NovelToon NovelToon
Pamanku Ternyata Jodohku

Pamanku Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAN 27: DINDING PERLINDUNGAN

​"Kenapa, Val? Kenapa harus Pak Revan? Kau tahu kan reputasinya? Kalau pihak kampus tahu seorang dosen Hukum tinggal bersama dengan mahasiswi Seni yang bahkan bukan dari jurusannya, ini bisa jadi skandal besar!" dan kau bisa saja menjadi bulan-bulanan dari mahasiswa yang tidak lulus di mata kuliahnya.

​"Kami sudah menikah, Karin," bisik Valerie dengan suara nyaris tak terdengar.

​Karin tersentak, ia menutup mulutnya dengan tangan. "Sudah... menikah?"

​"Ini pernikahan yang dipaksakan oleh Kakek untuk melindungiku dari Kak Adrian dan Papa. Mas Revan satu-satunya yang bisa menjagaku secara hukum. Kumohon, jangan katakan pada siapa pun. Terutama pada Pak Julian."

Karin terdiam seribu bahasa. Namun, sebelum ia sempat merespons, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi berita kampus atau pesan dari grup gosip muncul.

"Val..." Karin menunjukkan layar ponselnya dengan wajah pucat. "Sepertinya sudah ada yang tahu masalah ini selain aku."

Di layar ponsel Karin, ada sebuah unggahan foto dari akun anonim kampus yang memperlihatkan mobil Revan yang sering terparkir di apartemen yang sama dengan Valerie, dengan keterangan: "Dosen Hukum idaman ternyata punya simpanan di gedung Seni?"

Karin masih terpaku mendengar pengakuan pernikahan dan isi pesan itu, hingga ponselnya bergetar hebat kembali. Bukan hanya satu, tapi puluhan notifikasi masuk ke grup angkatan mereka. Wajah Karin memucat seketika.

"Val..." suara Karin tercekat. "Seseorang baru saja meledakkan bom yang lebih besar dari sekadar gosip apartemen."

Karin menyodorkan ponselnya. Di sana, sebuah unggahan anonim di forum kampus menampilkan foto-foto Valerie setahun lalu. Foto yang diambil dengan sudut pandang rendah dan buram, Valerie duduk di sebuah sofa velvet merah di dalam klub malam yang remang-remang, dikelilingi botol-botol minuman keras dan kepul asap rokok. Di foto lain, ia tampak tertawa bersama sekelompok pria berambut gondrong dengan tato di lengan mereka.

Dengan caption: : "Siapa sangka 'Gadis Emas' Adiwijaya dan mahasiswi kesayangan Gedung Seni ternyata mantan ratu klub malam? Apa Pak Revan tahu dia sedang melindungi seorang wanita 'liar'?"

Valerie merasakan dunianya berputar. Tubuhnya dingin seketika. "I-itu... itu saat aku melarikan diri dari rumah, Karin. Tapi aku tidak..."

"Aku tahu, Val! Aku tahu kau tidak mungkin begitu!" potong Karin, mencoba menenangkan sahabatnya yang mulai sesak napas. "Tapi orang-orang tidak akan peduli. Lihat komentar mereka!"

“Pantas saja dia tinggal dengan wali pria, ternyata memang sudah biasa hidup bebas.”

“Kasian Pak Revan, integritasnya dipertaruhkan demi menjaga cewek seperti ini.”

Di Gedung Hukum, Revan sedang memimpin rapat senat saat ponsel di atas meja terus menyala. Julian, yang duduk tepat di seberang Revan, tersenyum tipis sambil menatap layar ponselnya sendiri.

​"Pak Revan," sela Julian dengan nada bicara yang terdengar sangat prihatin namun tajam. "Sepertinya ada masalah darurat di forum kampus yang menyangkut Anda dan Valerie Adiwijaya. Saya rasa ini menyangkut nama baik Fakultas kita juga, mengingat Anda adalah walinya."

Revan meraih ponselnya. Matanya yang tajam menyisir setiap foto itu. Anggota rapat lain mulai berbisik-bisik. Suasana menjadi sangat mencekam.

Revan tidak tampak panik. Ia justru meletakkan ponselnya kembali dengan suara brak yang cukup keras, membuat suasana hening seketika. Ia menatap Julian dengan tatapan yang bisa membekukan darah siapa pun.

"Saya tahu di mana Valerie berada setiap detik selama setahun terakhir," suara Revan rendah, bergetar karena amarah yang ia tahan di balik topeng profesionalnya. "Jika foto-foto ini digunakan untuk menyerang moralitasnya, maka saya pastikan orang yang menyebarkannya akan berhadapan dengan pasal pencemaran nama baik dalam waktu kurang dari 24 jam."

Revan berdiri, menutup laptopnya dengan kasar. "Rapat selesai. Saya punya urusan yang lebih penting daripada melayani gosip murahan."

Revan sampai di Studio Lukis. Ia melihat Valerie sedang terduduk di lantai, sementara beberapa mahasiswa di luar ruangan mulai menunjuk-nunjuk dan berbisik.

Revan menerobos masuk, tidak peduli lagi pada aturan "jaga jarak" di kampus. Ia berlutut di depan Valerie, mengabaikan Karin yang berdiri di samping mereka.

"Mas... foto-foto itu..." tangis Valerie pecah. "Aku tidak minum, aku tidak..."

​"Aku tahu," potong Revan tegas. Ia meraih dagu Valerie, memaksanya menatap matanya. Revan kemudian berdiri, membalikkan badannya menghadap ke arah pintu studio di mana kerumunan mahasiswa dan beberapa dosen, termasuk Julian yang baru sampai dan ikut berkumpul untuk menonton.

​Revan merangkul bahu Valerie, menariknya rapat ke tubuhnya. Sebuah perlindungan yang sangat terbuka.

​"Siapa pun yang berani menyebarkan kebohongan ini lagi," ucap Revan dengan suara menggelegar yang menggema di seluruh koridor seni, "akan berurusan langsung dengan saya, bukan sebagai dosen kalian, tapi sebagai perwakilan hukum mutlak dari Valerie Adiwijaya."

​Julian melangkah maju, mencoba memprovokasi. "Pak Revan, perlindungan Anda terlalu personal. Apa Anda tidak takut orang-orang akan mengira ada sesuatu yang lebih dari sekadar wali?"

​Revan menatap Julian dengan senyum dingin yang mematikan. "Biarkan mereka mengira apa pun yang mereka mau, Pak Julian. Karena pada akhirnya, kebenaran akan membuat orang-orang yang mencoba menghancurkannya terlihat sangat menyedihkan."

Setelah kerumunan bubar, Revan tidak membawa Valerie kembali ke kelas. Dia membawanya pulang ke apartemen, mengunci pintu, dan mematikan semua ponsel.

Di dalam kesunyian apartemen, Valerie masih gemetar. Revan mengambil kotak P3K, bukan untuk mengobati luka fisik, tapi sebagai alasan untuk menyentuh tangan Valerie yang dingin.

"Mas... kenapa kau membela aku sejauh itu di depan semua orang? Karirmu bisa hancur," bisik Valerie.

Revan berhenti mengusap tangan Valerie. Dia menatap mata istrinya, lalu menarik Valerie ke dalam pelukannya, kali ini bukan pelukan "pelindung", tapi pelukan pria yang butuh kekuatan.

​"Karir bisa dibangun lagi, Erie. Tapi jika aku membiarkan mereka menghancurkan jiwamu sekali lagi, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri," jawab Revan serak.

Di dalam apartemen, setelah Revan menenangkan Valerie, ia tidak lagi bicara soal hukum. Revan duduk di lantai, bersandar pada tempat tidur sementara Valerie berada di pelukannya.

"Erie," panggil Revan lembut. "Maafkan aku."

Valerie mendongak, matanya sembab. "Untuk apa, Mas?"

"Karena aku setuju untuk merahasiakan pernikahan ini di kampus. Aku pikir itu akan melindungimu dari gosip, tapi ternyata itu justru memberimu ruang untuk terluka sendirian," Revan mengusap air mata di pipi Valerie.

Di sisi lain ​kediaman utama Adiwijaya yang megah, suasana terasa mencekam. Hendrawan duduk di kursi kebesarannya, menatap layar tablet dengan napas yang memburu. Foto-foto masa lalu Valerie di klub malam terpampang jelas, menjadi topik hangat yang kini mulai merambat ke telinga kolega bisnisnya.

​"Kurang ajar!" Hendrawan menggebrak meja kerja mahoninya. "Aku sudah membayar mahal untuk pernikahan itu agar aibnya tertutup, tapi sekarang dia malah memamerkannya di depan seluruh kampus!"

1
Lilik Juhariah
konflik jangan extrime kak
My: tenang kak, othor pecinta perdamaian 🤭
total 1 replies
Lilik Juhariah
aduuuh
Lilik Juhariah
waduh , Erri harus kasih tau tu kelakuan nadia
Lilik Juhariah
gak gitu juga kali Revan , Erie bukan manekin
Lilik Juhariah
aduhh Revan jangan sampe makan minum apapun ntar dimasukin obat perangsang, aku yakin author GK buat alur sprt kebanyakan novel
Lilik Juhariah
seru kalau fokus sama Hoby , kayak makan ikan asin nasi hangat sama Pete wkkw
Lilik Juhariah
ya karena Nadia selalu deketin Revan makanya Revan bilang gak mau terikat emosional buat nolak kamu Nad
Lilik Juhariah
astagaaa Nadia, bagus Lo ceritanya ,
Lilik Juhariah
gak Eri gak seperti yg kamu bayangkan
Lilik Juhariah
untung ada Revan , ini produk ambisi orang tua,
Lilik Juhariah
om Revan keren tegas
Lilik Juhariah
karya author bagus banget , setiap kata demi kata bikin aku terpukau
Lilik Juhariah
ceritanya bagus banget , thor , aku suka ,
Lilik Juhariah
gak ada bukti , kekerasan mana
Lilik Juhariah
aduuuh cepet datang revan
sweet chil
wah.. mantab Thor aku otw, tapi tunggu baca 2 bab lagi yah 🤭
My: Siap, aku selalu menunggumu 🥰🤭
total 1 replies
sweet chil
wah .. ada gila-gila nya ini si Adrian
My: hehehe.. 🤭
total 1 replies
putri
wahh.. emak macem apa ini?
sweet chil
gak kebayang sih kalo jdi Valerie.. untungnya masih ada Revan
sweet chil
Revan sweet banget yah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!