Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.
Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.
Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.
Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 14
Pagi hari datang dengan suasana yang jauh lebih tenang.
Setelah malam panjang yang memberinya kepuasan tersendiri, Max terbaring diam di ranjang bangsal. Kepindahannya ke kamar kelas rendah berjalan persis seperti yang ia rencanakan. Sepanjang malam, Zayna duduk menemaninya, merawatnya, menjaganya, menuruti setiap kebutuhannya tanpa satu pun keluhan.
Kini, Zayna duduk di sisi ranjang dengan kepala bersandar lemah. Semalaman terjaga membuat tubuhnya menyerah. Matanya terpejam, napasnya teratur, tertidur tanpa sadar di tempat itu.
Wajah Zayna terlihat lelah. Mata sembab, pakaian yang ia kenakan tampak kusut dan kumal. Namun dalam kondisi seperti itu, kecantikannya tidak pudar, justru tampak rapuh, jujur, dan nyata.
Max menatap Zayna dalam diam. Mengamati setiap detail wajah gadis itu yang tertidur karena kelelahan demi dirinya.
“Bagus. Kau benar-benar tidak pergi.” Batin Max tenang.
Pagi itu terasa damai, dan bagi Max, ketenangan itu adalah bukti bahwa rencananya berjalan sempurna.
Beberapa jam kemudian, seorang dokter senior sedang melakukan audit, ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit bersama beberapa staff dan perawat, memeriksa laporan dan kondisi pasien.
Langkahnya mendadak terhenti saat matanya menangkap sosok di salah satu ranjang. Bagaimana tidak terkejut. Max berada di bangsal kelas rendah.
“Max?!” Ucapnya terkejut.
Semua staff dan perawat yang mengiringinya ikut menegang. Mereka yakin nama itu bukan nama sembarang orang.
Tanpa berkata apa pun, Max mengangkat tangannya yang terpasang selang infus, lalu menempelkan telunjuknya ke bibir, memberi isyarat agar diam.
Pandangan matanya kemudian beralih ke sisi ranjang. Zayna tertidur di sana.
Kepala Zayna bersandar di lengan Max dan kedua tangan yang mungil itu bahkan belum cukup untuk menggenggam keseluruhan satu telapak tangan Max, seolah Zayna takut pria itu menghilang.
Dokter senior itu mengikuti arah pandang Max. Begitu melihat Zayna, ia langsung memahami isyarat tersebut.
Dokter itu mengangguk pelan, lalu memberi kode pada para staf agar mengikutinya meninggalkan ruangan dengan tetap tenang dan tidak bersuara.
“Kelas paling rendah.” Ucap Max lirih menerawang setiap sisi kamarnya.
“Seumur hidupku baru kali ini berbaring di tempat seperti ini dan semuanya demi dirinya. Semakin ia merasa aku tidak punya apa-apa. Semakin ia tidak akan pergi.” Seulas senyuman lebar dengan perasaan geli terpasang di wajah Max.
Tangannya yang bebas sedikit menegang, memastikan genggaman Zayna tetap ada.
Di luar ruang perawatan, Bleiz telah menunggu. Begitu dokter itu mendekat, Bleiz langsung menundukkan kepalanya sebagai bentuk hormat.
“Tuan Albert…”
“Apa yang terjadi dengan keponakanku…?!” tanya dokter tersebut dengan nada tertahan.
Albert segera membuka berkas rekam medis, alisnya mengernyit.
“Kepalanya sobek, tapi tidak ada tanda gegar otak. Lalu… Siapa yang menusuk perutnya?”
Bleiz menelan ludah.
“Tuan Albert… Mohon maaf. Saya gagal menjaga Tuan Max. Seperti biasanya, Nyonya Nevari—”
Belum sempat Bleiz menyelesaikan kalimatnya, Albert langsung menyela dengan suara bergetar menahan amarah.
“Nevari! Dia lagi!” Geramnya.
”Aku akan membunuhnya dengan pisau bedahku sendiri!”
Kemarahan itu membuat udara di lorong terasa menegang.
Albert Sylia sang adik kandung Evelyn Sylia, ibu biologis Max, pria itu mengepalkan tangannya. Amarah, dan ketakutan bercampur menjadi satu, menggelegak di dadanya.
“Kali ini alasan apa yang Nevari buat untuk melenyapkan keponakanku?!”
Bleiz terdiam sejenak. Ia menimbang apakah pantas menyampaikan kebenaran itu pada Albert. Namun ia mengenal betul watak pria tersebut, Albert tak akan pernah tenang. Sekalipun Bleiz bungkam, Albert akan tetap mencari tahu sendiri.
Akhirnya Bleiz angkat bicara.
“Dia… memakai makam Nyonya Evelyn untuk memancing dan menjebak Tuan Max.”
“Brengsek!” Satu kata itu keluar dengan geram, penuh kebencian yang tertahan.
Albert Sylia, pria yang usianya telah memasuki kepala empat, tampak jauh lebih muda dari angka sebenarnya. Bahkan jika ia disandingkan dengan Max, keduanya lebih terlihat seperti kakak dan adik ketimbang paman dan keponakan.
—————
Sementara itu, di tempat lain, ketika Zayna, istrinya harus berjuang menghadapi teror para rentenir seorang diri, Drake justru menghabiskan sepanjang harinya bersama selingkuhannya, dan pagi ini juga pria itu menjalaninya dengan cara yang jauh dari kata bernurani.
Drake berbaring santai, memeluk seorang gadis belia bernama Ezme. Tubuh mereka telanjang tanpa sehelai benang pun, jelas mereka telah menghabiskan malam-malam panas penuh kenikmatan.
Gadis itu masih sangat muda, hidupnya dimanja berlebihan hingga terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Selimut berwarna merah muda warna kesukaan Ezme menyelimuti tubuh mereka, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan kekacauan yang melanda hidup Zayna.
Ezme tertidur di lengan Drake, wajahnya tampak tenang. Drake lalu meraih ponsel di sisi ranjang, ia mengeceknya sekilas, tidak ada pesan, tidak ada panggilan dari Zayna.
Drake pun mendengus pelan.
“Dia pasti baik-baik saja. Zayna bukan tipe wanita yang suka merengek. Biasanya, perempuan itu hanya mengirim pesan singkat, tentang tagihan, tentang rentenir, tentang uang. Namun anehnya, seharian kemarin Zayna begitu tenang, padahal setiap tanggal jatuh tempo wanita itu akan kebingungan. Ini terlalu diam. Apa Zayna mendapatkan uang untuk membayar para lintah darat itu.” Drake berbicara sendiri dan memikirkannya dengan dalam.
“Sayang… Kau sedang apa sepagi ini?” Suara Ezme terdengar lirih ketika gadis itu membuka mata.
Drake tersentak ringan lalu meletakkan ponselnya.
“Ah, apa aku membangunkanmu?” Tanyanya sambil tersenyum.
Ezme justru mengeratkan pelukannya.
“Kau tidak pergi belajar? Bukankah kau bilang kuliah hari ini penting?”
Ezme mendengus manja.
“Aku malas. Aku ingin bersamamu saja. Lagi pula ayahku kaya, kakakku kaya. Aku tidak akan kekurangan apa pun.
Ezme tersenyum penuh dengan keyakinan.
“Pacarku yang tampan ini juga sebentar lagi jadi manajer. Jadi, untuk apa aku capek-capek belajar?”
Ucapan itu membuat Drake terdiam sejenak. Ucapan Ezme membuat Drake teringat sesuatu dan pikirannya melayang pada surat pengunduran diri yang harus segera ia serahkan, dan memulai pekerjaannya yang baru di perusahaan IT milik Darwin, kakak Ezme.
Awalnya, Darwin sempat ragu. Tentang Investasi yang melibatkan Max. Darwin tahu betul sosok Max, si pria kejam yang di takuti di kalangan pebisnis. Sosok Max yang gila akan bisnis membuat semua rivalnya memilih untuk tidak bersenggolan.
Apalagi Max yang memiliki alasan janggal, hanya mau berinvestasi jika melalui Drake, dan harus Drake yang mengelolanya. Namun setelah Cedric sang ayah, mengamuk dan menekan dengan keras, Darwin akhirnya tidak punya pilihan lain selain mengangguk setuju.
Dan Drake? Pria itu memilih tidak berpikir terlalu jauh. Selama semuanya berjalan lancar, selama hidupnya terasa nyaman, hal lain bisa menunggu.
“Aku harus ke perusahaan lama ku, menyerahkan surat pengunduran diri. Apa kau mau ikut dan menemaniku?” Kata Drake yang tiba-tiba mencium hidung Ezme.
“Mau! Aku akan mengantarmu, kebetulan hari ini, ayah mengirimkan hadiah mobil baru. Aku memintanya karena kemarin aku sudah memenuhi keinginanannya untuk hadir di acara pelelangan.” Kata Ezme semangat.
Drake tersenyum senang, dan menikmati surga yang secara tiba-tiba datang padanya melalui Ezme.
Bersambung
penguntit suruhan nevari belum tuntas yg kemarin 🤣🤣🤣
hemmm mau ketemu istri orang aja adaaa saja gangguannya😏
ceritanya nggantung lagi dah kayak kates
sombonge ndhisek ajooorrre kari wkwkwk