Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendadak sunyi
Silau terik matahari menimpa badan mobil yang sedang melaju diantara puluhan pengendara lain. Celotehan Byan tanpa henti sampai pagar rumahnya terlihat. Disana Bi Merry berdiri menunggu dengan sepeda listrik sebab rumah dan gerbang lumayan jauh.
"Disini, 'kan?" Sebria mendapatkan alamat itu setelah Bi Merry mengirimnya tadi. "Sampai ketemu besok ya..."
"Tante tidak mau masuk dulu?" Ada binar harap tumbuh di dalam manik mata anak itu. Tujuannya minta di antar pulang agar Sebria tahu rumah nya.
"Tante harus buka toko."
Byan mengangguk mengerti. "Kapan-kapan tante masuk ke dalam ya... Papa ku jinak kok tidak marah kalau ada tamu. Aku sudah cerita banyak tentang tante jadi papa pasti tidak marah." Ujarnya panjang lebar.
"Nanti saja ya tante masuk. Sekarang Byan masuk terus bersih-bersih lalu istirahat ya."
Dengan berat hati anak itu membawa langkahnya turun dari mobil Sebria. Meski begitu ia sedikit memahami kesibukan orang dewasa.
Setelah Byan turun. Sebria meninggalkan tempat itu menuju toko nya. Jarak sekolah memang lumayan jauh. Tapi Sebria tidak keberatan soal itu.
...----------------...
Langit perlahan berubah warna, memadukan jingga pudar dengan biru tua yang perlahan turun menjemput malam. Sinar matahari terasa lembut, tidak lagi menyengat, namun cukup hangat untuk mengusir lelah setelah seharian beraktivitas.
Suara angin berdesir pelan, beradu dengan kicau burung yang kembali ke sarang. Sore ini mengajarkan bahwa yang indah tidak harus bertahan lama, cukup dinikmati sebelum gelap benar-benar menyapa.
Roda empat milik Jehan perlahan meninggalkan kantor. Sore ini agak senggang karena semalam ia mengebut pekerjaannya. Rasanya sudah lama tidak menghabiskan sore di rumah. Perubahan Byan dan kedekatannya dengan pemilik toko bunga jadi pikirannya di kantor.
Waktunya memang kurang untuk anaknya. Jehan takut anak nya mencari kenyamanan dari orang lain. Di perjalanan ia mampir ke warung penjual sop buah. Ia tersenyum tipis membayangkan senyum lebar Byan saat melihatnya pulang lebih cepat.
Andaikan dulu Ayusa menurut untuk menggugurkannya. Jehan pasti hidup dengan sebuah dosa besar. Tapi Ayusa tetap mempertahankannya. Meski persahabatan dan cinta menjadi korban. Tapi nyawa janin yang tidak berdosa terselamatkan.
Jehan melajukan kembali mobilnya. Tangan kirinya tergerak melonggarkan dasi. Sekilas obrolan pagi tadi teringat. Bagaimana kabar Sebria saat ini?
Mobil Jehan berhenti di pelataran rumah mewahnya. Ia meraih plastik sop buah dan tas kerjanya. Langkah Jehan lebar menuju pintu utama.
"Papa..." Byan terkejut melihat ayahnya melangkah masuk. "Papa pulang cepat?"
"Iya, lihat papa bawa apa?"
"Sop buah." Wajah Byan berseri senang. Ia membawa plastik itu meminta asisten rumah tangga menuang ke dalam mangkok.
Beberapa menit kemudian Jehan turun mengenakan pakaian rumahan. Ah, jika dilihat seperti itu apa ada yang percaya jika Jehan duda beranak satu. Ia menghampiri putra nya dengan senyum yang mengembang.
"Bagaimana hari ini?"
"Seperti biasa tidak ada yang spesial di sekolah. Tapi hari ini aku diantar oleh tante bunga pulang ke rumah."
"Kenapa di antar? Pak Adi tidak jemput?"
"Tadi kebetulan tante bunga pakai mobil. Ini kue dari tante bunga." Byan menyodorkan kotak berwarna putih. "Bolu gulungnya enak pa, coba saja."
Jehan meraih kotak itu lalu membuka nya. Pandangannya bertemu dengan kue bolu yang sudah hilang beberapa iris. Dari tampilannya memang terlihat enak. Ia mengambil satu iris lalu menyuapnya. Tekstur nya lembut dan tidak terlalu manis. Bolu gulung itu enak. Jehan mengambil lagi dan lagi. Sampai tersisa satu.
"Papa kenapa dihabiskan?"
"Ha, maaf Byan. Kue nya enak." Dengan wajah berdosa nya Jehan menyodorkan yang tersisa. "Ini sisa satu."
Meski kesal Byan menyambar sisa satu iris itu dengan cepat. "Nanti pinjam ponsel papa. Aku mau telpon tante bunga."
"Jangan sering menelpon tante bunga, Byan. Jangan merepotkan orang. Dia juga punya kesibukan lain. Tidak cuma berputar disekitar kamu saja. Kalau mau nanti minta Bi Dian bikin bolu gulungnya."
Byan terdiam. "Iya pa."
...----------------...
Pagi ini terasa kosong dan sepi. Tidak ada dentingan lonceng di pintu masuk. Langkah kecil berlari atau suara cempreng memanggil. Semua nya mendadak sunyi. Beberapa kali Sebria melirik ke pintu dan jam di pergelangan tangannya. Bukan tentang sarapan yang dibawa oleh Byan. Tapi tentang sapaan ceria menggema di dalam toko kecilnya.
Sebria mulai merangkai bunga sesuai pesanan. Namun, ada yang aneh dengan perasaannya. Tidak ingin menebak, ia meraih benda pipih miliknya lalu mengirim pesan pada Bi Merry.
'Byan sekolah?'
'Sekolah'
Tidak menunggu lama Pesan itu sudah berbalas. Sebria merasa lega lalu melanjutkan pekerjaannya. Hingga tanpa terasa siang benar-benar datang. Hari ini ia sudah berjanji untuk makan siang bersama Keona.
Sebelum menutup pintu toko Sebria melempar pandangnya ke arah sekolah. Beberapa jam lagi Byan pulang sekolah. Setelah makan siang harus gegas kembali ke toko.
Menarik nafas panjang Sebria melangkah kesamping untuk mengeluarkan mobilnya. Wanita itu siap pergi ke rumah makan tempat janji temu nya dengan Keona.
"Kamu sudah lama?" Sebria mendaratkan tubuh di kursi.
"Belum." Keona memperhatikan raut wajah kakaknya yang seperti terbebani pikiran. "Kakak kenapa?"
Sebria terkekeh. "Kakak cuma kepikiran pagi ini Byan tidak datang ke toko biasanya setiap hari dia datang. Kakak sudah tanya Byan sekolah atau tidak kata Bi Merry dia sekolah."
"Mungkin dia kesiangan."
"Bisa jadi, kamu sudah pesan."
"Tunggu kakak." Keona membuka buku menu.
Makan siang itu bukan makan siang hanya mengisi perut tapi tentang keluhan Keona karena kemarin hanya mendapatkan dua iris bolu gulung. Setelah Sebria berjanji membuatnya lagi hari ini baru Keona kembali ke kantor. Sebria kadang merindukan sikap manja Keona seperti saat dia masih aktif jadi idola.
Roda empat milik Sebria berhenti di samping toko nya. Ia tergesa keluar lalu membuka toko bunga nya. Sebria meletak plastik buah yang tadi di belinya saat perjalanan ke toko. Ia akan memakan buah itu bersama Byan nanti sambil menunggu jemputan. Tapi yang di tunggu belum juga menampakan batang hidungnya. Biasanya jam seperti ini anak itu sudah menyeberang.
Waktu terus bergerak maju. Sebria melihat dari dinding kaca tokonya anak-anak mulai berhamburan keluar dari gebang di sambut orang tua masing-masing yang menjemput. Tapi di antara mereka yang keluar Byan belum terlihat. Sebria masih menunggu berharap suara cempreng itu terdengar menggema di ruang toko kecilnya.
Sebria sudah menata buah di atas meja dan pisau dapur untuk mengupas. Halaman sekolah sudah mulai sepi tinggal beberapa orang tapi Byan masih belum terlihat menyeberang. Tidak lama yang tersisa tadi juga meninggalkan sekolah. Sekarang halaman sekolah benar-benar sepi.