NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu / Duda / Romansa / Pengasuh
Popularitas:91.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Mau Cari Kerja

Di kediaman Pak Wijaya, malam belum sepenuhnya turun. Lampu-lampu teras menyala, memantulkan bayangan daun ke dinding. Jam dinding menunjuk hampir pukul delapan.

Lena masih di rumah itu.

Sesuai perjanjian, jam kerjanya sampai pukul sembilan malam. Ia tidak keberatan—gaji yang dijanjikan cukup lumayan besar untuk ukuran desa Kulon Progo. Lagi pula, anaknya aman bersama ibunya di rumah.

Ezio yang tadi tertidur karena lelah menangis kini mulai bergerak. Isak kecil terdengar, lalu membesar.

Lena yang sedang merapikan baju Ezio segera menoleh. “Ssst … sst ....”

Ezio membuka mata, wajahnya mengerut. Tangisannya pecah.

Lena sigap. Ia mengambil botol susu, memeriksa suhu, lalu menyodorkannya ke mulut Ezio. “Minum dulu ya, Nak. Kamu jangan pakai nangis kencang lagi, nanti ayahmu berpikir saya nggak bisa ngurus anak."

Ezio menolak. Kepalanya berpaling, tangisannya makin kencang.

Lena mengernyit. “Lho … kenapa? Jangan nyusahin deh!"

Ia mencoba lagi, mengubah posisi. Tetap ditolak.

Tangisan itu menggema di kamar tamu.

Krisna yang masih di ruang kerja menutup mapnya. Rahangnya mengeras. Ia berdiri, melangkah ke kamar tamu.

“Ada apa?” tanyanya dingin.

Lena tampak gugup tapi berusaha tenang. “Mungkin lapar, Pak. Tapi susunya ditolak.”

Krisna melirik jam. “Tadi sudah makan MPASI.”

“Iya, Pak. Tapi—”

Tangisan Ezio menutup kalimat itu. Krisna mendekat, mengamati. Wajah anaknya merah, tubuhnya kaku.

“Gendong,” kata Krisna singkat.

Lena menggendong, mengayun. Ritmenya cepat, teratur. Ezio justru menangis lebih keras.

Krisna mengatupkan rahang. “Jangan terlalu cepat.”

“Oh—iya, Pak.” Lena memperlambat, tapi tetap canggung.

Tangisan tidak reda.

Krisna meraih Ezio. “Sini.”

Begitu berpindah tangan, tangisan tetap ada. Krisna mengayun, menepuk punggung, mencoba suara rendah. Tidak berhasil.

“Kenapa lagi, Nak,” gumamnya. “Tadi siang baik-baik saja.”

Lena berdiri di samping, ragu. “Mungkin ... kangen.”

“Kangen?” Krisna menoleh tajam.

“Maksud saya … kangen suasana tempat tinggal yang dulu,” Lena meralat cepat.

Ezio menangis lebih keras.

Krisna menarik napas panjang, mencoba menahan frustrasi. Tenang, katanya pada diri sendiri. Ini bayi.

Namun bayangan pagi tadi menyelinap—tawa renyah, sendok MPASI, ayunan pelan. Nama itu muncul tanpa diundang.

Raisa.

Krisna menggeleng kecil. “Coba ganti popoknya.”

Lena mengangguk cepat, mengambil popok. Ia cek—kering.

“Popoknya kering, Pak.”

Krisna menatap anaknya. “Berarti bukan itu.”

Tangisan terus berlanjut. Waktu terasa melambat.

“Pak Krisna,” kata Lena hati-hati, “mungkin Ezio capek. Saya coba baringkan sebentar.”

“Boleh,” jawab Krisna datar.

Ezio dibaringkan. Tangisannya justru naik satu oktaf.

Krisna menutup mata sebentar, menghembuskan napas. Kenapa jadi begini.

Di rumah kecil Raisa, makan malam berlangsung sederhana. Bu Rika menyuap pelan, ayah Raisa membantu menata piring. Raisa duduk di lantai, mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Uangnya simpan baik-baik,” kata ayahnya.

“Iya, Pak.”

“Buat ongkos cari kerja,” tambah Bu Rika.

Raisa mengangguk. “Besok aku coba lagi. Siapa tahu kali ini dapat kerjaan."

***

Kembali ke rumah Kades, jam menunjukkan pukul delapan lewat lima belas.

Ezio akhirnya tertidur—bukan karena tenang, melainkan karena lelah menangis lagi. Wajahnya basah air mata. Krisna berdiri di dekat ranjang kecil, memandangi anaknya dengan dada sesak.

Lena berdiri beberapa langkah di belakang, wajahnya cemas. “Maaf, Pak. Saya—”

“Tidak apa-apa,” potong Krisna dingin. “Ini mungkin adaptasi sama kamu.”

Namun nada suaranya tidak meyakinkan, bahkan bagi dirinya sendiri.

Ia melirik jam lagi. “Nanti jam sembilan kamu pulang.”

“Baik, Pak.”

Lena mengangguk, menahan perasaan. Ia merasa sudah melakukan yang terbaik—sesuai pengalaman yang ia miliki. Tapi bayi itu tetap menangis, dan sudah tentu hatinya khawatir kalau sampai dipecat.

Krisna kembali ke ruang kerja. Ia duduk, menatap berkas-berkas vendor alat medis tanpa fokus. Tangannya mengetuk meja pelan—kebiasaan saat pikirannya kacau.

Ponselnya tergeletak di meja.

Nama “Raisa” tidak ada di sana. Tidak pernah ada. Bahkan, ia sendiri tidak punya nomor ponsel gadis itu. Namun, bukan itu masalah utamanya. Ego dan gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui jika ia membutuhkan Raisa.

Ia memejamkan mata, menghela napas panjang. Ini keputusan yang benar, ulangnya.

Namun ketika suara tangisan kecil kembali terdengar dari kamar tamu—lemah, tertahan—dadanya menegang lagi.

Jam sembilan tepat, Lena berpamitan. “Maaf Pak, saya izin pulang dulu.”

Krisna mengangguk. “Besok datang jam tujuh.”

“Iya, Pak.”

Begitu pintu tertutup, rumah terasa lebih sunyi—dan entah kenapa, lebih kosong.

Krisna menghampiri Ezio. Bayi itu terbangun lagi, merengek kecil.

“Papa di sini,” bisik Krisna. Ia menggendong, mengayun pelan—lebih pelan dari biasanya. Ia mencoba mengingat ritme yang pernah ia lihat.

Pelan.

Lebih pelan lagi.

Ezio merengek, lalu terdiam. Tidak tidur, tapi tenang.

Krisna membeku. Ia menahan napas, takut gerakannya salah.

“Begini?” gumamnya.

Ezio menguap kecil.

Krisna menghela napas—lega setengah mati.

Di luar, malam semakin pekat. Di dua rumah yang berbeda, dua dunia berjalan dengan ritme masing-masing. Raisa menyimpan uangnya rapi, menyiapkan harapan kecil untuk esok. Krisna berdiri mengayun anaknya, mencoba belajar ulang hal paling dasar: sabar.

Dan di antara keduanya, tanpa mereka sadari, ada benang halus yang belum putus—benang yang mungkin akan kembali menegang, menarik mereka ke satu titik yang sama.

***

Pagi datang dengan udara yang masih dingin, membawa bau tanah basah dan suara ayam berkokok dari kejauhan.

Di rumah sederhana Bu Rika, suasana jauh berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Bu Rika tampak sudah pulih. Wajahnya segar, rambutnya digulung rapi, dan kemeja kerjanya sudah dikenakan. Ia berdiri di depan cermin kecil, membetulkan kerah sambil tersenyum kecil.

“Alhamdulillah,” gumamnya.

Di dapur, Raisa—dengan kaos rumah dan rambut yang diikat asal—sibuk menumis kangkung. Wajan kecil mendesis, aroma bawang putih dan cabai memenuhi ruangan. Di sisi lain, tempe mendoan sudah hampir matang, warnanya keemasan, renyah di pinggir.

“Mak,” panggil Raisa sambil membalik tempe. “Sarapan bentar. Kangkung sama mendoan udah matang.”

Bu Rika keluar dari kamar. “Iya, iya. Kamu rajin sekali pagi-pagi.”

Raisa mendengus kecil. “Daripada bengong.”

Ia mengangkat wajan, mematikan kompor. “Mak jadi berangkat kerja hari ini?”

“Iya,” jawab Bu Rika. “Sudah enakan badan Mak. Lagian Mak juga nggak enak kalau kelamaan istirahat."

Raisa mengangguk, lalu menyendokkan kangkung ke piring. “Ini dimakan dulu, Mak.”

Bu Rika menatap anaknya sebentar, lalu tersenyum. “Kamu nggak ikut?”

Raisa menggeleng. “Enggak. Aku mau cari-cari lowongan lagi, Mak.”

Bu Rika menepuk bahu Raisa lembut. “Pelan-pelan. Rezeki nggak ke mana.”

Raisa mengangguk pelan. "Doain ya Mak, aku dapat kerja. Jadi bisa bantu Mak dan Bapak."

Bersambung ... 🔥💔

1
Herman Lim
akhir nya ezio py ibu asuh yg tulus
Sugiharti Rusli
beruntung bu Lita mengambil langkah tegas mau si Krisna protes atau tidak, toh kenyataannya sang cucu langsung anteng saat di tangan Raisa,,,
Sugiharti Rusli
sudah jelas saat bersama Raisa selama dua hari, anaknya tenang dan happy dalam pengasuhannya dan tidak rewel,,,
Sugiharti Rusli
ini mah hanya langsung si bapak yang putuskan hanya berdasarkan pengalaman yang belum pernah dia lihat,,,
Sugiharti Rusli
di mana" yah kalo cari buat pengasuh anak tuh seharusnya diperkenalkan kepada bayi nya si objek yang akan diasuh,,,
Sugiharti Rusli
kamu tuh sebenarnya cari pengasuh buat putra kamu atau buat siapa sih Kris sedari awal juga,,,
K4RL4
pawang dede ezio dtng 👍👍👍.
kepo sm bibir lena, kira² meledaknya sprti ap y ???
mommy bab selanjutnya ditnggu 💪💪💪💪💪😊
mama
abis sholat terawih tak tengok kok blm up thor🤭..
Teh Euis Tea
alhamdulilah ezio udah tensng di tangan raisa dan untuk lena tdnya aku kasian sm km tp ternyata sikap polosmu hanya bohong belaka
astr.id_est 🌻
diam distuuuuu 😅😅😅
astr.id_est 🌻
raisa seperti ibu peri sungguh ajaib, seketika ezio lngsg tenang
astr.id_est 🌻
kocak lena 🤣🤣
Elizabeth Zulfa
udah kebuka blm kris mata kamu... zg br pengalaman blm tentu memberikan rasa nyaman tpi klo rasa aman sudah didapat pengalaman akan ikut menyertainya... sampai sini paham kan ya abang duda... 😜😜😜klo msih mentingin ego brrti fix kamu tega sama dedek Ezio
astr.id_est 🌻
👍👍👍👍
kaylla salsabella
alhamdulillah dedek udah tenang
@Arliey🌪️🌪️
pawang nya ezio nich senggol dong🤣🤣🤣
kaylla salsabella
semoga habis ini dedek sembuh
RiriChiew🌺
nahkan pada akhirnya kalau pawang ezio hadirr dari tdi pasti udh sunyii gak akan nangis sepanjang hari . bapaknye ngeyell si pengasuh juga bermuka dua mana mau bayi nempel
@alfaton🤴
jangan nangis lagi ya de Zio..... momy Raisa udah dipelukanmu.... sekarang istirahat...... dan kamu Lena......masih mau berdebat tentang Ezio..... pengalaman jadi baby sitter mu mengalahkan Raisa yang suka dengan anak kecil..... karena tugasmu itu memang kewajiban dan tanggung jawab sebagai ibu dari anakmu ... paham lena😅😅😅😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
coba dr awal begini ga cape bayangin bayi sekecil ezio nangis2 sampe demam 🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!