Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Besi Berkarat
Pagi itu, langit di atas sekolah dasar Syifa tampak mendung, seolah-olah awan pun tak sanggup menahan beban kesedihan yang menggelayuti, Andini tak bisa memejamkan mata. Pagi-pagi buta, ia membawa Syifa ke sekolah. Bukan untuk belajar, melainkan untuk menuntaskan pesan terakhir yang tertulis di balik sajadah suaminya.
Syifa berjalan di depan, langkahnya kecil namun pasti. Ia memegang kunci loker nomor 18 itu dengan sangat erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Andini mengikuti dari belakang dengan perasaan waswas. Gedung sekolah itu masih sepi. Hanya ada suara sapu lidi penjaga sekolah yang menyapu daun kering di halaman. Mereka menyusuri lorong kelas hingga tiba di deretan loker besi yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian.
Syifa berhenti tepat di depan sebuah loker yang permukaannya penuh dengan tempelan stiker hadiah dari makanan ringan—stiker-stiker yang dulu sering dibelikan Hilman setiap kali ia mendapat upah lembur harian.
"Ini loker Ayah, Ma," ucap Syifa datar. Suaranya kecil, namun bergema di lorong yang sunyi itu. "Dulu Ayah sering titip tas bekalnya di sini kalau dia jemput Syifa lebih awal."
Andini tertegun. Ia baru sadar bahwa suaminya memiliki hubungan yang begitu dekat dengan kehidupan sekolah putrinya, sementara ia sendiri jarang sekali menginjakkan kaki di sini karena malu dengan bangunan sekolah yang menurutnya "kurang elit".
Pintu yang Terbuka
Syifa memasukkan kunci itu. Klek.
Suara besi yang beradu terdengar tajam. Pintu loker itu terbuka perlahan, mengeluarkan aroma kertas tua dan sedikit bau keringat yang sangat Andini kenal—aroma tubuh Hilman.
Di dalam loker yang sempit itu, tidak ada emas. Tidak ada dokumen perusahaan besar. Yang ada hanyalah sebuah kotak sepatu lama yang sudah diikat rapi dengan tali rafia. Di atas kotak itu, terdapat sebuah kaset pita lama dan sebuah walkman butut yang baterainya mungkin sudah hampir habis.
Syifa mengambil kotak itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya di atas lantai koridor. Andini berlutut di sampingnya, jantungnya berdegup kencang.
Di dalam kotak itu terdapat ratusan lembar surat. Bukan surat untuk pengacara atau bank, melainkan surat yang ditulis Hilman setiap hari selama tujuh tahun pernikahan mereka. Setiap pucuk surat memiliki tanggal, mulai dari hari pertama mereka menikah hingga malam sebelum Hilman menghembuskan napas terakhirnya.
Andini mengambil salah satu surat secara acak. Tanggalnya adalah tiga tahun yang lalu, tepat di hari ulang tahun Andini yang ke-25.
"Hari ini Andini ulang tahun. Aku ingin sekali membelikannya kalung emas yang dia tunjuk di toko tempo hari. Tapi uangku baru terkumpul separuh. Akhirnya aku hanya bisa membelikannya martabak kesukaannya. Dia marah, martabaknya dibuang ke lantai. Hatiku pedih, tapi aku tidak menyalahkannya. Dia pantas mendapatkan yang lebih baik. Aku akan kerja lebih keras lagi. Maafkan aku, Sayang."
Andini menutup mulutnya dengan tangan. Ia teringat kejadian itu. Ia teringat betapa ia memaki Hilman sebagai laki-laki tidak bermodal karena hanya membawa martabak sepuluh ribu rupiah. Ternyata, di balik martabak itu, ada keringat yang diperas hingga kering dan tabungan yang dikumpulkan dengan menahan lapar berbulan-bulan.
Suara dari Masa Lalu
Syifa meraih walkman itu. Ia memasangkan earphone yang busanya sudah mengelupas ke telinganya, lalu memberikan sebelah bagian lainnya kepada Andini. Syifa menekan tombol play.
Awalnya hanya terdengar suara statis yang berisik. Lalu, terdengar suara tarikan napas yang berat, diikuti batuk yang sesak. Kemudian, suara Hilman muncul—jauh lebih jernih dan hangat daripada yang diingat Andini dalam mimpi-mimpinya.
"Halo, Syifa... Halo, Andini..."
Suara itu membuat Andini langsung tersungkur lemas di lantai sekolah. Air matanya tumpah tak terkendali.
"Kalau kalian mendengar rekaman ini, mungkin Ayah sudah tidak bisa lagi membuatkan kalian teh hangat di pagi hari. Syifa, jangan menangis ya, Nak. Ayah tidak pergi jauh, Ayah hanya pindah ke dalam hatimu. Andini... Istriku... maafkan aku kalau selama hidup aku adalah beban bagimu. Aku tahu aku bukan suami yang sempurna."
Hilman terdiam sejenak dalam rekaman itu, terdengar suara isaknya yang tertahan.
"Di dalam kotak sepatu ini, ada rahasia yang tidak pernah kukatakan pada siapapun. Sepuluh tahun lalu, sebelum aku mengenalmu, aku bukan buruh pabrik. Aku adalah ahli waris tunggal dari sebuah keluarga yang sangat kaya. Tapi aku meninggalkan semuanya karena mereka ingin aku menikah dengan wanita pilihan mereka.
Andini terbelalak. Syifa menatap ibunya dengan tatapan bingung.
Aku pergi dari keluarga ku, mengganti identitasku, dan hidup sebagai buruh miskin agar mereka tidak bisa menemukan ku. Lalu aku bertemu denganmu, Andini... kamu mau menerimaku yang tidak punya apa-apa, itulah mengapa aku rela memberikan nyawaku untukmu. Kamu adalah pahlawanku."
Andini meraung di lorong sekolah yang sepi itu. Kenyataannya menghantamnya seperti palu godam. Selama ini ia menganggap Hilman adalah beban, padahal Hilman adalah seorang bangsawan yang rela menjadi budak demi seorang wanita egois seperti dirinya. Hilman menganggap Andini sebagai penyelamat, padahal Andini adalah penghancur hidupnya.
Sesuatu yang Lebih Berharga dari Uang
Di bagian paling bawah kotak sepatu itu, terselip sebuah sertifikat tanah tua yang dibungkus plastik. Itu bukan tanah di kawasan elit, melainkan sebidang tanah kecil di desa terpencil tempat ibunda Andini dimakamkan.
"Tanah ini sudah kubayar lunas, Andini. Aku ingin kita tua di sana, jauh dari hiruk pikuk kota yang membuatmu stres. Aku sudah membangun pondasi rumah kecil di sana. Aku kerjakan sendiri setiap hari Minggu saat aku bilang aku kerja lembur tambahan. Maaf, rumahnya belum jadi... aku kehabisan waktu."
Andini memeluk sertifikat itu. Ia membayangkan Hilman, dengan tubuhnya yang kian kurus dan ginjal yang sakit, menempuh perjalanan jauh ke desa setiap minggu, mengaduk semen dan menyusun bata demi bata hanya untuk membangunkan "istana" untuknya. Dan di saat yang sama, ia justru sibuk berselingkuh dengan Reno di kafe-kafe mewah.
"Mas... ampuni aku, Mas..." ratap Andini. Suaranya memecah kesunyian sekolah,
Syifa melepas earphone-nya. Ia tidak menangis sehebat ibunya. Ia hanya menatap foto kecil yang terselip di dalam kotak—foto Hilman yang sedang menggendong Syifa saat masih bayi.
"Ma," suara Syifa terdengar dewasa secara mendadak. "Ayah nggak pernah miskin. Hati Ayah lebih kaya dari semua orang"
Andini terdiam. Ia menatap tasnya yang berisi berkas asuransi jiwa. Tiba-tiba Ia merasa di dalam tas itu adalah kepingan daging Hilman yang ia jual demi sebuah ilusi?