Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
PERBINCANGAN TENTANG UANG PANAI DAN ERANG-ERANG
Hari Rabu malam, suasana di rumah Khatulistiwa hangat dan penuh kedamaian. Kedua keluarga – keluarga Tenggara (Bapak Daeng Raja, Ibu Yuliana, Nenek Fatimah, Kakek Sulaiman) dan keluarga Khatulistiwa (Ayah Arif, Ibunda Senja, Kakak Sagara) – berkumpul di ruang tamu yang dihiasi dengan kain songket merah dan emas. Mereka telah menyelesaikan makan malam dan kini siap membahas hal penting terkait persiapan pernikahan: uang panai dan erang-erang.
Bapak Daeng Raja sebagai pihak laki-laki membuka pembicaraan dengan penuh rasa hormat. "Menurut adat kita, sebelum memasuki tahap persiapan pernikahan yang lebih mendalam, kita perlu menyepakati mengenai uang panai dan erang-erang. Ini bukan hanya tentang angka atau barang, namun simbol penghormatan dan kesiapan kita sebagai keluarga untuk menerima Khatulistiwa menjadi bagian dari keluarga kita."
Ayah Arif mengangguk dengan pemahaman. "Kami sangat memahami makna filosofis di balik kedua tradisi ini. Sebagai keluarga pihak perempuan, kami juga ingin memastikan bahwa kedua tradisi ini dilaksanakan dengan penuh rasa hormat dan sesuai dengan nilai-nilai budaya kita."
Mengenai Uang Panai
Nenek Fatimah yang memiliki pengalaman dalam urusan adat mengambil alih pembicaraan. "Dalam tradisi kita, uang panai memiliki makna sebagai 'bekal' bagi calon istri untuk memasuki kehidupan baru. Besarannya tidak hanya menunjukkan kemampuan finansial, namun juga rasa hormat pihak laki-laki kepada keluarga perempuan."
Bapak Daeng Raja kemudian menyampaikan usulan dari pihak mereka. "Setelah melakukan musyawarah dengan keluarga besar, kami ingin mengajukan uang panai sebesar 250 juta rupiah. Jumlah ini kami tentukan berdasarkan pertimbangan status keluarga, pendidikan kedua mempelai, dan juga sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan keluarga kalian dalam mendidik Khatulistiwa menjadi anak yang baik."
Ia melanjutkan penjelasannya. "Sebagian besar uang panai akan kami berikan dalam bentuk tunai, sementara sisanya akan kami salurkan untuk membiayai pembuatan pakaian adat bagi keluarga Khatulistiwa dan untuk keperluan upacara adat yang akan dilaksanakan sebelum pernikahan."
Ayah Arif terdiam sejenak sebelum memberikan tanggapan. "Kami menghargai usulan tersebut. Jumlahnya memang sesuai dengan tradisi dan tidak memberatkan pihak kalian. Namun, kami ingin mengajukan permintaan kecil – sebagian uang panai kami ingin dialokasikan untuk mendirikan unit usaha kecil bagi Khatulistiwa dan Tenggara, sesuai dengan impian mereka untuk mengembangkan usaha kerajinan dan makanan tradisional."
Ibu Yuliana langsung menyambut ide tersebut dengan senang hati. "Itu adalah ide yang sangat bagus. Sebenarnya kami juga telah merencanakan hal serupa. Kita bisa menyepakati bahwa 50 juta rupiah dari uang panai akan dialokasikan sebagai modal usaha bagi kedua mempelai. Sisanya bisa digunakan untuk keperluan acara pernikahan dan kebutuhan keluarga Khatulistiwa."
Kedua keluarga sepakat dengan keputusan tersebut, menyadari bahwa ini akan menjadi dasar yang kuat bagi masa depan kedua mempelai.
Mengenai Erang-Erang
Ibu Yuliana kemudian membuka pembicaraan tentang erang-erang. "Erang-erang adalah bentuk seserahan pribadi dari Tenggara kepada Khatulistiwa, yang menunjukkan kesiapannya dalam memenuhi kebutuhan hidup calon istri. Kami telah menyusun daftar barang yang akan kami sediakan."
Dia mengeluarkan sebuah daftar tulisan tangan yang telah disiapkan dengan cermat:
- Perhiasan: Kalung emas dengan liontin siger (pusaka keluarga), gelang batu akik merah dari daerah Maros, anting berlian kecil, dan cincin tunangan yang telah diberikan sebelumnya.
- Perlengkapan Rumah Tangga: Lemari pakaian kayu ulin yang diukir dengan motif tradisional, set alat masak perunggu, mesin jahit baru, serta perlengkapan mandi dan kamar mandi yang dibuat dari bahan alami.
- Barang Tradisional: Sembilan jenis buah-buahan khas Sulawesi Selatan (tebu, ta’, alosi, kelapa, pisang, nangka, jambu air, durian, dan mangga) yang masing-masing melambangkan kemakmuran, kesuburan, dan kebahagiaan.
- Tambahan Khusus: Sebuah mesin tenun mini untuk Khatulistiwa, yang akan diberikan bersama dengan benang-benang berkualitas tinggi dari daerah Tana Toraja, serta buku panduan tenun yang ditulis langsung oleh Nenek Fatimah.
Ibunda Senja melihat daftar tersebut dengan kagum. "Ini sangat lengkap dan penuh makna. Kami sangat menghargai perhatian yang kalian berikan kepada Khatulistiwa."
Namun, Ibunda Senja juga mengajukan sebuah permintaan khusus. "Menurut adat keluarga kita, kami ingin erang-erang juga menyertakan sepasang kerbau kecil yang akan kami pelihara dan nantinya digunakan untuk membantu pekerjaan di ladang atau sebagai hewan sakral dalam acara adat. Ini bukan karena kita ingin meminta banyak, namun sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran bagi rumah tangga baru mereka."
Bapak Daeng Raja langsung mengangguk setuju. "Itu bukan masalah sama sekali. Malahan akan menjadi tambahan yang sangat bermakna dalam erang-erang kita. Kami akan menyediakan sepasang kerbau yang sehat dan telah diberi nama sesuai dengan tradisi."
Penutup dan Kesepakatan
Setelah melakukan diskusi yang hangat dan penuh rasa saling menghargai, kedua keluarga menyepakati keseluruhan rincian uang panai dan erang-erang:
- Uang Panai: 250 juta rupiah, dengan alokasi 50 juta untuk modal usaha, 100 juta untuk keperluan acara pernikahan, dan 100 juta untuk keluarga Khatulistiwa.
- Erang-Erang: Akan diserahkan dalam bentuk 12 jenis seserahan yang akan dibawa oleh 12 orang gadis dari keluarga Tenggara, dengan penambahan sepasang kerbau sesuai permintaan keluarga Khatulistiwa.
- Waktu Penyerahan: Akan dilakukan dua minggu sebelum hari pernikahan, dalam upacara adat khusus yang akan dihadiri oleh sesepuh dari kedua keluarga dan tokoh masyarakat.
Kakek Sulaiman yang belum banyak bicara akhirnya membuka mulut dengan suara yang penuh hikmat. "Semua yang kita bahas hari ini bukan hanya tentang uang atau barang. Ini adalah janji kita sebagai keluarga untuk selalu menjaga hubungan yang baik dan mendukung kedua anak kita dalam membangun rumah tangga yang bahagia dan penuh dengan nilai-nilai budaya kita."
Ayah Arif mengangguk dengan penuh rasa hormat. "Kami sangat setuju. Semoga dengan adanya kesepakatan ini, pernikahan mereka akan menjadi awal dari hubungan yang erat antara kedua keluarga dan menjadi contoh bagi generasi muda tentang pentingnya menghormati tradisi dan budaya kita."
Tenggara dan Khatulistiwa yang telah duduk diam mendengarkan perbincangan kedua keluarga merasa sangat bersyukur. Mereka melihat bagaimana kedua keluarga mereka bekerja sama dengan baik untuk menyusun setiap detail dengan penuh rasa hormat dan cinta.
"Saya berjanji akan selalu menghargai dan menjaga segala yang telah diberikan oleh kedua keluarga kita," ucap Tenggara dengan suara penuh komitmen.
Khatulistiwa mengikuti dengan lembut. "Saya juga berjanji akan menjadi istri yang baik dan selalu menghormati tradisi serta keluarga besar kita."
Malam itu diakhiri dengan minuman hangat dan doa bersama, dengan harapan bahwa semua persiapan akan berjalan lancar dan pernikahan mereka akan menjadi acara yang penuh berkah dan makna. Kedua keluarga saling berpelukan dengan penuh cinta, menyadari bahwa mereka telah menjadi satu keluarga besar yang akan selalu saling mendukung dan mencintai satu sama lain.