Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Beberapa ibu-ibu tampak saling berbisik. Sebagian dari mereka ternyata sejak awal sudah mendengar percakapan panas di dalam rumah. Mereka melihat Kirana mengeluarkan rekening koran. Mendengar soal uang puluhan juta yang habis. Mendengar nama Kinanti disebut sebagai selingkuhan.
Berita itu menyebar cepat di lingkungan tempat tinggal Pak Darma. Lebih cepat dari api yang menjalar di musim kemarau.
“Pantas saja selama ini Kinanti hidup mewah,” bisik seorang ibu.
“Ternyata uang suami adiknya,” sahut yang lain.
“Ini yang sering sidebut ipar adalah maut,” celetuk seseorang dengan nada sinis.
Label pun tercipta. Tanpa pengadilan. Tanpa pembelaan. Kinanti dicap pelakor kejam. Perempuan yang merusak rumah tangga adiknya sendiri.
Perlakuan Bu Maya yang berbeda antara Kirana dan Kinanti kembali dibicarakan. Banyak yang sudah lama menyadarinya, hanya saja memilih diam.
“Dari dulu Kinanti memang diratukan sama Bu Maya dan Pak Darma,” ujar seorang tetangga.
“Katanya dia anak pembawa keberuntungan. Makanya harus dijaga baik-baik dan dibuat senang,” kata salah seorang wanita tua yang tinggal di samping rumah Pak Darma.
“Iya. Sementara, Kirana selalu disuruh mengalah,” timpal yang lain.
“Pola asuhnya salah. Terlalu dimanja.”
Di dalam rumah, keributan akhirnya mereda. Bu Ratih ditahan oleh kerabatnya. Rembulan melepaskan jambakannya dengan napas tersengal. Kinanti terduduk lemas di lantai, tubuhnya gemetar, dadanya naik turun tak beraturan.
Bu Maya memeluk putri sulungnya itu erat-erat. Tangisnya pecah. “Kenapa kamu melakukan ini kepada Kinanti?” tanyanya lirih, antara marah dan tak percaya.
Kinanti menatap ibunya dengan mata merah. Untuk sesaat, tidak ada kepolosan. Yang tersisa hanyalah dendam dan kebencian.
“Aku juga ingin bahagia,” ucap Kinanti parau. “Apa salahnya aku memperjuangkan perasaanku?”
Ucapan itu kembali memancing bisik-bisik sinis dari para tetangga. Banyak yang menggelengkan kepala dengan kelakuan Kinanti.
“Kebahagiaan di atas penderitaan orang lain,” gumam seseorang.
Hari itu menjadi mimpi buruk bagi Kinanti. Tidak hanya di lingkungan rumah Pak Darma, tetapi ke desa sebelah di mana dia tinggal. Bahkan keluarga mendiang Dipta pun ikut menghujat perbuatannya itu.
Kinanti ngamuk karena nama baiknya tercoreng. Ia merasa seolah seluruh dunia bersekongkol menjatuhkannya dalam semalam. Berita tentang dirinya kini diberi label sebagai pelakor, kini melekat seperti duri di daging.
Berita menjalar cepat, tak terbendung, tak memberi ruang bagi penjelasan. Ia disebut pelakor keluarga adiknya sendiri. Sebuah cap yang tak hanya menyakiti, tetapi merenggut sisa harga diri yang masih ia genggam dengan rapuh.
Pagi itu, saat Kinanti melangkah masuk ke kantor, udara terasa berbeda. Lebih berat. Lebih dingin. Langkahnya terhenti sesaat di depan pintu kaca. Pantulan wajahnya tampak pucat, mata sembap meski sudah disamarkan riasan tebal. Ia menarik napas panjang, berusaha menegakkan bahu, lalu melangkah masuk.
Tatapan-tatapan itu langsung menyambutnya.
Bukan tatapan ramah yang biasa ia terima. Bukan senyum-senyum kecil atau sapaan hangat. Yang ada hanyalah pandangan setengah menilai, setengah menghakimi. Beberapa orang berbisik sambil melirik. Ada yang pura-pura sibuk, ada pula yang sengaja berhenti bicara saat ia lewat.
“Oh, ini yang viral itu, ya?” suara itu terdengar jelas, sengaja dikeraskan.
Kinanti menoleh. Seorang rekan kerja perempuan berdiri di dekat pantry, tangan menyeduh kopi, bibirnya menyunggingkan senyum miring.
“Yang rebut suami adiknya sendiri?” sahut yang lain, tertawa kecil tanpa rasa bersalah.
Dada Kinanti terasa seperti diremas. Napasnya tercekat. Ia melangkah cepat menuju mejanya, menunduk, berpura-pura tak mendengar. Namun, kata-kata itu seperti paku ditancapkan satu per satu ke dalam kepalanya. Nama baiknya runtuh dalam semalam.
Di mejanya, layar komputer menyala. Email masuk berderet. Notifikasi grup kantor berdenting. Ia membuka satu pesan, lalu menutupnya lagi. Jari-jarinya gemetar. Tangannya dingin. Keringat dingin merembes di punggung.
“Kinanti,” sebuah suara memanggil dari belakang.
Kinanti menoleh. Riri, rekan kerjanya yang sering makan siang bersamanya berdiri dengan tangan terlipat.
“Rupanya pacar yang selalu kamu banggakan itu suami adikmu sendiri, ya?” ejek Riri, tanpa basa-basi. “Hebat juga, ya, bisa menyimpan rahasia sejauh itu.”
Beberapa orang tertawa. Ada yang menutup mulut, pura-pura terkejut, tapi mata mereka berkilat puas.
Kinanti menelan ludah, rahangnya mengeras.
“Kamu tidak tahu apa-apa,” balasnya singkat, berusaha terdengar tenang.
“Oh, kami tahu cukup,” sahut yang lain. “Ternyata yang suka buat tanda merah di badanmu itu iparmu sendiri. Sungguh menjijikkan.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan. Kinanti berdiri mendadak. Kursinya berderit keras, menarik perhatian satu ruangan. Wajahnya memerah, matanya berair.
“Jaga mulutmu!” teriak Kinanti, suara bergetar antara marah dan malu. “Kalian tidak berhak menghakimi hidupku!”
“Kenapa? Takut kebenaran?” balas perempuan itu santai.
Kinanti tak sanggup lagi. Ia meraih tasnya dan berlari keluar, melewati lorong kantor yang terasa terlalu panjang. Tangisnya pecah begitu pintu belakang gedung tertutup di belakangnya. Ia bersandar pada dinding, melorot ke lantai, menutup wajah dengan kedua tangan.
Dunia yang dulu terasa aman kini menjadi medan perang. Di rumah setelah pulang kerja, amarah Kinanti meledak. Ia melempar ponsel ke dinding hingga terdengar bunyi retak. Ia menjerit frustrasi, merobek tisu, mengacak-acak tempat tidur.
“Semua salah Kirana!” teriaknya histeris. “Dia yang membuka aib ini! Dia sengaja mempermalukanku!”
Kinanti mondar-mandir seperti hewan terkurung. Setiap sudut kamar terasa menyempit. Napasnya memburu. Kepalanya dipenuhi bayangan tatapan sinis, tawa merendahkan, bisikan kejam. Namun, di balik kemarahannya, ada kebenaran yang tak bisa ia bantah.
Kinanti sudah kalah. Bukan hanya di mata orang-orang, tetapi juga di hati Rafka.
Ponselnya yang retak menyala. Sebuah pesan masuk. Dari Rafka. Ia menatap layar itu lama, berharap ada kata yang membela, satu kalimat yang memihak. Namun, pesan itu singkat dan dingin.
[Aku butuh waktu. Jangan hubungi aku dulu.]
Kinanti tertawa pahit. Suara tawanya berubah menjadi isak. Ia merosot di tepi ranjang, memeluk lutut, menangis tanpa suara. Dia benar-benar merasakan kehilangan, bukan hanya reputasi, tetapi ilusi tentang cinta yang selama ini ia yakini miliknya.
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏