Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.
Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.
Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.
Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.
Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NYALA API DI TENGAH SAMUDERA
POV Maria Joanna
Dinginnya air laut Mediterania masih terasa menusuk hingga ke tulang sumsumku, meskipun tubuhku kini sudah terbungkus selimut termal di dalam perut kapal selam The Phantom. Namun, rasa dingin itu tak sebanding dengan kekosongan yang kurasakan saat bayangan ledakan jet pribadi Ayah terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak.
Ayah... apakah kau benar-benar pergi meninggalkanku lagi?
Aku menatap cermin kecil di dinding logam kabin. Wanita yang menatap balik ke arahku bukan lagi Maria yang lemah, bukan lagi gadis kontrak yang meratapi nasibnya di Jakarta. Mataku merah karena tangis yang kupendam, namun ada kilat kemarahan yang jauh lebih panas dari api ledakan tadi.
"Putri Maria," suara berat Laksamana Chen memecah keheningan. Ia berdiri di ambang pintu, sosoknya yang tegap dengan seragam militer gelap tanpa lencana resmi membuatnya tampak seperti hantu laut. "Kita sudah berada di kedalaman 300 meter. Radar Zhao tidak akan bisa melacak kita di sini. Kita sedang menuju pangkalan rahasia di lepas pantai Shanghai."
Aku berdiri, membiarkan selimut itu jatuh ke lantai. "Katakan padaku, Laksamana. Berapa besar peluang Ayah selamat dari rudal itu?"
Chen diam sejenak, matanya yang memiliki bekas luka itu menatapku dengan jujur—kejujuran yang menyakitkan. "Raja Arthur adalah pilot yang handal, namun rudal itu adalah teknologi terbaru dari faksi Zhao. Jika dia sempat melontarkan diri sebelum benturan, dia mungkin berada di tangan tim penyelamat El Halcon. Namun, untuk saat ini, dunia menganggapnya sudah tewas. Dan itu adalah keuntungan bagimu."
"Keuntungan?" Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku memutih. "Bagaimana mungkin kematian Ayahku disebut keuntungan?!"
"Karena saat Zhao mengira dia sudah menang, dia akan menjadi ceroboh," Chen melangkah mendekat, memberikan sebuah dokumen digital padaku. "Di dalam dokumen ini ada daftar semua menteri di Beijing yang masih setia pada mendiang Kakekmu. Mereka membutuhkan pemimpin. Mereka membutuhkan darah Julia untuk mengobarkan revolusi."
Sebastian duduk di sudut ruang navigasi, mencoba mengobati luka tembak di lengannya sendiri. Ia memperhatikan Maria yang kini sedang berdiskusi serius dengan Laksamana Chen. Sebastian menyadari bahwa Maria Joanna yang ia kenal di Jakarta telah mati di atas reruntuhan kereta Sevilla.
"Laksamana, Putri tidak butuh sekadar revolusi," bisik Sebastian saat Chen melewatinya. "Dia butuh pembalasan dendam yang tuntas. Dia ingin Zhao merangkak seperti Adrian."
Chen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengerikan. "Aku tahu. Itulah sebabnya aku akan melatihnya. Selama dua minggu perjalanan menuju Shanghai di bawah air ini, Maria tidak akan menjadi Putri. Dia akan menjadi muridku dalam seni peperangan asimetris dan sabotase ekonomi. Saat kita mendarat, Beijing akan menyadari bahwa mereka salah memilih musuh."
Selama dua minggu berikutnya, kapal selam itu menjadi kawah candradimuka bagi Maria. Di bawah tekanan oksigen yang terbatas, ia belajar cara membaca pergerakan pasar saham untuk menghancurkan pendanaan militer Zhao. Ia belajar cara menggunakan senjata jarak dekat dan teknik intimidasi. Maria melahap semua pelajaran itu dengan haus, seolah-olah setiap informasi adalah peluru yang akan ia tembakkan ke kepala Zhao.
POV Maria Joanna
Empat belas hari kemudian, kami tiba di pinggiran Shanghai. Aku berdiri di depan cermin sekali lagi. Rambut panjangku yang dulu menjadi simbol kecantikan istana kini telah kupotong pendek agar lebih praktis dalam bergerak. Aku mengenakan setelan taktis hitam dengan rompi anti-peluru tersembunyi.
"Putri, kita akan masuk melalui terowongan logistik bawah air yang terhubung ke Pelabuhan Internasional Shanghai," Sebastian memberikan instruksi terakhir. "Identitasmu adalah sebagai teknisi kargo dari Spanyol. Ingat, satu kesalahan kecil, dan Zhao akan mengunci seluruh kota."
Aku mengangguk. Aku meraba liontin singa emas yang kini kusembunyikan di balik seragamku. Liontin itu adalah satu-satunya benda yang menghubungkanku dengan Arthur dan Julia.
"Sebastian," panggilku saat kami bersiap keluar dari kapal selam.
"Ya, Putri?"
"Jika terjadi sesuatu, jangan selamatkan aku. Pastikan dokumen bukti kejahatan Zhao sampai ke tangan pers internasional. Biarkan dunia tahu bahwa dia adalah pembunuh Kaisar yang sebenarnya."
Sebastian menatapku dengan haru. "Hamba akan memberikan nyawa hamba untuk itu, Putri."
Kami menyusup di antara ribuan kontainer di pelabuhan Shanghai yang sibuk. Aroma laut yang amis dan deru mesin derek raksasa menyambut kepulanganku ke tanah leluhur Ibu. Namun, saat kami hampir mencapai mobil jemputan, lampu sorot dari menara pengawas tiba-tiba mengarah tepat ke arah kami.
WIIUUUUNNNGGG!
Suara sirine darurat menggema di seluruh pelabuhan.
Di kantornya yang menghadap The Bund, Shanghai, Jenderal Zhao menatap layar monitor yang menampilkan citra satelit pelabuhan. Ia menyesap cerutu mahalnya.
"Ternyata benar, tikus kecil itu datang melalui jalur laut," ucap Zhao dengan nada bosan. "Dia pikir Laksamana Chen bisa melindunginya selamanya. Kirim unit 'Black Dragon'. Aku ingin Maria dibawa kepadaku dalam keadaan hidup. Aku ingin dia melihat bagaimana aku mengeksekusi keluarga angkatnya dari Jakarta secara siaran langsung di depannya."
Zhao menekan sebuah tombol, menampilkan layar lain yang menunjukkan Pak Bambang dan Ibu Siti yang sedang terikat di sebuah ruangan gelap di Beijing. "Umpan sudah terpasang. Naga kecil itu akan datang sendiri ke mulut buaya."
Aku terkepung di antara kontainer baja. Puluhan tentara dengan seragam 'Black Dragon' menodongkan senapan mereka ke arahku. Sebastian mencoba menarik senjatanya, namun sebuah peluru penenang mengenai lehernya, membuatnya jatuh tersungkur.
Salah satu tentara maju, melepas helmnya, dan aku terkejut hingga jantungku berhenti berdetak.
"Lama tidak jumpa, Maria," ucap pria itu.
Dia adalah salah satu sepupu dekatku dari faksi China, orang yang dulu sering bermain dengan Julia dalam foto-foto lama. Tapi di tangannya, ia memegang sebuah tablet yang menyiarkan gambar Ayah angkatku, Pak Bambang, dengan pisau di lehernya.
"Menyerahlah, atau orang tua angkatmu ini akan menyusul ayahmu ke neraka sekarang juga."