NovelToon NovelToon
Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas dendam pengganti / Dunia Lain
Popularitas:590
Nilai: 5
Nama Author: indri sanafila

Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.

Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".

Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.

Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Runtuhnya Langit Lantai 50

Denting halus gelas kristal yang beradu dengan nampan perak terdengar seperti simfoni kemenangan di telinga Adrian Dirgantara. Di dalam penthouse eksklusif yang bertengger di lantai 50 Dirgantara Tower, udara terasa sejuk berkat sistem pendingin ruangan (AC) yang bekerja tanpa suara. Wangi maskulin dari parfum oud mahal bercampur dengan aroma cerutu impor dan hidangan laut segar, menciptakan atmosfer kekuasaan yang pekat. Malam ini bukan sekadar perayaan biasa; ini adalah malam penobatan.

Adrian berdiri di dekat jendela kaca raksasa yang membentang lebar dari lantai hingga langit-langit. Di bawah sana, Jakarta tampak seperti hamparan papan sirkuit raksasa yang berpendar. Lampu-lampu kendaraan yang bergerak pelan adalah aliran data yang ia kendalikan dari atas tahtanya. Pada usia tiga puluh tahun, Adrian telah mencapai apa yang hanya bisa diimpikan oleh sebagian besar pria di usianya: menjadi The Shark, predator puncak di dunia investasi teknologi. Setelan jas bespoke berwarna charcoal yang ia kenakan melekat sempurna, membungkus tubuhnya dengan kesan otoritas yang tak terbantahkan.

"Selamat, Pak Adrian. Merger antara Skyline Tech dan Global Stream adalah langkah jenius. Anda baru saja mengamankan posisi kita di pasar Asia Tenggara selama satu dekade ke depan," ucap seorang pria paruh baya dengan perut buncit yang terbungkus jas yang berbahan sutra, salah satu investor utama yang biasanya sulit dibuat terkesan.

Adrian hanya mengangkat gelas champagne-nya tipis, memberikan senyum yang tidak sampai ke mata sebuah raut wajah yang dirancang untuk menjaga jarak. "Pasar tidak peduli pada niat baik, Pak Hendra. Mereka hanya peduli pada margin keuntungan. Dan malam ini, kita memberikannya dalam jumlah yang masif."

Bagi Adrian, kesuksesan bukan untuk dirayakan dengan kata-kata puitis, melainkan dengan kalkulasi matematis yang dingin. Hidupnya adalah deretan angka hijau di layar monitor. Selama angka-angka itu bergerak naik, dunianya berada pada poros yang benar. Ia adalah tipe pria yang percaya bahwa setiap masalah memiliki solusi digital, dan setiap manusia memiliki harga yang bisa ditawar. Namun, di tengah keriuhan yang teratur dan musik jazz yang mengalun rendah itu, pintu ganda ruang VIP tiba-tiba terbuka tanpa peringatan.

Seorang pria tua dengan langkah yang berat dan napas yang sedikit tersengal masuk ke tengah kerumunan. Sosok itu tampak sangat asing di antara para sosialita dan pengusaha muda yang haus dengan kekuasaan; setelan jas abu-abunya tampak kuno, dan wajahnya sepucat kertas yang baru saja keluar dari mesin cetak. Dia adalah Baskara, pengacara pribadi keluarga Dirgantara yang telah mengabdi sejak zaman kakek Adrian.

"Adrian," suara Baskara serak, memotong tawa yang sedang meledak di sudut ruangan. Adrian mengerutkan kening. Ia membenci interupsi, apalagi yang dilakukan tanpa janji temu resmi. "Baskara? Apa yang kau lakukan di sini? Jika ini soal dokumen pajak tahunan atau yayasan, sekretarisku akan mengaturnya besok pagi pukul sembilan."

Baskara tidak mundur. Melainkan ia berjalan mendekat, mengabaikan tatapan sinis dan bingung dari para tamu undangan. Tangannya yang gemetar memegang sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang sudah lecet di bagian sudutnya. "Kita perlu bicara pribadi. Sekarang juga. Ini bukan soal pajak, Adrian. Ini soal fondasi tempatmu berdiri."

Adrian merasakan firasat buruk yang tajam, seperti kerikil yang masuk ke dalam sepatu mewahnya. Ia memberikan isyarat kepada ajudannya untuk mengosongkan area balkon pribadi yang luas. Begitu pintu geser kaca tertutup, suara musik dan obrolan penuh kepalsuan dari dalam ruangan menghilang, digantikan oleh deru angin malam Jakarta yang menderu kencang di ketinggian ratusan meter. Udara di luar sini terasa lebih berat dan lembap.

"Katakan dengan cepat. Aku punya tamu yang harus diurus dan kesepakatan yang harus dijaga," perintah Adrian, nadanya otoriter meski ia mulai merasa tidak nyaman. "Ayahmu... Beliau terkena serangan jantung dua jam yang lalu di kediamannya. Saat ini tim medis sedang berupaya di ICU," Baskara memulai, suaranya bergetar hebat di bawah cahaya lampu balkon yang remang.

Adrian tertegun. Ayahnya, sang Singa Dirgantara yang keras kepala dan selalu tampak tak terkalahkan, tumbang? "Kenapa tidak ada yang memberitahuku lewat telepon? Siapkan helikopter, aku akan ke rumah sakit sekarang." "Tunggu, Adrian! Ada yang jauh lebih mendesak dari itu," Baskara menahan lengan Adrian dengan cengkeraman yang mengejutkan kuatnya. "Kesehatan ayahmu hanyalah awal dari keruntuhan ini. Selama dua tahun terakhir, ayahmu melakukan pertaruhan besar yang sangat rahasia. Beliau menjaminkan hampir seluruh aset korporasi termasuk gedung tempat kita berdiri sekarang, saham utamamu, dan seluruh properti keluarga untuk menutupi kerugian besar di unit usaha agrikultur kita di Jawa Barat."

Adrian tertawa sumbang, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menutupi rasa ngeri yang mulai merayap. "Agrikultur? Maksudmu perkebunan teh tua itu? Itu hanya unit usaha kecil untuk hobi pensiunnya. Nilainya bahkan tidak sampai satu persen dari total aset kita."

"Tidak, Adrian. Ayahmu mencoba melakukan ekspansi besar-besaran secara rahasia untuk menyelamatkan nama keluarga dari kerugian di sektor properti yang kau sendiri tidak tahu. Beliau meminjam dana dari pihak ketiga dengan bunga yang mengerikan. Dan malam ini, tepat saat kau bersulang untuk merger besarmu, mereka menyatakan kegagalan bayar secara resmi. Default."

Dunia di sekitar Adrian seolah melambat secara paksa. Cahaya Jakarta yang tadi tampak seperti hamparan emas, kini berubah menjadi bara api yang siap menelan segalanya. "Berapa banyak?" "Semuanya, Adrian. Miliaran. Kurator sudah menandatangani dokumen penyitaan sore tadi. Besok pagi pukul sembilan, tim legal mereka akan mulai bergerak. Mereka akan membekukan seluruh rekeningmu, menyita apartemenmu, mobil-mobilmu... kau tidak memiliki akses ke satu rupiah pun mulai besok."

Adrian mencengkeram besi pembatas balkon hingga buku-buku jarinya memutih dan terasa ngilu. "Semua rekeningku? Apartemenku? Mobil-mobilku? Itu aset pribadi! Aku punya kekayaan yang kubangun sendiri!" "Semua kekayaan pribadimu terikat sebagai jaminan tambahan dalam dokumen kuasa luas yang kau tandatangani enam bulan lalu saat kau membantu ayahmu melakukan konsolidasi internal, apa kau ingat?" Baskara menatapnya dengan penuh simpati yang justru membuat Adrian merasa mual.

"Kau terlalu fokus pada angka besar di depan mata, Adrian, sampai kau lupa membaca catatan kaki di dokumen keluargamu sendiri. Kau adalah CEO dari sebuah kerajaan yang tanahnya sudah hangus terjual." Gelas kristal di tangan Adrian perlahan terlepas. Bunyi hancurnya kaca di atas lantai balkon terdengar begitu nyaring di tengah keheningan angin malam. Adrian menunduk, melihat serpihan kaca itu persis seperti hidupnya saat ini yang hancur berkeping-keping dalam hitungan menit. "Apakah... ada yang tersisa? Satu pun?" tanya Adrian, suaranya kini terdengar lirih, nyaris menyerupai bisikan pria yang baru saja kehilangan identitasnya.

Baskara membuka map cokelatnya, mengeluarkan selembar akta tua yang sudah menguning di bagian tepinya dan memiliki aroma kertas lembap. "Ada satu. Perkebunan Teh Malabar. Perkebunan itu terdaftar atas namamu secara pribadi sejak ulang tahunmu yang ke-17. Ayahmu tidak pernah memasukkannya ke dalam aset korporasi karena itu adalah tanah hibah turun-temurun dari kakekmu yang memiliki klausul perlindungan khusus. Itu adalah satu-satunya jengkal bumi yang masih kau miliki secara hukum."

Adrian menatap akta itu dengan penuh kebencian yang mendalam. Nama "Adrian Dirgantara" tertulis di sana dengan tinta hitam yang tebal, berdampingan dengan lokasi desa terpencil di Jawa Barat yang bahkan tidak bisa ia temukan di peta tanpa bantuan sistem navigasi tercanggih.

Malam itu, kemewahan di lantai 50 berubah menjadi penjara yang menyesakkan. Adrian tidak kembali menemui tamunya. Ia berjalan keluar melalui lift servis, menghindari kilatan lampu kamera dan jabat tangan palsu. Ia kembali ke apartemennya yang megah hanya untuk menemukan bahwa beberapa barang sudah mulai diberi tanda inventaris secara tidak resmi oleh pihak pengamanan gedung yang sudah mendengar selentingan kabar.

Dengan gerakan mekanis yang kaku, Adrian mengeluarkan sebuah koper kulit berukuran besar. Ia tidak mengambil koleksi jam tangannya, ia tidak mengambil medali-medali penghargaannya. Ia hanya memasukkan beberapa helai kemeja mahal, beberapa jas yang masih tersisa, dan laptopnya. Ia meninggalkan kunci-kunci mobil mewah di atas meja makan marmernya yang dingin.

Saat fajar mulai menyingsing dan kabut polusi Jakarta mulai terlihat di cakrawala, Adrian sudah berdiri di lobi gedung. Tidak ada sopir yang menunggu. Tidak ada asisten pribadi yang membawakan kopernya. Ia berdiri di pinggir jalan, memegang koper beratnya di bawah tatapan heran dari para petugas kebersihan jalan.

Adrian memanggil taksi umum sebuah pengalaman yang terasa sangat asing baginya. "Ke arah selatan. Keluar dari kota," ucapnya singkat kepada pengemudi taksi. Perjalanan itu memakan waktu hampir tujuh jam. Semakin jauh ia meninggalkan Jakarta, semakin jalanan menyempit dan dipenuhi lubang. Gedung-gedung pencakar langit yang mengkilap digantikan oleh deretan pohon sengon, sawah-sawah yang mulai menguning, dan pasar-pasar tradisional yang riuh. Udara dingin pegunungan mulai merayap masuk melalui celah jendela taksi yang tidak tertutup rapat, menggantikan hawa pendingin ruangan yang selama ini menjadi napasnya.

Taksi itu akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang kayu raksasa yang sudah lapuk dan miring. Tulisan Dirgantara Tea Estates pada papan kayu di atasnya sudah memudar, tertutup oleh lumut dan tanaman merambat. Adrian turun dari taksi. Sepatu pantofel kulitnya yang mengkilap seharga satu motor baru segera disambut oleh tanah merah yang becek dan licin akibat hujan semalam.

Ia berdiri di sana, sendirian dengan kopernya, menatap hamparan bukit yang tertutup semak teh yang liar dan tidak terawat. Di tengah hamparan hijau yang tampak tidak teratur itu, berdiri sebuah rumah panggung kayu besar yang terlihat sangat tua dan terabaikan. Adrian baru saja akan melangkah maju, menyeret kopernya yang berat di atas jalan berbatu, ketika sebuah suara instruksi yang tajam dan dingin memecah keheningan kabut pagi.

"Siapa kau? Area ini dilarang untuk orang asing. Petani kami sedang bekerja, dan kau hanya akan merusak jalanan dengan koper bodohmu itu!" Seorang wanita muncul dari balik barisan tanaman teh yang tinggi. Ia mengenakan celana kargo yang kotor oleh lumpur, sepatu bot karet yang tebal, dan topi caping yang tersampir di punggungnya. Matanya menatap Adrian dengan intensitas yang lebih tajam dan lebih menghakimi daripada para investor paling galak di Jakarta. Wanita itu memegang sebuah alat pengukur kelembapan tanah dan menatap Adrian dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh penghinaan.

Adrian terdiam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa wibawanya yang sudah rontok di jalanan. "Aku Adrian Dirgantara. Aku pemilik tanah ini." Wanita itu tertegun sejenak, matanya membelalak kecil, lalu sebuah tawa sinis yang pendek keluar dari bibirnya. Ia melipat tangan di dada, memandangi setelan jas charcoal Adrian yang kini sudah ternoda percikan lumpur cokelat di bagian bawahnya.

"Pemilik?" tanya wanita itu sambil melangkah mendekat, mengabaikan jarak pribadi yang biasanya dijaga orang terhadap Adrian. "Kalau kau memang orangnya, berarti kau adalah orang yang bertanggung jawab atas mesin penggiling yang meledak minggu lalu dan upah warga yang belum dibayar selama tiga bulan. Baguslah kau datang sekarang."

Wanita itu kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang tampak sangat kotor dan lusuh. Ia memberikannya kepada Adrian dengan gerakan yang kasar. "Bacalah. Kalau kau memang memiliki otak di balik rambut rapi mu itu, kau akan tahu bahwa kau tidak hanya datang ke sebuah kebun teh. Kau datang ke sebuah medan perang yang sudah hampir rata dengan tanah."

Adrian menerima amplop itu dengan ujung jarinya, merasa jijik sekaligus penasaran. Namun, sebelum ia sempat membuka segelnya, sebuah suara gemuruh mesin truk besar terdengar dari arah jalan masuk utama di belakangnya. Tiga buah truk derek dan beberapa jip hitam dengan logo lembaga keuangan negara mulai muncul dari balik kabut, bergerak perlahan namun pasti menuju ke arah rumah panggung.

Wanita di depannya melirik ke arah iring-iringan kendaraan itu, lalu kembali menatap Adrian dengan senyum yang terasa sangat pahit. "Sepertinya tamu-tamu yang ingin mengambil sisa nyawa tempat ini sudah sampai lebih cepat dari perkiraan. Jadi, Tuan Pemilik... apakah kau punya rencana, atau kau hanya akan berdiri di sana dan membiarkan mereka melindasmu?"

Adrian menggenggam amplop kotor itu erat-erat. Di kejauhan, para pria berbadan tegap mulai turun dari jip hitam, memegang gulungan dokumen penyitaan dan rantai besi. Ia menyadari satu hal dengan sangat menyakitkan: ia tidak lagi berada di lantai 50. Di sini, tidak ada tombol delete untuk menghapus masalahnya.

Akankah Adrian mampu mempertahankan satu-satunya aset terakhirnya saat ia sendiri bahkan tidak tahu bagaimana cara membedakan daun teh yang baik dengan rumput liar, dan apa sebenarnya isi amplop kotor yang diberikan wanita misterius itu yang tampak jauh lebih berbahaya daripada pasukan penyita aset di depannya?

1
Arifa
menarik ceritanya bisa di bilang mind blowing.
semangat update terus tor..
indri sanafila: terima kasih semangatnya dan sudah setia mengikuti perjalanan Adrian🙏
total 1 replies
~($@&)~%
bang,ga di kontrak kah ,novel nya
indri sanafila: lagi proses pengajuan kontrak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!