NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Action / Misteri / Detektif
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Pesan Terkirim

Ponsel yang terletak di atas tempat tidur tampak menyala karena sebuah pesan yang masuk. Dari notifikasi yang muncul, pesan itu dikirim dari kontak yang diberi nama ‘P’.

P || Saksi R baru saja muncul untuk melapor. Ada rencana?

Tak butuh waktu lama sebelum sebuah tangan yang terbungkus sarung tangan hitam menggapai ponsel itu dan mengetik balasan.

‘Bereskan sebelum pagi. Tidak ada lagi uang tutup mulut.’

Pesan terkirim.

Keheningan kamar pecah oleh suara baritone seorang pria, rendah dan penuh tantangan.

“Jadi, orang ini ingin memerasku?”

Ia menurunkan ponselnya perlahan. Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan sebuah senyum, melainkan ancaman yang nyaris seperti bisikan maut.

#

Lalu pada pagi harinya, Naya dan Addam tiba di terminal dengan penampilan yang tampak sedikit lusuh. Mereka terlihat begitu kelelahan, baik fisik maupun perasaan mereka.

Setelah dari sana, Addam dan Naya melanjutkan perjalanan mereka sampai akhirnya sampai di tempat tinggal sederhana mereka.

“Thank you, Nay…” kata Addam sambil berdiri di depan pintu kontrakannya, menatap Naya yang sedang mencari keberadaan kunci di dalam tasnya.

“It’s okay, Kak…” kata Naya. ‘Aku bakal lakuin apapun semampu aku buat Astrid,’ lanjutnya dalam hati.

“Ya udah. Sekarang kita berdua istirahat dulu, Nay. Nanti baru kita lanjut lagi…”

“Iya, Kak.” pintu itu akhirnya terbuka. “Kak Addam juga…”

“Oke Nay…”

Tapi sepertinya, percakapan singkat mereka barusan hanya seperti angin lalu. Sebab alih-alih beristirahat dan memulihkan tenaganya, Naya justru dikejutkan dengan kedatangan Bu Lela bersama sebuah kotak paket di tangannya.

“Naya. Ini kemarin ada paketnya dateng.” Bu Lela menyerahkan kotak itu pada Naya.

“Paket?” Naya menerima kotak yang diberikan Bu Lela dengan sebuah pertanyaan besar yang muncul dalam benaknya sebab Naya tidak pernah memesan paket apapun.

“Tadinya kurirnya mau anter ke sini, ke tempat kamu.Tapi Ibu bilang titip di Ibu aja karena kamu lagi ke luar kota. Udah ya? Ibu balik.”

Kemudian Bu Lela berbalik tanpa menunggu Naya menjawab.

“Makasih, Bu” kata Naya ketika Bu Lela telah berbalik dari hadapannya.

Sambil menatap paket di tangannya, perasaan Naya menjadi sangat tak karuan ketika ia melihat nama pengirim yang tertulis di sana hanya satu huruf; A. Seketika itu juga Naya teringat kejadian serupa yang pernah dialaminya beberapa hari lalu ketika ia mendapat sebuah paket misterius.

Paket itu lalu tak sengaja terjatuh dari genggaman Naya dan meluncur dibarengi teriakan Naya.

Dan bisa ditebak, hanya beberapa saat setelah teriakan Naya menggema, Addam muncul dari balik pintu ruangannya dan dengan langkah cepatnya ia segera menghampiri Naya.

Saat itu Addam sangat terkejut melihat Naya yang telah terduduk lemas dan bersandar di dekat ambang pintu. Sepertinya Addam tak mempedulikan keberadaan paket yang kini teronggok beberapa puluh senti di depan Naya.

“Nay?!” Addam memegang kedua puncak bahu Naya. “Kamu kenapa?”

“Kak…” Naya menatap kedua netra Addam. Bulir air mata tampak menggenangi pelupuk matanya.

Seperti kehabisan tenaga untuk berbicara, Naya hanya menoleh ke arah paket itu dan Addam segera mengikuti arah pandangan Naya.

Sama seperti Naya, Addam juga langsung merasa déjà vu kala melihat kotak berwarna coklat itu. Raut wajahnya menjadi tegang seolah mengatakan betapa ia sangat tak menyukai keberadaan benda itu.

Dengan raut wajah tegang itu, Addam dengan ragu meraih paket itu untuk memastikan keraguannya. Dan betapa terkejutnya Addam kala ia melihat nama pengirim itu sama dengan yang pernah menanam keresahan dalam diri mereka berdua.

#

Atas permintaan Naya, Addam lalu membuka paket itu yang rupanya berisi sebuah kartu memori. Tak bisa dipungkiri bahwa mereka berdua sangat gelisah memikirkan data apa yang ada dalam kartu memori itu.

Dengan perasaan cemas, Addam memasang kartu memori itu pada ponselnya untuk menuntaskan kecemasan mereka.

#

Ponsel Mahesa bergetar sebentar ketika ia tengah menyeruput semangkuk mie pedas di warung langganannya. Tanpa ragu Mahesa merogoh ponselnya untuk melihat pesan yang baru saja masuk itu.

“Hm? Apa lagi, nih?” gumam Mahesa sesaat sebelum membuka pesan yang diterimanya dari Addam.

Beberapa saat setelah ia menatap layar ponselnya, pria itu tiba-tiba tersedak dan terbatuk namun ia tetap mencoba meneruskan tayangan itu hingga selesai.

Dari pesan yang Addam kirim padanya, Mahesa bisa menduga bahwa Astrid tengah berada dalam situasi yang membahayakan akal sehatnya.

Video yang dikirimkan Addam menunjukkan keadaan Astrid yang diikat pada sebuah kursi besi dalam sebuah ruangan yang seluruhnya berwarna putih. Mulai dari lantai, dinding, hingga langit-langitnya, semuanya berwarna putih tanpa ada perabotan apapun sehingga mirip seperti ruangan isolasi.

Mahesa menggulir layar ponselnya dan mencoba terhubung dengan Addam.

“Dam?!”

Di sebrang sana, Addam menjawab panggilan Mahesa dengan suara gemetar. “Sa… Please, gue harus gimana…?”

#

Hal penting yang selalu Mahesa terapkan dalam sistem kerjanya adalah selalu tenang dan tidak boleh mudah terprovokasi.

Karena itu juga lah Mahesa mencoba menenangkan Addam dan meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Dam, lo percaya sama adek lo, kan? Dia kuat, dia pasti bisa bertahan sampai kita temuin dia. Percaya sama dia, Dam…” kata Mahesa walaupun dirinya sendiri kesusahan mengatur gejolak aneh dalam dadanya.

Saat itu Addam tak kuasa lagi menahan tangisnya memikirkan betapa beratnya penderitaan yang harus dialami Astrid. Di dalam tempat tinggal Naya, Addam terus terisak sambil membekap mulutnya dengan kedua tangan.

“Kak Addam…” Naya menyodorkan segelas air putih pada Addam.

“Thank you, Nay.” Addam menyedot ingus.

Air putih yang Naya berikan lalu segera diteguknya perlahan.

Addam akui bahwa saat itu ia masih sangat ingin meluapkan emosinya dengan menangis sekencang yang ia bisa. Tapi ia sadar, ia harus tetap menjaga kewarasannya.

“Nay… Aku masih punya utang ya ke kamu…” kata Addam sambil menaruh gelas.

“Hm? Utang apa, Kak?” kedua alis Naya tertaut. Seingatnya Addam tak pernah meminjam apapun dirinya.

“Tadi malem waktu kita di bis, aku bilang aku mau cerita ke kamu, Nay. Kamu inget yang aku tiba-tiba kebangun pas abis nerima telpon?” Addam menatap Naya sebentar lalu mengalihkan pandangannya pada dinding yang sepi.

Naya tak langsung menjawab ucapan Addam. Gadis itu hanya terdiam tapi binar matanya jelas sekali tengah menantikan pria di hadapannya mengatakan lebih banyak hal.

“Waktu itu... Emang ada yang nelpon ke hp-ku tapi nomornya dirahasiain. Pas aku jawab, yang aku denger itu suara Astrid, lemes banget, Nay. Dia juga minta tolong...” ungkap Addam dengan suara gemetar.

“Ya Tuhan...” Naya sangat terkejut. Kedua matanya melotot dan tangannya spontan mulutnya yang menganga.

“Astrid bakal baik-baik aja kan, Nay...?” ringis Addam. Kali ini pria itu memeluk lutunya dan tak kuasa lagi menahan derai air mata.

Naya hanya menepuk pundak Addam. Sejujurnya, ia ingin mengatakan satu atau dua kalimat yang mungkin bisa menenangkan pria di hadapannya, tapi entah kenapa saat itu Naya merasa jalur nafasnya mendadak tercekat sehingga tidak ada kata yang terucap.

Tapi dalam hatinya, Naya yakin bahwa Astrid pasti akan baik-baik saja, ia tahu bahwa Astrid bukanlah orang lemah yang mudah menyerah.

1
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!