NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Misteri / Detektif
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Pendengar Tersembunyi

Saat itu, Naya menunjukkan sebuah foto tangkapan layar yang berisi percakapan pesan antara Annie dengan Alden.

Annie || Mas Eko sih blm lama kerja, Pak. Mgkin baru dua minggu,

Alden || Walah. jadi dia orang baru jg?

Annie || Betul, Pak. Tapi saya pikir Mas Eko bukan org yang spt itu...

Alden || Hmmmmm... okokkk.. Km jgn bilg siapa2 dulu y Ann, apalagi Naya. Takut dia sungkan ke si mas Eko nya..

Annie || siap, Pak..

Disusul pesan terusan dari Alden berupa sebuah foto.

Foto itu menampilkan secarik kertas yang berisi tulisan tangan:

Nayana, teman dekat penulis Astrid.

Tinggal di Jakarta, Jalan Panjang, Kost Hj. Utami 5 lt 2

Makanan favorit : ayam pop, katsu.

Minuman favorit : es americano, matcha latte

Hobi fotografi, baca buku.

Kemudian terdapat pesan yang Annie kirim untuk Naya.

Annie || “Nay, aku gak tahan gak ceritain ini ke kamu.”

“Aneh banget, Nay. Siapa si ‘Eko’ itu?” tanya Addam segera.

“Dia office boy baru di kantorku, Kak...” kata Naya dengan raut wajah yang tampak gelisah.

Mahesa berdecak. “Kita simpen dulu temuan ini buat dibahas nanti ya, Nay? Dam? Jujur gue pusing kalau semuanya barengan gini,”

Addam dan Naya bertatapan sebentar, lalu keduanya terlihat sama-sama mengangguk.

Mahesa lalu berjalan mendekati papan tulis ala detektifnya dan menulis dua baris kalimat singkat di sana.

Hasil penyelidikan Martin & Irvan

Hal aneh dari Eko

“Oke. Kita balik dulu ke pembahasan awal, soal Martin.” Mahesa kini kembali duduk melingkar bersama Addam dan Naya. “Menurut gue, kemungkinan besar Martin hidup dengan identitas palsu yang direkayasa.”

“Maksud lo?” kedua alis Addam tertaut, ia jelas merasa sangat keheranan.

“Nih, ya. Satu, secara teknis, Martin udah dinyatakan meninggal, jadi dia gak mungkin bisa beraktifitas pakai nama itu. Kedua, untuk bisa beraktifitas lagi, dia harus punya identitas baru, sesederhana bikin rekening misal, kan mesti punya KTP. Gak mungkin kan data orang udah meninggal dipakai buat buka rekening baru, ya kan?”

Seketika itu juga ketiga orang di ruangan itu saling berbalas tatapan penuh arti.

“Kak. Nyambung gak sih sama Irvan yang identitasnya gak jelas?” tanya Naya ragu.

“Hm? Irvan?” Mahesa menatap Naya mencari jawaban dari kedua netranya.

“Ini cocoklogi aku aja, Kak...” Naya menyerahkan sebuah buku catatan pada Mahesa.

“Itu data yang kita dapet waktu ke kampung si Irvan kemarin, Sa,” kata Addam ketika melihat Mahesa menerima buku yang diberikan Naya.

“Oooh...” Mahesa mengangguk sambil membuka buku itu.

Setiap kalimat yang tertulis di sana dibacanya dengan seksama.

Raut wajah serius Mahesa lalu berubah menjadi tawa kecil yang justru terasa dingin, jauh dari kata gembira. “Hahah... Gila...”

“Ini harusnya masuk penyelidikan resmi, Dam, Nay...!” kata Mahesa tegas.

Addam dan Naya terlihat hanya saling bertatapan karena mereka berdua bingung memberi jawaban untuk ucapan Mahesa barusan.

“Dam. Gue izin laporin info ini ke atasan gue, ya?”

Addam mengangguk cepat. “Tentu aja, Sa. Semoga usaha kita bisa berguna...” Addam melirik ke arah Naya.

#

Lalu pada keesokan harinya, tibalah jadwal Naya untuk bekerja ke kantor. Sesampainya Naya di tempat kerjanya, Annie langsung mendekatinya karena ia melihat ada sesuatu yang salah dengan Naya.

“Nay. Kamu begadang? Ya ampun…”

Saat itu, netra coklat muda Naya memang terbingkai kelopak yang terlihat lebih gelap dari biasanya.

Naya menghela nafas. “Aku kebangun-kebangun mulu, Ann. Susah banget tidur aku…”

Di ruang kerja yang masih sepi itu, Annie tampak akan memperpanjang obrolan pagi mereka berdua.

Annie menyeret kursi hingga mereka duduk berhadapan, setelahnya ia baru kembali melanjutkan ucapannya.

“Nay… Sorry… Gara-gara aku ngirim chat itu, ya, kamu jadi gak bisa tidur…?” tanya Annie dengan raut wajah sendu.

“Bukan, Ann… Bukan karena itu… Aku lagi keinget adekku aja, di kampung, katanya lagi sakit,” Naya berbohong.

Padahal, beban pikiran yang menggulung dan tak pernah ia ceritakan pada orang lain itu lah yang beberapa hari ini terus mengganggu siklus tidur Naya.

Alur penyelidikan yang sangat panjang dan berkelok, kekhawatiran tentang kondisi Astrid yang sampai sekarang belum menemui titik terang, hal-hal rumit itu merangsek masuk memenuhi isi kepala Naya.

“Ya ampun...” Annie menutup mulutnya yang membuka lebar. “Semoga adik kamu cepet sembuh ya, Nay...”

“Iya, Ann. Makasih... Oh iya, kan. Aku jadi keingetan. Semalem gimana ceritanya Pak Alden nemuin catetan itu, Ann?”

Setelah Naya melontarkan pertanyaan itu, Annie tampak menggeser kursinya mendekati Naya dan mencondongkan tubuhnya.

“Gini, Nay. Kata Pak Alden, dia kan nitip beli barang sama Mas Eko, terus catetan itu tuh jatuh dari kantongnya Mas Eko waktu si Mas Eko mau ngasih struk belanja punya Pak Alden. Si Pak Alden sempet mau balikin, tapi ditolak sama Mas Ekonya, katanya dia gak butuh. Pak Alden kira mungkin si Mas Eko enggak ngeuh sama kertas itu, karena ngegulung sama struk belanja pribadinya si Mas Eko,” jelas Annie dengan suara yang sangat pelan, nyaris berbisik.

“Hm...” Naya keheranan. “Kok gitu, ya, Ann? Maksud aku, dia punya masalah apa sampai nyimpen data pribadi aku?”

Annie lalu terdiam tapi raut wajahnya menyiratkan ada hal lain yang tengah disusun dalam kepalanya.

“Nay. Kamu gak tahu kalau katanya si Mas Eko naksir sama kamu?” Annie menatap dalam kedua netra coklat Naya.

“Ya ampun... Ann?! Kamu kenapa ngomongnya begitu? Gosip dari mana itu, hey?!” Naya sangat terkejut mendengar ucapan Annie yang benar-benar nyeleneh dan diluar dugaannya.

“Nah... Justru aku mau memperjelas misteri aneh ini, Nay. Waktu kamu gak masuk kemarin, si Mbak Dela cerita ke aku kalau Mas Eko ngomongin kamu terus di ruangan mereka,” kata Annie masih dengan nada suara dan posisi duduk yang sama.

“Ngomongin aku gimana?!”

“Katanya gini, ‘Bu Naya itu lho, cakep banget, ya? Gimana ya caranya biar jadi pacarnya Bu Naya...’ Gitu, Nay...! Terus sama si Mbak Dela dijawab gini, ‘ya saya sahutin aja, eh, jamblang kebon! Kalo ngomong mulutnya kagak dijaga. Mbak Naya tuh seleranya bukan orang setengah kayak kamu!” Annie tergelak. “Emang kadang ya si Mbak Dela tuh. Kalau ngomong suka jarang difilter.”

Sama seperti Annie, Naya juga tampak mengulum senyum menahan tawa. “Ann. Aku malah gak kuat lihat kamu niruin si Mbak Dela ngomong...”

“Ya elah... Eh tapi, Nay. Kata aku juga kamu mending cari cowok. Ya... Biar gak ada yang kegenitan sama kamu, Nay...” Annie menatap Naya dengan tatapan yang mudah diartikan.

Sementara itu, Naya tampak memanyunkan bibirnya. “Gue masih males... Nanti kalau ketiduran mesti minta maaf, belum cemburu-cemburuannya,”

Annie berdecih. “Justru serunya disitu, Nay. Coba, cowok fiksi kamu ada yang bisa diajak berantem? Enggak, kan? Gak asik.”

“Ya nanti deh nanti. Gue lagi nyari yang 3T,” Naya mengerlingkan matanya.

“3T?” dahi Annie mengkerut.

“Tampan. Tajir. Tinggi.”

“Buset...!”

Naya dan Annie lalu terlihat tertawa bersama-sama karena mereka berdua merasa tergelitik atas ucapan Naya barusan.

Tapi yang tidak mereka berdua sadari, terdapat sebuah benda kecil dengan lampu merah yang terus mengedip menempel di bawah meja di belakang Annie.

Melalui alat itu, semua percakapan mereka bisa terdengar jelas oleh seseorang yang terkoneksi dengan benda mungil itu.

1
Melissa McCarthy
sukaaaaa
nurul supiati
tegang tegang fiks sih si martin yg jdi psikopetnya 😭🤣
nurul supiati
wahhh kek nya alden deh sih menurut akuuu mah...
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!