NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Misteri / Spiritual / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan
Popularitas:42
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 18: Masa lalu Liorlikoza [3]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

Gelap di sekelilingku begitu pekat sampai rasanya menelan setiap suara, setiap bayangan. Aku menempel di dinding sumur, tangan menggenggam tepi basah, tubuh kaku karena dingin. Napasku mengepul di udara malam yang menusuk, tapi tak ada yang peduli. Tak ada yang mendengar aku.

Aku Raden Mahaniyan Kartaswiraga.

Memanggil Evangeline.

Sekali, dua kali, tiga kali.

Suaraku hampir putus di tenggorokan, tersedak di antara dinding batu yang menekan.

“Evangeline… Hans… tolong…”

Tidak ada jawaban.

Aku memejamkan mata, berharap ketika membuka kembali, mereka akan ada di sana, tersenyum, menepuk pundakku, mengatakan semuanya baik-baik saja. Tetapi setiap kali membuka mata, yang kutemukan hanyalah gelap. Gelap dan kesunyian yang menekan dada, membuat jantungku terasa berat.

Aku menggigil, mengguncang di dalam sumur, tapi mencoba menahan tangis. Tubuhku kecil, rapuh, dan dingin merayap masuk ke tulang. Aku menekuk lutut, menempelkan wajah ke pelukan sendiri, mencoba menjadi sekadar bayangan di dalam kegelapan, berharap gelap itu tidak akan memakan seluruhku.

Bayangan mereka, Evangeline dan Hans, masih ada dalam pikiranku. Aku bisa melihat mereka, riang, tertawa, lari-lari, bermain petak umpet. Tetapi itu hanya ingatan, atau mungkin ilusi rumah tua itu. Mereka tersedot oleh kegelapan, dan aku… aku tertinggal. Tidak ada tawa yang memelukku, tidak ada langkah yang menghampiriku. Hanya kesunyian.

Aku mencoba mengingat suara mereka, senyum mereka, tapi setiap kali aku menekannya di pikiran, rasanya seperti mencubit udara. Semua hilang begitu cepat, dan aku kembali sendiri di sumur tua yang dingin dan lembap. Tanganku mulai mati rasa, kaki juga, tapi aku tetap memegang tepi sumur. Aku tidak ingin terjatuh. Tidak ingin benar-benar hilang.

“Kenapa mereka meninggalkanku?” bisikku pelan, hampir untuk diriku sendiri. “Apakah aku… tidak cukup penting?”

Jawaban hanya diam. Dinding sumur tidak menjawab, dan malam tidak memberi penghiburan. Hanya angin yang meniup, lembap, menusuk kulit, menembus tulang, dan mengingatkan bahwa aku benar-benar sendirian.

Aku menunduk, menutup wajah dengan tangan, menahan air mata. Tapi kadang satu tetes jatuh, membasahi jari, dingin, getir. Aku merasa seperti ranting kecil yang tersangkut di tengah sungai deras, terbawa arus rumah tua ini, tapi tidak tahu ke mana.

Aku mulai mendengar sesuatu, suara bisikan, bukan suara manusia, tetapi suara rumah itu sendiri, seperti bernafas, menggesek, mengisi setiap celah sumur. Aku menutup mata, mencoba menganggap itu hanyalah angin, tetapi rasanya… rasanya rumah itu sadar aku di sini. Menilai aku. Mengetes kesabaran dan ketahananku.

Aku mengingat Evangeline, Hans… bahkan Saka dan Rakes di luar. Mereka ada di dunia lain, mereka bisa bergerak, bisa melihat, bisa memutuskan. Aku tidak. Aku hanya bisa menunggu. Menunggu. Menunggu… dan tetap sendiri.

Tubuhku dingin, otakku mulai lelah, tapi aku tidak bisa tidur. Tidak sepenuhnya. Setiap kali mata menutup, ada bayangan yang muncul, ada tangan yang menuntunku, ada gelap yang menarik. Aku harus tetap waspada.

Harus tetap sadar. Jika aku kehilangan kesadaran… siapa yang akan menolongku? Tidak ada yang datang. Tidak ada yang melihat.

Aku menatap ke atas, mencoba menangkap cahaya bulan yang jatuh ke tepi sumur. Tapi jarak itu terasa seperti jurang. Aku ingin teriak, ingin memanggil mereka lagi, tetapi suaraku hampir habis, tenggorokan kering, napasku sesak. Tangisku kecil, hampir putus, tetapi tetap ada. Masih ada sedikit keberanian, sedikit tekad. Aku tidak boleh menyerah.

Aku membayangkan Evangeline tersenyum padaku, Hans menepuk bahuku, meski itu hanya ingatan. Aku membayangkan Saka di luar sana, menatap sumur ini, memahami… tapi tidak bisa masuk. Kami semua terpisah oleh aturan rumah ini, oleh batasan dunia yang bukan milik kami.

“Esok… aku harus tetap bertahan,” bisikku. “Aku tidak boleh… membiarkan gelap menelanku sepenuhnya. Aku harus kuat… setidaknya sampai mereka datang lagi.”

Aku menekan wajah ke lutut lagi, menggigil, tapi mencoba menahan diri. Tanganku masih menggenggam tepi sumur. Aku masih di sini. Masih hidup. Masih menunggu. Masih berharap.

Malam itu panjang, dingin, sunyi. Tidak ada tawa, tidak ada langkah, tidak ada tangan yang menolong. Hanya aku, gelap, dan angin yang menggesek batu tua sumur. Tapi di antara semua itu, ada satu hal yang aku simpan untuk diri sendiri, aku akan bertahan. Aku harus bertahan. Karena meski Evangeline dan Hans pergi, tidak bisa menolong, aku… aku masih di sini.

Dan di dasar sumur tua itu, di tengah dingin dan kesepian yang menusuk, aku menemukan satu hal, keberadaan bukan selalu soal berada bersama orang lain. Kadang, keberadaan adalah tentang menahan diri, tetap hidup, dan melihat dunia dari tempatmu sendiri, meski itu gelap, meski sepi, dan meski tidak ada yang mendengar tangisanmu.

......................

Pagi itu, udara terasa berat meski matahari sudah menembus kabut tipis di halaman. Saka berdiri di tepi taman, masih merasakan sisa-sisa malam yang membekap, bayangan Evangeline dan Hans, tangisan Ian yang terjebak di sumur, dan rasa tidak berdaya yang menempel di dadanya.

Rakes berdiri di sampingnya, diam. Tidak ada kata-kata yang diperlukan. Saka tahu, mereka berdua masih merasakan batas rumah tua itu, jarak tipis antara dunia mereka dan dunia yang bukan milik mereka.

“Gue… gue ngga bisa berhenti mikirin Ian,” Saka akhirnya bersuara, matanya menatap sumur tua dari kejauhan. “Dia di sana sendirian, dan kita… kita nggak bisa masuk. Gue nggak ngerti kenapa rumah ini ngebiarin semua ini terjadi.”

Rakes mengangguk pelan. “Karena ini bukan sekadar tempat. Rumah itu… seperti pola, Sak.. Setiap gerakan, setiap keputusan, ada konsekuensinya sendiri. Ian di sumur adalah bagian dari takdir itu. Evangeline dan Hans udah pergi. Mereka nggak mungkin puter waktu buat kembali lagi… dan juga batas kita.”

Saka menunduk, mencoba menyerap kata-kata itu. “Batas kita…” gumamnya. “Jadi maksud lo kita… cuman bisa mengamati, bukan menolong?”

Rakes menepuk bahunya. “Tepat. Setiap tindakan langsung bisa merusak benang takdir. Masa lalu itu menguji, bukan menyakiti. Kita hanya harus mengerti tanda-tandanya.”

Saka menarik napas dalam, menenangkan dirinya. Kemarin malam, tangisan Ian masih terngiang di telinganya, tetapi perlahan ia mulai menyadari, rumah itu meninggalkan jejak, sinyal yang bisa dibaca jika kau mau melihatnya.

Ia menatap kembali ke taman. Jalur batu, pepohonan, bayangan, bahkan posisi sumur, semua tampak acak, tetapi Rakes menunjuk sesuatu. “Lihatlah bayangan pagi ini, arah cahaya, dan posisi reruntuhan. Rumah ini suka mengulang pola yang sama, hanya dengan sedikit perubahan. Evangeline dan Hans kemarin? Itu tiruan dari pola sebelumnya. Rumah ini menegaskan ketidakhadiran Ian.”

Saka memicingkan mata, menelusuri garis-garis bayangan di tanah. Perlahan, sebuah pemahaman muncul, pola rumah tua ini bukan sekadar mimpi atau ilusi, tapi semacam sistem refleksi. Ia meniru dunia nyata, tapi menambahkan ketakutan, kehilangan, kesepian. Dan yang paling penting, rumah ini selalu meninggalkan jejak mereka yang hilang.

“Gue ngerti…” bisik Saka, hampir untuk dirinya sendiri. “Jadi, rumah ini… selalu memberi tanda? Bahkan saat kita tidak bisa masuk?”

Rakes mengangguk. “Benar. Coba lo perhatikan cukup teliti, rumah ini akan menunjukkan jalan atau setidaknya… titik awal. Itu pola yang bisa kita baca. Bukan dunia kita, tapi kita bisa memprediksi reaksinya.”

Saka menatap sumur tua lagi. Tangisan Ian masih terngiang di kepalanya, tetapi sekarang ada fokus yang berbeda. Ia mulai memindai pohon, semak, jalur batu, menangkap bayangan dan pantulan cahaya yang mungkin menjadi petunjuk. Rumah tua ini… tampaknya ingin Ian belajar bertahan, dan ingin Saka belajar membaca dunia yang bukan miliknya.

Rakes mengamati dari samping. “Setiap anak yang ‘dijemput’ rumah ini meninggalkan energi. Evangeline, Hans… itu meninggalkan pola yang bisa kita baca. Tapi Ian masih di sumur, dan dia bagian dari pola yang belum selesai. Kita harus tetap mengamati gerakannya, nada tangisannya, cara gelap menyelubunginya. Semua itu memberi petunjuk.”

Saka mengangguk perlahan. Ia mulai menandai pola-pola di tanah, mengingat arah bayangan, dan mencoba menghubungkannya dengan apa yang ia ingat dari mimpi-mimpinya. Ia mulai menyadari bahwa meski mereka tidak bisa bertindak, mereka bisa membaca bahasa rumah ini. Dan itu mungkin satu-satunya cara Ian bisa dibantu… esok atau lusa.

Mata Saka menatap sumur tua satu kali lagi. Tubuh Ian yang kecil, dingin, sendirian, tetap menjadi pusat pikirannya. Namun kini, di balik rasa takut dan frustrasi, ada secercah harapan, pola itu bisa dipelajari. Rumah itu mungkin bukan dunia mereka, tetapi bahasa rumah itu bisa dimengerti, jika kau cukup sabar untuk membaca jejak-jejaknya.

Dan di sana, di tepi taman yang sunyi, di bawah cahaya matahari pagi yang masih lemah, Saka mulai menulis langkah-langkah mentalnya sendiri, cara membaca, cara mengamati, cara memahami dunia yang bukan miliknya. Ian masih di sumur, tetapi Saka tahu, semua ini hanyalah awal. Rumah tua itu akan terus menguji, dan ia harus siap.

Rakes menepuk pundak Saka sekali lagi. “Ingat. Kita pengamat. Kita belajar, kita membaca, kita memahami. Jangan tergoda untuk masuk. Ian harus tetap di situ sampai waktunya tiba.”

Saka menatap Rakes, menarik napas panjang, dan mengangguk. Ia tahu, malam-malam panjang Ian sendirian di sumur akan terus menghantuinya, tapi sekarang ada metode, ada cara untuk memahami rumah itu. Dan itu… mungkin satu-satunya harapan Ian untuk bertahan.

Saka berdiri terpaku, beberapa langkah dari sumur tua yang kini nyaris tenggelam dalam rerumputan liar. Bau tanah basah menyergap hidungnya, dan udara di sekitarnya terasa berat, menekan dada hingga sesak. Napasnya tercekat ketika sekelebat ilusi muncul di pikirannya, bayangan hujan yang deras, tanah yang berlumpur, dan suara tangisan yang menusuk tulang.

Di matanya, Evangeline dan Hans muncul lagi. Mereka berlari-lari di tengah hujan, wajah mereka pucat, pakaian basah menempel di tubuh. Evangeline terus menangis, air mata bercampur hujan, suaranya parau, meratapi bagaimana ia harus menemukan Ian. Hans berusaha menenangkan, tetapi raut wajahnya menunjukkan kebingungan dan ketakutan yang sama.

Saka merasa sesak. Hatinya seperti diremas, setiap detik yang berlalu membuatnya semakin tidak berdaya. Dari jauh, ia melihat Ian berjuang di dalam sumur. Tangannya yang kecil mencengkeram tepi batu, tubuhnya basah dan kedinginan. Dia mencoba memanjat, mencoba keluar, tetapi salah satu bebatuan yang jatuh menahan kakinya.

Reruntuhan itu bergerak dengan keras, menghantam Ian, dan seketika ia terjerembab lebih dalam. Air di sumur mulai meninggi, menutupi tubuhnya sebagian, membuatnya tersangkut di antara batu-batu yang jatuh. Tubuhnya kaku, napasnya tersendat.

Evangeline menjerit, tangisnya menggema di hujan deras, mencoba memanggil petugas keamanan.

“Ian! Dimana kamu! Tolong!”

Namun, tidak ada yang bisa melihatnya. Tidak ada yang bisa menyelamatkan Ian. Jasadnya masih tersangkut di bawah batu, air terus menggenang, dan tanah semakin licin.

Saka menunduk, tangan mengepal.

Dadanya sesak. Tubuhnya ingin melompat, menolong Ian, merenggutnya dari gelap sumur, tetapi ia tahu, sekali ia masuk, ia akan tersedot oleh dunia itu, terseret ke dalam tragedi yang bukan miliknya untuk diubah.

Ilusi itu terus bergerak di pikirannya, Evangeline yang menangis, Hans yang menunduk, hujan yang tidak berhenti. Semua tampak nyata, sampai Saka hampir bisa merasakan dingin air dan tanah yang meresap ke kulitnya. Tapi dia tetap harus diam, pengamat yang tidak bisa campur tangan.

Di kejauhan, hujan semakin deras. Sumur tua itu menelan suara tangisan Ian, suara rintihan yang tidak bisa menjangkau dunia nyata.

Evangeline dan Hans berputar-putar, mencoba mencari cara, mencoba memanggil bantuan, tetapi rumah tua itu menahan Ian di dalamnya. Mereka tidak tahu keberadaannya yang sebenarnya, belum ada teknologi atau cara untuk mendeteksi jasad yang terperangkap di antara batu-batu dan lumpur itu.

Saka merasakan getaran di dadanya, rasa bersalah dan putus asa yang menekan sampai sulit bernapas. Ilusi hujan, tangisan, dan tubuh Ian yang tersangkut bergerak di pikirannya seperti film yang menolak berhenti.

Semua tampak begitu nyata, tapi dia tahu, ini bukan dunia mereka. Tidak ada yang bisa diubah.

Dia menutup mata, mencoba menenangkan diri. Hujan yang menimpa tanah, suara tangisan Evangeline, dan kegelapan sumur itu tetap tinggal di pikirannya, membekas seperti luka yang tidak sembuh.

Semua ini menegaskan satu hal yang mengerikan, kadang, yang kuat hanyalah yang bisa bertahan sendirian. Ian… di sumur itu, adalah bagian dari ujian yang tak pernah bisa dihindari.

Saka membuka mata lagi. Air hujan menetes di wajahnya, meski ia berdiri di taman yang nyata, bukan di dalam ilusi. Ia menelan ludah, menatap sumur yang ditutupi rerumputan liar, merasakan kesedihan yang dalam, tetapi juga mulai memahami rumah tua itu lebih jelas. Tragedi Ian, tangisan Evangeline, hilangnya Hans… semua ini adalah bagian dari benang takdir.

Pola yang harus dipelajari.

Dan di dalam sumur tua itu, Ian tetap tersangkut, terperangkap di antara batu dan air yang meninggi, tidak bisa bergerak, tidak bisa diselamatkan, sementara hujan deras terus mengguyur dunia, dunia yang tidak bisa disentuh Saka dan Rakes, tapi harus diamati dengan hati yang remuk.

Evangeline menunduk di ruang yang kosong, hujan pagi yang menetes di jendela terasa seperti cermin perasaannya, dingin, basah, dan tanpa akhir. Tangannya gemetar saat ia menatap foto-foto lama, foto Ian, Hans, dan dirinya, tertawa di taman yang sama dengan yang dulu menjadi arena permainan petak umpet mereka. Kini, tawa itu hanya meninggalkan gema, dan sumur tua itu tetap menjadi luka yang tidak sembuh.

Hatinya hancur. Ian, teman kecil yang selalu diam tapi penuh makna, terperangkap di gelap sumur malam itu, hilang dari dunia nyata mereka. Hans, yang dulu selalu menemaninya, kini membenci dirinya, menuduh Evangeline tidak cukup kuat, tidak cukup cepat menemukan Ian. Dalam kemarahan dan rasa putus asa itu, Hans memutuskan pertemanan mereka, meninggalkan Evangeline sendiri menghadapi kesedihan yang terlalu besar untuk seorang anak.

Evangeline menangis berhari-hari, menyembunyikan wajahnya di bantal, menolak semua sapaan dan panggilan. Depresi merayap masuk ke dalam hidupnya, menggerogoti semangatnya, membuatnya seakan terjebak dalam sumur yang sama dengan Ian, sendirian, dingin, dan terisolasi dari dunia.

Namun di tengah kegelapan itu, ia menemukan sesuatu, tekad. Sebuah cara untuk membuat kepergian Ian dan Hans berarti sesuatu, untuk memberi nama pada kesedihan yang menelannya. Ia mengganti namanya, dari Evangeline Arkozia menjadi Evangeline Liorlikoza, sebagai simbol pengingat akan kehilangan, sekaligus peringatan bagi dirinya dan dunia.

Liorlikoza bukan hanya nama baru, tetapi juga lambang tanggung jawab yang ia rasakan untuk menjaga ingatan mereka.

Dengan nama itu, ia mendirikan sebuah yayasan, tempat yang dirancang untuk mengenang ketiadaan Ian dan kepergian Hans, sekaligus membantu anak-anak lain yang menghadapi kehilangan. Ia berharap, dengan yayasan itu, tragedi mereka tidak akan terlupakan, dan dunia akan belajar dari ketidakberdayaan yang pernah dialami.

Namun, jalan itu tidak mudah. Tidak lama setelah yayasan mulai berjalan, pengkhianat muncul, orang-orang yang memanfaatkan nama Liorlikoza untuk kepentingan pribadi, yang meremehkan tujuan yayasan, yang bahkan mencoba memutarbalikkan narasi tragedi untuk keuntungan mereka sendiri. Setiap langkah yang Evangeline ambil, terasa seperti melawan arus yang tak terlihat, melawan bayangan Hans dan Ian yang terus menghantui pikirannya.

Ia berdiri di ruang kantor yayasan itu, menatap dokumen-dokumen yang ditandatangani oleh orang-orang yang ia percayai, dan menyadari kenyataan pahit, dunia nyata tidak seperti rumah tua atau mimpi. Kehilangan itu nyata, pengkhianatan itu nyata, dan kesendirian yang ia rasakan kini semakin mendalam.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tetap menuntunnya, ingatan akan Ian, dan rasa bersalah yang tidak pernah hilang. Liorlikoza bukan hanya nama; itu adalah janji.

Janji bahwa meski dunia berbalik, meski Hans telah pergi, dan meski pengkhianat bersembunyi di balik senyum palsu, ingatan akan teman yang hilang itu tidak akan pernah luntur.

Ia menarik napas panjang, menatap jendela. Di luar, hujan yang turun di halaman taman lama tampak lebih lembut sekarang, hampir seperti berbisik, meski tragedi tidak bisa diubah, ia masih memiliki kekuatan untuk menegakkan ingatan, untuk menjaga nama yang hilang, dan untuk menghadapi dunia yang keras, meski dunia itu penuh pengkhianatan dan kesedihan.

Evangeline Liorlikoza menutup matanya, merasakan kesedihan yang sama yang dulu menahannya di sumur, tetapi kini ada kekuatan di balik luka itu.

Kekuatan yang tidak akan menghentikan air mata, tetapi akan menyalakan tekad. Dan di dalam hatinya, ia tahu satu hal pasti, Ian tidak akan dilupakan, Hans tidak akan terlupakan, dan dunia ini akan merasakan jejak mereka, meski caranya pahit dan penuh rintangan.

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!