NovelToon NovelToon
The Wrong Proposal

The Wrong Proposal

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.

Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Dua Puluh tiga tahun kemudian...

Musim gugur di New York selalu memiliki cara untuk membawa kembali kenangan lama. Angin yang berembus di sepanjang Fifth Avenue membawa aroma kopi panggang dan tanah basah, sangat mirip dengan malam ketika takdir memutuskan untuk bermain gila dengan hidup Adrian dan Briana dua dekade silam.

Di sebuah apartemen penthouse mewah yang menghadap langsung ke arah Central Park, Adrian Richard berdiri di dekat jendela kaca besar. karismanya sebagai arsitek papan atas dunia tak pernah pudar. Di tangannya, ia memegang sebuah majalah Vogue edisi terbaru.

Sampul majalah itu menampilkan seorang gadis muda yang luar biasa cantik. Ia mengenakan hijab sutra berwarna zamrud yang melilit lehernya dengan anggun, menonjolkan tulang pipi yang tegas dan mata biru gelap yang sangat mirip dengan milik Adrian.

Gadis itu adalah Alana Richard, putri sulung mereka.

Di bawah sana, di tengah hiruk-pikuk suara klakson kuning yellow cab, Alana melangkah keluar dari mobil hitam yang menjemputnya. Ia baru saja menyelesaikan sesi pemotretan untuk lini busana Muslimah ternama.

Sebagai model hijab yang berhasil menembus panggung high-fashion New York, Alana adalah perbincangan hangat di setiap sudut kota.

Ia tidak hanya membawa kecantikan, tapi juga martabat. Ia adalah perpaduan sempurna antara ketegasan ayahnya dan kelembutan ibunya.

Alana menatap gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Ia selalu merasa New York adalah rumah keduanya, meski ia menghabiskan masa kecilnya di ketenangan Sanur, Bali. Baginya, setiap sudut jalan di Manhattan seolah membisikkan rahasia tentang bagaimana kedua orang tuanya bertemu.

Ia melangkah masuk ke lobi apartemen, menyapa petugas keamanan dengan senyum ramah yang sangat familiar, senyum yang dahulu membuat Adrian jatuh cinta pada pandangan pertama di sebuah rooftop.

Pintu apartemen terbuka. Aroma masakan Indonesia, opor ayam kegemaran Adrian, langsung menyambut Alana. Di ruang tengah, ia melihat ibunya, Briana, sedang duduk santai sambil membaca buku. Briana masih tampak sangat cantik, hijabnya selalu rapi, dan ketenangan di wajahnya seolah tidak pernah terusik oleh usia.

"Aku pulang, Ibu," ucap Alana sambil mendekat dan mencium tangan serta kedua pipi ibunya.

Briana menutup bukunya dan tersenyum lebar. "Bagaimana harimu, Alana? Ibu melihat papan reklame besar mu di Times Square tadi saat pergi belanja bersama Ayah."

"Rasanya masih aneh melihat wajahku sendiri sebesar itu di tengah kota, Bu," Alana terkekeh pelan. Ia melepas sepatu hak tingginya dan duduk di sofa, menyandarkan kepalanya di bahu Briana. "Tapi aku senang bisa membawa identitas kita di sini. Di tempat yang dulu sempat meragukan Ibu."

Adrian melangkah masuk dari arah balkon, meletakkan majalah tadi di meja kopi. "Putri Ayah sudah pulang? Ayah baru saja ingin membingkai majalah ini di kantor."

Alana tertawa. "Ayah, jangan berlebihan. Kantor Ayah itu firma arsitektur, bukan galeri foto model."

Malam itu, mereka duduk bertiga di meja makan kayu jati yang sengaja dibawa langsung dari Bali. Suasana sangat hangat. Cahaya lampu New York di luar jendela tampak seperti ribuan kunang-kunang.

"Ayah," panggil Alana tiba-tiba. "Tadi di lokasi pemotretan, ada seorang jurnalis senior yang bertanya padaku. Dia bertanya, apakah benar aku adalah putri dari pria yang dulu salah melamar di sebuah Rooftop mewah?"

Gerakan sendok Adrian terhenti sejenak. Ia melirik Briana, yang hanya membalasnya dengan senyum penuh arti.

"Ah, jadi berita itu masih hidup di arsip mereka?" Adrian terkekeh, suaranya berat dan penuh nostalgia. "Benar, Alana. Ayahmu ini adalah pria paling bodoh sekaligus paling beruntung malam itu. Ayah membawa bunga dan cincin untuk wanita yang salah, tapi berakhir dengan menemukan wanita yang paling tepat."

Alana menopang dagunya, matanya berbinar. "Ibu, apa Ibu tidak marah saat itu? Maksudku, Ayah mengaku-ngaku sebagai ayah dari anak Ibu, padahal saat itu Ibu bahkan belum mengenal Ayah."

Briana meletakkan gelasnya, tatapannya menerawang jauh ke masa lalu. "Awalnya, Ibu takut, Alana. Ibu merasa dunia sudah kiamat. Tapi saat Ayahmu berdiri di depan pintu apartemen Ibu dan meninju pria yang menyakiti Ibu... saat itulah Ibu tahu bahwa Tuhan mengirimkan pelindung, bukan pengganggu."

Adrian berdehem, mencoba mengembalikan suasana ceria. "Yah, meskipun ada insiden sesak dan air mata di malam pertama karena Ayahmu ini terlalu bersemangat," ucapnya dengan kerlingan mata nakal ke arah Briana.

"Adrian! Ada anakmu di sini!" tegur Briana, wajahnya seketika merona merah, masih sama seperti dua puluh tiga tahun yang lalu.

Alana tertawa terbahak-bahak melihat ibunya yang masih bisa tersipu malu. "Ibu, tenang saja. Ayah sudah menceritakan bagian sertifikat keaslian itu padaku saat aku lulus SMA kemarin."

"Ayahmu memang tidak bisa menjaga rahasia," gerutu Briana pelan, namun tangannya tetap menggenggam tangan Adrian di atas meja.

Adrian menatap putrinya dengan bangga. "Alana, New York ini kota yang keras. Dulu, ada orang-orang seperti Elena dan Clark yang mencoba menghancurkan kami dengan fitnah. Tapi lihat sekarang... putri kami justru menjadi wajah paling dihormati di kota ini dengan hijabnya. Itu adalah kemenangan terbesar bagi keluarga kita."

Setelah makan malam, Adrian mengajak Briana berjalan-jalan di balkon. Alana memperhatikan mereka dari kejauhan. Ia melihat ayahnya merangkul pinggang ibunya, menyelimuti bahu Briana dengan jasnya karena angin malam semakin dingin.

"Masih terasa seperti mimpi, ya?" bisik Adrian di telinga Briana.

"Mimpi yang sangat indah, Adrian," jawab Briana. "Terima kasih sudah membawaku kembali ke New York tanpa rasa takut."

Adrian mencium kening istrinya lama. "Aku akan membawamu ke ujung dunia sekalipun, asal aku bisa melihat senyum itu setiap pagi."

Alana yang melihat pemandangan itu dari dalam ruangan, mengambil ponselnya dan memotret bayangan kedua orang tuanya yang membelakangi lampu-lampu kota. Ia tahu, kesuksesannya sebagai model bukanlah tentang kecantikan fisik semata, melainkan tentang kekuatan cinta yang berawal dari sebuah kesalahan besar di satu malam yang dingin di Manhattan.

Di kota yang tak pernah tidur ini, cinta Adrian dan Briana tetap abadi, diwariskan melalui langkah anggun putri mereka yang kini menaklukkan dunia dengan cara yang paling mulia.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
irma hidayat
lancar sukses rencananya alana
chika aprilia
harusnya 23 tahun kemudian bukan 23 tahun lalu, othor nya salah
ros 🍂: makasih kak udah ingatin 😍🙏
total 1 replies
Mei Mei
/Kiss/
Mei Mei
suka cerita nya
ros 🍂: Makasih kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
bagus .. bagus karyamu Thor

tetep sehat
selalu semangat

karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku
ros 🍂: Ma'aciww 😍😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
ditunggu upload nya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!