NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Rasa itu Tumbuh

Di sudut perpustakaan yang paling terpencil, Arabella duduk terbenam di balik tumpukan buku kalkulus. Rambutnya yang hitam legam selalu setia dengan kepangan dua yang rapi—mungkin terlalu rapi untuk standar siswi SMA modern. Kacamata bulatnya yang tebal seringkali merosot ke ujung hidungnya yang mancung, menutupi sepasang mata jernih yang sebenarnya menyimpan binar kecerdasan luar biasa.

Ia adalah definisi dari ada tapi tak terlihat. Wajahnya yang pucat tanpa polesan bedak sedikit pun membuatnya tampak seperti lukisan klasik yang terlupakan di galeri yang bising.

Tiba-tiba, suara riuh rendah dari lapangan basket menembus kaca jendela perpustakaan. Arabella mendongak. Di bawah sana, Arslan sedang menggiring bola dengan lincah. Keringat membasahi jersey nomor punggung 07 miliknya, membuatnya tampak bersinar di bawah terik matahari sore.

Arslan adalah segalanya:

Populer: Setiap langkahnya diikuti bisikan kagum.

Karismatik: Senyumnya bisa mencairkan suasana paling kaku sekalipun.

Idola: Kapten basket yang namanya selalu diteriakkan di tribun.

Suatu hari, Arabella sedang berjalan di koridor sambil memeluk buku-buku tebalnya. Ia terlalu fokus menunduk hingga tidak menyadari sekelompok pemain basket berlari ke arahnya.

Bruk!

Buku-bukunya berserakan di lantai. Arabella tersungkur, kacamatanya terlepas. Dalam pandangan yang kabur, sebuah tangan kekar terulur ke arahnya.

"Eh, sorry! Gue nggak lihat tadi. Lo nggak apa-apa?" Suara berat itu milik Arslan.

Jantung Arabella berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Ia meraba lantai, mencari kacamatanya dengan panik. Saat Arslan membantunya mengambil kacamata dan menyerahkannya, jemari mereka bersentuhan sesaat.

"Lain kali hati-hati ya, ... sorry, siapa nama lo?" Arslan bertanya dengan nada ramah, namun kosong. Ia bahkan tidak tahu nama gadis yang satu angkatan dengannya itu.

"A-arabella," bisik Arabella hampir tak terdengar.

"Oke, Arabella. Duluan ya!" Arslan menepuk bahunya sekilas lalu berlari mengejar teman-temannya yang sudah memanggil dari kejauhan.

Arabella memakai kembali kacamatanya. Ia melihat punggung Arslan yang menjauh. Di samping Arslan, kini ada Clarissa, siswi paling modis dan cantik di sekolah, yang langsung merangkul lengan sang kapten. Mereka tertawa bersama, tampak seperti sepasang raja dan ratu yang sempurna.

Arabella hanya bisa menunduk, merapikan rok seragamnya yang kusam. Ia sadar, bagi Arslan, dirinya hanyalah "gadis kacamata di koridor," bukan seseorang yang akan diingat namanya esok hari. Cintanya adalah sebuah garis yang sejajar; sedekat apa pun mereka terlihat, mereka tidak akan pernah bertemu di satu titik yang sama.

Hari-hari Abel—begitu ia lebih suka dipanggil dan teman dekatnya memanggil dirinya—berjalan dalam ritme yang sunyi dan repetitif. Baginya, sekolah bukan hanya tempat mencari ilmu, tapi juga sebuah labirin di mana ia harus pandai bersembunyi agar tidak menjadi sasaran cemoohan.

Setiap pagi, Abel sengaja datang lebih awal. Bukan hanya untuk membaca buku di kelas yang masih sepi, tapi untuk melewati loker Arslan. Ia akan berhenti sejenak, menghirup sisa wangi parfum citrus yang samar tertinggal di sana, sebelum kemudian bergegas pergi dengan wajah memerah.

Di mata siswi lain, Abel adalah si aneh.

Gaya Bicara: Ia lebih banyak diam, dan jika bicara, kalimatnya seringkali terlalu formal atau teknis.

Hobi: Saat siswi lain berkumpul membicarakan tren idola dan skincare terbaru di kantin, Abel lebih memilih duduk di bawah pohon beringin tua, mencatat rasi bintang atau menghitung rumus fisika di buku catatannya.

Penampilan: Roknya selalu di bawah lutut, kaus kaki putih bersih yang ditarik tinggi, dan rambut kepang dua yang tidak pernah berubah sejak kelas satu.

"Lihat deh, si kutu buku itu. Apa dia nggak gerah ya dandan kayak gitu terus?" bisik salah satu teman Clarissa saat Abel lewat. Abel hanya menunduk, merapatkan dekapannya pada buku ensiklopedia tebalnya.

Abel tidak menanggapi setiap ocehan teman-temannya tentang dirinya. Dia lebih baik menghindar dan sebisa mungkin tidak berurusan dengan mereka.

Di balik keanehan yang orang lain pikirkan, Abel memiliki sebuah rahasia besar: sebuah buku sketsa kecil yang disembunyikan di balik sampul buku pelajaran Kimia. Isinya bukan rumus molekul, melainkan sketsa wajah Arslan.

Ia tahu jadwal Arslan luar kepala:

• Pukul 07.00: Arslan tiba dengan motor besarnya, selalu melepas helm dengan gerakan yang membuat rambutnya berantakan secara estetis.

• Istirahat Pertama: Arslan berada di kantin belakang, dikerumuni teman-temannya sambil memegang botol minuman dingin.

• Pukul 15.30: Latihan basket dimulai. Abel akan duduk di perpustakaan lantai dua, di meja yang menghadap langsung ke lapangan, menjadikannya kursi penonton VIP yang tersembunyi.

Suatu sore, Abel melihat Arslan kelelahan setelah latihan. Arslan duduk di pinggir lapangan, sementara belasan siswi berebut memberikan botol air minum dan handuk kecil. Abel hanya bisa menggenggam sebuah botol air mineral di tasnya yang sudah ia siapkan sejak pagi, namun nyalinya selalu menciut.

Ia tahu posisinya. Arslan adalah matahari yang terlalu terang, sedangkan dirinya hanyalah debu yang melayang di udara; hanya bisa terlihat jika terkena cahaya, namun tetap tak berarti.

Abel menyadari bahwa Arslan bukan sekadar pria tampan. Ia melihat Arslan yang tetap menyapa satpam sekolah dengan sopan, Arslan yang membantu menggendong tas temannya yang sedang cedera, Arslan yang selalu menjadi juara kelas, dan itulah yang membuat Abel jatuh lebih dalam. Sayangnya, semakin ia mengenal kebaikan Arslan, semakin ia merasa tidak layak untuk sekadar menyapa.

Di bawah naungan pohon beringin yang rimbun, tempat favoritnya untuk melarikan diri dari hiruk pikuk sekolah, Abel duduk bersila. Angin sepoi-sepoi memainkan beberapa helai rambutnya yang luput dari kepangan, namun pandangannya lurus terpaku pada lapangan basket di kejauhan. Di sanalah, Arslan, dengan gerakannya yang luwes dan penuh energi, menjadi pusat dunianya yang sunyi.

Jemarinya yang ramping bergerak lincah di atas halaman buku sketsa kecilnya. Pensil 2B menari, perlahan membentuk garis rahang tegas, sorot mata yang tajam namun ramah, dan senyum tipis yang seringkali menghiasi wajah sang kapten basket. Itu adalah sketsa Arslan yang kesekian kali, mungkin yang kelima belas, atau bahkan kedua puluh. Setiap goresan pensil adalah representasi dari setiap detail yang ia hafal dari Arslan, setiap ekspresi yang diam-diam ia tangkap dari kejauhan.

...****************...

Sebuah sketsa pensil wajah Arslan, seorang remaja pria dengan rambut sedikit acak-acakan, rahang tegas, dan ekspresi fokus.

Setelah selesai, Abel meniup remah-remah pensil dari kertasnya, lalu menatap hasil karyanya dengan senyum tipis. Sketsa ini berhasil menangkap esensi Arslan hari ini: fokus, bersemangat, dan tanpa cela. Ia lalu menutup buku sketsanya, menyelipkannya dengan hati-hati di antara buku-buku pelajaran Fisika dan Matematika yang selalu ia bawa, seolah itu adalah harta karun paling berharga.

Pandangannya kembali ke lapangan. Arslan baru saja berhasil melakukan lay-up yang sempurna, dan sorakan dari bangku penonton mini langsung membahana. Ada rasa hangat yang merayap di dada Abel, rasa bangga yang aneh, seolah kemenangan Arslan adalah kemenangannya juga.

Tiba-tiba, ponselnya di saku bergetar. Sebuah pesan masuk.

Kak Reno: Di depan gerbang. Lima menit lagi kalau nggak keluar, gue tinggal.

Abel tersenyum kecil. Kakaknya, Reno, memang selalu begitu. Kata-katanya seringkali ketus, tapi selalu ada nada peduli di baliknya. Kebetulan Reno pulang kuliah sedikit sore hari ini, sehingga bisa menjemput Abel, sesuatu yang jarang terjadi karena biasanya Abel pulang naik angkutan umum atau jalan kaki.

Dengan agak terburu-buru, Abel bangkit. Ia merapikan rok dan seragamnya, memastikan tidak ada remah daun atau debu yang menempel. Sambil berjalan menuju gerbang, ia melirik lapangan basket sekali lagi. Arslan masih di sana, dikelilingi oleh para pengagumnya. Abel menarik napas dalam, lalu berbalik. Dunia nyatanya memanggil, dan dunia fantasinya bersama Arslan harus kembali ia simpan rapat-rapat, setidaknya sampai esok hari di bawah pohon beringin yang sama.

1
Android Tv
Arslan dan Reno ini makhluk apaan dah, ribut Mulu 🤣
Ariany Sudjana
bijak sekali mertua dokter Arslan, kak Reno, juga dokter Arslan, tetap semangat yah Abel, keluarga mendukung apapun keputusan kamu
Ariany Sudjana
seru kayak tom and Jerry ini dokter Arslan dan Reno 😄, tapi mereka begitu bukan karena musuhan, tapi karena kompak 😄😄
Ultramen Pink: mengungkapkan rasa sayangnya emang agak lain mereka berdua mah 😄
total 1 replies
Belimbing Wuluh
bau-bau ada ular
Ariany Sudjana
semuanya juga sama-sama pintar, kalau ga pinter, ga bisa jadi dokter,psikolog dan juga CEO
Ultramen Pink: akal² Reno buat bully Arslan saja itu mah.
total 1 replies
Android Tv
gombal kau Lan, Arslan...
Ariany Sudjana
semangat yah pa dokter Arslan dan Abel 😄
Ultramen Pink: semangat dong... 😄
total 1 replies
Belimbing Wuluh
lah si Arslan main nyosor Bae dah
Ultramen Pink: Naluri laki2 itu namanya
total 1 replies
Ariany Sudjana
makanya saya ga suka makan kepiting gitu, pusing dengan kupas cangkangnya, makan ga jadi, keburu kenyang dengan bersihkan cangkang 😄
Ultramen Pink: kepiting enak cuma ambil dagingnya sangat sulit ya kak😄
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats dokter Arslan dan Abel
Ultramen Pink: terimakasih Kak, jgn lupa datang ke pesta mereka ya 🤭
total 1 replies
Ariany Sudjana
pak dokter niat buat Abel senang, akhirnya mama yang menyelamatkan hasil karyanya 😄😄 ga apa pak dokter, yang penting niat dulu
Ultramen Pink: niat aja dulu, soal hasil gimana nanti 🤣
total 1 replies
Ariany Sudjana
pengalaman masa lalu itu jadikan pelajaran, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa datang
Ultramen Pink: nah betul itu kak
total 1 replies
Android Tv
dah tua maklum matanya jadi rabun Papa nya si Arslan
Android Tv
nah loh, jangan2 nanti di jodohkan.
Ultramen Pink: gak di jodohkan hanya di restui
total 1 replies
Belimbing Wuluh
akal²an lu aja, Lan 😄
Android Tv
beban anak tunggal benar2 nyata ya.
Belimbing Wuluh
nah loh, malu kan lu Arslan.
Ultramen Pink: kayaknya kakaknya dendam banget sama Arslan 🤭
total 1 replies
Belimbing Wuluh
nah kan, telat lu nyadarinya Lan.
Belimbing Wuluh
sakit gak Lan? nyesel kan lu.
Ariany Sudjana
waduh ini direktur ga tau diri, sudah ditolong malah berkhianat, dan harus dibinasakan. btw cepat sembuh kak, saya juga baru sembuh ini , ditunggu updatenya yah
Ultramen Pink: iya kak, terimakasih. jaga kesehatanmu juga ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!