Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.
Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 Belum Saatnya
"Jika hari ini belum saatnya, mungkin lain kali Allah akan menggantinya."
—Calvin Raffael Cendana—
"Jika hari ini belum saatnya, mungkin lain kali Allah akan menggantinya."
Kalimat itu terucap lirih, nyaris seperti doa yang tidak disengaja. Namun justru karena lirih itulah, ia terdengar begitu dalam—menyelinap ke ruang paling sunyi di hati, lalu menetap tanpa permisi.
Aldivano mengucapkannya sambil tetap menatap layar laptop di hadapannya. Tangannya menunjuk satu baris kalimat, sementara nada suaranya tenang, terukur, seolah setiap kata yang keluar telah dipikirkan dengan matang.
Celine mendengarkan.
Atau setidaknya, ia berusaha.
Namun semakin lama Aldivano menjelaskan, semakin sulit baginya untuk memusatkan perhatian pada materi. Ada kehangatan yang perlahan merambat, memenuhi ruang di antara mereka. Cara Aldivano duduk—tegak tapi santai. Cara suaranya tidak pernah meninggi, bahkan ketika menjelaskan hal yang rumit. Cara matanya sesekali menoleh ke arah Celine, memastikan ia benar-benar memahami.
Dan entah sejak kapan, Celine menatap Aldivano bukan lagi sebagai seseorang yang sedang membantu tugas kuliahnya.
Tatapan itu terlalu lama untuk disebut sekadar memperhatikan.
Dunia terasa mengecil. Suara-suara lain di rumah itu seolah menghilang. Yang tersisa hanya mereka berdua—dua kepala yang condong ke arah yang sama, dua napas yang berjalan dalam ritme tenang, dan satu ruang keluarga yang mendadak terasa seperti dunia kecil yang aman.
“Ada yang belum jelas?” tanya Aldivano akhirnya, menoleh.
Celine tersentak kecil, seolah baru kembali dari lamunannya.
“Ah—iya. Sudah jelas,” jawabnya cepat, lalu tersenyum. “Maksudnya… sekarang jelas.”
Aldivano membalas senyum itu—tipis, sopan, sebagaimana biasanya. Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang ia rasakan. Sesuatu yang tidak bisa ia sebutkan dengan kata, tapi cukup ia sadari keberadaannya.
Ia melanjutkan penjelasan, lebih singkat kali ini. Memberi contoh, lalu berhenti. Memberi ruang bagi Celine untuk berpikir sendiri.
Dan tepat di saat suasana itu terasa paling hening, paling rapuh—
Dering notifikasi ponsel memecah segalanya.
Celine refleks menoleh. Aldivano menurunkan ponselnya yang sejak tadi terletak terbalik di meja.
Satu getaran. Lalu dua. Lalu berturut-turut.
Aldivano menarik napas pelan sebelum membuka layar. Sekilas, alisnya terangkat tipis. Bukan terkejut—lebih seperti sudah menduga.
Beberapa pesan masuk dari grup keluarga.
Tanpa Celine.
Ia membaca cepat.
Calvin: Aku rasa aku datang di waktu yang tepat.
Mommy Chailey: Masya Allah… cocok.
Daddy Caesar: Tenang sekali melihat ini.
Reina: Kalian sadar nggak kalau foto ini indah banget?
Aldivano menghela napas kecil. Sudut bibirnya terangkat samar—bukan senyum penuh, lebih seperti senyum yang tertahan.
Ia menoleh pada Celine yang kini menatap layar laptopnya dengan serius, seolah dunia benar-benar kembali normal. Gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa menit lalu, ia telah menjadi pusat kegaduhan kecil dalam sebuah grup keluarga.
Aldivano membalas pesan itu dengan satu kalimat singkat.
Ada urusan yang lebih penting.
Tidak ada emoji. Tidak ada penjelasan tambahan.
Itu sangat Aldivano.
Calvin membalas hampir seketika.
Iya, iya. Fokus dulu. Tapi jangan lupa senyum.
Aldivano mematikan layar ponselnya dan meletakkannya kembali ke meja, kali ini sedikit lebih jauh. Ia tidak ingin gangguan lain datang.
“Mas Aldi?” panggil Celine pelan.
“Hm?”
“Kamu baik-baik saja?”
Aldivano menoleh. Ada ketulusan di mata Celine. Bukan rasa ingin tahu yang berlebihan—lebih seperti perhatian yang tulus, tanpa motif apa pun.
“Iya,” jawabnya. “Hanya pesan biasa.”
Celine mengangguk. Ia tidak bertanya lebih jauh. Dan sikap itulah yang membuat Aldivano semakin menghargainya—Celine tidak pernah memaksa masuk ke ruang yang belum diizinkan.
Setelah memastikan semua bagian tugas telah dipahami, Aldivano menutup buku dan merapikannya.
“Kalau begitu, aku rasa cukup,” katanya. “Kamu sudah bisa melanjutkan sendiri.”
Celine tersenyum lega. “Terima kasih banyak, Mas. Serius.”
Aldivano berdiri. “Sama-sama.”
Ia melangkah menjauh, lalu berhenti sejenak.
“Celine.”
“Iya?”
“Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.”
Kalimat itu sederhana. Namun cara Aldivano mengucapkannya membuat Celine terdiam.
“Iya,” jawabnya pelan.
Aldivano pun melangkah pergi, menyusul Calvin ke ruang kerja.
Calvin sudah menunggu dengan senyum yang terlalu lebar untuk disebut biasa. Begitu Aldivano masuk, pintu ditutup perlahan, dan senyum itu berubah menjadi ekspresi penuh arti.
“Kamu kelihatan bahagia,” kata Calvin tanpa basa-basi.
Aldivano duduk di kursi seberang meja kerja. “Kamu terlalu banyak mengamati.”
“Sulit untuk tidak,” balas Calvin santai. “Apalagi kalau seseorang yang biasanya dingin, tiba-tiba punya wajah seperti itu.”
“Aku tidak berubah,” jawab Aldivano datar.
Calvin tertawa kecil. “Baiklah. Kalau begitu aku yang berubah.”
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. “Foto itu aku kirim ke grup.”
“Aku tahu.”
“Dan mereka semua bereaksi.”
“Aku juga tahu.”
Calvin menatap Aldivano dengan serius kali ini. “Sampai kapan kamu mau berpura-pura?”
Aldivano diam.
Pertanyaan itu bukan hal baru. Namun tetap saja, selalu berhasil membuat dadanya terasa lebih sempit.
“Ada waktu untuk setiap hal,” jawab Aldivano akhirnya. “Dan hari ini bukan waktunya.”
Calvin menghela napas. “Kamu selalu begitu.”
“Itu bukan hal buruk.”
“Tidak,” Calvin mengangguk pelan. “Tapi kadang, terlalu menunggu juga bisa menjadi bentuk ketakutan.”
Aldivano menatap meja. “Aku tidak takut.”
“Hanya berhati-hati?”
“Ya.”
Calvin tersenyum kecil. “Semoga Allah memberimu waktu yang tepat.”
Aldivano tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan.
Di kamarnya, Celine berdiri di depan jendela. Tirai putih sedikit tersibak, membiarkan cahaya matahari masuk dan membalut ruangan dengan kehangatan.
Langit cerah. Awan tipis berarak pelan.
Namun yang membuat Celine terpaku bukan pemandangan itu.
Melainkan detak jantungnya sendiri.
Ada sesuatu yang berbeda. Ia bisa merasakannya dengan jelas—perasaan itu muncul setiap kali Aldivano berada di dekatnya. Bukan rasa gugup yang berlebihan. Bukan pula kegembiraan yang meluap-luap.
Lebih seperti… tenang yang terlalu dalam.
Dan itu yang membuatnya gelisah.
“Aneh,” gumamnya pelan.
Ia menekan dadanya dengan telapak tangan. Detaknya masih terasa cepat, meski Aldivano sudah lama meninggalkan ruang keluarga.
Cuma karena dibantu tugas, batinnya mencoba meyakinkan diri.
Dia itu abang. Dari dulu juga begitu.
Namun entah mengapa, pembelaan itu tidak sepenuhnya menenangkan.
Celine menghela napas panjang, lalu menatap langit lagi.
“Kalau bukan hari ini…” bisiknya pelan, tanpa tahu pada siapa kalimat itu ditujukan.
Mungkin pada dirinya sendiri.
Mungkin pada takdir.
Dan di dua ruang yang berbeda, dua hati menyimpan perasaan yang sama—
bukan untuk dimiliki,
bukan untuk diucapkan,
melainkan untuk dijaga…
hingga waktunya tiba.
***
Mentari perlahan tenggelam di balik cakrawala, meninggalkan semburat jingga yang masih setia menggantung di langit. Cahaya itu tidak sepenuhnya pergi, seolah enggan melepaskan hari begitu saja. Ada keindahan yang tenang dalam proses perpisahan—tidak tergesa, tidak pula dramatis. Hanya perlahan, namun pasti.
Di teras sebuah bangunan tinggi yang menghadap langsung ke arah barat, Aldivano dan Calvin duduk berdampingan. Dua gelas kopi hitam mengepul tipis di hadapan mereka, mengirimkan aroma pahit yang justru terasa menenangkan. Angin sore berembus pelan, membawa sisa hangat siang dan janji dingin malam yang akan segera datang.
Aldivano menatap langit dengan sorot mata yang sulit ditebak. Tenang, namun menyimpan banyak hal. Calvin, yang duduk di sampingnya, sudah cukup lama mengenal ekspresi itu. Mereka bukan sekadar sahabat yang bertemu karena kepentingan bisnis. Mereka tumbuh bersama, mengenal satu sama lain bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari keluarga masing-masing.
“Aneh ya,” ujar Calvin akhirnya, memecah keheningan yang terasa nyaman. “Setiap kali senja begini, rasanya kepala malah penuh.”
Aldivano mengangguk pelan. “Karena senja tidak pernah benar-benar tentang akhir. Selalu ada sesuatu yang tertinggal.”
Calvin tersenyum tipis. Ia menyeruput kopinya, lalu bersandar. “Termasuk pikiran tentang Celine?”
Aldivano tidak langsung menjawab. Pandangannya masih tertuju pada langit yang perlahan berubah warna. Jingga mulai berbaur dengan ungu, lalu biru tua.
“Iya,” jawabnya akhirnya, jujur.
Pembicaraan mereka memang sering berakhir di satu nama itu. Bukan karena Aldivano membiarkannya, melainkan karena Calvin selalu tahu celah untuk masuk ke ruang yang jarang dibuka Aldivano pada orang lain.
“Dari dulu kamu selalu berbeda kalau bicara soal dia,” ujar Calvin ringan, namun matanya serius. “Lebih… hidup.”
Aldivano tersenyum kecil, nyaris tak terlihat. “Aku tidak ingin salah langkah.”
“Makanya kamu terlalu lama berdiri di tempat,” balas Calvin, setengah bercanda.
Aldivano menggeleng pelan. “Bukan berdiri. Gue lagi menunggu.”
Calvin menoleh, menatap wajah sahabatnya itu. “Nunggu apa?”
“Waktu yang tepat,” jawab Aldivano. “Dan kesiapan dari dia.”
Angin sore kembali berembus, kali ini sedikit lebih dingin. Aldivano menghela napas, seolah beban yang lama disimpannya mulai mencari jalan keluar.
"Gue mau deketin dia,” katanya kemudian, dengan nada yang lebih tegas. “Perlahan.”
Calvin mengangkat alis. “Sebagai?”
Aldivano menoleh. Tatapannya mantap. "Yang pasti.. Bukan sebagai abangnya.”
Kalimat itu menggantung di udara, sejenak membiarkan maknanya meresap. Calvin terdiam, lalu tersenyum lebar—bukan senyum mengejek, melainkan senyum lega.
“Akhirnya,” gumamnya.
Aldivano terkekeh pelan. “Jangan berlebihan.”
"Enggak,” Calvin menggeleng. "Gue cuma senang lo akhirnya mengakui apa yang dari dulu sudah terlihat.”
Aldivano tidak menyangkal. Ia kembali menatap senja yang kini hampir sepenuhnya berubah menjadi gelap. Cahaya terakhir itu seolah menandai sebuah keputusan—bukan yang impulsif, melainkan yang lahir dari pertimbangan panjang dan doa yang tidak putus.
***
Sementara itu, di sudut kota yang lain, sebuah kafe dengan pencahayaan hangat mulai dipenuhi pengunjung. Lampu-lampu kecil bergantung di langit-langit, memantulkan cahaya keemasan yang membuat siapa pun merasa betah. Aroma kopi, roti panggang, dan sedikit wangi kayu bercampur menjadi satu.
Kafe itu milik Aldivano.
Namun sore ini, ia tidak ada di sana.
Celine duduk di salah satu meja dekat jendela, bersama dua orang temannya. Tawanya ringan, matanya berbinar. Tidak ada beban di wajahnya—setidaknya tidak yang terlihat.
Ia mengenakan pakaian sederhana, rambutnya terurai rapi, wajahnya bersih tanpa riasan berlebihan. Celine selalu begitu—cantik dengan caranya sendiri, tanpa perlu berusaha terlalu keras.
Mereka membicarakan banyak hal. Tentang kampus, tentang dosen yang menyebalkan, tentang rencana akhir pekan. Sesekali Celine ikut tertawa, sesekali ia hanya mendengarkan.
Di seberang meja, Reina duduk dengan hijab lembut yang membingkai wajahnya. Tatapannya sering tertuju pada Celine, bukan dengan rasa ingin tahu berlebihan, melainkan dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rasa bersalah yang diam-diam mengendap, namun juga keyakinan bahwa semua ini dilakukan demi kebaikan.
Reina mengeluarkan ponselnya tanpa suara. Mengarahkan kamera perlahan, mengambil satu foto candid—Celine yang sedang tertawa kecil, matanya menunduk, cahaya lampu memantul lembut di wajahnya.
Satu klik.
Reina menatap hasil foto itu sejenak. Indah. Terlalu jujur untuk disembunyikan lama-lama.
Ia membuka chat Aldivano, lalu mengirim foto itu tanpa keterangan apa pun.
Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar.
Aldivano: Terima kasih.
Reina menghela napas pelan. Jarinya sempat menggantung di layar, ingin menulis sesuatu, namun akhirnya ia mengurungkan niat itu. Beberapa hal memang belum waktunya untuk diucapkan.
Celine sama sekali tidak menyadari momen kecil itu. Ia masih tertawa, masih menjadi dirinya sendiri—tanpa tahu bahwa seseorang sedang belajar mencintainya dari kejauhan, dengan cara yang paling hati-hati.
Reina menatap Celine lagi, kali ini lebih lama.
“Semoga lo enggak benci gue nanti,” bisiknya dalam hati.
Di luar kafe, langit telah gelap sepenuhnya. Namun lampu-lampu kota menyala, menggantikan peran mentari yang telah pergi. Dan di antara senja yang telah berlalu dan malam yang mulai mengambil alih, ada niat yang perlahan tumbuh—tenang, dijaga, dan diserahkan sepenuhnya pada waktu serta kehendak Allah.
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...