Kanazya Laurels, wanita yang hidup sendiri dari kecil. Ayahnya meninggal setelah ditinggal ibunya pergi.
Dia bertemu dengan seorang pria penjual bunga yang sangat tampan hingga membuatnya terpesona. Tetapi lelaki itu ternyata tunanetra.
Tak disangka, Kana setuju menikah dengan Krishan lantaran ia terhimpit dan butuh tempat tinggal. Tetapi pesona Krishan yang luar biasa itu, membuatnya jatuh cinta.
Masalah terus berdatangan saat Kana menyadari bahwa lelaki buta yang ia nikahi bukanlah orang sembarangan.
Siapa sebenarnya Krishan? Bagaimana cara dirinya melindungi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfajry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
No-status Relationship
Kana terbangun dari tidurnya, dia merasa tidak leluasa lalu menyadari ternyata Krishan terlelap sambil memeluk tubuhnya.
Kana diam sebentar, pikirannya terbang pada pergulatan hangat mereka tadi malam. Benar-benar diluar dugaan, memang tidak benar dia dan Krishan satu kamar, sudah pasti hal seperti ini takkan terelakkan. Tetapi Krishan, bukankah dia sangat hebat di ranjang?
Kana malu sendiri mengingatnya saat mendesah keras. Terdengar seperti perempuan yang tidak pernah disentuh bertahun-tahun lamanya.
Kana mengusap lembut dada Krishan, dekapan hangat pria itu membuatnya enggan keluar dari pelukan Krishan.
Dia memperhatikan bentuk tato Krishan di bagian dada. Gambar bunga dan dua pistol. Entah apa maksudnya.
Kana mencium lembut dada lelaki itu hingga ia mendengar Krishan mengerang, dia terbangun.
Krishan menunduk, mencoba mendengarkan napas Kana yang tertidur.
"Kau sudah bangun?"
"Eh, kau tahu?" Kana terheran.
"Hm. Tidak terdengar napas orang yang tertidur." Jawabnya lagi lalu memejamkan mata sambil mengeratkan dekapannya.
"Emm.. sepertinya ada yang bangun di bawah sana."
Krishan membuka matanya dan langsung menindih tubuh Kana. Dia menumpu tubuhnya dengan kedua sikunya di sisi kanan dan kiri Kana.
"Katakan saja jika ingin mengulanginya."
"Hehe.. tidak, aku hanya.." Kana tidak melanjutkan ucapannya. Dia menatap wajah yang amat dekat dengannya. Ah wajah Krishan sangat mempesona.
Kana menarik tengkuk leher Krishan, mendekatkan bibirnya dan melahap bibir itu dengan lembut.
"Krish. Kau tidak membalasnya." Protes Kana.
Krishan tersenyum, lalu menyesap bibir Kana, membiarkan gadis itu meremas rambut belakangnya.
"Kau suka ciumanku?" Tanya Krishan.
"Hm. Aku sangat suka, membuatku ketagihan dan aku menyukainya. Sangat menyukainya, kau harus tahu itu."
Krishan tersenyum lebar lalu mencium lagi bibir Kana.
"Ingat, kau hanya memberikannya padaku." Tukas Kana.
"Sumpah pernikahan yang kuucapkan padamu adalah kesungguhan dalam diriku, Jia. Bukan sekedar ucapan belaka."
Krishan menjelajahi wajah Kana dengan hidung mancungnya. Dia berhenti di mata lalu mengecupnya, begitu juga mata satunya. Krishan terus mengecupi semua area wajah Kana, membuat perempuan itu tergelak.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya ingin menandai milikku. Aku perlu menghapal setiap jengkal wajah dan tubuhmu."
Kana tersenyum cerah, lalu melvmat bibir Krishan hingga membuat gairahnya memuncak. Mereka melakukannya lagi. Pagi itu, mereka melewatkan sarapan di hotel dan memilih sarapan sendiri dengan pergulatan manis diatas tempat tidur mereka.
~
Hubungan Krishan dan Kana tampak semakin mesra. Setelah pengakuan rasa dari keduanya, mereka benar-benar seperti pasangan suami istri yang tengah berbulan madu.
Krishan dan Kana berjalan di pinggir pantai, sesekali Kana kegirangan dengan bermacam hal yang ia ceritakan pada Krishan.
Kana memakai dress pendek sepaha berwarna kuning, sedangkan Krishan memakai kemeja panjang tipis berwarna putih dan celana pendek senada. Kana sengaja melepas dua kancing kemeja Krishan hingga memperlihatkan dada bidangnya, membuat dirinya yang kesenangan mempunyai kekasih bertubuh bagus seperti Krishan.
"Jia.."
"Hm.." Kana melingkarkan kedua tangannya di pinggang Krishan, membiarkan ombak kecil itu menggulung di kaki mereka.
"Ada yang ingin aku katakan."
"Apa?"
Krishan menyapu rambut yang menutupi wajah Kana, dia mengelus lembut pipi gadis itu.
"Jangan bilang pada siapapun kalau kau adalah istriku."
Kana sedikit terkejut, melonggarkan lingkaran tangannya. "Kenapa?"
"Maafkan aku yang belum bisa cerita padamu. Tetapi ini penting. Jangan katakan pada siapapun, aku hanya percaya pada temanmu itu. Aku juga sudah mengingatkannya."
Kana mengerutkan alisnya. "Alana? Kau bicara padanya?"
Krishan mengangguk. "Ya, aku hanya memintanya untuk tidak cerita kalau kau adalah istriku."
Krishan meraih tangan kana yang menggenggam pinggangnya. "Percaya padaku, aku hanya sedang melakukan sesuatu yang penting. Nanti, aku akan jelaskan padamu. Kau paham kan, Jia. Itu juga penting untuk karirmu."
Walau Kana tak begitu paham, dia mengangguk saja. "Baiklah.."
"Terima kasih." Krishan memeluk Kana dengan erat. "Jika kau tidak percaya padaku, kau bisa menyewa orang untuk memata-mataiku.
"Aku percaya padamu, Krish. Tapi berjanjilah satu hal, jangan temui lagi mantanmu itu. Aku merasa dia punya niat lain. Aku bisa melihat dia masih menyukaimu."
Krishan menyentuh pipi Kana lalu mengelusnya hingga ke dagu. Krishan mengangkat dagu Kana. "Aku berjanji padamu, aku tidak akan terpikat olehnya, aku akan berusaha menghindarinya, demi istriku."
Kana tersenyum, lalu Krishan menunduk, mendekatkan hidungnya pada mata Kana, dia mengecup kedua mata Kana perlahan, lalu turun ke bibirnya.
"Ayo, kita harus bersiap dan pulang."
"Aaah, aku malas sekali pulang." Rengek Kana.
"Apa mau disini lebih lama?"
"Tidak, besok aku harus bekerja. Ayo." Kana menggandeng tangan Krishan dan berjalan menuju kamar hotel. Mereka berberes dan pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, supir membantu mereka membawa barang masuk ke dalam.
"Terima kasih. Berapa biayanya?" Tanya Kana.
"Sudah dibayar oleh bos, Nyonya."
Kana mengerutkan alisnya.
"Ah, maksud saya, tuan Krishan."
"Begitu, ya." Kana lalu mengeluarkan uang tambahan untuk supir itu. "Ini, ambil sebagai tipnya."
Si supir tidak langsung menerima, dia melihat ke arah Krishan yang diam saja.
"Kenapa?"
Krishan mengangkat sebelah alisnya, dan supir itu menerima uang dari Kana.
"Terima kasih, Nyonya." Jawabnya lalu menundukkan kepala dan pergi.
"Ck, kenapa sih, orang-orang memanggilku Nyonya. Apa karena menikah dengan lelaki tua?" Protesnya lalu masuk ke rumah dengan kesal, sementara Krishan menahan tawanya.
"Jia, mau kemana?" Tanya Krishan yang mendengar langkah Kana menuju kamarnya.
"Ke kamarku."
"Kamarmu sudah pindah. Kita satu kamar sekarang. Marry sudah memindahkan barang-barangmu." Krishan membuka pintu kamarnya.
"Apa?"
"Kenapa?"
"Ya, baiklah kita sekamar sekarang." Kana masuk ke kamar dan melihat barang-barangnya sudah tersusun rapi bersanding dengan barang-barang Krishan yang tak begitu banyak.
"Kamarmu jadi penuh karena barang-barangku."
"Kamar ini cukup luas dibanding kamarmu. Jadi, tidak akan terasa sempit." Krishan duduk di atas tempat tidur, sementara Kana mulai membuka bajunya, berniat langsung tidur karena sudah malam dan dia sangat letih.
Krishan mendengar suara air dari kamar mandi, dia tersenyum. Untuk pertama kali setelah sekian lama, akhirnya ada seorang perempuan lagi di dalam kamarnya.
Krishan keluar saat mendapatkan telepon dari salah satu orang kepercayaannya untuk membahas bisnis mereka.
Setelah menelepon, Marry menemuinya.
"Tuan, tadi ada teman tuan kemari. Dia menanyakan kabar tuan." Tukas Marry.
"Teman? Siapa?"
"Katanya namanya Arex. Teman dekat tuan. Jadi dia titip salam."
Mendengar nama itu, tangan Krishan mengepal.
"Apa kau mengatakan aku menikah?" Tanya Krishan dengan suara geram, membuat Marry ketakutan.
"Ti-tidak, tuan. Ta-tapi mereka bilang akan kemari lagi."
"Jangan buka pintu untuk tamu yang tak diundang!" Tukasnya lalu pergi sebelum Marry menjawab.
Krishan masuk ke dalam kamar, dia mengepal keras tangannya. Mendengar nama itu, membuat tubuh Krishan bergetar. Lelaki itu sudah tahu alamatnya, jika dia tahu Krishan memiliki istri, maka Kana yang akan menjadi incarannya.
Krishan menarik napas saat teringat Kana sudah pindah ke kamarnya, dia tidak mau Kana melihatnya yang tengah emosi.
Krishan berdiam karena tidak ada suara apapun di kamar. Lalu dia mendengar dengkuran halus dari tempat tidur. Krishan tersenyum, nampaknya Kana tengah terlelap. Dia tak ingin mengganggu, Krishan memilih membersihkan tubuhnya sebelum tidur memeluk istrinya.
TBC
nah loohh .. bini' mu sdh angkat bicara