Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Rasa itu Tumbuh
Di sudut perpustakaan yang paling terpencil, Arabella duduk terbenam di balik tumpukan buku kalkulus. Rambutnya yang hitam legam selalu setia dengan kepangan dua yang rapi—mungkin terlalu rapi untuk standar siswi SMA modern. Kacamata bulatnya yang tebal seringkali merosot ke ujung hidungnya yang mancung, menutupi sepasang mata jernih yang sebenarnya menyimpan binar kecerdasan luar biasa.
Ia adalah definisi dari ada tapi tak terlihat. Wajahnya yang pucat tanpa polesan bedak sedikit pun membuatnya tampak seperti lukisan klasik yang terlupakan di galeri yang bising.
Tiba-tiba, suara riuh rendah dari lapangan basket menembus kaca jendela perpustakaan. Arabella mendongak. Di bawah sana, Arslan sedang menggiring bola dengan lincah. Keringat membasahi jersey nomor punggung 07 miliknya, membuatnya tampak bersinar di bawah terik matahari sore.
Arslan adalah segalanya:
Populer: Setiap langkahnya diikuti bisikan kagum.
Karismatik: Senyumnya bisa mencairkan suasana paling kaku sekalipun.
Idola: Kapten basket yang namanya selalu diteriakkan di tribun.
Suatu hari, Arabella sedang berjalan di koridor sambil memeluk buku-buku tebalnya. Ia terlalu fokus menunduk hingga tidak menyadari sekelompok pemain basket berlari ke arahnya.
Bruk!
Buku-bukunya berserakan di lantai. Arabella tersungkur, kacamatanya terlepas. Dalam pandangan yang kabur, sebuah tangan kekar terulur ke arahnya.
"Eh, sorry! Gue nggak lihat tadi. Lo nggak apa-apa?" Suara berat itu milik Arslan.
Jantung Arabella berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Ia meraba lantai, mencari kacamatanya dengan panik. Saat Arslan membantunya mengambil kacamata dan menyerahkannya, jemari mereka bersentuhan sesaat.
"Lain kali hati-hati ya, ... sorry, siapa nama lo?" Arslan bertanya dengan nada ramah, namun kosong. Ia bahkan tidak tahu nama gadis yang satu angkatan dengannya itu.
"A-arabella," bisik Arabella hampir tak terdengar.
"Oke, Arabella. Duluan ya!" Arslan menepuk bahunya sekilas lalu berlari mengejar teman-temannya yang sudah memanggil dari kejauhan.
Arabella memakai kembali kacamatanya. Ia melihat punggung Arslan yang menjauh. Di samping Arslan, kini ada Clarissa, siswi paling modis dan cantik di sekolah, yang langsung merangkul lengan sang kapten. Mereka tertawa bersama, tampak seperti sepasang raja dan ratu yang sempurna.
Arabella hanya bisa menunduk, merapikan rok seragamnya yang kusam. Ia sadar, bagi Arslan, dirinya hanyalah "gadis kacamata di koridor," bukan seseorang yang akan diingat namanya esok hari. Cintanya adalah sebuah garis yang sejajar; sedekat apa pun mereka terlihat, mereka tidak akan pernah bertemu di satu titik yang sama.
Hari-hari Abel—begitu ia lebih suka dipanggil dan teman dekatnya memanggil dirinya—berjalan dalam ritme yang sunyi dan repetitif. Baginya, sekolah bukan hanya tempat mencari ilmu, tapi juga sebuah labirin di mana ia harus pandai bersembunyi agar tidak menjadi sasaran cemoohan.
Setiap pagi, Abel sengaja datang lebih awal. Bukan hanya untuk membaca buku di kelas yang masih sepi, tapi untuk melewati loker Arslan. Ia akan berhenti sejenak, menghirup sisa wangi parfum citrus yang samar tertinggal di sana, sebelum kemudian bergegas pergi dengan wajah memerah.
Di mata siswi lain, Abel adalah si aneh.
Gaya Bicara: Ia lebih banyak diam, dan jika bicara, kalimatnya seringkali terlalu formal atau teknis.
Hobi: Saat siswi lain berkumpul membicarakan tren idola dan skincare terbaru di kantin, Abel lebih memilih duduk di bawah pohon beringin tua, mencatat rasi bintang atau menghitung rumus fisika di buku catatannya.
Penampilan: Roknya selalu di bawah lutut, kaus kaki putih bersih yang ditarik tinggi, dan rambut kepang dua yang tidak pernah berubah sejak kelas satu.
"Lihat deh, si kutu buku itu. Apa dia nggak gerah ya dandan kayak gitu terus?" bisik salah satu teman Clarissa saat Abel lewat. Abel hanya menunduk, merapatkan dekapannya pada buku ensiklopedia tebalnya.
Abel tidak menanggapi setiap ocehan teman-temannya tentang dirinya. Dia lebih baik menghindar dan sebisa mungkin tidak berurusan dengan mereka.
Di balik keanehan yang orang lain pikirkan, Abel memiliki sebuah rahasia besar: sebuah buku sketsa kecil yang disembunyikan di balik sampul buku pelajaran Kimia. Isinya bukan rumus molekul, melainkan sketsa wajah Arslan.
Ia tahu jadwal Arslan luar kepala:
• Pukul 07.00: Arslan tiba dengan motor besarnya, selalu melepas helm dengan gerakan yang membuat rambutnya berantakan secara estetis.
• Istirahat Pertama: Arslan berada di kantin belakang, dikerumuni teman-temannya sambil memegang botol minuman dingin.
• Pukul 15.30: Latihan basket dimulai. Abel akan duduk di perpustakaan lantai dua, di meja yang menghadap langsung ke lapangan, menjadikannya kursi penonton VIP yang tersembunyi.
Suatu sore, Abel melihat Arslan kelelahan setelah latihan. Arslan duduk di pinggir lapangan, sementara belasan siswi berebut memberikan botol air minum dan handuk kecil. Abel hanya bisa menggenggam sebuah botol air mineral di tasnya yang sudah ia siapkan sejak pagi, namun nyalinya selalu menciut.
Ia tahu posisinya. Arslan adalah matahari yang terlalu terang, sedangkan dirinya hanyalah debu yang melayang di udara; hanya bisa terlihat jika terkena cahaya, namun tetap tak berarti.
Abel menyadari bahwa Arslan bukan sekadar pria tampan. Ia melihat Arslan yang tetap menyapa satpam sekolah dengan sopan, Arslan yang membantu menggendong tas temannya yang sedang cedera, Arslan yang selalu menjadi juara kelas, dan itulah yang membuat Abel jatuh lebih dalam. Sayangnya, semakin ia mengenal kebaikan Arslan, semakin ia merasa tidak layak untuk sekadar menyapa.
Di bawah naungan pohon beringin yang rimbun, tempat favoritnya untuk melarikan diri dari hiruk pikuk sekolah, Abel duduk bersila. Angin sepoi-sepoi memainkan beberapa helai rambutnya yang luput dari kepangan, namun pandangannya lurus terpaku pada lapangan basket di kejauhan. Di sanalah, Arslan, dengan gerakannya yang luwes dan penuh energi, menjadi pusat dunianya yang sunyi.
Jemarinya yang ramping bergerak lincah di atas halaman buku sketsa kecilnya. Pensil 2B menari, perlahan membentuk garis rahang tegas, sorot mata yang tajam namun ramah, dan senyum tipis yang seringkali menghiasi wajah sang kapten basket. Itu adalah sketsa Arslan yang kesekian kali, mungkin yang kelima belas, atau bahkan kedua puluh. Setiap goresan pensil adalah representasi dari setiap detail yang ia hafal dari Arslan, setiap ekspresi yang diam-diam ia tangkap dari kejauhan.
...****************...
Sebuah sketsa pensil wajah Arslan, seorang remaja pria dengan rambut sedikit acak-acakan, rahang tegas, dan ekspresi fokus.
Setelah selesai, Abel meniup remah-remah pensil dari kertasnya, lalu menatap hasil karyanya dengan senyum tipis. Sketsa ini berhasil menangkap esensi Arslan hari ini: fokus, bersemangat, dan tanpa cela. Ia lalu menutup buku sketsanya, menyelipkannya dengan hati-hati di antara buku-buku pelajaran Fisika dan Matematika yang selalu ia bawa, seolah itu adalah harta karun paling berharga.
Pandangannya kembali ke lapangan. Arslan baru saja berhasil melakukan lay-up yang sempurna, dan sorakan dari bangku penonton mini langsung membahana. Ada rasa hangat yang merayap di dada Abel, rasa bangga yang aneh, seolah kemenangan Arslan adalah kemenangannya juga.
Tiba-tiba, ponselnya di saku bergetar. Sebuah pesan masuk.
Kak Reno: Di depan gerbang. Lima menit lagi kalau nggak keluar, gue tinggal.
Abel tersenyum kecil. Kakaknya, Reno, memang selalu begitu. Kata-katanya seringkali ketus, tapi selalu ada nada peduli di baliknya. Kebetulan Reno pulang kuliah sedikit sore hari ini, sehingga bisa menjemput Abel, sesuatu yang jarang terjadi karena biasanya Abel pulang naik angkutan umum atau jalan kaki.
Dengan agak terburu-buru, Abel bangkit. Ia merapikan rok dan seragamnya, memastikan tidak ada remah daun atau debu yang menempel. Sambil berjalan menuju gerbang, ia melirik lapangan basket sekali lagi. Arslan masih di sana, dikelilingi oleh para pengagumnya. Abel menarik napas dalam, lalu berbalik. Dunia nyatanya memanggil, dan dunia fantasinya bersama Arslan harus kembali ia simpan rapat-rapat, setidaknya sampai esok hari di bawah pohon beringin yang sama.