Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Jam menunjukkan subuh, pukul setengah lima pagi.
Langit di luar jendela masih kelabu, Rania masih terlelap di sisi ranjang menutup selimutnya dengan kedinginan.
Arga yang sudah mengenakan atasan kaos santai warna merah dengan gambar Adidas, dan bawahnya mengenakan sarung----Membangunkan istrinya.
"Ran...Rania bangun solat subuh dulu," ujar Arga membangunkan istrinya dengan lembut.
Rania napasnya masih teratur, dan gadis ini mengucek-ngucek matanya.
Arga melirik jam di pergelangan tangannya membantu sang istri bangun.
"Ayo bangun solat dulu," ajak sang suami.
Rania bangun dengan malas, hampir saja terjatuh tapi berhasil di tahan oleh Arga.
"Pelan-pelan," kata Arga.
Rania hanya menganggukkan kepala dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, saat menyalakan keran Rania amat menggigil----air yang dingin menyentuh kulitnya.
"Biasanya di rumah gua wudhu aja pake air hangat," batin Rania.
Rania harus terbiasa dengan semua ini, karena sang ayah pernah mengatakan waktu kemarin di telepon jika dirinya harus terbiasa mandiri.
Sebenarnya Arga juga mau memasang air hangat untuk Rania, agar setiap pagi tak kedinginan lagi---Tapi Karto selaku ayahnya Rania melarang itu semua.
Pria itu tak mau jika putrinya terus menerus hidup tanpa kemandirian, karena suatu saat mereka akan punya anak.
Tentu jika Rania terus menerus di perlakukan----Seperti saat belum menikah maka suatu saat akan menyulitkan rumah tangga mereka.
Rania keluar kamar mandi dengan jalan tertatih dan menggigil, Arga duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya.
Melihat Rania keluar dengan tertatih kedinginan, pria itu segera mendekati sang istri dan memeluknya.
Lalu Arga membantu Rania memakaikan mukena, "A-ak-aku bi-bisa sendiri," kata Rania dengan menggigil kedinginan.
Rania dengan cepat mengenakan mukenanya, sungguh ini pengalaman rumah tangga di hidup Rania.
Ibunya Rania---Lena juga setuju akan pendapat suaminya, mengenai Rania harus mandiri dan tak selalu mandi pakai air hangat setiap pagi.
Arga menjadi imam saat solat subuh sementara posisi Rania di belakangnya sebagai makmum----sungguh Arga kini menjadi imam untuk Rania.
Setelah melaksanakan solat subuh Rania menyalimi sang suami, melepas mukena dan merapikan mukenanya, sementara Arga masih berdoa.
Rania kembali masuk ke kamar mandi, gadis ini harus mandi dan sialnya dirinya lupa bawa baju ganti.
"Ah sial Arga pasti melihatnya."
Tak ada yang salah jika melihat tubuh Rania, tapi masalahnya gadis ini belum siap untuk di sentuh oleh Arga----di tambah mimpinya semalam adalah kenangan bagaimana Arga membullynya dulu.
Saat sedang mandi tiba-tiba Arga menggedor pintu.
Tok...Tok.
"Iya kenapa Mas?" tanya Rania.
"Mas mau masak, kamu mau sarapan apa?" tanya Arga pada sang istri.
"Terserah Mas aja," jawab Rania yang pagi ini sedang keramas.
Rania mandi dan mengira Arga sudah ke bawah, padahal Arga sendiri bingung mau masak apa, biasanya Arga akan masak sesuka hati.
Tapi saat ini Arga belum tahu apa saja makanan kesukaan istrinya, dengan bingung Arga kembali duduk di kasur mengarah ke jendela pagi yang masih berwarna gelap.
Rania selesai mandi, tanpa menyadari ada Arga yang masih memainkan ponsel di kasur.
Gadis berambut ikal itu berjalan ke lemari box untuk mengambil underwear, dan atasan warna merah muda dan celana kulot panjang warna toska.
Arga menatap ke samping memperhatikan istrinya mengenakan underwear tapi masih berbalut handuk, lalu mengenakan atasan warna merah muda.
Pria itu menelan salivanya, peluh mulai membasahi kening Arga----sementara Rania masih belum sadar Arga masih di kamar itu.
Matanya memperhatikan tubuh Rania, sungguh ciptaan tuhan yang sempurna---Tapi karena masa lalunya Rania belum memberikan izin menyentuhnya.
Rania mengenakan celana kulot, dirinya akan ke bawah membantu Arga memasak---Mengira sang suami sudah ada di bawah.
"Mas! Mas Arga aku bantuin masak ya," ucap Rania sambil berteriak mengenakan bedak untuk tubuhnya.
"Rania...," kata Arga dengan lirih.
Mata Rania membulat saat mendengar suara Arga di kamarnya, tak menyadari sang suami masih ada di kamar ini.
"Seriusan masih di kamar berarti tadi gua pake baju di liatin lagi," batin Rania, tubuhnya menegang.
Dari jendela kamar matahari terbit mulai menyingsing, Arga berdiri mengenakan celana training dan atasan merah.
Wajahnya Rania merah padam antara malu dan jengkel, "aku mau olahraga lari," kata Arga langsung pergi berlalu meninggalkan Rania.
Sementara Rania sendiri duduk di sofa kamar berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi, bukankah Arga tadi mau ke bawah untuk memasak.
Tapi kenapa---kenapa Arga masih di kamar ini.
Rania mau terima dan tidak diterima---Bagaimana pun Arga sekarang suaminya, jadi sudah sepantasnya Arga melihat tubuhnya atau bisa lebih.
Rania yang rambutnya masih basah di keringkan dengan handuk dalam keadaan melamun, semalam mimpinya, kenangan masa lalunya saat Arga membullynya.
Arga masih menjalin asmara dengan Karin----tapi pagi ini Arga melihatnya saat ganti baju.
Rania sama sekali tak habis pikir, dirinya di lihat Arga saat ganti baju.
Hati Rania mengatakan jika ini adalah pelecehan, tapi bagaimana di sebut pelecehan jika Arga adalah suaminya.
Demi menenangkan dirinya Rania menuju balkon untuk menenangkan diri, keluar kamar dan mengarah ke balkon dengan design estetik.
Pintunya geser terbuat dari kaca plastik.
Di balkon pegangannya terbuat dari besi hitam sementara ada ayunan terbuat dari bambu dengan gantungan besi, Rania duduk disana di atas balkon matanya melihat pemandangan pagi.
Disana ada Arga yang lari sendirian, mengelilingi komplek sambil di lihati para gadis.
Hati Rania amat panas, itu wajar karena Arga adalah suaminya----Tapi bagaimana bisa Rania memiliki perasaan ini.
Rania duduk di ayunan sambil kebingungan memikirkan hatinya, sejenak dirinya melamun.
"Arga kalo di perhatiin ganteng sih...coba aja masa lalu ama gua nggak jadi tukang bully pasti keadaan lain," gumam Rania yang berandai-andai.
"Seandainya Arga dulu tak membullynya."
"Seandainya dulu Arga meski tak menjadi sahabatnya minimal tak membullynya."
Dan banyak seandainya lagi---Percuma saja jika berandai-andai ini dan itu.
Allah memiliki takdir tak terduga, pria yang dulu membullynya malah di berikan tanggung jawab untuk melindungi sekaligus menjadi imam untuknya.
Lama Rania berpikir dan melamun, sampai tak menyadari ada Arga disana.
"Selamat pagi sayangku," sapa Arga.
Rania hanya menoleh ke samping dengan kaget, disana Arga sudah selesai lari pagi sambil memegang matcha.
Gadis berambut ikal itu kaget dan menatap sang suami.
"Mikirin yang tadi?" tanya Arga sambil menyeruput secangkir matcha.
Rania hanya menganggukkan kepala, "saya nggak akan sentuh kamu sampai kamu mengizinkan," jawab Arga.
"Ke rumah ibu yuk?" ajak Arga, menghela napas menikmati udara pagi.
Rania awalnya merasa heran, lalu Arga bicara jika dirinya ingin mengajak Rania kesana----Sekaligus mengambil alat photography milik Rania.
Hal yang membuat senyum Rania mengembang, sejenak melupakan masalah dirinya di lihat oleh Arga saat pakai baju.
*
*
*