💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Matahari pagi, seperti biasa, mencoba menyusup ke kamar Cia, tapi kalah telak oleh tirai tebal. Alarm di ponsel Cia sudah menjerit-jerit, memohon untuk dimatikan. Tapi Cia, sang pewaris jiwa bar-bar dari sang ibunya. Hanya menggeliat sedikit, lalu menarik kembali selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Argh, alarm berisik! Bisakah aku tidur dengan tenang barang lima menit saja?!" gerutunya dalam hati.
Namun, kedamaian kamar Cia segera terusik oleh suara pintu yang terbuka. Ratu muncul, mengenakan piyama sutra dengan ekspresi kesal yang serupa dengan Cia.
"Alicia Alexio Nugroho! Bangun sekarang juga!" seru Ratu, dengan nada yang membuat Cia merinding. "Kamu pikir ini hari libur! Ini hari pertama sekolah baru, jangan sampai telat?!"
"Ma ..." rengek Cia, membuka matanya sedikit. "Lima menit lagi, ya? Please?"
"Tidak ada lima menit! Kamu sudah telat! Cepat bangun, atau Mama sita semua koleksi action figure-mu!" ancam Ratu.
Ancaman pamungkas. Cia langsung duduk tegak, nyaris membentur kepala. "Oke, Ma! Cia bangun! Action figure jangan disentuh!"
Ratu menyeringai tipis, lalu berbalik. "Lima menit. Jangan buat kami menunggu."
Ratu berbalik dan keluar dari kamar, meninggalkan Cia yang menggerutu sambil berjalan ke kamar mandi. "Menyebalkan! Kenapa gue harus sekolah?! Kenapa gue tidak bisa tidur sepanjang hari?!"
"Kenapa dunia ini tidak mengerti? Kenapa dia harus sekolah? Kalau saja dia putri duyung, dia akan berenang bebas tanpa perlu alarm, tanpa perlu seragam!" lanjutnya sambil menyikat gigi.
Sementara Cia berjuang dengan kutukan pagi, di kamar lain, Vano sudah menyelesaikan pertempurannya. Seragamnya rapi sempurna, duduk tegak di meja belajar, membaca buku strategi bisnis setebal kamus. Ia adalah anti-tesis Cia: tenang, terencana, dan siap menaklukkan dunia.
"Vano, jika sudah siap cepat turun, sarapan sudah siap," suara Ratu terdengar dari depan pintu.
"Baik, Ma," jawab Vano, menutup bukunya dan berjalan keluar kamar.
Di kamar Varo, drama sedikit berbeda. Ia berdiri di depan cermin, menyempurnakan rambutnya. Penampilan adalah senjata baginya.
"Udah sangat tampan, Varo! Jangan lama-lama!" goda Ratu, membuka pintu.
"He he! Varo tahu itu, Ma!" balasnya, menyemprotkan parfum dengan aroma yang memabukkan. "Penampilan itu wajib! Kita harus memukau sekolah baru kita!"
***
***
***
Kini di ruang makan, triplets sudah berkumpul. Cia masih menguap, menahan kantuk. Vano tetap tenang, dan Varo tersenyum lebar.
"Selamat pagi, triple!" sapa Nathan, dengan menyunggingkan senyum tipisnya melihat anak-anaknya yang kini sudah tumbuh menjadi remaja yang tampan dan cantik.
"Pagi juga Pa!" jawab triplets serempak.
Ratu duduk di sisi kanan Nathan, ia menyesap susu coklat hangat kesukaannya. "Apa kalian yakin dengan keputusan kalian, untuk menyembunyikan identitas di sekolah nanti?" tanya Ratu memastikan.
"Ma, kita udah membahasnya berkali-kali loh! kami sudah sangat yakin!" jawab Varo tegas dan meyakinkan. "Kami hanya ingin merasakan kehidupan normal tanpa embel-embel apapun."
"Tapi kalian tahu risikonya," timpal Ratu. "Jika identitas kalian terungkap, semuanya akan berubah."
"Kami siap menghadapi risikonya, Ma," jawab Cia, sambil menyuapkan roti panggang ke mulutnya. "Lagipula, ini akan seru! Bayangkan saja, kita bisa membuat kekacauan tanpa ada yang tahu siapa kita sebenarnya!"
Ratu menggelengkan kepalanya. "Kamu ini benar-benar ..."
"Mempesona?" potong Cia, menyeringai. "Cia tahu, Ma. Cia memang tidak ada duanya!"
Nathan tertawa. "Sudah, sudah. Yang penting, kalian harus tetap berhati-hati. Jangan melakukan sesuatu yang bisa membahayakan diri kalian sendiri atau keluarga kita."
"Siap, Papa!" jawab triplets serempak.
"Dan ingat," tambah Ratu, matanya menatap Cia dengan serius. "Jangan berkelahi. Sekolah itu milik kita, jangan sampai kamu merusaknya."
"Tenang saja, Ma," jawab Cia, mengedipkan mata. "Aku akan berkelahi secara elegan dan profesional."
Nathan dan Ratu saling bertukar pandang. Mereka tahu, mereka tidak bisa mengubah pikiran anak-anak mereka. Mereka hanya bisa memantaunya dari jauh. Siap bertindak jika sesuatu terjadi pada tiga buah hatinya.
"Kalau begitu, semoga berhasil," kata Nathan, tersenyum. "Papa dan Mama akan selalu mendukung kalian, apapun yang terjadi."
"Makasih, Pa, Ma," jawab triplets, dengan nada tulus. Lalu Cia tersenyum manis pada Anggara dan Alissa yang baru bergabung di meja makan.
"Opa! Oma!" sapanya semangat, lalu bangkit dari kursinya memeluk sekilas keduanya bergantian. "Opa, Cia butuh tambahan uang jajan," bisiknya lembut. "Uang Cia sudah habis untuk beli action figure baru." lanjutnya dengan memasang wajah mengemaskan.
Anggara tertawa pelan, mencubit pipi Cia dengan gemas. "Tentu saja, sayang. Berapa yang kamu mau?"
"Daddy!" protes Ratu, menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir melihat drama putrinya itu.
"Biarkan saja," balas Anggara. "Lagian untuk siapa lagi Daddy menghabiskan uangnya kalau bukan untuk cucu-cucu Daddy!"
Alissa mengangguk setuju. Lalu dengan cepat ia merogoh saku celananya dan mengambil dompet. "Ini, Sayang. Belikan apa pun yang kamu suka." ujarnya dengan menyodorkan sepuluh lembar duit berwarna merah.
Cia menerima uang itu dengan mata berbinar. "Makasih, Opa! Makasih, Oma! Kalian memang yang terbaik!" cicitnya penuh kemenangan.
Tak lupa Cia mendaratkan kecupan sayang di pipi Opa dan Oma nya, lalu duduk di kembali di kursinya. Ratu dan Nathan hanya bisa pasrah melihat tingkah putri satu-satunya mereka.
Anggara kembali mengeluarkan sisa duit cas-nya yang ternyata hanya tersisa sepuluh lebar lagi. "Nih buat Vano dan Varo, kalian bagi dua aja!"
"Wah rejeki anak soleh emang nggak akan kemana!" kekeh Varo senang. "Thanks you Opa!"
Vano hanya memutar matanya. Melanjutkan sarapan dengan wajah datarnya tanpa ekspresi.
Setelah sarapan, triplets berpamitan dan berangkat ke sekolah barunya. Ketiganya memilih mengendarai motor masing-masing.
Selesai sarapan, triplets berpamitan. Di garasi, mereka menaiki motor masing-masing.
Metic merah Cia. Sport hitam Varo. Sport putih dengan aksen merah milik Vano.
"SMA Garuda, siap-siap!" seru Cia, menyeringai.
"Mimpi buruk dimulai," gumam Vano.
"Petualangan seru!" balas Varo, penuh semangat.
"Gue masih tidak percaya kita akan sekolah di sekolah milik kita sendiri," gumam Cintya malas. "Ini seperti mimpi."
"Mimpi buruk," koreksi Vano, datar.
"Ayolah, Vano," sahut Varo, tersenyum. "Ini akan menyenangkan! Kita bisa mencari teman yang tulus dengan identitas tersebunyi, belajar hal baru, dan menikmati masa remaja dengan bebas!"
"Dan membuat kekacauan," tambah Cia, menyeringai. "Jangan lupakan itu."
Varo tertawa. "Tentu saja tidak. Itu adalah bagian terpenting dari rencana ini."
Ketiga motor itu meraung, melaju menuju SMA Garuda. Di sana, mereka akan memulai sandiwara baru, merajut persahabatan, dan mungkin, menemukan cinta, atau patah hati. Siap atau tidak, SMA Garuda akan kedatangan triplets .
Bersambung ....