Mungkin ini jalan takdir atau rencana terselubung ku, ternyata tak perlu jauh aku mencari mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kurang vit.
Bangun badan terasa pegal rasanya, datang ke kantor juga hanya sekedar formalitas isi absen sekalian jemput motor, setelah nya aku izin pulang lebih awal. Seluruh pekerjaan yang ada ku cicil dirumah sepertinya rasa enggan enak badan begitu menyiksaku.
Berhubung besok sudah masuk weekend bisa untuk tidur siang, sayangnya malam semua badan semakin gak beraturan sakitnya, kepala juga ampun rasanya. denyutan di kepala bikin mual sekaligus migrain.
Di sisi lemah ku, aku membayangkan saat ini Papa juga sedang sakit. Kalau hubungan kami baik-baik aja mungkin kami sudah saling buat aduan ini, bahkan mulai sore tadi handphone ku abaikan dan masih berdiam di dalam tas. ada panggilan berulang dari bang Dean, dia masih online padahal jam sudah menunjukkan pukul 12 Malam.
Miwa:[Aku sakit, gak bisa angkat telepon tadi. Ini baru bangun, bolak-balik ke kamar mandi muntah.] Bang Dean awalnya ingin membalas dengan ketikan, berulang keterangan mengetik hilang timbul sampai akhirnya Panggilan telepon yang datang.
Dia sedang apa belum tidur jam segini, "Jadi gimana sekarang?" katanya sedikit berbatuk, mungkin dia juga kurang vit sekarang.
"Masih pusing, mana lemas banget lagi."
"Abang masih besok pulang, siang mungkin sudah sampai di Jakarta."
Aku menutupi sebagian wajahku, ia terus berbicara sembari menyinggung soal pernikahan kepada ku. " Kalau kita ke jenjang serius masih itu yang bisa Abang tunjukkan sama mu?" katanya menyebutkan beberapa keluarga, harta dan pekerjaan nya.
Ia langsung menargetkan pernikahan kepada ku, dan lantang nya aku bilang." Kita buat surat perjanjian pra-nikah ya," pinta ku menjaga kejadian tidak terduga datang nanti nya.
"Ia, aku ikut dirimu aja." Ucap bang Dean.
Lagi-lagi kami melakukan panggilan telepon sembari tidur, suara dengkuran bang Dean membangunkan ku di pukul 4 pagi, mengambil panci, masak air hangat sekaligus minum untuk bikin teh. Enggak ada kata manja buat ku, kan sudah ku bilang... Enggak jadi deh gak mood aku.
Sehabis mandi, berbenah diri. Tidak lupa skincare dan body care, lanjut menikmati teh hangat berteman roti susu, habisnya gak ada nasi. Mau makan lauk juga enggak ada.
Yang penting ada makanan yang masuk, dua pil obat ku minum dengan segera membuka laptop kemudian mengerjakan beberapa dokumen. Setelah nya aku kembali tidur sampai suara mobil mengejutkan ku, siapa yang datang. Ku lihat jam menunjukkan pukul 6 sore, Awalnya aku tidur jam 11 siang' bangun di jam 6 sore itu amat mengejutkan bukan.
"Gimana kondisi," Bang Dean datang dengan totabag besar di tangan nya, ia mulai berani merangkul ku mencium keningku. Aku nyaman dengan perlakuan bang Dean seperti itu. Kemeja hitam celana pendek gak layak untuk usianya, hahaha dia mau berubah 10 Tahun lebih muda sepertinya.
"Masih pusing, kamar ku bau. Jangan masuk dulu," alasan ku supaya bang Dean tidak mengajak ku ke kamar.
Tanpa banyak bicara tikar di gelar pada ruang tamu, bang Dean mengambil bantal. "Dimana sarung bantal yang baru," aku mengambil nya sekaligus memberikan kepada bang Dean, ia enggak banyak bicara mengganti seperangkat spray dan sarung bantal ku,z semua disusun rapi olehnya. Satu bantal dan selimut diberikan supaya aku bisa beristirahat.
Mengingat tas berisi oleh-oleh itu aku sekarang paham kenapa aku sakit, mungkin ini cara Tuhan menegurku karena sudah berlaku curang terhadap satu perempuan di luar sana. Aku sadari itu salah, bang Dean datang dengan membawa wadah plastik dari belakang. Bersama beberapa bawang geprek dia membawa nya keruang tamu.
Membuka satu persatu isian tas dan mengambil minyak urut khas Karo, bagi sebagian orang ini sudah tidak tabu lagi, ya siapa yang enggak tau minyak kutus-kutus minyak urut kayak rempah dibalur sekaligus di pijat di kepala ku, bang Dean hanya mau memegang kepala dan kaki ku, aku hargai keputusan nya yang masih menerapkan batasan terhadap ku, "Bikin ini di perut mu," ia berdiri ke belakang mengambil mangkuk cuci tangan dan piring untuk kami makan bersama.
"Enak?" Ia melihat ku sudah mampu untuk duduk tanpa senderan, Satu piring Disi nasi merah disimpan dalam tandok, bungkus nasi dari anyaman daun pandan seperti tikar itu, masih lumayan hangat. Ada daging kuda, ada cimpa dan roti bulan yang ku minta. Ada mie babi di beli didekat bandara dan juga naniura. Semua makanan dibeli bang Dean, katanya biar aku mau makan.
"Makan lah," dia enggak ngerti ya rasanya enggak enak banget kalau di paksain makan. Aku menggeleng, terus tangan bang Dean basah karena ingin menyuapi ku.
"Kau ini udah di masakin bou pun enggak menghargai... Malah di tolak gini," kata bang Dean menyuapkan dua kali nasi ke mulut ku, dia juga makan dari tangan yang sama.
Panggilan telepon dari inang, Mama nya bang Dean. "Sudah di mana bang?" bou sepertinya baru pulang dari sebuah acara, sanggul dan make-up belum luntur dimakan waktu.
"Ini dirumah parumaen Inang." Wooo sudah dapat julukan parumaen bah yang artinya menantu, langsung sat-set- sat-set aja modelnya. "Sudah sembuh Boru Saragih itu?" bang Dean menunjukkan ke arah ku, memberikan handphone sekali lagi suapan beruntun masuk ke dalam mulutku.
Bou mulai melepas sanggul dan make-up nya, ia tersenyum melihat ku makan. "Enak nya boru Saragih masakan bou? Enggak enak lah pastinya kan," bou merendah sekali, padahal enak-enak aja tuh masakan bou.
Aku masih mengunyah makanannya, begitu juga bou masih menunggu balasan ku. "Enak bou, cuman kan aku masih sakit hambar semua ku rasa makanan." Bou mulai fokus kepada ku, Sasak masih berantakan ia tidak perduli. "Aduhhh udah kerumah sakit Nang?" begitulah cara orang Batak memanjakan Boru atau anak perempuan nya dipanggil dengan sebutan 'Nang'
"Belum Bou."
"De.. bang, nanti bawa lah berobat adek itu, jangan kau biarkan aja gitu."
"Iya inang" bang Dean lanjut bercerita dengan penuh keceriaan dia menceritakan perjalanan nya kepada kami, bou juga tertawa mendengar cerita bang Dean yang hampir ketinggalan pesawat karena ke tiduran di kursi tunggu.
Tak terasa kami sudah dua kali menambah nasi, bang Dean bantu aku duduk sebentar. Ia sibuk menyimpan kemana sisa lauk tadi, membantu ku membawa jaket dan juga dompet berisi kartu.
Ia masih ada sikap cueknya, inilah dia membiarkan ku jalan sendiri bahkan membuka pintu mobil seorang diri, padahal aku masih lemas rasanya. Kenapa ya logika dan hati ku berantem saat ini, logika ku mengatakan mungkin ini cara bang Dean buat aku mandiri, toh enggak ada bang Dean juga aku bisa masak ada dia malah manja-manja. Terbalik dengan logika, justru hatiku terus menerus mengharapkan inisiatif bang Dean dalam bertindak romantis kepada ku.
Kami melaju ke klinik terdekat, klinik yang menyediakan dokter 24 Jam adanya. bang Dean menunggu giliran sementara aku dibiarkan menunggu di mobil saja. Sehabis pendaftaran tadi pasien begitu banyak menunggu, ketimbang aku makin pusing dengan jumlah antrian ini mending nunggu didalam mobil sementara bang Dean yang menunggu panggilan.
Sialnya aku beberapa kali muntah, muntahan itu mengundang pahit di tenggorokan ku, pahit yang bikin pusing dan mual itu berubah jadi migrain. "Udah yuk," bang Dean mendapati ku di belakang mobil, tepatnya di sebuah selokan klinik.
Pijatan ia berikan untuk aku mengeluarkan semua yang bikin sangkut tenggorokan, pedih dan pusing sekarang menyatu hingga berdiri sulit bagiku. Bang dean tak tahan menunggu menggenggam tangan ku membantu ku berjalan perlahan menuju klinik.
Infus langsung di pasang ke tangan ku, beragam suntikan masuk ke dalam kulit ku. Persetujuan bang Dean diminta untuk aku dirawat inap sampai aku pulih nantinya.
semangat, yah..
jan lupa mampir juga..
kita saling dukung, yah..
💪💪💪
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰