NovelToon NovelToon
ASLAN VALERION

ASLAN VALERION

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Penyelamat / Sistem
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: HUUAALAAA

Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Aslan berdiri di balkon yang menghadap ke arah lembah bersalju. Cahaya biru dari inti benteng yang terpantul di dinding batu memberikan kesan mistis pada wajahnya. Ia sedang memperhatikan grafik proyeksi pemulihan energi yang melayang di sudut matanya.

[Sistem: Pemulihan Saraf Pengguna mencapai 42%. Kondisi mental: Stabil tapi memerlukan jeda istirahat yang lebih lama.]

Langkah kaki yang ringan terdengar dari arah koridor. Aslan tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Getaran langkah itu sudah dikenali oleh sensor sistemnya sebagai Jenderal Elara.

"Kau masih di sini," ucap Elara sambil menyampirkan jubah bulu tambahan ke bahu Aslan.

"Aku sedang menghitung berapa lama waktu yang kita punya sebelum Kael mengirim pasukan pengejar yang lebih besar," jawab Aslan sambil merapatkan jubah tersebut.

Elara berdiri di sampingnya. Bahu mereka bersentuhan secara tidak sengaja. Ia menatap profil samping Aslan yang terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan saat mereka pertama kali bertemu di perbatasan.

"Kau selalu bicara soal hitungan dan probabilitas," kata Elara dengan suara yang sedikit lebih lembut. "Apakah ada satu waktu di mana kau hanya melihat bintang tanpa memikirkan koordinat serangannya?"

Aslan terdiam sejenak. Ia mematikan antarmuka sistem yang menutupi pandangannya. Langit malam di atas pegunungan salju terlihat sangat jernih.

"Sulit untuk melakukannya saat nyawa ribuan orang bergantung pada ketepatanku dalam mengambil keputusan," balas Aslan pelan.

Elara memutar tubuhnya menghadap Aslan. Ia menarik tangan pria itu dan menggenggamnya erat. Tangan Aslan terasa dingin tapi stabil.

"Nyawa kami memang ada di tanganmu, tapi bukan berarti kau harus berhenti menjadi manusia," ucap Elara. "Kau adalah raja kami, tapi bagiku, kau adalah Aslan yang aku temui di tengah hutan itu."

[Sistem: Detak jantung subjek Elara meningkat secara konstan. Tingkat kasih sayang terdeteksi pada level maksimal. Rekomendasi: Berikan respon afirmatif untuk menjaga stabilitas aliansi emosional.]

Aslan menatap mata Elara. Ia bisa melihat pantulan dirinya di sana. Gadis itu tidak takut pada kekuatan aneh yang ia miliki. Elara justru takut jika kekuatan itu akan melahap kemanusiaan Aslan.

"Aku sering merasa seolah aku hanyalah bagian dari mesin ini, Elara," aku Aslan dengan jujur. "Setiap keputusanku dipandu oleh logika yang tidak menyisakan ruang untuk kesalahan."

"Maka biarkan aku menjadi ruang kesalahan itu," sahut Elara tanpa ragu. "Jika logika itu membuatmu menjadi dingin, maka biarkan aku yang menghangatkanmu."

Elara mendekatkan wajahnya. Hembusan napasnya yang hangat terasa di pipi Aslan. Ia tidak menggunakan teknik bertarung atau taktik perang kali ini. Ia hanya menggunakan perasaannya.

Aslan tidak menghindar. Ia menarik Elara ke dalam pelukannya. Aroma samar dari zirah dan salju yang menempel di rambut Elara terasa nyata. Ini adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dianalisis oleh sistemnya secara angka.

"Terima kasih sudah tidak membiarkanku sendirian di puncak ini," bisik Aslan di telinga Elara.

"Aku tidak akan pernah membiarkanmu sendirian," balas Elara sambil memejamkan mata. "Bahkan jika seluruh dunia memandangmu sebagai monster, aku akan tetap berdiri di depanmu sebagai perisaimu."

[Sistem: Sinkronisasi Emosional Berhasil. Status Mental Pengguna: Sangat Baik. Bonus Fokus Taktis diperoleh dari kondisi mental yang stabil.]

Mereka berdiri di sana cukup lama dalam keheningan yang nyaman. Badai salju di luar benteng seolah tidak lagi memiliki kekuatan untuk menembus kehangatan yang tercipta di antara mereka.

"Besok kita harus pergi ke Barat," kata Elara setelah melepaskan pelukannya, meski tangannya masih tetap menggenggam tangan Aslan.

"Ya. Tambang Kristal itu sangat penting. Tapi malam ini, aku akan mengikuti saranmu," jawab Aslan sambil tersenyum tipis.

"Saran yang mana?" tanya Elara dengan nada menggoda.

"Hanya melihat bintang tanpa memikirkan taktik serangan," ucap Aslan.

Elara tertawa kecil. Suaranya terdengar merdu di tengah aula yang sepi. Mereka berjalan kembali ke dalam benteng dengan langkah yang selaras.

Di ruang strategi, Si Tangan Besi dan Jax sedang memeriksa beberapa peta baru. Mereka segera berhenti saat melihat Aslan dan Elara masuk bersamaan. Ada suasana yang berbeda dari kedua pemimpin mereka.

"Pangeran, Jenderal, kami sudah memetakan jalur tikus menuju Tambang Barat," lapor Jax sambil membentangkan peta kulit.

"Simpan itu untuk rapat besok pagi, Jax," potong Elara dengan tegas tapi ramah. "Malam ini adalah waktu untuk beristirahat. Pastikan semua prajurit mendapatkan jatah sup hangat ekstra."

Si Tangan Besi mengedipkan mata ke arah Jax yang tampak bingung. "Siap, Jenderal. Kami mengerti. Sepertinya mesin uap di sini memang sedang butuh waktu untuk mendingin sejenak."

Aslan hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah bawahannya. Ia duduk di kursi besarnya sambil memperhatikan Elara yang mulai mengatur logistik malam dengan penuh wibawa.

[Sistem: Analisis Struktur Kekuatan Baru Selesai. Unit Liberator tidak hanya terikat oleh kontrak, tapi oleh loyalitas personal yang mendalam kepada Pengguna dan Elara sebagai figur sentral.]

Aslan menyadari bahwa hubungannya dengan Elara bukan hanya soal asmara. Ini adalah fondasi dari kerajaan baru yang sedang ia bangun. Tanpa Elara, ia mungkin sudah menjadi diktator yang haus darah sejak lama.

Malam itu, di dalam Benteng Inti yang hangat, Aslan akhirnya bisa tidur tanpa terus-menerus memantau simulasi pertempuran. Ia tahu bahwa saat fajar menyingsing nanti, ia akan memiliki kekuatan penuh untuk menghadapi apa pun yang dikirim oleh Kael.

Pagi harinya, suasana markas sudah kembali sibuk. Aslan berdiri di depan para perwiranya dengan pandangan yang jauh lebih jernih. Elara berdiri di sisi kanannya, mengenakan zirah perang yang sudah dibersihkan.

"Tujuan kita adalah Tambang Kristal di wilayah Barat," Aslan memulai penjelasannya. "Kael sangat bergantung pada tambang itu untuk memasok energi ke seluruh persenjataan sihirnya. Jika kita mengambil tambang itu, kita memutus urat nadi militer mereka."

"Tapi tambang itu dijaga oleh Jenderal Zarek, spesialis pertahanan benteng," Lord Hektor mengingatkan.

"Zarek adalah pria yang kuno. Dia terlalu percaya pada tembok tebal dan parit yang dalam," balas Aslan. "Dia tidak akan menyangka kita akan menyerang dari bawah tanah menggunakan teknologi bor uap milik Si Tangan Besi."

Si Tangan Besi menyeringai lebar. "Alatnya sudah siap, Pangeran. Kita bisa menembus dinding pertahanan mereka dalam waktu kurang dari satu jam tanpa mereka sadari."

"Bagus. Jax, kau akan memimpin unit pengalih perhatian di gerbang utama bersama Elara," lanjut Aslan.

Elara mengangguk. "Aku akan memastikan Zarek memusatkan seluruh pasukannya di gerbang depan."

"Dan aku akan masuk bersama Si Tangan Besi dan Unit Liberator melalui jalur bawah tanah untuk mengamankan inti tambang," tegas Aslan.

[Sistem: Rencana Penyerangan Tambang Barat Terdaftar. Estimasi Keberhasilan: 89%. Memulai persiapan logistik tempur.]

Aslan menatap Elara untuk terakhir kalinya sebelum mereka berpencar ke unit masing-masing. Elara memberikan sebuah penghormatan singkat dengan memegang hulu pedangnya, tapi matanya memberikan janji bahwa ia akan kembali dengan selamat.

Rombongan perang itu pun mulai bergerak turun dari Pegunungan Salju. Kali ini, mereka bukan lagi sekadar pelarian yang mencoba bertahan hidup. Mereka adalah badai yang akan menghancurkan fondasi kekuasaan Kael mulai dari wilayah Barat.

Pasukan mencapai perbatasan lembah Barat saat matahari mulai condong ke ufuk. Tambang Kristal terlihat seperti raksasa beton yang tertanam di lereng gunung. Puncak menaranya dipenuhi oleh pemanah dan beberapa meriam sihir yang bersiaga.

"Mereka sudah menutup gerbang utama," lapor Jax sambil menurunkan teropongnya.

"Sesuai prediksi," sahut Elara. "Mereka akan sangat waspada karena laporan kekalahan Malphas pasti sudah sampai."

Aslan menoleh ke arah Si Tangan Besi yang sedang memeriksa mesin bor uap raksasa di belakang barisan. Mesin itu ditutupi kain terpal tebal untuk menghindari deteksi pengintai musuh.

"Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk mulai menggali?" tanya Aslan.

"Sepuluh menit untuk sinkronisasi uap. Setelah itu, kita akan menghilang di bawah tanah," jawab Si Tangan Besi dengan penuh percaya diri.

Aslan menatap Elara. "Ini saatnya. Jangan terlalu dekat dengan jangkauan meriam mereka."

"Aku tahu batasanku, Aslan. Jangan membuatku merasa seperti prajurit baru," Elara tersenyum sambil mengenakan helm perangnya.

Pasukan Serigala Perak mulai bergerak maju. Suara genderang perang mereka bergema di seluruh lembah, memancing perhatian para penjaga di atas tembok. Jenderal Zarek segera muncul di balkon pertahanan tertinggi.

"Serang mereka! Jangan biarkan tikus-tikus itu mendekati gerbang!" teriak Zarek dari kejauhan.

Hujan anak panah mulai turun menyambut kavaleri Elara. Namun, Elara memimpin pasukannya dengan formasi kura-kura yang sangat rapat. Mereka hanya bergerak melingkar di luar jangkauan tembakan utama.

[Sistem: Pengalihan berhasil. Fokus pertahanan musuh beralih 90% ke gerbang utama. Tekanan bawah tanah minimal.]

"Ayo masuk," perintah Aslan kepada Si Tangan Besi.

Mesin bor mulai menderu pelan. Mata bor logam raksasa itu berputar dan melahap tanah dengan kecepatan yang mengagumkan. Aslan, Si Tangan Besi, dan sepuluh anggota Unit Liberator melompat ke dalam kompartemen pengangkut di belakang bor.

"Getarannya cukup kuat di sini," bisik Jax yang ikut dalam tim infiltrasi.

"Tahan napasmu. Kita akan melewati lapisan granit dalam tiga menit," sahut Si Tangan Besi sambil mengendalikan tuas tekanan uap.

Aslan memejamkan mata. Di dalam kegelapan lubang galian, antarmuka sistemnya menampilkan peta struktur bawah tanah tambang yang terus diperbarui.

[Sistem: Mendeteksi struktur pondasi ruang kontrol inti di depan. Jarak 50 meter. Mengaktifkan peredam suara uap.]

Tiba-tiba, suara benturan logam keras terdengar. Bor mereka menghantam sesuatu yang sangat padat. Seluruh kompartemen berguncang hebat hingga beberapa prajurit terlempar dari tempat duduknya.

"Apa yang terjadi?" tanya Aslan dengan nada tenang namun tajam.

"Kita menghantam pelat baja penguat. Zarek ternyata menanam baja di bawah fondasi!" Si Tangan Besi berkeringat deras sambil mencoba menyeimbangkan mesin.

[Sistem: Peringatan. Suhu mesin bor meningkat drastis. Risiko ledakan pipa uap 30%. Rekomendasi: Tingkatkan tekanan pada poros kiri untuk memutar pelat baja.]

Aslan segera meletakkan tangannya di atas panel kontrol utama, membantu Si Tangan Besi. "Berikan tekanan penuh pada poros kiri. Sekarang!"

Mesin itu menjerit karena tekanan tinggi, tapi mata bornya berhasil menggeser pelat baja tersebut. Dengan satu hantaman terakhir, mereka menembus lantai batu ruang kontrol tambang.

Debu putih memenuhi ruangan saat pintu kompartemen bor terbuka. Aslan adalah yang pertama melompat keluar dengan pedang yang sudah terhunus. Dua orang operator kristal di dalam ruangan itu bahkan tidak sempat berteriak sebelum dilumpuhkan.

"Amankan semua panel kontrol! Jangan biarkan mereka memutus aliran energi ke meriam di atas!" perintah Aslan.

[Sistem: Akses kontrol inti didapatkan. Memulai sabotase sistem pertahanan tembok luar.]

Di luar tambang, Zarek kebingungan saat melihat meriam-meriam sihirnya tiba-tiba berhenti berpendar. Moncong meriam itu menunduk lemas seolah kehilangan tenaga.

"Kenapa meriamnya mati?! Cepat periksa ruang kontrol!" teriak Zarek dengan panik.

Elara melihat tanda yang sudah disepakati. Sebuah sinyal asap biru keluar dari lubang ventilasi tambang. Ia menarik pedangnya tinggi-tinggi ke udara.

"Mereka sudah di dalam! Serigala Perak, hancurkan gerbangnya sekarang!" seru Elara dengan suara yang menggelegar.

Gerbang utama yang tadinya sangat kokoh kini kehilangan pengunci sihirnya. Tanpa perlindungan energi, kayu raksasa itu hancur saat dihantam oleh mesin pendobrak kavaleri Elara.

Aslan berjalan di koridor tambang yang dipenuhi cahaya kristal mentah. Ia menuju ke ruang utama tempat Jenderal Zarek biasanya berada. Langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai logam.

[Sistem: Mendeteksi Jenderal Zarek dan 20 pengawal elit di ruang depan. Persentase kemenangan: 98%.]

Zarek berdiri di depan pintu besi besar dengan pedang berat di tangannya. Wajahnya penuh amarah saat melihat Aslan muncul dari balik kepulan debu.

"Kau... pangeran sampah yang menghancurkan rencanaku," desis Zarek.

"Aku bukan penghancur rencana, Zarek. Aku adalah hasil dari semua kesalahan yang kau dan Kael lakukan," jawab Aslan sambil mengangkat pedangnya.

Pertarungan singkat pecah di dalam koridor sempit tersebut. Zarek menyerang dengan kekuatan besar, tapi gerakan Aslan terlalu presisi. Setiap tebasan Zarek dihindari dengan margin yang sangat tipis, diikuti oleh serangan balasan yang melumpuhkan sendi-sendi zirahnya.

[Sistem: Sinkronisasi Saraf 45%. Mengaktifkan mode serangan balik instan.]

Aslan memutar tubuhnya dan menendang dada Zarek hingga pria itu menabrak dinding kristal. Pedang Aslan menempel di leher Zarek sebelum pria tua itu bisa berdiri kembali.

"Menyerahlah, atau tambang ini akan menjadi kuburan kristalmu," ucap Aslan dingin.

Zarek menjatuhkan pedangnya dengan napas tersengal. Di luar, suara sorakan pasukan Elara menandakan bahwa seluruh tambang telah jatuh ke tangan Unit Liberator.

Elara masuk ke dalam ruangan beberapa menit kemudian dengan napas yang masih berburu. Ia melihat Aslan yang berdiri dengan tenang di tengah tawanan musuh. Ia melepaskan helmnya dan tersenyum tipis.

"Kerja bagus di bawah sana, Aslan," puji Elara.

"Kita mendapatkan kristalnya, Elara. Sekarang Kael akan benar-benar merasakan kegelapan tanpa energi sihir," jawab Aslan sambil menyarungkan pedangnya.

[Sistem: Misi Berhasil. Penguasaan Tambang Barat: 100%. Memulai prosedur ekstraksi kristal untuk pengisian ulang Benteng Inti Valerion.]

Aslan menatap tumpukan kristal biru yang berpendar di sekelilingnya. Kemenangan ini bukan hanya soal wilayah, tapi soal membalikkan keadaan perang yang selama ini tidak berpihak padanya.

1
anggita
mampir like👍aja Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!