NovelToon NovelToon
RITUAL PUJON BAYI

RITUAL PUJON BAYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Tumbal / Romansa pedesaan / Iblis
Popularitas:360.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.

Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.

Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14 : Jauh berbeda

Setiap langkah kakinya terasa berat, ritme jantung mulai berpacu kencang. Tiap sebentar ia menghela napas – berharap kenyataan tidak sekejam pikiran kian liar, praduga cuma sebatas khayalan.

Ainur mengharapkan fakta sesuai angan, jika suaminya insan setia, semua perlakuan manisnya selama ini tulus bukan semata-mata untuk pelengkap sandiwara demi tujuan tertentu.

Malam ini, angin berhembus lebih kencang dari semalam. Ujung selendang berkibar dan helaian rambut panjang digerai ikut bergerak lembut. Ainur memilih rute lebih aman, tidak langsung masuk ke bangunan utama, melainkan memutar yang nantinya melewati jendela kamar sayap kanan – ruangan Kamila.

“Mas … pelan-pelan, aku sedang hamil.”

Runtuh sudah dunia wanita yang mematung, bersandar di tembok, menatap perih pemandangan menyakitkan hati sekaligus menjijikan.

Tirai kain tipis transparan gazebo berkibar-kibar, mempertontonkan dua orang sedang berbagi peluh. Kamilah duduk di atas pangkuan Daryo – tanpa mengenakan baju, rambutnya berayun-ayun seirama hentakan dari bawah.

Cahaya lentera gantung terlihat pas menerangi gerakan erotis, menciptakan bayangan di tanah tersorot rembulan malam.

Daryo menggeram, melontarkan kata-kata puas. Tatapan matanya lapar, gerakan brutal, membalas ciuman dengan beringas.

Jauh, sangat jauh berbeda perlakuannya kala bercinta dengan Ainur – terlalu banyak kata-kata buaian, bertanya tentang kenyamanan, seakan-akan dia pria bayaran yang wajib memastikan pelanggannya terpuaskan. Tidak seperti sekarang – lepas, menggebu-gebu, liar.

Ainur menyaksikan semua itu. Setiap perubahan ekspresi, desahan, decapan, saling menyenangkan dengan cara yang belum pernah dirasakan olehnya.

Bibir bagian dalam terasa asin, terlalu kuat dia gigit sehingga berdarah. Telapak tangan tertusuk kuku yang buku jarinya memutih.

‘Betapa bodohnya aku selama ini? Hidup diantara para serigala, diperlakukan layaknya domba sebelum akhirnya dimangsa.’ Mulutnya seperti orang hendak bersiul, dia berusaha tenang, mengatur napas meskipun sekujur tubuh menggigil, dingin, pipi panas, perasaan kacau balau.

Ainur tidak berkedip, bergerak, dia menonton sampai kedua manusia beda jenis itu saling meneriakkan nama masing-masing dengan napas tersengal-sengal.

“Tenang saja, dia bakalan baik-baik saja selagi induknya hidup.”

Sayup-sayup Ainur mendengar gumaman Daryo. ‘Induk? Apa maksudnya?’

Dada Ainur naik turun. Kinerja saraf otaknya tengah memproses informasi yang baru saja diterima sampai menghasilkan pemikiran kritis.

Ainur kesulitan bernapas, wajahnya pias. ‘Induknya? Apa anak itu bukan milik Kamila, tapi bagaimana bisa?’

‘Aku nggak bisa menunggu lagi.’ Gerakannya cepat, berbalik dan berlari menuju pintu tembok belakang yang berada sekitar lima belas meter dari gazebo, tertutup bagian samping hunian Citranti.

Tanpa persiapan, tak pula memikirkan resikonya, Ainur kehilangan kendali diri, dia cuma ingin mencari jawaban atas banyaknya pertanyaan tak masuk dinalarnya.

Wanita berselendang hitam itu tidak menangkap keanehan disekitarnya, dikarenakan dirinya dikuasai kebingungan, pikirannya bercabang layaknya ranting.

Pintu pagar yang bila malam hari digembok, kini terbuka sedikit, cukup untuk tubuh kurusnya. Pun, setiap hentakan kakinya tidak berbunyi.

Ainur berlari kencang, deru napas memburu dan buliran keringat berkejaran dengan laju jatuhnya air mata.

Tidak tahu arah, tapi lajunya terarah menuju ke suatu tempat. Cahaya rembulan masuk dari sela-sela dedaunan dan ranting, membentuk pola serupa diatas tanah kering.

Hiks hiks hiks ….

Tangis yang dia tahan pecah, suaranya memenuhi hutan belantara membangunkan beberapa pasang mata beda warna menyala dikegelapan malam.

“Ini lebih dari menyakitkan! Kenapa? Mengapa? Sejak kapan?” kalimatnya terputus-putus sarat keputusaan.

Ainur berteriak kencang, meluapkan emosi. Meledak-ledak melepaskan rasa sesak, tak percaya, terkejut dan sakit hatinya.

“Aku siapa?!” Badannya rubuh, berlutut.

Akhhh!

Ainur meninju permukaan tanah, meremas dedaunan kering.

“Aku siapa?” tanyanya dengan nada jauh lebih rendah.

“Ndak mungkin kan kalau anak kandung tapi diperalat? Disamakan dengan binatang?” dia terngiang-ngiang kata induknya.

“Siapa aku?!” Ainur menangis pilu, bertanya tentang jati dirinya yang sebenarnya. Meyakini kalau kemungkinan besar bukan anak kandung keluarga Sugianto.

“Cah ayu ….”

Seketika gerakan meremas daun terhenti, Ainur merasa tak asing dengan suara serak-serak basah ini. Dia menoleh ke belakang.

Ainur memandang dengan ekspresi campur aduk pada sosok wanita perkiraan umur setengah abad. Mengenakan kebaya kembangan dari bahan sifon bermotif bunga-bunga kecil, bawahan rok span jarik, rambutnya disanggul sederhana – anggun, itulah kesan pertama yang dilihat olehnya.

Lentera dalam genggaman diangkat sampai menyamai bahu, menyorot wajah sembab Ainur.

“Mari ikut saya, bukankah kamu ingin mengetahui masa lalu, jati diri dan apa yang terjadi pada para janinmu, betulkan?” nadanya tenang, membujuk tapi tidak memaksa.

“Siapa panjenengan (kamu)?” bisiknya sembari menelisik wajah oval. Dari suaranya, gesture tubuh, Ainur dapat menebak kalau wanita ini bukan dari kalangan rakyat biasa. Auranya tegas.

“Panggil saja Kinasih, tanpa embel-embel sebutan didepannya. Sebenarnya kita seumuran, tapi bila di dunia lain.” Dia tersenyum hingga matanya menyipit.

Ainur ragu, tiba-tiba rasa takut menyergapnya. Kinasih sangat misterius, berbicara dengan makna yang tidak dia mengerti.

“Jangan dipikirkan terlalu berlebihan. Senyaman kamu ingin memanggil apa, ayo ikut saya! Setiap detiknya berharga, sang waktu tak bisa ditahan terlalu lama berdiam diri,” katanya misterius.

Uluran tangan berjari lentik itu tidak terasa mengancam, melainkan menawarkan harapan. Ragu-ragu Ainur menyambutnya, tubuhnya tersentak halus. Belum sempat dia mencerna, hal aneh lainnya datang menghampiri.

Kabut tebal mengelilingi mereka, dan dalam sekejap saja, Ainur berada di tempat asing.

Suara detak jarum jam kuno terdengar nyaring, lalu gemerisik dedaunan bergesekan dengan atap genteng, terakhir gemericik yang dia kenali layaknya melodi memberikan ketenangan – tirai kerang tertiup angin.

“Kinasih?” suaranya memenuhi ruangan tidak terlalu luas tapi nyaman. Ainur baru menyadari kalau dia sendirian ditempat asing. “Kinasih!”

“Jangan takut cah ayu, aku ingin bercerita dengan disertai bukti. Agar kamu percaya, tidak menganggap semua ini halusinasi.” Kinasih membawa cawan tembaga, lalu diletakkan di meja akar kayu merbau coklat kemerahan.

Setiap gerakan luwesnya tertangkap mata penasaran Ainur. Dia memperhatikan dalam diam seraya menahan rasa cemas, tapi dalam waktu bersamaan tidak merasakan adanya bahaya yang mengancam.

Kinasih mematik korek kayu, lalu membakar sumbu lilin yang diletakkan diatas piring lepek.

“Kemarikan jemarimu, akan terasa sedikit sakit tapi cuma sebentar.”

“Mau buat apa?” Ainur tidak langsung menurut.

“Syarat membuka tabir lama. Kamu pemeran utamanya, Ainur. Kehadiranmu tak diharapkan, tapi keturunanmu dinantikan bahkan dipaksa hadir lebih cepat dari seharusnya. Jangan takut, buang keraguan dihati. Disaat seperti ini, semua orang bisa jadi musuh, pun sebaliknya.” Kinasih mengulurkan tangan melewati cawan dan lilin.

Ainur menyambut, menekan rasa aneh ketika bersentuhan dengan kulit dingin seperti air pegunungan.

Jarum emas dibakar diatas nyala lilin, lalu ditusukkan di jemari yang sudah ditekan.

Sedikit nyeri, tapi masih bisa dia tahan. Ainur melihat tetesan darahnya jatuh ke permukaan air dalam cawan.

Tiba-tiba keanehan terjadi, jarum jam berhenti berdetak. Suhu disekelilingnya terasa lebih dingin.

"Perhatikan gambar-gambar berjalan cepat didalam cawan. Wanita memakai kemben, stagen, dan rok hitam polos itu adalah ibumu.”

“Dia bukan ibu Warti. Kamu salah mengenali orang!”

.

.

Bersambung.

1
imau
giliran siapa nih?
imau
bukannya menyesali dosa, tapi malah menyesali nasib
Shee_👚
nah sekarang waktunya tukiran, habiskan sampai tak tersisa.
para iblis berwujud manusia tak layak untuk hidup atau di maafkan.

kekejian mereka semasa hidup dah bukan lagi harus di maafkan, nyawa di bayar nyawa baru adil
Shee_👚
aku bayangin ngilu plus sakit tak tertahan😬😬
Astiana 💕
ini sih lebih parah sadis nya dari cerita KK cublik yg lain😱, aku malah gak kepikiran loh cerita beginian
Dew666
🪻🪻🪻🪻🪻
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
tinggal si daryo kemana tuh di sandera nya 🤣
Mawar Hitam
satu persatu kena hukumannya yà kak
Al Fatih
Mantab mbak Ainur....,, pelan2 saja menghukum mereka...,, biar mereka merasakan kesakitan yang nyata
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
ahhahahaha kek mana rasanya enak kannn
ilham gaming
lanjut
Salim ah
tinggal nunggu ajalnya Tukiran seperti apa gerangan 🤔
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
hadehh dasar sombong ttp saja sombong nyawa sudah di ujung tanduk saja masih bisa mengumoat dasar iblis berkedok manusia
Kaka Shanum
satu persatu tumbang akibat dari perbuatannya sendiri,tak menyesal sama sekali.hanya karena harta tahta keserakahan akan haus pujian menutup mata menutup hati berbuat keji.sekalipun nyawa kalian hilang tak pernah akan sepadan membayar nyawa yang sudah kalian ambil secara paksa...
FLA
sabar, tenang lah kalian jangan berebut ntar ada kok giliran kalian😏
imau
lebih baik dikasih singkong daripada nasi basi
imau
dilarang pingsan kamu, Sas 😄
imau
beeeh rameee
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
hukum karma berlaku
bukan hukum rimba yg terjadi di alas purwo tapi karma datang menjemput kalian Krn dosa2 kalian sendiri
Aprisya
karma itu nyata ya pak gi🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!