Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.
Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.
Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.
Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?
#areakhususdewasa ⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 (Part 2)
Adrian membawa mereka ke ruang belakang yang lebih hangat. Ia memberikan handuk dan beberapa pakaian kering milik adiknya untuk Kella, serta jaket tebal untuk Gala.
"Kalian tidak bisa pulang malam ini," kata Adrian. "Rumah Kella pasti sudah dijaga orang-orang Hendra. Apartemen Gala juga tidak aman."
"Aku punya tempat," kata Kella pelan. "Amai Memories - Maid Butler Cafe. Pak Heru punya ruang bawah tanah kecil yang dulunya dipakai Gabriel buat simpan barang. Nggak ada yang tahu selain aku dan Pak Heru."
Gala menatap Kella. Di tengah kondisi fisiknya yang hancur karena flu, ada rasa kagum yang tersirat. "Lo berani banget, Kella. Kalau Pak Heru ketahuan, dia juga bisa kena masalah."
"Pak Heru sayang Gabriel seperti anaknya sendiri, Gala. Dia bakal bantu kita," tegas Kella.
Adrian mengangguk. "Baiklah. Aku akan bawa dokumen ini ke safe house-ku untuk difotokopi dan didigitalisasi malam ini juga. Besok pagi, kita lapor ke komisi pengawas."
Sebelum mereka pergi, Adrian menahan Gala sebentar. "Gala, ayahmu baru saja merilis pernyataan ke media internal bahwa kamu diculik oleh oknum staf katering. Dia ingin membuat pencarianmu menjadi pencarian resmi pihak kepolisian."
Gala menyeringai. "Taktik klasik. Dia mau pakai polisi buat nyari gue, biar dia nggak terlihat kotor. Tapi dia lupa, gue juga punya kartu as."
...
Pukul 01.30 WIB – Ruang Bawah Tanah Kafe.
Pak Heru menyambut mereka dengan wajah pucat, namun ia segera membukakan pintu rahasia di balik rak penyimpanan kopi. Di bawah sana, ada ruangan kecil berukuran 3x3 meter dengan satu kasur tipis dan sebuah meja kayu.
"Istirahatlah di sini. Bapak akan berjaga di depan," bisik Pak Heru.
Gala duduk di pinggir kasur, ia mulai menggigil hebat. Suhu tubuhnya naik lagi. Kella segera mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompres dahi Gala.
"Kella... pergi aja," gumam Gala, matanya terpejam.
"Lo nggak perlu... ikut sembunyi di lubang tikus ini."
Kella tidak mendengarkan. Ia duduk di samping Gala, memeras handuk hangat dan meletakkannya di dahi pria itu. "Diamlah, Gala. Kamu sudah melakukan bagianmu malam ini. Sekarang giliran aku yang menjagamu."
Gala meraih tangan Kella yang sedang mengompresnya. Genggamannya lemah, namun terasa sangat tulus. "Gue... gue bener-bener minta maaf soal tadi di gudang sekolah... dan di mobil tadi. Gue nggak seharusnya..."
"Jangan dibahas sekarang," potong Kella lembut. "Tidurlah. Besok pagi, perang yang sebenarnya baru akan dimulai."
Gala akhirnya tertidur karena pengaruh obat yang diberikan Adrian tadi. Kella duduk di lantai, bersandar pada kasur, menatap wajah Gala yang terlihat tenang saat tidur. Tidak ada lagi kerutan kemarahan di dahinya.
Kella menyadari bahwa dalam pelarian ini, mereka bukan lagi sekadar dua remaja yang sedang membalas dendam. Mereka adalah satu-satunya keluarga yang mereka miliki saat ini.
...
Pukul 04.00 WIB – Bayangan di Luar Kafe.
Kella terbangun karena suara gesekan di lantai atas. Ia menahan napas, telinganya menempel pada pintu rahasia.
Sreeek... sreeek...
Suara langkah kaki yang berat. Itu bukan langkah Pak Heru yang ringan.
Kella melihat melalui celah kecil di pintu. Ia melihat bayangan seseorang berdiri di depan rak kopi. Orang itu memegang senter, sorot lampunya menyapu ruangan kafe yang gelap.
Hendra.
Dia berhasil melacak keberadaan mereka hingga ke kafe ini.
Kella segera mendekati Gala, membekap mulut pria itu agar ia tidak mengeluarkan suara jika tiba-tiba terbangun. Gala membuka matanya, seketika ia sadar akan situasi tersebut.
Mereka berdua membeku di kegelapan bawah tanah, hanya dipisahkan oleh sekat kayu tipis dari orang yang ingin menghancurkan hidup mereka. Jantung Kella berdegup sangat kencang, ia bisa merasakan napas Gala yang memburu di telapak tangannya.
....