. Tapi kali ini, ada sensasi asing yang menyusup tanpa permisi. Tapi hatinya terasa aneh. Seperti ada sesuatu yang sedikit bergeser dari tempat semula. Bukan sakit. Bukan perih. Lebih seperti rasa kehilangan kecil yang belum sempat diberi nama.

“…dia cocok sama Hobi,” gumam Namjoon.

Kalimat itu keluar lirih, nyaris seperti kesimpulan logis. Dan memang terdengar masuk akal. J-Hope ceria, Ryn hangat, Mereka terlihat… pas. Seperti dua warna yang berdampingan tanpa saling menelan. Seperti tawa yang bertemu dengan keheningan dan tidak saling mengganggu. Tapi nadanya meredup sedikit, Ada jeda di akhir kalimat. Seperti kata yang tertinggal tapi tidak diucapkan. Emosi yang ia sendiri belum pahami.

Namjoon tidak melangkah mendekat. Tidak juga berpaling cepat. Ia hanya berdiri di sana, menatap beberapa detik lebih lama dari seharusnya, sebelum akhirnya menarik napas dalam dan menyelipkan buku itu kembali ke rak. Ia berjalan menjauh dengan langkah tenang. Seperti orang dewasa yang tahu kapan harus mundur, bahkan sebelum tahu apa yang ia rasakan. Langkahnya tidak tergesa, punggungnya tegak, wajahnya tetap tenang. Tapi di balik ketenangan itu, pikirannya mulai sibuk menyusun ulang sesuatu yang sebelumnya rapi. Ia tidak menyukai perubahan mendadak. Namun hidup, seperti biasa, tidak pernah meminta izin.

...⭐⭐⭐...

Dan di halaman luar…

Sinar matahari sore menyinari bangku taman di depan perpustakaan. Daun-daun pohon bergoyang pelan, bayangannya jatuh acak di tanah. Angin sore membawa aroma tanah dan dedaunan kering, menciptakan suasana yang tenang, hampir terlalu tenang untuk pikiran yang sedang berisik.

Taehyung duduk di salah satu bangku itu, satu kaki disilangkan, jaket tipisnya terbuka. Di tangannya ada roti yang baru dibeli, bungkusnya masih utuh. Roti yang ada di tangannya belum disentuh. Ia tidak lapar. Atau mungkin lapar, tapi tidak menyadarinya. Perhatiannya tertuju ke satu arah. Ia memperhatikan cara J-Hope bicara dengan Ryn Moa. Cara Ryn Moa menunduk malu. Cara J-Hope mengacak rambutnya pelan sebelum pergi. Gerakan itu singkat dan Ringan. Tidak intim secara terang-terangan, tapi cukup untuk membuat sesuatu di dada Taehyung mengencang.

Ia tidak tahu sejak kapan ia mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang Ryn Moa. Cara ia berjalan sedikit cepat. Cara ia menunduk saat gugup. Cara ia tertawa tanpa sadar. Dulu, Ryn Moa hanyalah satu dari sekian banyak wajah di kampus. Menarik, ya. Menggemaskan, mungkin. Tapi tidak lebih dari itu. Sampai entah kapan, kehadirannya mulai terasa berbeda. Tidak mencolok, tapi konsisten. Tidak menuntut perhatian, tapi selalu tertangkap mata.

Taehyung bersandar ke kursi. Punggungnya menyentuh kayu, bahunya sedikit turun, seperti seseorang yang baru menyadari sesuatu yang terlambat ia sadari.

“…Oh.”

Itu satu-satunya kata yang keluar. Pendek, Pelan. Hampir seperti desahan.

“Oh.”

Rasa yang ia pikir hanya rasa penasaran, ternyata lebih dari itu. Selama ini ia mengira perhatiannya pada Ryn Moa hanya karena kebiasaan, seseorang yang sering muncul di sekitarnya. Seseorang yang berbeda dari biasanya. Seseorang yang… menarik. Ternyata bukan sekadar itu. Dan sekarang, ia melihat orang lain berdiri di tempat yang tanpa sadar ia incar. Taehyung menunduk, menatap roti di tangannya, lalu tersenyum kecil, senyum pahit yang cepat menghilang. Ia menggigit roti itu akhirnya. Namun Rasanya seperti hambar di lidahnya.

Dan Ryn Moa, ia masuk kedalam perpustakaan dengan pipi yang panas tangannya dingin, serta langkahnya yang goyah. Ia merasa seperti baru saja berlari, padahal tidak. Jantungnya berdetak terlalu cepat untuk situasi yang seharusnya biasa. Setiap langkahnya terasa terlalu jelas, terlalu keras, meski lantai karpet meredam suara.

Ia tidak tahu ke mana harus duduk. Rak-rak buku terasa terlalu tinggi. Meja-meja baca terasa terlalu terbuka. Setiap sudut seolah bisa melihat kegugupannya. Akhirnya, ia memilih meja dekat jendela, tempat yang agak tersembunyi. Ia menarik kursi, duduk, lalu menumpuk buku hingga tinggi-tinggi.

Dari buku referensi, buku catatan, hingga buku fiksi yang sebenarnya tidak akan ia baca hari ini. Tumpukan itu lebih seperti tameng. Lalu ia menutup wajah dengan kedua tangan.

“Ya Tuhan… kenapa jantungku begini…?!”

Suaranya pelan, tapi penuh kepanikan tulus. Ia menekan pipinya yang panas, mencoba menarik napas dalam-dalam, dang menghitung, Satu. Dua. Tiga. Tapi detak jantungnya tetap tidak mau melambat.

Untuk pertama kalinya sejak masuk kampus, J-Hope muncul dalam pikirannya. Ia teringat tawanya, Nada suaranya saat memanggil namanya, dan cara ia berjalan di sampingnya tanpa membuatnya merasa harus menjaga jarak. Yang berhasil membuatnya tertawa, nyaman, malu, hangat, dan juga bingung. Ryn Moa mengerang pelan, menjatuhkan kepalanya ke meja sebentar sebelum kembali menegakkan badan. Ini tidak ada dalam rencana hidupnya. Ia datang ke kampus ini dengan satu nama di hati. Dengan satu tujuan. Dengan perasaan yang ia pikir aman karena sepihak. Sekarang, ada nama lain yang masuk tanpa izin. Dan itu yang paling menakutkan. Karena perasaan yang tak direncanakan selalu membawa risiko. Risiko terluka. Risiko kehilangan arah. Risiko membuat pilihan yang salah.

Ia menatap jendela, melihat bayangan pepohonan bergerak pelan tertiup angin. Di luar, dunia berjalan seperti biasa. Mahasiswa lalu lalang. Burung bertengger di pagar. Daun jatuh satu per satu.Tapi bagi Ryn Moa…Hari ini adalah titik awal. Dan di situlah semuanya dimulai. Tidak ada yang tahu, bahkan Ryn sendiri, bahwa sejak hari ini, setiap tawa J-Hope akan punya gema lebih panjang di dadanya. Setiap tatapan Namjoon akan terasa lebih dalam. Dan setiap diam Taehyung akan menyimpan kemungkinan yang belum selesai.

Dan semesta, dengan senyum liciknya, baru saja membuka bab yang jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan. Tentang perasaan yang datang terlambat dan pilihan yang tidak hitam-putih. Juga, tentang hati yang mulai belajar bahwa cinta tidak selalu mengikuti rencana, dan mungkin, justru di sanalah ceritanya menjadi berarti.

...⭐⭐⭐⭐...

Bersambung....

1
Amiera Syaqilla
romantis 💕
Rania Venus Aurora: terimakasih 🙏🏻
total 1 replies
falea sezi
author penggemar bts ya/Scream/
Rania Venus Aurora: Aku pernah dimasukan ke grup ARMY, karena teman-temanku ARMY semua. Cerita yang ada tentang BTS juga terinspirasi dari para ARMY disana.😊
total 1 replies
Ai_Li
Namanya unik-unik yaa
Ai_Li
Saya mampir kak, bagus ceritanya
Rania Venus Aurora: Makasih, kalau suka ceritanya 🥰
total 1 replies
Livia Aira
Lanjut thor 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!