Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Keesokan paginya, Shelina terbangun dan mendapati sisi tempat tidur sudah kosong.
Ia bangkit perlahan.
Di ruang tengah, Kaisar sudah rapi. Kemeja putih, celana bahan gelap, rambut tersisir rapi seperti hendak menghadiri acara penting. Shelina menyandarkan tubuh di kusen pintu.
“Mau ke mana sepagi ini?”
Kaisar menoleh, tersenyum misterius.
“Aku mau ngajak kamu ketemu seseorang yang spesial.”
Alis Shelina langsung terangkat.
“Spesial?”
Nada suaranya berubah tipis.
“Siapa?”
“Kamu siap-siap dulu,” jawab Kaisar santai.
Shelina menyilangkan tangan di dada.
“Jangan bilang kamu mau kenalin aku ke mantan pacar kamu.”
Kaisar langsung menatapnya datar.
“Kamu kebanyakan nonton dracin.”
Shelina tertawa kecil.
“Ya siapa tahu.”
“Kehidupan aku nggak sedrama itu, Bu.”
Shelina berjalan mendekat, masih menyipitkan mata pura-pura curiga.
“Jadi siapa?”
“Nanti tahu.”
Shelina mendesah pelan tapi akhirnya masuk ke kamar untuk bersiap.
Beberapa menit kemudian, saat ia sedang memilih tas, ia kembali bertanya dari dalam kamar.
“Ngomong-ngomong…”
“Hm?” sahut Kaisar dari luar.
“Kita udah kepikiran belum soal hadiah pernikahan Kak Aksa? Empat bulan lagi loh.”
Kaisar terdiam sejenak, lalu tertawa kecil.
“Hadiah terbaik itu aku lulus dengan nilai terbaik.”
Shelina keluar kamar sambil menyisir rambutnya.
“Serius?”
“Iya, Kak Aksa nggak mau hadiah lain.”
Kaisar bersandar santai di meja makan.
“Dia udah kaya, Shel.”
Shelina mengerutkan kening.
“Iya sih…”
“Kak Aksa itu CEO perusahaan Pramudya. Pemilik satu-satunya perusahaan itu.”
Ia mengangkat bahu dramatis.
“Yang miskin itu aku.”
Shelina langsung memukul lengannya pelan.
“Lebay.”
Kaisar tertawa.
“Serius, waktu nikah, ke tiga kakak kembar aku juga nggak aku kasih hadiah aneh-aneh.”
Shelina mengernyit.
“Kakak kembar kamu itu yang satu CEO Trophy itu ya?”
“Iya, satu CEO Trophy, satu Direktur operasional, satu lagi Manager Keuangan.”
Kaisar menghela napas pura-pura berat.
“Semua kakak aku nggak ada yang kurang uang, Shelina. Hidup aku aja dibiayai sama mereka.”
Shelina tersenyum geli melihat ekspresinya.
“Kasihan banget ya suamiku.”
“Iya, jadi jangan banyak nuntut.”
Shelina tertawa lagi.
“Tapi serius, jadi kita kasih apa?”
Kaisar menatapnya lebih serius kali ini.
“Kak Aksa cuma minta aku lulus dengan nilai terbaik. Dan bisa kerja di bidang yang dia inginkan.”
“Bidang apa?”
“Strategic development. Dia mau aku bantu di ekspansi perusahaan nanti.”
Shelina terdiam sejenak.
“Kamu mau?”
Kaisar mengangguk.
“Mau.”
Lalu ia menambahkan pelan,
“Bukan cuma buat dia. Tapi buat Daddy juga dan buat Mommy.”
Shelina menatapnya lembut.
“Dan buat kamu sendiri.”
Kaisar tersenyum kecil.
“Iya, buat aku juga.”
Shelina melangkah mendekat.
“Kalau begitu, hadiah terbaik untuk Kak Aksa memang kamu.”
Kaisar menyeringai.
“Dan kamu.”
“Kenapa aku?”
“Karena kamu yang bikin aku lulus.”
Shelina menggeleng kecil.
“Aku cuma nyemangatin.”
“Tapi itu cukup.”
Hening sebentar, lalu Shelina kembali mengingat pertanyaan awalnya.
“Tapi tetap ya … siapa orang spesial yang mau kita temui?”
Kaisar tersenyum misterius lagi.
“Kamu sabar dikit napa?”
“Enggak.”
Kaisar tertawa.
“Ayo, nanti kamu tahu.”
Shelina yang sejak tadi masih penasaran mulai memperhatikan sekitar. Jalanan berubah lebih sepi. Pepohonan besar berjejer rapi. Gerbang besar bertuliskan TPU Jakarta terlihat di depan.
Motor berhenti, Shelina tertegun. Ia menoleh perlahan ke arah Kaisar.
“Kaisar…”
Suaminya melepas helm, lalu menatapnya dengan lembut.
“Turun dulu, yuk.”
Shelina masih diam beberapa detik sebelum akhirnya turun dari motor. Matanya mulai memahami. Area itu bukan tempat pertemuan biasa. Itu kawasan pemakaman.
Kaisar berdiri di depannya.
“Aku tahu kamu kangen Papa,” ucapnya pelan. “Jadi aku pikir … kita ke sini.” Kalimat itu sederhana. Namun, cukup membuat dada Shelina terasa penuh.
“Terima kasih…” bisiknya lirih.
Kaisar mengusap punggungnya pelan yang memeluk Shelina.
“Kita ke Papa bareng-bareng.”
Di sekitar gerbang, beberapa pedagang kembang duduk berjejer. Keranjang-keranjang berisi bunga mawar, melati, dan taburan warna-warni tertata rapi.
Seorang ibu penjual tersenyum saat mereka mendekat.
“Mau ziarah, Nak?”
Kaisar mengangguk.
“Iya, Bu. Dua paket.”
Shelina memilih sendiri campuran bunganya. Tangannya sedikit gemetar saat menerima kantong berisi kembang.
Setelah membayar, mereka berjalan masuk melewati barisan makam yang sunyi dan tertata.
Langkah Shelina melambat. Kaisar berjalan di sampingnya tanpa banyak bicara. Ia hanya menggenggam tangan istrinya. Akhirnya mereka berhenti di satu nisan yang sederhana.
Tangan Shelina pelan menyentuh batu nisan, tangan itu dengan lembut, seolah menyapa.
“Papa…” suaranya hampir berbisik. Angin pagi berhembus pelan. Ia menaburkan bunga perlahan, satu genggam demi satu genggam.
Kaisar ikut berlutut di sampingnya. Di sebelah batu nisan itu ada dua makam lagi, ibu dan Tante Shelina.
“Aku datang, Pa, Mama, Tante,” lanjut Shelina pelan. “Sekarang nggak sendiri. Tangannya meraih tangan Kaisar, menggenggamnya erat.
“Ini suamiku.”
Kaisar menunduk hormat.
“Assalamu’alaikum, Papa,” ucapnya sopan. “Terima kasih sudah menjaga Shelina sampai dia jadi perempuan sekuat sekarang. Sekarang giliran saya.” Mata Shelina kembali berkaca-kaca. Namun, kali ini, air matanya jatuh dengan tenang.
Saat berdiri kembali, Shelina terlihat lebih ringan. Ia menatap Kaisar.
“Kamu tahu nggak…”
“Hm?”
“Papa pasti suka kamu.”
Kaisar tersenyum kecil.
“Pasti, makanya dia menikahkan kita berdua hari itu,"
Shelina menggenggam tangannya lebih erat.
Ia menghela napas dalam.
“Pasti.”
Setelah doa selesai dan bunga terakhir ditaburkan, Kaisar membantu Shelina berdiri.
Wajahnya masih sembab tipis, tapi sorot matanya jauh lebih tenang dibanding kemarin malam.
“Kita pulang?” tanya Kaisar lembut.
Shelina mengangguk.
Motor kembali melaju meninggalkan kawasan makam, menyusuri jalanan Jakarta yang mulai ramai menjelang siang.
Beberapa menit perjalanan berlalu dalam diam yang nyaman.
“Oh ya,” kata Kaisar tiba-tiba. “Kita nggak langsung pulang ke rumah.”
Shelina menoleh dari belakang, masih memeluk pinggangnya.
“Ke mana?”
“Ke rumah Pramudya.”
Shelina terdiam sebentar.
“Sekarang?”
“Iya, pagi tadi Mommy ... meminta kita datang. Katanya makan siang bareng.”
Shelina mengangkat alis.
“Mendadak banget.”
“Mommy juga sedikit memaksa. Katanya semua harus lengkap.”
“Semua?” tanya Shelina pelan.
“Iya, tiga kakak kembar aku datang sama suami masing-masing. Kak Aksa juga katanya datang.”
Shelina menarik napas. Berarti rumah besar itu akan penuh hari ini.
“Daddy dan Mommy udah nunggu,” tambah Kaisar.
Nada suaranya terdengar lebih ringan. Berbeda dengan dulu setiap kali harus ke rumah keluarga besarnya. Sekarang ada sesuatu yang berubah. Mungkin karena ia sudah melewati banyak hal. Mungkin karena hari ini ia merasa lebih utuh.
Shelina menyandarkan kepalanya sebentar di punggung Kaisar.
“Capek?”
“Nggak.”
“Takut?”
Shelina tertawa kecil. “Sedikit.”
“Kamu kan udah resmi jadi bagian keluarga.”
“Justru itu.”
Kaisar tersenyum.
“Nggak ada yang bakal ganggu kamu. Ada aku.”
Beberapa saat kemudian, motor memasuki halaman rumah Pramudya yang luas dan megah.
Mobil-mobil mewah sudah terparkir rapi. Terdengar suara tawa dari dalam rumah. Shelina menarik napas pelan.
“Siap?”
Kaisar mematikan mesin, lalu menoleh padanya.
“Siap.”
Ia turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan.
Shelina menggenggamnya. Langkah mereka masuk ke rumah besar itu terasa berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi sebagai dua orang yang terlibat gosip kampus. Bukan lagi sebagai pasangan yang dipertanyakan, melainkan sebagai suami istri.
Begitu pintu terbuka, suara Kinara langsung terdengar.
“Eh! Akhirnya datang juga!”
Dari ruang makan, terlihat Daddy sudah duduk. Tiga kakak kembar Kaisar berdiri menyambut, lengkap dengan pasangan masing-masing.
Aksa berdiri dengan jas kasualnya, menatap mereka dengan ekspresi tenang. Hari itu bukan hanya makan siang biasa.
hanya merima takdir gitu aj ? itu mah merendah, nunduk ke sesama aj g. baru bisa nunduk Tuhan dia
kata"mu kemarin yg bilang, "Aksa anakku" itu sangat menusuk. seolah Kirana tak pernah jd ibu Aksa pdhl justru Aksa lah yg dekat lbh dlu drpd kamu. Kirana tak pernah membedakan Aksa dg darah daging sendiri, tapi kamu ??
Kinara menanggung ini puluhan tahun, seusia Kaisar ttnya. sekarang capek, wajar. yg g wajar itu kamu, Man. membenci darah daging sendiri & membawa anakmu yg bukan keturunan Kinara menjadi alatmu tuk menghancurkan Kaisar. anak laki" satu" nya Kinara