Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELAJARAN DARI PUNCAK
Sudah dua hari ini kantor Hasyim Group terasa seperti di dalam lemari es. Atmosfernya sangat dingin dan mencekam. Penyebabnya tidak lain adalah sang CEO, Adnan Hasyim, yang nampak sangat tidak fokus. Pikirannya tidak sedang tertuju pada grafik keuntungan perusahaan, melainkan pada sesosok gadis tengil yang sudah dua hari ini sukses menghindarinya.
Sejak kejadian kecupan di dahi pagi itu, Nayla berubah menjadi bayangan. Saat Adnan pulang kerja, Bi Sum melaporkan bahwa "Neng Nayla,sedang berada di Rumah Singgah Myma" Saat malam tiba, Nayla sudah lebih dulu mengunci diri di kamar Adiva dengan alasan menidurkan putri kecil itu. Bahkan tadi pagi, sebelum Adnan sempat keluar kamar, suara motor sport Nayla sudah menderu menjauh dari gerbang rumah.
"Apakah dia takut karena saya bilang ingin serius?" gumam Adnan pelan di tengah rapat besar bersama klien.
Dion yang berdiri di belakang Adnan menyenggol bahu bosnya itu pelan. Adnan tersentak dan menatap Dion dengan pandangan kesal yang sangat tajam.
"Pak, Pak Arifin sedang bertanya soal pembagian saham proyek di Kalimantan," bisik Dion mengingatkan.
Adnan mengalihkan pandangannya pada pria paruh baya di depannya yang mulai nampak tidak sabar. Adnan memijat pangkal hidungnya. "Maaf, Pak Arifin. Saya merasa kurang enak badan hari ini. Keputusan kerja sama ini kita tunda sampai minggu depan. Rapat selesai."
Tanpa menunggu jawaban, Adnan langsung berdiri dan keluar dari ruang rapat. Arifin, sang klien, menggebrak meja dengan wajah merah padam. "Sombong sekali dia! Sementang perusahaannya sedang naik daun, dia berani meninggalkan saya begitu saja!"
Arifin menoleh pada asistennya. "Cari tahu segala hal tentang kehidupan pribadi Adnan. Pasti ada titik lemah yang bisa kita serang. Saya ingin dia tahu rasa karena sudah merendahkan saya!"
Sementara itu di dalam mobil, Adnan melonggarkan dasinya dengan kasar. "Dion, ke kampus Nayla sekarang. Jangan banyak tanya."
Dion hanya mengangguk patuh dan memutar kemudi menuju kawasan universitas ternama di Jakarta. Begitu mobil mewah itu memasuki area parkir kampus, mata tajam Adnan langsung menangkap sosok yang dicarinya. Nayla sedang berdiri di koridor terbuka, tidak sendirian. Ia bersama seorang pria muda yang tampan, sebaya dengannya, dan mereka nampak tertawa lepas.
"Siapa laki-laki itu? Kenapa Nayla bisa tertawa segirang itu dengannya sedangkan denganku selalu merengut?" gumam Adnan dengan rahang mengeras.
Adnan langsung turun dari mobil. Ia berjalan dengan tegap, mengabaikan sedikit rasa nyeri di kakinya yang baru sembuh. Nayla yang sedang asyik bercanda seketika membeku saat melihat "Es Balok" miliknya tiba-tiba muncul di depannya.
"ByBy? Kok ada di sini? Dan... Eh, Byby sudah bisa jalan tanpa tongkat?!" seru Nayla kaget bukan main.
Pria di samping Nayla mengamati Adnan dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan meremehkan. "Nay, siapa nih? Om kamu ya? Atau sopir baru kamu?"
Adnan mendengus dingin. Ia langsung mengulurkan tangannya di depan wajah pria itu. "Adnan Hasyim. Saya suaminya."
Pria itu tertawa terbahak-bahak seolah baru mendengar lelucon paling lucu tahun ini. "Hahaha! Suami? Nay, jangan bercanda! Masa kamu punya suami om-om begini? Gayanya kaku banget lagi, kayak kanebo kering!"
Tangan Adnan mengepal kuat. Ia hampir saja melayangkan tinjunya ke wajah pria itu jika saja Nayla tidak segera menahan lengannya. "Sabar, By! Dia Sandi, teman sekelompok ujian saya!"
"Tidak peduli siapa dia. Kita pulang sekarang," ucap Adnan mutlak. Ia langsung menarik tangan Nayla menuju mobil.
"Eh, sebentar By! Motor saya gimana?!" protes Nayla.
"Dion! Bawa motor sport Nayla pulang!" perintah Adnan tanpa menoleh. Dion hanya bisa menggaruk kepalanya, bingung bagaimana caranya ia membawa mobil dan motor sekaligus.
Tapi ternyata Adnan menyetir sendiri. Dan didalam mobil, suasana sunyi senyap. Wajah Adnan tampak menyeramkan, aura cemburunya memenuhi ruangan. Nayla yang biasanya tidak bisa diam mulai merasa gerah. Ia mengeluarkan jurus tengilnya, mencoba mencolek lengan Adnan.
"ByBy ganteng kaya sekoteng... Byby marah ya? Cemburu ya lihat saya sama Sandi yang gantengnya dibawah Byby?" goda Nayla sambil menyengir polos.
"Diam, Nayla. Jangan bicara sebelum saya suruh," jawab Adnan dingin.
Nayla akhirnya diam, namun ia mulai menyadari sesuatu. Jalan yang mereka lalui bukan menuju ke arah rumah mereka. Pohon-pohon besar dan udara yang semakin sejuk menandakan mereka sudah memasuki kawasan Bogor, melewati bukit-bukit hijau yang indah.
"Loh, kita mau ke mana, By? Ini kan jalan ke Puncak? Kita mau diculik sama bidadari gunung ya?" tanya Nayla heran.
"Nanti kamu juga tahu," jawab Adnan singkat.
Mobil akhirnya berhenti di sebuah vila tua yang nampak sangat asri dan terawat. Begitu turun, Nayla terpana melihat keindahan taman bunga di sana. Seorang nenek dan kakek sepuh keluar dari pintu depan dengan senyum lebar. Mereka adalah kakek dan nenek Adnan dari pihak ibu yang memilih tinggal jauh dari hiruk-pikuk kota.
"Adnan! Cucu kakek yang ganteng akhirnya datang!" seru sang kakek sambil memeluk Adnan.
Nenek Adnan langsung menghampiri Nayla, menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Wah, ini istrinya Adnan? Cantik sekali, suci wajahnya. Akhirnya Adnan membawa permata di rumah ini."
Nayla yang biasanya berani langsung berubah menjadi santun. Ia mencium tangan kedua orang sepuh itu dengan hormat. "Nama saya Nayla, Nek. Maaf datang mendadak tidak bawa apa-apa."
"Tidak apa-apa sayang. Kedatangan kalian adalah kado paling indah. Kalian harus menginap di sini ya, udaranya bagus untuk kesehatan," ujar sang Nenek lembut.
Malam harinya, Nayla mulai merasa gelisah. Vila ini hanya memiliki sedikit kamar, dan ia tahu betul apa artinya itu. Ia berusaha mencari alasan saat mereka sedang berkumpul di ruang tengah setelah makan malam.
"Nek, boleh tidak malam ini Nayla tidur sama Nenek? Nayla mau dengar cerita masa kecil ByBy yang pasti memalukan itu. Biar Mas Adnan tidur sama Kakek saja," ucap Nayla sambil melirik Adnan yang sedang asyik minum teh.
Nenek Adnan tersenyum bijak, ia memegang tangan Nayla. "Nayla sayang, duniaku dan dunia Kakek sudah berbeda dengan kalian. Dalam agama kita, suami istri itu tidak boleh tidur terpisah tanpa alasan yang syar'i. Allah sangat suka melihat pasangan yang saling menjaga dalam satu tempat tidur."
Nayla terdiam, ia kehilangan kata-kata saat Nenek mulai memberikan nasihat.
"Istri yang tidur menjauh dari suaminya tanpa izin bisa menjauhkan rezeki dan keberkahan dalam rumah tangga. Tempat tidur itu adalah tempat paling sakral untuk menyatukan dua hati yang berbeda. Jangan biarkan ego atau rasa malu membuatmu menjauh dari surgamu sendiri," lanjut sang Nenek dengan suara yang menenangkan.
Adnan diam-diam tersenyum puas. Nasihat Neneknya jauh lebih ampuh daripada perintahnya sebagai suami. Nayla hanya bisa menunduk, merenungkan statusnya. Ia sadar, selama ini ia sering menghindar bukan karena benci, tapi karena takut perasaannya pada Adnan semakin dalam dan ia belum siap terluka.
"Dengar itu, Nayla? Jangan jadi penghambat rezeki keluarga," ucap Adnan dengan nada mengejek yang halus.
"Iya, iya! ByBy bawel banget sih!" sahut Nayla ketus, meski hatinya berdegup kencang.
Malam itu, di kamar kayu yang harum aroma cendana, Nayla masuk dengan langkah ragu. Ia melihat Adnan sudah berbaring di tempat tidur sambil membaca buku. Nayla memilih duduk di ujung kasur, menjaga jarak sejauh mungkin.
"Sini, Nay. Jangan tidur di pinggiran begitu, nanti kamu jatuh," panggil Adnan.
"Nggak apa-apa, saya sudah biasa tidur di pinggir jurang penderitaan kok," balas Nayla tengil.
Adnan meletakkan bukunya dan menarik tangan Nayla hingga gadis itu terbaring di sampingnya. Kali ini tidak ada paksaan, hanya gerakan lembut yang membuat Nayla tidak tega melawan.
"Nay, terima kasih sudah mau datang ke sini. Saya hanya ingin kita mulai belajar menjadi pasangan yang nyata. Bukan karena paksaan, tapi karena kita memang saling membutuhkan," bisik Adnan tepat di depan wajah Nayla.
Nayla menatap mata Adnan yang nampak tulus di bawah cahaya lampu temaram. "Tapi By... saya ini masih banyak kurangnya. Saya nggak anggun, hobi berantem, dan Byby sendiri lihat kan saya sering bikin malu?"
"Saya tidak butuh wanita anggun yang palsu. Saya butuh Nayla yang jujur. Tidurlah, besok kita harus kembali menghadapi dunia," ucap Adnan sambil menarik selimut untuk mereka berdua.
Malam itu, di tengah kesunyian Puncak, dinding di antara mereka mulai retak sedikit demi sedikit. Namun di tempat lain, Arifin baru saja menerima sebuah berkas rahasia. Wajahnya menyeringai jahat. "Heh... Ternyata Istri barunya adalah kelemahannya Adnan?"
Bahaya baru kembali mengintai, tepat saat hati mereka mulai bertautan. Apakah kedamaian di vila nenek ini akan menjadi ketenangan sebelum badai besar melanda?
Tetapi Rendi
kayak nya
Farah
ank dari musuh bebuyutan Adnan...